The first 196 lines.
Kau baru pulang?
Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu?
Apa yang ingin kau katakan?
Pak Yoon.
Maafkan aku.
Aku tak bisa menerima ini.
- Sebenarnya, aku... - Kenapa tidak?
Karena kau bukan Kang Sun-ju?
Bagaimana kau...
Sebenarnya, namaku In Yoon-ju.
Kang Sun-ju adalah kakakku.
Aku sungguh minta maaf.
Aku hendak memberitahumu. Sungguh.
Jangan bilang kau tak bisa menemukan waktu yang tepat.
Kau punya banyak kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Kenapa kau berbohong?
Kenapa?
Aku sangat membutuhkan
uangnya.
Pada akhirnya ini soal uang.
Kau sama seperti yang lain.
Semua yang kukatakan akan terdengar seperti alasan bagimu. Itu salahku.
Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf, Pak Yoon.
Aku sudah menceritakan semua tentangku.
Tapi kau... Kau!
Kau bahkan tak memberitahuku nama aslimu.
Tapi kau ingin aku percaya kau menyesal
dan memercayai ucapanmu?
Jangan menangis
karena air matamu mungkin sama palsunya.
Aku kembali ke sini lagi.
Aku bahkan tak pantas menangis.
Tunggu sebentar. Jadi, kau bukan
Dokter Kang Sun-ju?
Maafkan aku, Pak Moon.
Astaga. Itu tak lucu, Dokter Kang.
Kau menceritakan lelucon buruk sebelum meninggalkan Korea.
Dokter Kang Sun-ju adalah saudari kembarku.
Sebenarnya, saat kita bertemu di hotel untuk kali pertama,
aku ke sana untuk menemui kakakku.
Terima kasih sudah datang ke sini.
Aku khawatir kau tak datang hari ini.
- Kurasa ada kesalahpahaman. - Kami ingin kau
menjadi dokter pribadi.
Tunggu. Aku bukan Kang Sun-ju. Aku...
Lalu kenapa kau berpura-pura menjadi saudari kembarmu?
Aku sungguh minta maaf.
Apa Dokter Kang tahu perbuatanmu?
Tidak. Dia tidak tahu.
Aku sangat membutuhkan uang.
Dia tidak ada hubungannya dengan ini.
Astaga.
Tunggu. Bagaimana ini bisa terjadi?
Akan kulakukan apa pun untuk mengembalikan 50 juta won yang kau bayar kepadaku.
Tidak ada yang bisa kukatakan meski kau ingin menelepon polisi sekarang.
Aku akan menerima keputusanmu dan menghadapi konsekuensinya.
Tentang insiden ini...
Aku tidak akan mempermasalahkannya.
- Apa? - Intinya,
LUNA tak boleh masuk koran karena kasus penipuan.
Tae-in tak tahu soal ini, bukan?
Dokter Kang. Kau mau sarapan?
Apa kau Yoon-ju?
Bu Cho-rong.
Ini. Makanlah.
Aku baik-baik saja. Aku tidak...
Apa aku baru mendengar badai petir?
Roti kacang merah ini jauh lebih enak daripada roti pemberianmu.
Lain kali, belilah dari toko roti ini.
Enak.
Roti terasa enak bahkan di saat seperti ini.
Kenapa kau tak menyapa tempo hari?
Bagaimana dengan kakakmu yang tinggal di Amerika?
Apa kau bisa bertemu dengannya?
Astaga.
Sepertinya ukurannya pas untukmu.
Astaga. Pakailah jika kau mau. Atau tak usah.
Saat banyak pikiran, kau harus tidur sepuasnya.
Jika sudah selesai makan, tidurlah.
Jika kau tak punya tempat tujuan,
tinggallah di sini selama yang kau mau.
Tanpa berpamitan dengan kita?
Dia belum kembali sejak kemarin.
Aku agak sedih.
Mungkin ada hal mendesak.
Lagi pula, kontraknya sudah habis.
Kenapa kau begitu kejam?
Baiklah. Aku tahu kau sedih dia pergi,
tapi Tae-in sudah jauh lebih baik.
Jika sudah selesai,
aku mau ke atas.
Baiklah.
- Pak Moon. - Ya?
Apa Tae-in tahu Dokter Kang pergi?
Ya. Tentu saja dia tahu.
[ Dia ke kantorku pagi ini, berlutut, dan memohon agar aku memaafkannya. ]
Tae-in.
Apa terjadi sesuatu dengan Dokter Kang semalam?
Apa yang ingin kau ketahui?
Apa Dokter Kang memberitahumu?
Kau tahu?
