The first 141 lines.
Dia berteriak padahal tidak ada apa-apa di sana.
Aku tidak bisa menonton film dengan baik karena dia.
Tidak, aku terkejut karena suaranya.
Hei, jika kau mau rewel, dia lebih pengecut daripada aku.
Dia bermain gim dengan memakai pelantang telinganya.
Hei. Aku tidak suka film fantasi.
Kenapa kau mau menonton film tentang hantu yang tidak ada?
- Apa? - Bagaimana kau yakin soal itu?
Ada foto dan kisah nyata tentang hantu juga.
Jika ada, itu pasti sudah masuk berita.
- Kau sungguh percaya itu? - Hantu ada.
Ibuku bilang aku akan melihat hantu hari ini.
- Apa pekerjaan ibumu? - Dia seorang dukun.
Pantas saja.
Aku merasa sangat berkeringat hari ini.
Hei, kau selalu berkeringat.
Ini semua psikologi...
Apa? Apa listriknya mati?
Apa ini?
Hei, Lee Gang. Apa yang kau lakukan?
Pangsit, pangsit, pangsit, pangsit, pangsit, lima.
Dia berlebihan.
Astaga. Bangun.
- Hei, kalian sudah dengar? - Tentang apa?
Semua tahun pertama harus belajar sepulang sekolah.
Apa? Kenapa tiba-tiba?
Seseorang ketahuan menyontek saat ujian,
jadi, Pak Dokgo marah dan seluruh kelas harus ikut ujian ulang.
- Itu gila. - Dia pasti sudah gila.
Kenapa kita harus melakukannya juga?
Mungkin karena ada lebih banyak anak yang menyontek.
Astaga, aku kesal sekali.
Dia bilang akan mengawasi setiap ujian sendiri,
jadi, kita melakukannya per kelas bergantian.
Apa menurutmu kita akan melakukannya lebih dahulu?
Kudengar kelas di atas akan melakukannya lebih dahulu.
Itu artinya kelas kita yang terakhir.
Apa yang akan kita lakukan sampai saat itu?
[Episode 27, Di mana Hantunya? Apa kebenarannya? Uji Nyali]
- Apa ini? - Apa yang terjadi?
Diamlah.
Kalian sudah dewasa. Kenapa kalian meributkan hal ini?
- Hei. - Apa?
Ibumu sungguh bilang kau akan melihat hantu hari ini?
Ya. Dia menyuruhku berhati-hati karena aku akan melihat hantu.
Kalian semua sudah dewasa. Kalian masih percaya hantu?
Di film, orang seperti dia selalu yang pertama mati.
[Kenapa dia bersikeras agar mereka ikut ujian ulang?]
[Dokgo Moon sungguh sesuai dengan namanya.]
[Kenapa aku harus bekerja lembur karena...]
[Di saat seperti ini, orang biasanya berbalik, tapi aku tidak mau.]
Apa itu tadi?
Apa yang kau lakukan?
Astaga, aku harus menanyakan hal yang sama.
Astaga. Kenapa kau di sini?
Aku...
Aku kemari karena sudah waktunya Kelas Tiga mengikuti ujian.
Benar juga. Masuklah.
- Benar juga. Baiklah. - Astaga.
Pertanyaannya sangat berbeda dari kelas lain,
jadi, perkataan anak-anak lain kepada kalian tidak akan berguna.
[- Kau dapat berapa? - Aku malas memeriksanya.]
Aku tidak berani memeriksanya.
Aku benar-benar mengacaukannya.
Aku sungguh mengacaukannya.
- Kau mengejutkanku! - Ja-rim, Ja-rim. Ujianmu sukses?
Di luar sangat berbahaya. Ayo cepat pergi.
Ini berbahaya.
Bukankah ini kali pertama kita di sekolah sampai larut malam?
Haruskah kita melakukan uji nyali?
- Hei, Kau mau melakukannya? - Kau mau? Aku mau.
- Bagaimana caranya? - Mereka selalu melakukannya di TV.
Kita akan menyembunyikan barang dan mencarinya.
Apa gunanya melakukan itu?
Masing-masing bertaruh 1.000 won, dan pemenang dapat semuanya.
Itu tidak sepadan.
Kenapa? Kau takut?
Jika kau tidak takut, itu uang gratis.
Kau sungguh pengecut.
Hei. Baiklah. Mari kita lakukan.
Apa yang kita cari dan dari mana?
Mari jadikan itu ruang musik.
Kurasa ruang musik yang paling menakutkan.
Aku pernah dengar tentang hantu piano.
Hantu piano? Kenapa kau membahas itu?
Mau mati?
Itu bagus. Kita akan memutuskan urutannya dengan batu-kertas-gunting.
Pertama, mari buat kelompok dua orang.
Kelompok dua orang?
[Aku yakin Ja-rim tidak berharap aku melindunginya.]
Ja-rim, aku takut!
[Ini kesempatan bagus bagiku untuk menempel padanya seperti lem]
Baiklah. Kami satu tim.
Apa maksudmu? Mari bermain gim agar semuanya adil.
Kami pasangan, jadi, kami harus satu tim.
- Hompimpah! - Hompimpah.
- Hompimpah! - Hompimpah.
Hompimpah!
Apa ini masuk akal?
Bisakah kau bertukar dengan Ja-rim?
Hei, begini saja.
Min-ji juga punya pacar.
Ini cara yang paling damai.
Aku akan pergi lebih dahulu dan menyembunyikannya.
Kalian harus membawa ini kembali, ya?
- Hei, ayo. - Apa? Baiklah.
Tunggu aku!
Hei. Kukira kau sudah melupakannya.
Aku meninggalkan tempat pensil, jadi, tim berikutnya bisa pergi.
Karena keadaan menjadi seperti ini, mari kita dapatkan uang mereka.
Terserah. Jangan pingsan seperti kali terakhir.
Hei, pastikan kau melindungi Ja-rim dengan baik, Lee Kyung-woo!
Hei.
Bisakah kau menjaga jarak?
Pacarmu memintaku menjagamu.
Bukankah seharusnya kau berjaga dari depan?
Aku belum pernah melihat orang yang berjaga dari belakang.
Kau melihatnya sekarang. Aku menjagamu dari belakang.
Astaga.
Hei. Tunggu. Tunggu aku!
Astaga.
Astaga, gelap sekali.
Kau melihat sesuatu?
Hei, aku menemukan tempat pensil Jin-hee.
Baiklah. Ayo cepat pergi.
Maafkan aku.
Hei, kau mau bersembunyi dan mengejutkan mereka?
Apa? Kau suka hal semacam itu?
- Aku hanya memikirkan sesuatu yang lucu. - Apa?
Hantu piano yang dibahas Kim Byung-hun tadi.
Seharusnya mereka sudah sampai.
Hei, kau yakin tidak ada yang terjadi kepada mereka?
Astaga.
Apa ini? Apa listriknya mati?
Lampunya tidak menyala.
Aku yakin mereka takut dan mencariku sekarang.
Entah dengan Lee Kyung-woo, tapi Ja-rim tidak akan begitu.
Tidak bisa begini. Aku sangat cemas sampai tidak bisa diam saja.
Aku pergi dahulu.
- Hei, Min-ji. Kau juga harus pergi. - Astaga!
Mau pergi bersama?
No comments yet. Be the first to leave one.