The first 200 lines.
"Episode 23"
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Kamu akan merahasiakan ini?
Karena ini sudah larut, bawa mobilku.
Bu Kang.
Bu Kang.
Bu Kang.
Ibu.
Tolong jangan terlalu membenci Bu Kang.
Kenapa ibu harus mendengar namanya
di rumah ibu sendiri?
Bu Kang
orang baik jika ibu sudah mengenalnya.
Kamu membelanya di hadapan ibu?
Bukan begitu.
Ibu berencana memecatnya pada perombakan berikutnya.
Sarapanlah sebelum pergi.
Tidak, aku sudah terlambat. Nanti kutelepon.
Bu Kang.
Kamu tidak harus menjemputku.
Aku cemas.
Aku bukan anak-anak. Kenapa mencemaskanku?
Tapi Anda menangis seperti anak-anak.
Selamat pagi.
Mi Ri pergi tanpa sarapan.
Dia bergegas pergi karena takut kakak tanya.
Pasti ada sesuatu antara dia dan pria itu.
Benar, bukan?
Kakak harap ada sesuatu.
Kakak mau menikahkan Mi Ri
dan Mi Hye juga tahun ini.
Tapi Mi Hye tampaknya
mengincar restoran ini.
Apa maksudmu?
Dia membutuhkan kegigihan sebelum membuat rencana begitu.
Dia tidak bisa melakukan sesuatu sampai selesai.
Kapan Min Ho datang?
Biasanya dia datang sekitar pukul sebegini.
Bukankah dia baik?
Ya, dia rajin.
Kakak dengar dia mahasiswa.
Dia bekerja di sini seharian,
jadi, kapan dia belajar?
Dia sedang cuti.
Sungguh?
Hampir mustahil bagi mahasiswa membayar
uang kuliah mereka tanpa bekerja paruh waktu
kecuali mereka dari keluarga kaya sekarang ini.
Astaga. Biaya kuliah amat mahal.
Sayang sekali biayanya
amat besar bagi anak muda untuk belajar.
Dunia ini harus membiarkan mereka belajar dengan mudah.
Astaga.
Beberapa orang berusaha keras
sedangkan salah satu putri kakak...
Kamu mau ke mana?
Ke suatu tempat.
Ke mana?
Ke mana lagi? Tentu saja perusahaan penerbitan.
Katamu kamu sedang cuti.
Cutiku sudah berakhir.
Kamu menghabiskan waktu
tanpa bisa melakukan sesuatu dengan gigih.
Tidak benar.
Benar.
Ibu yakin kamu entah sebal
atau tersinggung lagi saat menulis.
Jangan memarahinya pagi-pagi.
Hidup pasti berubah.
Tidak ada bunga yang langsung mekar.
Dia bukan bunga, dia bahkan bukan bunga labu.
Jika mau melakukannya, lakukan dengan benar.
Atau menyerahlah
dan belajar cara mengelola restoran dari ibu.
Astaga. Aku pergi.
Terserah.
Astaga.
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Apa yang kamu lakukan?
Lakukan.
Apa?
Semua milikmu, jadi, semangat.
Kamu tidak mau naik?
Bukankah ada banyak naskah yang harus dibaca hari ini?
Aku sedang membaca koran.
Kamu sudah lama sekali membaca halaman itu.
Kenapa terus memancing?
Bagaimana denganmu? Kenapa kamu di sini?
Kamu menunggu seseorang?
Aku mau naik.
Apa menurutmu, Mi Hye akan datang?
Aku tidak peduli.
Setelah semua yang kulakukan untuk membujuknya,
dia akan datang jika manusia.
Meski dia tidak datang, aku tidak rugi.
Ini sudah hampir waktunya wawancara pegawai paruh waktu.
Kamu menyewa paruh waktu baru?
Untuk berjaga-jaga jika Min-hye tidak datang.
Kamu...
Pegawai magangnya sudah datang.
Halo.
Aku berpapasan dengan truk biji kopi dalam perjalanan kemari.