Ya.
Dia mendekatiku demi uang.
Kau tak melakukan apa pun padahal tahu?
Aku tak mau ambil risiko
mengatakan yang sebenarnya dan meminta pengertianmu.
Pengertianku?
Semuanya bohong. Kau ingin aku pengertian?
Itukah yang kau pikirkan?
Kaulah yang paling tahu betapa Dokter Kang berusaha membantumu.
Jika seorang penipu berusaha keras, berarti dia bukan penipu?
Tae-in. Kau tahu dia tak seperti itu.
Aku memercayai penipu seperti dia selama sebulan.
Kau tak akan pernah memahami perasaanku.
Tae-in membatalkan latihan hari ini.
Apa? Padahal dia taat peraturan?
Sikapnya agak aneh.
Apa karena Dokter Kang pergi?
Benar. Aneh Dokter Kang pergi begitu saja tanpa berpamitan.
Tae-in juga bersikap aneh.
Apa ada sesuatu yang tak kita ketahui?
Hei, Shin. Kau tahu sesuatu?
Itu artinya kita tak akan berlatih hari ini, bukan?
Sekarang dia mengabaikanku.
Sebaiknya kita juga libur.
[ 20 Aktivitas Bersama Untuk Mengobati Tidur Berjalan ]
- Yoo-chan. - Mengagetkan saja!
Kau tak bisa mengetuk?
Aku terbiasa masuk ke ruangan ini.
Apa? Kenapa kau di sini?
Aku akan tidur di sini malam ini.
Tumben. Kau sangat ingin kamarmu kembali.
Ingin saja. Rasanya aneh saat aku berpikir untuk tidur sendirian.
Benar juga.
Ada yang janggal.
Apa yang janggal?
Aku masuk ke kamarku.
Koper Dokter Kang masih ada.
Dia meninggalkan kopernya di sini?
Ya.
Jadi, aku tak bisa tidur di kamar itu karena kurasa dia akan kembali.
Apa yang begitu mendesak sampai dia pergi tanpa membawa kopernya?
Tanpa berpamitan pula?
Aneh.
Makanya, itu aneh.
Bagaimana kalau kita mengiriminya pesan?
Kirim pesan?
Kalau dipikir-pikir, tidur berjalan bukan hal yang buruk.
Berkat itu, aku bertemu denganmu.
Tapi kau... Kau!
Kau bahkan tak memberitahuku nama aslimu.
[ Tolong hubungi aku. Kuharap kau baik-baik saja. ]
[ Dokter Kang, kau di Amerika sekarang? Kenapa tak berpamitan? ]
[ Kapan kau akan mengambil kopermu? Kau akan kembali? ]
[ Dokter Kang, aku sedih kau pergi begitu tiba-tiba. ]
[ Tapi aku akan meneleponmu saat kami tur ke sana. ]
Kau mau ke mana? Kau harus tidur.
Kenapa wajahmu seperti itu?
Apa ada yang tak beres?
Bukankah kau menyebutkan tentang adikmu yang kau tinggalkan di Korea?
Ya, saudari kembarku.
Kambar...
Kembar.
Ya. Benar.
Kau seharusnya mengobrol dengan saudari kembarmu.
Maaf.
Aku sudah menyita waktumu terlalu lama.
Tak apa-apa. Dahulu kami bersaudari, tapi kini tak lagi.
Aku punya keluarga baru.
Apa? Yang di foto ini kau?
Anda mengenalku?
Anda kenal ibuku?
Astaga. Lihat dirimu. Hyun-woo telah kembali sebagai pria dewasa.
Tunggu.
Ini.
Bagaimana Anda bisa memiliki foto ini?
Ibu Hyun-woo memberikan ini kepadaku sebelum dia pergi.
Dia pergi? Ke mana dia?
Dia ingin aku memberikan ini kepada putranya jika dia kembali.
Ini. Ini alamat ibumu sekarang.
Ini.
[ Putra Kim Min-ja, Seo Hyun-woo, Panti Jompo Neulpureun Miteum ]
Itu jarang terjadi pada orang seusianya.
Dia menderita demensia lebih awal mengingat usianya.
Tak ada keluarga yang mengunjunginya.
Sejak datang ke sini, dia suka memandangi jendela.
Kurasa dia sudah menunggu selama ini.
Bu.
Putra Anda datang. Lihat.
Ibu.
Aku putra Ibu.
Ini.
Ini kesukaan putraku.
Aku sangat merindukan Ibu.
Sudah kubilang.
Mungkin tak akan seperti yang kau duga.
No comments yet. Be the first to leave one.