The first 200 lines.
Kubilang tembak!
Sebelumnya
Tolong hentikan!
Tuan Muda Chun-jung berbeda.
Seolah-olah dia bersinar.
Kau ingat ucapan ibu?
Jangan sampai orang lain tahu
kau bisa melihat masa depan orang.
Tapi itu juga kutukan
jika orang tahu soal bakatmu.
Kau tidak boleh menunjukkan kemampuanmu kepada orang lain!
Kau yang akan mati!
Jadi, kau yang punya bakat asli, bukan ibumu?
Bong-ryun!
Ibu!
Apa kau masih ingat aku?
Aku sudah menunggu lima tahun, di bukit dengan pita diikat ke pohon.
Bong-ryun!
Beraninya kau menyentuhnya!
Kunang-kunang datang untuk menyambutmu.
Itu pasti kau, Bong-ryun-ku.
Apa yang kau lakukan?
Tulis titah kerajaan.
Masa depan keluarga kita bergantung pada misimu di Ganghwa.
Dan kita harus menyingkirkan Choi Gyung.
Keluarga Jangdong Kim-moon, pernikahan kalian dengan sang putri.
Tangkap Choi Gyung karena menyembunyikan peledak di kapal menuju Hanyang!
Ayah!
Begitu dia tiba, investigasi yang adil akan mengungkap kebenarannya.
Sebagai tuan putri, bisakah kau menjamin ucapannya?
Aku menyaksikan Choi Gyung dan anak buahnya memindahkan mesiu ke kapal.
Bong-ryun!
Tundukkan kepalamu dan hiduplah dengan diam-diam.
Kau harus mempertahankan hidupmu!
Ayah!
Berjanjilah kepadaku!
Berjanjilah Anda tidak akan membunuhnya!
Jika kau mengkhianati keluarga kami atau mencoba kabur,
ibumu dan Chun-jung akan dibantai!
Aku akan menunggu dengan sabar dan tidak pernah melupakan...
Aku akan membalas kematian ayahku.
Cari Choi Chun-jung!
Menurutmu kau bisa menemukan Tuan Muda dari Ganghwa berikutnya?
Kau mencari seseorang yang berpotensi menjadi raja?
Raja jatuh sakit,
keluarga kerajaan akan mulai mencari kekuasaan.
Aku sangat beruntung hari ini!
Tolong maafkan aku!
Wajahnya luar biasa.
Sedang apa kau di sini?
Kenapa kau menemui peramal dan memberi informasi palsu?
Heungseon-gun, pria itu...
Dia sudah hidup dengan gegabah selama ini.
Potensi raja sejati ada di dalam gadis itu!
Dia pelayan di rumah selir Wallsong-ru.
Tidak ada yang tahu nama atau alamatnya.
Kenapa Bong-ryun mengkhianatiku?
Pertanyaan ini tersangkut di kepalaku.
Jika kau tidak bisa melupakan dan mencarinya,
dia akan membunuhmu dan memenuhi takdirnya.
Episode 4
Tuan!
Tuan Chun-jung.
Tetaplah di sini!
Tuan!
Lepaskan aku!
Kenapa? Kau memegangku.
Teryata benar-benar kau, Tuan Chun-jung.
Jika aku bukan Choi Chun-jung,
kau akan dipukuli atau terluka.
Jika aku Choi Chun-jung,
kau akan mati.
Apa pilihanmu?
Tuan...
Setidaknya kau harus memeriksa
bahwa aku masih manusia, bukan hewan buas,
sebelum memegangku.
Aku tidak ingin tahu kenapa kau mengkhianatiku.
Menemukan kebenaran tidak akan mengembalikan ayahku
Jadi...
Jalani saja hidupmu
Terima kasih
karena masih hidup.
Jika tidak melupakan dan mencarinya,
dia akan membunuhmu dan memenuhi takdirnya!
Dia bukan tuan biasa! Aku setuju, Tuan.
Aku penasaran kenapa kota ini kosong.
Semua orang di sini.
Tolong minggir!
Minggir! Ayo jalan!
Apa yang dilakukan semua orang?
- Kau tidak tahu? - Apa ini?
Kalian para pengungsi dinasti Qing?
Hidup kalian tidak akan berubah dengan ramalan tidak berguna.
Bukankah kau si Biksu Merah? Apa yang kau lakukan?
Kau mau mengganggu bisnis kami?
