The first 200 lines.
Dasar berengsek!
Enyahlah!
Enyahlah!
Enyahlah sekarang!
Kau pikir kau bisa langsung muncul,
memelukku, lalu semuanya beres?
Tentu saja tidak, tetapi...
tidakkah kau terkesan?
Hei!
Sial, itu salah satu karya terbaikku.
Terbaik? Selama dua tahun kau bersembunyi di sini,
dan membohongi kami. Kau menghancurkan kami!
Hanya untuk ini?
Hei.
- Tadinya aku mau bilang. - Kau sudah memberi tahu Vivian!
Akan kubakar semuanya.
Apa?
Karla!
Ada alasan kenapa aku kembali.
Kurasa.
Karla.
Karla!
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88
- Selamat pagi, Borowski. - Selamat pagi untukmu, Gudrun.
Yang itu bagus.
Untuk pemakaman?
Bukan. Untuk penyampai eulogi baruku.
Tempat ini harus lebih cerah, lebih ramah. Paham?
Para tamu harus merasa senang, atau setidaknya nyaman.
- Andi. - Borowski!
Rekan barumu sudah datang.
Itu bukan untukku, 'kan?
Bersenang-senanglah.
Apa itu untukku?
- Bukan. - Hanya bercanda.
Bisa kita lanjutkan? Aku ada ide.
Ya, tentu.
Tonio, aku ingin yang terbaik untukmu.
Kau mau aku menemui psikiater.
- Tidak! - Ya.
- Kami mencemaskanmu. - Aku baik-baik saja.
Kau duduk di dalam lemari berhari-hari, dan tidak sekolah!
Lalu kenapa?
Ya, bicaralah dengan Zina. Dia sangat baik.
Dia tidak menggigitmu. Jika kau tidak suka, kau boleh pergi.
Ya?
Aku tak mau bicara lagi.
Enyahlah!
Sial.
Karla Fazius, penyampai eulogi. Aku selalu siap, kecuali saat ini.
Halo, Bu. Ini aku lagi.
Ibu di mana?
Terapis sudah kutemukan, tetapi Tonio tak mau keluar dari lemari.
Aku butuh bantuan Ibu.
Hubungi aku secepatnya, ya?
Sial.
- Aku pergi. - Haleluya.
Saatnya kita mengucapkan selamat tinggal kepada Maik.
Jika Maik di sini sekarang, dia pasti bilang, "Persetan dengan ini!
Persetan dengan cuaca!
Lebih baik aku hidup dengan baik selama 43 tahun,
menonton sepak bola seru selama 45 menit,
daripada 90 menit sia-sia."
Kebanyakan menangis.
Tujuh puluh persen.
Orang tuanya agak pendiam, ya?
Selalu ada yang tak puas.
Halo?
Ibu?
Halo?
- Halo. - Maaf, aku tak bermaksud mengganggu.
Tak apa-apa.
- Aku mencari ibuku. Dia bekerja di sini. - Karla?
Dia lagi keluar. Maaf.
Baiklah.
Kau pernah datang.
Ya.
Untuk ayahmu, 'kan?
Ya.
Baiklah, kembalilah bekerja. Maaf. Sampai jumpa.
Permisi, apa kau memotret? Ayahku dipotret juga?
Kurasa begitu.
Kalau begitu, aku mau melihatnya.
- Semua jasad kupotret. - Baik, berikan teleponmu.
- Biar aku cari. - Biar aku saja.
Adakah gambar mesum di situ? Apa kau memotret vagina atau penis mereka?
Wah.
Jadi? Bagaimana pendapatmu?
Dia tampak agak menor.
Pencahayaannya buruk.
Bagaimana keadaan pelawak tunggalmu?
Pelawak tunggal...
Dia baik-baik saja.
Begitu ya.
Kurasa sebaiknya Karla kujadikan sebagai staf.
Bagaimana dia digaji?
Akan kupikirkan caranya.
Kau ingin menidurinya.
Apa katamu?
Langkahi dahulu mayatku.
Mayatmu saja.
Tonio!
- Tonio! - Ya?
- Apa kau masih tidur? - Apa?
- Sarapan sudah siap. - Ada apa?
Kau sekolah lagi hari ini. Apa kau lupa?
Sial.
