The first 200 lines.
Sebenarnya siapa kau?
"Pertempuran di Jembatan! Zabuza Kembali!"
Selamat pagi.
Silakan.
Terima kasih.
Naruto tak pulang lagi semalam?
Dia memang bodoh.
Keluar setiap malam dan memanjat pohon.
Dia mungkin sudah mati akibat terlalu banyak pakai cakra.
Entah bagaimana keadaan Naruto.
Anak kecil seperti dia keluar saat tengah malam.
Tak perlu cemas.
Meski tak terlihat dari luar, dia seorang ninja.
Entahlah.
Mungkin si bodoh itu sedang kelelahan saat ini.
Sasuke?
Aku mau jalan-jalan.
Kita baru mau makan.
Cepat sekali.
Kau bisa kedinginan jika tidur di sini.
Siapa kau?
Apa aku membangunkanmu, Kak? Sedang apa kau di sini?
Mengumpulkan obat herba.
Herba?
Ya. Untuk menyembuhkan luka, penyakit, dan semacamnya.
Kakak sibuk sekali sepagi ini.
Kau juga.
Sedang apa kau di tempat seperti ini sejak pagi?
Berlatih!
Apa kau seorang ninja atau semacamnya?
Dengan ikat kepala itu dan...
Apa aku terlihat seperti ninja?
Ya! Aku seorang ninja!
Sungguh? Kau hebat, ya?
Akan tetapi, kenapa kau berlatih?
Aku ingin tambah kuat.
Namun, kau sudah terlihat cukup kuat.
Belum. Aku mau lebih kuat lagi.
Untuk apa?
Untuk menjadi ninja terbaik di desaku.
Aku ingin membuat semua orang mengakui kehebatanku.
Selain itu, aku harus membuktikan sesuatu kepada seseorang.
Demi seseorang atau demi diri sendiri?
Apa?
Apa yang lucu?
Apa kau punya orang yang berharga dalam hidupmu?
Berharga?
Apa maksudmu?
Ada apa?
Saat seseorang punya sesuatu yang berharga untuk dilindungi,
saat itulah mereka bisa benar-benar kuat.
Ayahmu menyayangi kota asalmu, jadi...
Takkan kubiarkan rekanku terbunuh begitu saja.
Jika berani menyentuh Guru Iruka,
kubunuh kau!
Ya! Aku juga menyadari hal itu.
Kau akan bertambah kuat.
Ya!
Kuharap kita bertemu lagi.
Aku hampir lupa.
Aku laki-laki.
Mustahil! Padahal dia lebih manis daripada Sakura!
Kenapa? Aneh sekali.
Dunia ini penuh dengan misteri.
Aduh. Hei! Apa yang kau lakukan?
Apa kau lupa jam makan? Dasar bodoh.
Naruto?
Apa yang sebenarnya Naruto lakukan?
Sasuke juga tadi jalan-jalan, tapi belum kembali.
Mustahil. Naruto bisa memanjat setinggi itu sekarang?
Hebat.
Bagaimana?
Aku bisa memanjat setinggi ini sekarang!
Gawat!
Dasar bodoh!
Gawat!
Tertipu.
Kalian tertipu!
Jangan menakuti kami seperti itu!
Akan kubunuh dia nanti!
Dia agak berkembang.
Bodoh kau, Naruto!
Itu karena kau berlebihan!
Dasar bodoh.
Sasuke?
Bagus, Sasuke! Kau hebat!
Mereka benar-benar berkembang.
Naruto...
...Uzumaki.
Kau sudah mulai pulih, ya?
Baiklah.
Tinggal sedikit lagi, Haku.
Ya.
Mau pulang?
Baik!
Mereka terlambat.
Bukan hanya Naruto, tapi Sasuke juga.
Ada apa dengan kalian?
Kalian benar-benar kotor dan kelelahan.
Kami berdua memanjat sampai puncak.
Bagus.
Naruto, Sasuke, kalian juga mulai mengawal Tazuna besok.
Baik!
Dasar bodoh.
Tinggal sedikit lagi, maka jembatan akan selesai.
Ini berkat kalian.
Meskipun begitu, jangan lengah.
Sudah lama aku ingin menanyakan ini.
Kenapa kalian masih di sini meski aku bohong tentang misi itu?
