The first 200 lines.
Diterjemahkan Oleh tsubasaraa IDFL™ Subs Crew
Kau tak pergi ke Seoul?
Selamat Datang di Moorim!!
Tentang harta yang tersembunyi di sekolah.
Itulah, tapi yang lebih penting jika memilikinya, kekuatan kita bisa bertambah.
Tak apa jika kau mau menangis.
Mengerti? Pelukankulah yang sempurna di dunia.
Apa? Sudah mau ujian lagi?
Aku pasti bisa berhasil dalam ujian.
Shi Woo mungkin diberikan mentor yang lainnya juga. Mungkin, Soon Deok?
Aku pasti akan mengalahkanmu.
Aku juga tak akan kalah.
Kau masih menyimpan trauma dalam dirimu.
Apa kau sudah siap?
Jika iya, kita akan mulai.
Aku melihat seorang anak.
Dia menangis di tengah-tengah kobaran api itu.
Dia tak sendirian.
Hei!
Dan siapa dia?
Siapa anak itu?
Aku tak tahu siapa anak itu dan orang yang menemaninya.
Semakin aku mencoba untuk mengingatnya...
aku merasakan ada sesuatu yang menekan dadaku.
Sekarang, kau sudah mengalami kemajuan karena sudah bisa melihat traumamu.
Dan melepaskan apa yang ada di dalam.
Kita akan memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan ingatanmu itu.
[Moorim School -Episode 6-]
Baru kali ini terdapat pasien koma selama 18 tahun akhirnya tersadar.
Kami sudah mengecek semua kondisi pasien yang sekarang.
Kinerja otak dan pengetahuan atas dirinya sendiri bekerja dengan sangat normal.
Baiklah.
Dia sudah sadar? Baiklah
Chae Yoon sudah sadar.
Dia tersadar lebih cepat dari yang kuperkirakan.
Ayah.
Kenapa kau datang ke sini? Kau tak ada kelas?
Jika ayah adalah penggemar seorang idola, apa ayah akan mengikuti traumanya juga?
Apa maksudmu?
Sejak kecil aku takut api, Si Woo-oppa juga begitu.
Kau ini, apa tidak bisa kau tak bilang "Si Woo-oppa"?
Lihat, ya? Si Woo-oppa ini- tunggu karena kau, aku jadi ikut-ikutan.
Yoon Si Woo itu setahun lebih muda darimu.
Lalu, kenapa kami punya trauma yang sama?
Apa... ini takdir?
Mungkin juga...
Tapi, apa kau pikir hanya kalian berdua yang suka main api saat masih kecil? Kembali ke kelasmu.
Ayah selalu saja serius menangani masalah murid lain, tapi aku tidak.
Apa aku ini anakmu? Ataukah ayah hanya memungutku di bawah jembatan dulunya?
Kepribadianmu juga bisa dinilai dari bagaimana kau membersihkan toiletmu.
Kau ini... yang serius saja membersihkan.
Kau baik-baik saja?
Karena?
Tidak, lakukan saja tugasmu.
OMG, Ariel! Tolong ke toilet lain saja, aku tak mau konsentrasiku hilang karena kau.
Aku hanya mau cuci tangan saja.
Tapi, Ariel. Aku ini sangat rajin. Apa kau tak ingin memberikanku hadiah?
- Apa kau membersihkannya demi aku? - Tentu saja, dong.
Tidur saja sana.
Jangan jahat begitu. Jika aku bisa mengalahkan Si Woo dalam ujian, kabulkan satu permintaanku.
Dasar.
Kami tak akan kalah.
Tak usah diperjelas, Sim Soon Deok.
"Kami"? Yang kau maksud "Kami" itu kau dan dia?
Ya, karena kami satu tim.
Mentor-mentee.
Apa karena kau sedang tak percaya diri?
Siapa yang tidak percaya diri?
Baiklah, kalau begitu kabulkan satu permintaanku.
Memangnya apa permintaanmu?
Kencan.
- Apa? - Kita harus pergi kencan.
Kau sudah berjanji. Jika aku menang, kita harus pergi kencan.
Lawakannya lucu sekali.
Hei, aku hampir jatuh.
Maaf.
Terima kasih banyal.
Teh Prof. Kim memang yang terbaik.
Aku berharap ujian ini akan berlangsung selamanya saja.
Kenapa?
Bukannya enak melihat mereka semuanya serius belajar?
Dan juga mereka tak akan ada waktu untuk membuat masalah.
Tapi, mereka selalu kalem di kelasku.
Itu karena semangat mereka berbeda antara di kelas memasak dan kelas jasmani.
Atau mungkin perbedaan pengajarnya.
Ayo lawan aku.
Oh ya, Seon Ah juara 1 lagi, 'kan?
Keterampilan bela diri Yeob Jeong juga lumayan.
Jika hanya berdasarkan keterampilan saja,
apa bedanya kita dengan pamain seni bela diri yang lainnya?
Moorim School punya aturan tersendiri.
Memangnya siapa yang sesempurna itu?
Tapi, bukannya Prof. Kim yang mendekatai kualifikasi itu?
Ya, tapi mungkin yang kau maksudkan adalah Prof. Kim yang dulunya.
Karena Prof. Kim yang sekarang sudah jauh berbeda.
Benarkah?
Dulu, dia dikendalikan oleh hormon abnormal.
