The first 200 lines.
Derita.
Penderitaan besar.
Bagus!
Sebelas, nilainya dobel. Jadi, 22.
Ya.
Jadi, kau menang berapa poin?
Tak banyak.
Berapa?
Dua ratus tiga.
Apa? Kau jauh lebih hebat dari Kakek.
Tidak juga. Mungkin sedikit.
Ini karena obat baru yang Kakek minum,
kau tahu, untuk kandung kemih Kakek.
Anti-sesuatu atau apa.
Anti-kolinergik.
Tampaknya bisa menyebabkan masalah kognitif.
Kebingungan, pening, linglung.
Biasanya, Kakek lebih baik.
Saat Kakek dan Nenek...
Mau teh?
Ya, Nak. Boleh.
Kau mau wafel?
-Wafel? -Kakek membeli pembuat wafel
dari saluran belanja.
Kakek tak bisa masak, jadi, setelah Nenek tak ada,
Kakek berharap pada peralatan modern.
Kau melihatnya di TV.
Ajaib, tinggal masukkan bahannya,
jadilah makanan.
Ini pembuat roti?
Ya, Kakek membuatnya kemarin.
Itu sangat berat. Sangat tebal.
Perpaduan roti gandum dan balok berlubang.
-Itu air mancur? -Ya.
Itu kesalahan.
Lama-lama bosan setelah berjam-jam mengeluarkan susu tanpa henti.
Namun Kakek belum coba pembuat wafel.
Harus buat adonannya dahulu, bukan?
Mereka tak menjelaskannya, orang yang mendemonstrasikan,
wanita kurus dan pria tak sopan dengan kulit palsu itu.
Kakek kira sudah termasuk adonannya.
Aku belikan makanan siap saji.
Tinggal masukkan ke oven. Tak perlu masak.
Namun itu juga masak, bukan?
Tidak juga. Nyalakan oven, masukkan makanannya, tunggu,
matikan oven, makan.
Baik, sepertinya mudah.
Terima kasih, Ava.
Kakek tahu kau pun mengalami masa sulit.
Membantu Kakek membantuku.
Banyak yang di luar kendaliku,
tapi kuharap bisa mempermudah Kakek
saat Nenek tak ada.
Kakek rasa dia tak akan kembali, Nak.
Itu bukan salahnya.
Nenek akan kembali.
Aku tahu itu.
Beri Nenek waktu.
-Hai. -Halo, Nak.
Aku akan pergi.
Tidak, tetaplah di situ.
Kau tidak menghalangi.
Maksudku kalau kau mau, bukan maksudku memerintahmu.
Baik, mau makan pasta untuk malam ini?
Tak usah repot. Aku makan roti lapis saja.
Tak repot, Jackie.
Aku bisa makan biskuit atau lainnya.
-Telur rebus. -Aku akan masak pasta.
Lebih repot jika kau makan yang lain.
Terima kasih, Nak.
Itu bagus.
Permisi. Maaf.
Aku mau jalan-jalan.
Menenangkan pikiran.
Ya. Ide bagus.
-Sampai nanti. -Ya.
Dah.
Itu tidak bersih. Astaga.
-Kau tak apa? Apa karena Ibu? -Ya.
Dia pergi jalan-jalan.
Dia melakukannya lagi, membilas mugnya di bawah keran,
lalu digabung dengan yang bersih.
Aku tak menyadari itu.
Aku menyadarinya.
Dia berusaha tak merepotkan.
Tidak, aku tahu,
tapi caranya justru membuat repot.
Benar. Apa perlu kusuruh dia pergi?
Jangan berlebihan, Paul, astaga.
Aku hanya ingin tahu apa rencananya.
Kurasa tidak ada.
Dunianya baru saja hancur, Ally.
Ya, tapi kita juga tidak baik-baik saja, bukan?
Ibu mertua berbagi kamar dengan putri kita yang depresi
mungkin tidak membantu.
Pasta tak apa-apa?
Ya, boleh.
Kau kedinginan, Nak?
Aku baik-baik, kurasa.
Kakek jarang menyalakan penghangat sejak Jackie tak ada.
Dia selalu kedinginan.
Nenek suka penghangat menyala sebelum kami bangun.
Aku juga suka itu.