Lepaskan itu, Tonio. Lepaskan itu!
Kenapa kau masih duduk di sini? Sekolah hampir mulai!
Untuk terakhir kalinya, Bu, kita akan memenuhi janji temumu.
Kau ikut. Jika tidak, aku akan membunuhnya.
Jangan menangis lagi.
Biarkan dia menangis.
Tetapi itu kabar baik.
Aku butuh bantuanmu. Salam, Peer.
Kau diberi lima atau sepuluh tahun lagi.
Tetapi aku tak mau hidup lagi!
Maaf, aku tak punya kabar buruk untukmu.
Kankermu masih ada.
Tetapi pertumbuhannya sangat lambat di usiamu.
Kanker apa yang tidak bisa membunuhku?
Andaikan...
aku bisa cepat mati seperti suamimu.
Ada apa dengan Nenek?
Stok kami di sini memang agak lama.
Stok baru dapat dipesan dari katalog. Biasanya itu cepat diantar.
Harus dari kayu ceri, dicat putih. Bisakah kau penuhi?
Bisa saja. Tetapi kalau kayu ceri dicat...
Sayang. Kayunya indah.
Ya, pesannya,
"Peti matiku harus terbuat dari kayu ceri terbaik."
Semuanya harus cerah.
Upacaranya harus ceria.
Itu keinginan ibuku. Jangan ada air mata.
Itulah acara pemakaman.
Kami akan berusaha. Jika ada satu tangisan, semua menangis.
Maaf. Tadi ada halangan.
Ini Nona Kronberger.
Nona Kronberger, aku Karla Fazius. Aku penyampai eulogi.
- Ada yang kulewatkan? - Tidak, kami barusan mulai.
Ini soal ibuku.
Dia ingin pemakaman ceria.
Baiklah.
Ibuku ingin orang menari, tetapi dia sudah mengurusnya.
- Dan soal pidato... - Biar kuambil.
- Maaf. - Tak apa-apa.
Ceritakan sedikit tentang ibumu.
Dia ibu yang amat spesial.
Ada lagi?
- Apa yang ingin kau ketahui? - Siapa dia?
Apa hobinya?
Gairah, impian, keinginan, harapan, semuanya.
Semua bisa dipadukan ke dalam acara.
Baiklah...
Dia amat berarti bagi banyak orang.
Baguslah.
Karena dia peduli kepada orang lain.
Dia selalu bilang,
"Kebutuhan orang lain lebih besar. Tenangkan dirimu, Letitzia."
Bagaimana hubunganmu dengan ibumu?
Bagus sekali.
Dia orang terpenting bagiku.
Entah bagaimana aku tanpa dirinya.
Ibuku sering mengatakannya.
"Letitzia...
kau tidak bisa apa-apa. Entah bagaimana kau tanpa diriku."
Sepertinya dia ibu yang berengsek.
Ayo kita bahas soal peti mati dahulu.
Katalog ada di kantorku.
Semuanya lancar.
Oh, tidak.
Tidak bisa begitu. Maaf, itu terlihat jelek.
Bisakah kau memotret sampai Menara TV itu jadi bola keempat?
Tidak, maaf, takkan ada yang memahaminya.
Sungguh.
Coba tempat lain.
Di situ, misalnya?
Kenapa kau terus memperlihatkan wajah bodoh itu?
Seringai berlebihan. Haruskah badut tampak bodoh begitu?
- Apa itu keahlianmu? Atau... - Ini tugasku.
Menghibur orang.
Anak-anak, orang tua, orang sakit, orang sekarat.
Itu bodoh, ya?
Selama tak ada yang tahu peranku dalam pemotretan,
aku tak peduli.
Hei, terima kasih. Kau baik sekali mau membantuku.
Baiklah.
Jika ada foto yang cocok, akan kukirimkan kepadamu.
Tak usah. Akan kucari fotografer lain.
Kita baru saja bersenang-senang, 'kan?
- Ya. - Bukankah kita cocok bersama?
Jodoh dari surga.
Seberapa pentingkah sandaran itu bagimu?
- Ya. Dah. - Maaf.
Ya, pergi saja.
Dah!
Tega sekali kau meninggalkanku.
Ya, ampun. Berhenti!
Tidak apa-apa. Terima kasih. Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.