The first 200 lines.
Channel 3 Dan Good Feeling Company Limited
"Mempersembahkan"
"Candle in the Sun"
Beri tahu Tuan Tewarit tentang perasaanmu kepadaku, Tiankhum.
Sing!
"Episode sebelumnya"
Sudah kuperingatkan, Sing. Tiankhum adalah istriku.
Aku akan menghajar kalian semua.
Mulutmu pantas ditampar sampai berdarah.
Ayo jika kamu berani.
Kamu punya obat dari dokter Barat.
Aku ingin meminta obat untuk ibuku.
Lebih baik kalian mati agar rumahku bisa menyingkirkan kesialan.
Tunggu aku di Gerbang Suan Dok.
Aku akan kembali.
Ayo.
Jika kamu menamparku, aku akan membalas.
Aku tidak peduli walau rambutmu sudah beruban.
Bolehkah aku berutang kali ini? Aku akan kembali dan membayar nanti.
Bagaimana kamu mendapatkan semua obatnya?
Tuan Wiangsawan sedang sakit keras.
Nyonya Chor Aueng bilang kamu mungkin punya obat Barat.
Ya.
Jika dia sungguh menginginkan obat itu,
suruh Nyonya Chor Aueng datang dan meminta obat itu sendiri.
Kamu... - Apa?
Selesaikan kalimatmu.
Jika tidak, aku akan menamparmu.
Kamu gila, Tiankhum. Gila!
Som, kenapa kamu berdiri di sana? Kamu ingin dia menamparmu?
Ayo.
Dasar wanita gila. - Pergi!
Tiankhum.
Tindakanmu sudah keterlaluan.
Kenapa keterlaluan, Bu?
Aku meminta kepadanya dan dia tidak mau memberikannya.
Sekarang giliranku. Kenapa harus kuberikan kepadanya?
Itu hanya obat.
Jangan membuat masalah.
Ibu rasa kita harus memberi mereka sedikit.
Lagi pula, ibu sudah pulih.
Ibu mohon.
Ayolah. Berikan saja kepada mereka.
Jika kamu sangat membenci mereka, aku bisa memberikannya.
Tidak perlu, Oonhuen.
Beri tahu mereka
bagaimana rasanya ditolak saat kamu meminta bantuan.
Yang terpenting,
beri tahu mereka kita bisa bertahan tanpa bergantung pada mereka.
Dia berani mengatakan itu, Paika? Som?
Tenanglah, Ibu.
Nanti Ayah terbangun.
Bagaimana ibu bisa tenang?
Budak itu menyuruhku mengambil obat darinya.
Apa benar begitu, Paika?
Wanita berengsek itu bicara begitu, bukan?
Benar, Nyonya.
Tiankhum. Dasar wanita rendahan.
Dasar wanita licik.
Dia pasti marah padaku, jadi, dia melampiaskannya kepada Ibu.
Aku akan meminta obat itu kepadanya.
Aku akan ke sana sendiri, Ibu.
Tiankhum tidak akan menolak permintaanku.
Kurasa menyuruh Tuan Tewarit adalah ide bagus.
Tiankhum tidak akan berani menolak.
Tapi ibu tidak setuju.
Jika kamu pergi, itulah yang dia inginkan.
Dia sangat ingin bertemu denganmu.
Aku setuju dengan Ibu.
Ibu harus pergi ke sana sendiri.
Orang seperti Tiankhum
akan selalu menginginkan lebih.
Karena sudah sejauh ini,
Ibu harus menanyakan apa yang dia inginkan.
Jangan khawatir.
Aku akan ikut dengan Ibu.
Nona.
Kurasa kamu sebaiknya tidak pergi.
Bagaimana jika Tiankhum mengamuk?
Dia mungkin akan menyakiti Nyonya Chor Aueng dan Nona juga.
Tidak apa-apa.
Aku tidak keberatan.
Aku akan ikut dengan Ibu.
Kalau begitu, ayo kita pergi.
Tuan Tewarit, tunggulah di sini.
Ya, Ibu.
Nona.
Kenapa merendahkan dirimu kepada budak itu?
Maafkan aku.
Aku hanya sangat mencemaskanmu.
Aku juga mengkhawatirkan suamiku.
Jika aku membiarkannya mendatangi Tiankhum,
dia menuntut agar Tuan Tewarit bersamanya,
atau menuntut dia menjadi istri seperti yang dikatakan Ibu.
Jika begitu, apa yang harus kulakukan?