Hanya Kakek yang bisa menyetel pengatur waktunya.
Itu sangat esoteris.
Jackie bilang, jika Kakek mati sebelum jelaskan caranya,
dia akan mati beku dan menemaniku.
Hari ini sudah minum pil?
Ya.
Atau belum?
Kakek lupa.
Kakek rasa sudah.
Atau belum?
Aku cek dispensernya.
Terima kasih, Sayang.
Kakek beri tahu,
itu hadiah kalender adven terburuk.
Ada lagi yang Tuan-tuan inginkan?
Tidak, terima kasih.
-Selamat menikmati. -Terima kasih.
Aku memesan sasyimi.
Tanpa nasi dan rumput laut, hanya ikan mentah.
Itu sangat mahal.
Pesanan kita sangat mahal.
Pacar ayahku memberi hadiah ulang tahun.
Dia merasa bersalah aku pergi dari rumah, jadi jumlahnya banyak.
Siap mencobanya?
Ya.
-Astaga! -Lezat, bukan?
Ini luar biasa.
Aku pikir aku akan...
Entah apa yang aku pikirkan, namun ini luar biasa.
Itu perut, bukan punggung.
Wah.
Aku senang kita berteman lagi.
Ya, aku juga. Sahabat.
Kita dipanggil "Tuan."
-Aku tahu. -"Tuan." Sebelumnya tak pernah.
Maaf, aku bersikap negatif.
Itu tidak benar.
Jika ini tahun 1968, aku akan disebut perusak suasana
dan dituduh menyebarkan getaran negatif.
Kau bukan perusak suasana. Kau menyenangkan.
Terima kasih.
Tak seharusnya aku mengeluh.
Aku tak keberatan menghabiskan uang Ibu,
namun aku tak melakukan apa-apa, dan itu tak menyenangkan.
Tentu saja. Semua ingin merasa berguna.
Aku saja.
Terima kasih, Luke.
Sebelumnya aku tak mudah depresi.
Aku pria yang positif.
Namun aku merasa kesepian di rumah besar dan kosong itu.
-Karen punya anak kembar? -Tidak.
Pengasuhnya melarangku mendekat.
Oh, begitu.
Putramu sangat tampan, Ally.
-Halo, Darren. -Hai.
Kau juga sangat tampan.
Terima kasih.
Ada... Semua cetakan kuemu ada di sini,
-juga barang lainnya. -Bagus.
Hari Jumat, ada pesta besar merayakan ulang tahun Alex ke-65,
usia dia dapat potongan harga naik bus.
Aku akan membuat kue.
Itu tak pernah terjadi.
Aku pandai membuat kue, jika serius membuatnya.
Pria suka itu, bukan?
Wanita kecil di dapur, semua itu.
Alex akan pensiun?
Tidak, dia mau terus bekerja.
Dia bilang tak mau merasa seperti bajingan tanpa tujuan.
Bagaimanapun, ada banyak orang yang datang hari Jumat.
Alex mengundang semua orang.
Kau mau datang, Darren?
-Dengan senang hati. Aku suka pesta. -Luar biasa.
Bisa bantu membawakan kotak itu?
-Ya, tentu. -Sebentar, cetakan kue tarakhir.
Ally, aku mengundang Jackie dan Jim.
Aku tak tahu harus apa setelah...
Tak ada yang tahu harus berbuat apa.
-Terima kasih, Darren. -Ya, tak apa-apa.
Aku segera kembali.
Kau harus bicara dengannya, temanmu itu.
Pergi, temui dia.
Grace tak mau menemuiku.
Dia penting bagimu, Sayang. Jangan dilepaskan begitu saja.
Aku tahu.
Aku tak bisa membayangkan tak menjadi temannya.
Itu sebabnya aku sangat ingin satu sekolah dengannya.
Itu sebabnya aku sengaja gagal tes.
Aku pikir dia juga gagal.
Itu alasan dia tak mau bicara denganmu?
Dia mengabaikanku.
Seolah
aku tak ada.
Kau sudah bicara dengan vikaris baik di gerejamu?
Aku sudah sekitar seminggu tak ke gereja.
Aku marah pada Yesus.
Jangan marah dengan Yesus, Ava.
No comments yet. Be the first to leave one.