Hormon abnormal?
Kau tahu, seperti dopamin, phenylethylamine, oksitosin, endorfin.
Hormon yang bisa membuatmu seperti melayang di awan.
Bukannya hormon itu juga ada saat seseorang sedang jatuh cinta?
Astaga... kau ini bicara apa, sih?
Padahal dia yang memulai topik ini. Dan dia juga yang marah?
Apa cinta memang bisa mengubah seseorang?
Bagaimanapun caranya, kita harus menang.
Kalah sama saja dengan bunuh diri.
Batu untuk pria. Kau tahu, 'kan?
- Ya. - Jangan sebut pilihanmu.
Nah, kita mulai saja. Batu, kertas, gunting!
- Ya! - Wow, wow, wow!
Aku ini bauk hati, aku akan mencuci dalamanku sendiri.
Kalian tahu cara mencuci dengan tangan, 'kan?
Pisahkan baju yang mudah luntuh. Dan berikan pemutih pada baju putih!
Buat warnanya tidak luntur.
Ayo mulai latihan!
Padahal kita juga kekurangan jadwal latihan.
Kau mau kubantu?
- Semangat! - Maafkan diriku, Ariel!
Sial sekali...
Ini bagianmu, kau pasti bisa.
Yang semangatlah Yoon Si Woo! Semangatlah!
Cepat berdiri!
Kita kan juga harus berlatih...
Kita bisa melakukan latihan dasar saja.
Tapi...
Anak ditengah-tengah kebakaran itu,
apa anak itu adalah kau?
Mungkin juga iya, mungkin juga tidak.
Kudengar, aku ditemukan di sebuah gunung saat masih kecil dulu.
Di gunung?
Di internet bilang, orang tuamu tinggal di Amerika...
Apa kau men-stalking-ku?
Tidak juga, sih...
Itu hanyalah informasi yang dibuat-buat oleh agensiku,
sebenarnya aku hanyalah seorang anak yatim piatu.
Maaf.
Maaf? Memangnya kau yang membuangku ke gunung?
Tapi, mungkin juga kau ini tidaklah dibuang.
Mereka mungkin tak punya pilihan lain atau mungkin kau sudah diculik.
Jika memang begitu, mereka pasti akan mencariku, 'kan?
Jika kau mulai latihan dengan menggunakan alat ini
maka latihan akan mulai serius.
Untuk apa bantalan ini? Apa agar lawan kita tak terluka parah?
Tidak, di ujung tongkat itu, aku mengisinya dengan terigu.
Jika memang kau berhasil mengenai lawanmu, maka terigu itu akan melekat.
Dan saat latihan selesai, kau akan bisa
melihat berapa serangan yang bisa kau layangkan pada lawanmu.
Kau pintar juga, ya?
Jika kau bisa melekatkan secuil terigu di tubuhku, aku anggap kau sudah menang.
Apa kau masih berpikir aku ini lemah? Biar kuberitahu padamu,
Aku adalah pria yang sudah berlatih Taekwondo, Hapkido, Judo-
Apa mulutmu itu bisa membuatmu menang dalam ujian?
Ayo mulai.
Aku tak akan sungkan padamu.
Apa kita serius harus mencucinya dengan tangan?
Mungkin butuh setahun sampai bisa selesai?
Ujiannya tinggal 2 hari lagi.
Hei! Minggir, cepat.
Oh, Yoon Si Woo. Kau mau menggunakan otakmu itu, ya?
Kau mau melatih pusat pikiranmu dan juga kelenturanmu dalam sekali jalan, ya?
Ya, ayo mulai!
Baiklah. Cucian #2 ke # 3.
Cucian #3 ke #1. Cucian #4 ke #1!
Kenapa gerakanmu lambat sekali, hah? Yang lebih cepat lagi!
Cucian #1 ke #3!
Oh, refleks yang cepat juga!
Aish, Hei!
Sial!
- Kita sudahi latihan hari ini. - Tidak mau!
Aku masih ingin berlatih. Aku belum pernah mengenaimu.
Apa? Sudah, kok.
Itu karena seranganmu sendiri!
Bantalan ini sangatlah kuat dan mudah sobek.
Tapi, lihat, kau sudah berlatih dengan sangat keras.
Kita mungkin bisa menang dalam ujian nantinya.
Benarkah?
Begitu, ya? Apa kita bisa menang?
Tapi, kenapa kau sangat ingin mengalahkan Yoon Shi Woo?
Memang wajar sih kau ingin menang.
Aku hanya ingin mendapatkan kupon kemenanganku.
Jika aku menang, Ariel akan mengabulkan satu permintaanku.
Permintaan? Apa?
Rahasia.
Apa-apaan, sih?
Kau sendiri bagaimana?
Kau terlalu sibuk mengajariku hingga tak bisa latihan.
Bukannya Yeob Jung yang akan menjadi lawanmu?
Ya.
Si bocah arogan.
Kau harus menang.
Aku sudah berlatih.
Latihan yang sangat keras.
Latihan keras?
Bagaimana?
Aku merasa sudah bisa terbang sekarang.
Wow.
Aku penasaran bagaimana latihan Wang Chi Ang?
Mereka pasti sedang berlatih keras.
Kau tahu kan Hwang Seon Ah sangat kuat.
Jika ingin menang, kenali dirimu dan juga lawanmu.
No comments yet. Be the first to leave one.