"Hanya melihat tanpa bertindak itu menunjukkan tak adanya keberanian.
Guru dan murid sama saja."
Itu ajaran mendiang Hokage.
Untuk hal-hal yang berharga,
akan kulindungi sampai akhir dengan kedua tangan ini!
Jangan menangis, Inari.
Kenapa?
Ada apa?
Kenapa kau berusaha keras sampai seperti itu?
Tak mungkin kau bisa menandingi anak buah Gato meski berlatih!
Apa pun ucapan kerenmu atau bagaimanapun usahamu,
yang lemah selalu kalah di hadapan yang kuat!
Diamlah. Aku tak seperti dirimu.
Diam! Melihatmu membuatku muak!
Ikut campur meski kau tak tahu apa-apa tentang negara ini!
Aku tak seperti dirimu yang selalu sembrono tanpa tahu penderitaan!
Jadi, kau hanya akan menangis sepanjang hari seperti orang malang?
Orang bodoh sepertimu menangis saja selamanya. Dasar cengeng!
Naruto! Kau agak berlebihan!
Naruto.
Boleh bicara sebentar?
Naruto tak berniat menyakitimu dengan ucapannya.
Dia tak tahu sopan santun, jadi...
Kami sudah dengar tentang ayahmu dari Tazuna.
Sama denganmu, Naruto tak pernah punya ayah sejak kecil.
Sebenarnya, dia tak mengenal kedua orang tuanya.
Tak hanya itu. Dia tak punya teman sama sekali.
Apa?
Namun,
aku tak pernah melihatnya merajuk, rendah diri, atau menangis.
Dia selalu bersemangat, ingin diakui oleh seseorang.
Jika demi "impian" itu, dia selalu mempertaruhkan nyawanya.
Dia mungkin sudah lelah menangis.
Jadi, dia tahu arti sebenarnya dari kata "kuat".
Seperti ayahmu.
Mungkin Naruto yang paling memahami perasaanmu.
Yang Naruto katakan tadi...
Itu yang selalu dia katakan kepada dirinya berulang kali.
Baiklah! Kutitipkan Naruto kepadamu.
Karena tubuhnya sudah mencapai batasnya,
kurasa dia tak bisa bergerak hari ini.
Kakashi, kau sudah sehat?
Ya, lumayan.
Kita berangkat!
Apa yang kau lakukan?
Aku membayar kalian bukan untuk bersantai.
Hei, apa kau dengar, Zabuza?
Ayo pergi, Haku.
Ya.
Aku kesiangan!
Hei, di mana semua orang?
Naruto, gurumu ingin kau beristirahat dan bersantai hari ini.
Sudah kuduga.
Mereka meninggalkanku.
Aku berangkat!
Sial! Mereka seharusnya membangunkanku.
Apa-apaan ini?
Ada apa ini? Apa yang terjadi?
Tak mungkin.
Inari, tolong bantu.
Inari!
Aku datang!
Kabut ini...
Sasuke, Sakura, mereka datang.
Sudah kuduga dia masih hidup.
Muncul secepat ini...
Guru Kakashi.
Ini Kirigakure no Jutsu miliknya, 'kan?
Maaf membuatmu menunggu, Kakashi.
Kulihat para bocah itu bersamamu seperti biasa.
Dia masih gemetar. Kasihan.
Aku gemetar karena bersemangat.
Lakukan, Sasuke.
Aku bisa melihatnya.
Jadi, dia bisa melihat klona air.
Bocah itu sudah berkembang.
Ini berarti ada rival baru, Haku.
Sepertinya begitu.
Hampir saja.
Maaf aku terlambat. Namun, Inari, kau hebat.
Aku bisa menyelamatkan ibumu berkat keberanianmu.
Hei, tunggu.
Jika kita diserang berarti Guru Kakashi dan yang lainnya dalam bahaya, 'kan?
Selanjutnya, "Rahasia Jurus Haku, Cermin Kristal Es."
Jangan lewatkan aksi hebatku!
Tampaknya kau sedang bosan.
Ada apa dengan si anak pirang dan si anak sombong itu?
Mereka sedang berlatih memanjat pohon.
Kau tak ikut?
Aku sudah mahir. Jadi, Guru Kakashi memintaku mengawalmu.
Sungguh?
No comments yet. Be the first to leave one.