Aku akan pergi bersama Ibu.
Semua wanita menyayangi suami mereka.
Tuan Wiangsawan juga sudah sangat tua.
Jika sesuatu terjadi kepada Ayah dan Ibu,
saatnya Tuan Tewarit
menjadi penguasa.
Salam.
Silakan duduk.
Di mana?
Di mana apa?
Dasar wanita jalang.
Kamu memintaku datang ke rumahmu.
Aku pun datang kemari.
Ambilkan obat itu untukku.
Kamu baru tiba dan menuntut apa yang jadi milik kami tanpa malu.
Apakah keluarga bangsawan
tidak diajari cara meminta bantuan dengan cara yang sopan?
Atau leluhurmu,
keluargamu, dan keturunanmu
tidak peduli mengenai kesopanan?
Ucapanmu makin kasar setiap hari, Tiankhum.
Benar. Apa lagi yang kamu inginkan?
Nyonya Chor Aueng sudah merendahkan dirinya untuk datang kepadamu.
Jika kamu datang kemari untuk menggunakan kekuasaanmu,
kamu tidak perlu datang.
Kamu ingin Ibu melakukan apa?
Kamu suka orang yang membungkuk di hadapanmu, bukan?
Ayo membungkuk.
Membungkuk di hadapanku.
Membungkuklah.
Ayolah.
Ini berlebihan, Tiankhum.
Tiankhum.
Minta maaf kepada Nyonya Chor Aueng sekarang, Tiankhum.
Menghadapi budak seperti dia,
kurasa Ibu tidak perlu membuang waktu bicara dengannya.
Kita pemilik rumah itu.
Kita pemilik seluruh tempat ini.
Kita bisa melakukan apa pun.
Apa yang akan kamu lakukan?
Ambilkan obat itu dari rumahmu.
Pergilah, Ibu.
Hati-hati, Bu.
Hentikan. Kamu tidak bisa melakukan ini.
Aku bilang hentikan!
Kalian semua. Cari obatnya.
Periksa semuanya.
Buang semuanya.
Buang semuanya.
Lakukan apa pun untuk menemukan obat itu.
Berhenti! Hentikan!
Hentikan!
Beraninya kamu memerintahku.
Dasar wanita jalang.
Di mana kamu menaruhnya, Kampor?
Di mana obat itu?
Aku tidak tahu, Nyonya Chor Aueng.
Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?
Katakan di mana obatnya.
Aku akan memberikan obatnya kepada Tuan Wiangsawan.
Obatnya dari dokter Barat.
Kamu tidak bisa merahasiakannya.
Ya. Semua dokter Barat dekat dengan Tuan Wiangsawan.
Kamu tidak berhak menyimpan obat itu sendiri.
Berikan obatnya kepadaku.
Atau aku akan memberi tahu Tuan Wiangsawan.
Di mana kamu menaruhnya, Kampor?
Berikan obatnya.
Aku tidak tahu, Nyonya Chor Aueng.
Tiankhum memberikannya kepadaku
lalu dia membawanya ke suatu tempat.
Tiankhum.
Berikan obat itu. Ibu mohon.
Ibu mohon, Tiankhum.
Karena kamu sudah membuang semuanya, teruskan saja.
Ayo. Lakukanlah.
Jangan lupa membawa semua penyakitmu itu kembali.
Aku jijik padamu.
Penyakit itu berasal darimu, Wanita Jalang.
Kamu hanya ingin menjadi wanita simpanan.
Dan berhenti mengatakan
bahwa kamu menjadi istri putraku lebih dahulu.
Yang penting adalah istri yang sudah resmi dinikahi.
Dan semua wanita rendahan seperti kamu,
mereka bisa menjadi apa lagi,
kecuali bersikap lancang?
Wanita murahan dan tidak bermartabat.
Selain itu, jangan katakan apa pun.
Makin kamu bicara,
nafsumu makin terlihat jelas.
Jika kalian tidak bisa menemukannya, berarti dia yang menyimpannya.
Geledah dia sekarang juga!
Jangan paksa aku.
Aku tidak mau ada masalah.
Aku hanya ingin
agar Nyonya Chor Aueng
meminta obat itu kepadaku dengan sopan.
Meminta dengan sopan?
Dengan membungkuk di hadapanmu?
Tiankhum.
Jangan dengarkan dia. Geledah dia.
Hei!
Cukup. - Tiankhum.
Ikuti dia.
Ayo, silakan saja!
No comments yet. Be the first to leave one.