Bukankah tuan kami sudah menyelamatkan nyawamu?
Itu benar, terima kasih...
Hei!
Dasar bocah bau! Mundur!
Terserah,
tapi melunaklah.
Ya, Bos! Aku akan melunak kepadanya!
Melunak, ya?
Apa yang kau lakukan?
Enyahlah!
Dasar bodoh! Melunaklah, tenang!
Hei!
Kenapa? Kau!
Bodoh!
Jangan pernah menyentuh adikku lagi! Dasar biksu kurang ajar!
Kakak!
Bos, kau baik-baik saja?
Apa? Ada apa?
Kau wanita pertama yang memperlakukanku seperti ini.
Apa?
Tiba-tiba jatuh cinta?
Kau menyukainya?
Kau sungguh menyukainya!
Dia menyukainya! Lihat dia tersipu!
Pipimu lebih cerah dari pipi pengantin wanita!
Diam!
Kali ini akan kubiarkan.
Ayo pergi.
Kubilang melunaklah! Melunak!
Dia bilang melunak!
Tetaplah di sini, biar pipi sebelahmu ditampar juga!
Kau mau ke mana?
Keluar lewat belakang.
Kau baru saja kembali.
Masih ada urusan.
Ayolah.
Kau menahanku di sana sejak aku bangun.
Aku sudah meramal seharian!
Ini penjara!
Kau benar, ini penjara.
Siang dan malam, penjara yang menghasilkan uang!
Jika bisa bersamamu, aku bisa dipenjara selamanya.
Kau gila...
Jangan seperti itu! Tuanku, lihat ke sana!
Lihat antrean panjang itu! Di sana juga!
Mereka pasti sangat putus asa
sampai menunggu di sini lebih dari 10 jam sejak pagi!
Lima Sijin, kurang lebih 10 jam
Terserah mereka.
Baiklah!
Dengar, maaf aku harus memberi tahu kalian
kami sudah selesai hari ini!
Kami sudah menunggu seharian! Tolong, sampai kami saja.
Akankah aku lulus ujian negara kali ini?
Sudah berapa tahun kau mencoba?
Ini tahun kesepuluhku.
Tapi itu karena aku sangat tidak beruntung.
Tidak beruntung kau bilang...
Sangat tidak beruntung sampai kau bisa hidup
dari adikmu yang kerja di rumah bordil,
yang menuangkan minuman dan menjual senyumnya selagi kau belajar?
Bagaimana kau tahu di mana aku bekerja?
Pakaianmu sudah usang, wajahmu penuh kekhawatiran
tapi rambutmu beraroma parfum.
Semalam kau sibuk menuangkan minuman
dan pagi ini kau baru mengganti pakaianmu. Benar, bukan?
Ya, Tuan.
Ibu kami juga sakit.
Hei, Peramal,
aku sungguh sudah bekerja keras. Aku sudah berusaha semampuku.
Tapi kau tetap gagal?
Dengar, aku sudah bicara dengan peramal lain.
Mereka bilang aku sial karena terus gagal, tapi...
Aku merasa peruntunganku berubah. Jadi, sekarang...
Apa menurutmu aku akan lulus?
Jika kau giat belajar...
Mungkin tanggal dan waktu lahirmu salah.
Dan untuk ujianmu...
Aku tidak akan bilang.
Apa?
Aku akan mengembalikan uangmu.
Ini uang lebih karena sudah menunggu 10 jam.
Ini lima kali lebih banyak daripada bayaranku.
Maafkan aku.
Yang benar saja.
- Kakak! - Apa?
Berhenti bicara.
Dua bersaudara tadi.
Kenapa kau memulangkan mereka?
Takdirnya seperti lilin berkelip di tengah angin musim dingin.
Dalam peramalan, dia masalah yang tidak terpecahkan.
Lemah dalam pikiran dan tubuh.
Lilin di musim dingin...
Lilin di tengah angin.
Mudah padam?
Orang tuanya baik, tapi dia pikir dirinya hebat.
Tanpa menyadari keterbatasannya seperti lilin di tanah lembap.
Dia malas dan suka mencari sensasi.
Tapi anehnya,
selama 10 tahun terakhir,
sesuatu telah melindungi apinya.
Keberuntungan? Dia beruntung?
Dia bilang tidak beruntung dan tidak lulus ujian.
Karena itulah aneh.
No comments yet. Be the first to leave one.