Kamu tidak harus menyeretnya sampai kemari.
Serahkan kepadaku. Akan kuurus.
Senang kamu kembali.
Kuharap kita akrab.
Maaf.
Aku tidak bisa memercayaimu.
Anggaplah ini ruang menulismu.
Kamu mau aku menulis di sebelahmu?
Sudah kubilang.
Aku belum bisa memercayaimu.
Kamu tidak harus bekerja di kafe.
Alih-alih, uji baca naskah
yang kuberikan kepadamu di pagi hari.
Serta tulis sesuatu di siang hari.
Periksakan itu setiap pulang kerja.
Periksakan?
Apa? Kamu tidak suka?
Aku bukan anak-anak. Tidak perlu kamu periksa.
Kamu bukan anak-anak?
Kamu menyia-nyiakan sembilan tahun terakhir
karena tidak ada yang memeriksa.
Haruskah kamu sekejam ini?
Biasakan diri dengan cara bicaraku.
Aku mungkin lebih keras dari ini
saat membaca naskahmu.
Terserah kamu mau menangis atau tidak terhadap komentarku,
tapi kamu tidak bisa kabur lagi.
Aku sudah membuat beberapa syarat
agar kamu mengompensasinya jika kabur lagi.
Ini kontrak tertulis
yang amat kamu inginkan.
Baca baik-baik dan teken.
Uji baca naskah ini juga.
Aku akan kembali di sore hari.
Kamu masih punya kesempatan terakhir,
jadi, kaburlah sekarang jika mau.
Aku harus mengantarmu ke rumahmu?
Tidak, terima kasih. Aku tidak akan kabur lagi.
Kenapa kamu menatapku seperti itu?
Jangan menulis cerita yang buruk.
"Jika naskahnya terpilih..."
"30.000 dolar"?
"Jika kontrak dibatalkan
atau peneken kontrak kabur lagi..."
"100.000 dolar"?
"Toko Buku dan Penerbitan Dol Dam Gil"
"Toko Buku dan Penerbitan Dol Dam Gil"
Aku tidak bisa puas dengan tugas remeh ini.
Kamu mulai lagi.
Jujur saja. Kita melakukan semuanya
dan Tim Perencanaan menerima kredit.
Aku amat ingin mengikuti Kejuaraan Hansung.
Cukup.
Tidak ada yang senang di sini.
Sadar dan fokuslah bekerja.
Acara Hari Pendirian juga penting.
Orang luar pasti tertarik
hanya dengan fakta kita punya CEO baru.
Jika begitu, kurasa ini kesempatan emas kita.
Kalian setuju, bukan?
Walaupun begitu...
Aku setuju, Bu Kang.
Pak Park, bisakah kamu menyerahkan ini
ke Tim Perencanaan dan Ruangan CEO?
"Tim Perencanaan dan Ruangan CEO"?
- Tidak. - Aku saja.
Baik.
Tolong urus, Tae Ju.
Tidak masalah.
Astaga.
Kenapa mereka mengutusmu kemari?
Karena ini tugas mengantar sepele.
Begitu rupanya.
Duduklah sebentar.
Baik.
Kamu mau minum teh?
Tidak, terima kasih.
Para sekretaris nanti curiga.
Menurutmu begitu?
Jadi, Ibu...
Apa? Ada yang tidak beres?
Kenapa Ibu memperlakukan Bu Kang seperti itu?
Kemarin malam,
aku kebetulan berada di luar rumah Ibu.
Kamu bersama Bu Kang?
Ya, aku bersamanya.
Kenapa?
Kenapa bersamanya pukul sebegitu?
Itu tidak penting.
Kenapa Ibu menyuruhnya
melakukan tugas pribadi?
Itu yang ingin kutahu.
Bu Kang bosku.
Kami bekerja di luar kantor bersama juga
dan begadang.
Itukah alasanmu bekerja bersamanya?
Apa kalian bermalam bersama?
Ibu.
No comments yet. Be the first to leave one.