The first 200 lines.
Berhentilah menangis, Ji Ho.
Apa susah berhenti menangisnya?
Kalau demikian, kita harus masuk bersama.
Menangis pun, tak apa. Kita harus bersama.
Karena aku di sampingmu.
Aku akan bersamamu.
1988.
Mata dunia tengah tertuju pada Korea.
Pada hari perayaan global yang dimulai tahun 1988...,
...aku tengah bersiap lahir ke dunia.
Perutnya gerak./ Demikianlah, aku...
...lahir sebagai bayi 1988...
...dimana dunia tengah memperhatikan Korea.
Omona!
Pada masa kejayaan Korea-lah, aku terlahir.
Punya rumah dan mobil pada saat itu sangatlah wajar.
Aku menghabiskan masa kecilku selama masa pertumbuhan dan kelimpahan yang pesat.
Lalu ada perubahan selama waktu itu.
Tadinya yang namanya Sekolah Rakyat, kini berubah menjadi Sekolah Dasar.
Tentu saja, krisis juga menimpa kami.
Namun, ada harapan.
Jika seseorang berusaha keras, maka mereka bisa bangkit kembali.
Shoot, shoot.
Aku meyakini bahwa harapan putus asa...
...akan selalu terwujud.
Namun, keyakinan itu pun cepat sirna.
Bahkan impian pun ada golongannya sendiri.
Kami bukan anak tahun 1988 lagi.
Kami menjadi generasi 880 ribu won.
Pemungutan suara yang dilakukan orang usia 20 tahun tidak ada pengaruhnya.
Dunia tidak lagi memandang Korea.
Dalam dunia persaingan...,
...teman-temanku mengantri melamar kerja untuk menambah CV mereka.
Di antara mereka...,
...aku masihlah siput yang masih mengejar mimpi.
Aku mungkin sedikit lamban, tapi aku terus meyakini...
...jika aku bekerja keras, impianku akan terwujud.
Jika aku bisa menceritakan hal ini pada diriku sendiri kelak...
...tentang penampilanku sekarang...,
...apa dia akan mempercayaiku?
Mempelai wanita, dipersilakan masuk.
Ayo.
Ya.
Yoon Ji Ho yang berusia 30 tahun, yang lahir tahun 1988...
...tidak bisa menjadi penulis...,
...tapi dia menggenggam tangan seorang pria yang memberikan diskon sewa padanya.
Aku benar-benar...
...sudah menikah...
...karena tempat tinggal.
Kufoto, ya.
Satu, dua...
Sudah selesai.
Kau sudah bekerja keras. Kerja bagus.
Kerja bagus, semuanya.
Hei, berhenti menangis.
Orang pasti mengira kau ada hubungannya sama mempelai pria.
Kau sendiri? Apa kau itu dibayar kesini?
Bisa-bisanya kau tak menangis satu tetes air mata pun?
Dasar tak berperasaan.
Sekarang kita akan berfoto bersama teman.
Silakan maju./ Hei, ayo kita foto.
Heol./ Kenapa?
Hei, ayo kita kesana.
Habis foto, kita langsung pergi saja, 'kan?
Mempelai wanita, cuma mereka saja temanmu?
Ya.
Se Hee, kau juga?/ Ya.
CEO Ma dan yang cebol pakai sol tambahan dalam sepatu.
Geser ke sebelah mempelai wanita.
Aku?/ Ya, kalian berdua.
Tidak./ Tidak!
Tak muat disini.
Aku tak pakai sol tambahan, tahu.
Tolong kerja samanya agar pernikahan ini lancar.
CEO Ma, sol tambahan, geser ke kanan.
Baik, mari kita sempurnakan.
Baiklah.
Baiklah. Oke.
Si Sol sama si wanita jangkung harus tukar posisi.
Kufoto, ya. Satu, dua...
Hei, pacarmu.../ Hyung.
Jangan sok ramah dengannya karena kami masih bertengkar.
Baiklah, baiklah. Terus si wanita jangkung yang di samping pacarmu siapa?
Kau kenal dia?
Dia sahabatnya Ho Rang, jadi aku juga dekat dengannya.
Berarti dia lahir tahun 1988?
Beraninya dia memblokir kontakku?
Ayo kita makan saja.
Jangan sok kenal dia. Paham?
Kenapa pula aku harus menyapa dia? Aku ini pemalu.
Tak ada orang 'kan di kursi ini?
Sudah ada orang./ Tidak ada.
Oh, ya? Kalau begitu kami boleh disini, ya.
Hyung, kau duduk sana.
Enak?
Mau coba?
Enak.
Halo. Kurasa ini...
...pertama kalinya kita bertemu. Aku banyak dengar cerita tentangmu.
Halo, aku juga banyak dengar tentangmu.
Dia temanku Woo Soo Ji.../ Soo Ji-ssi.
Kenapa ini? Kau kenal dia, Hyungnim?/ Tidak.
Terus kenapa kau tahu namanya?
Dia hanya mirip Soo Ji saja.
Dia kelihatan tajam dan bergaya.
Dia kelihatan seperti seseorang yang akan memblokirmu dalam obrolan.
Dari wajahnya, sudah kutahu dia orangnya seperti itu.
Apa?/ Aku pernah bertemu dia lewat kerjaan.
Kabarmu baik, CEO Ma?
Berkat kau, Ass. Woo, kabarku baik.
Karena ini musim dingin, aku jadi kena flu.
Setelah diblokir olehmu, aku juga mengalami depresi.
Jadi aku sangat senang dan penuh emosi.
Soo Ji si pemblokir.
Itu si Ji Ho.
Serasi sekali mereka!
Siapa sangka dia akan menikah duluan?
Iya, ya.
Rasanya baru kemarin dia mabuk dan muntah di rumah kita.
Lalu keesokan harinya, banyak burung dara berkumpul.
Merepotkan sekali.
Kau pun mengejarnya seolah kau rajawali./ Hei.
Elang, tahu, bukan rajawali.
Apa dia itu lagi makan camilan?
Apa itu yang ada di mulutnya?
Sepertinya itu sambal./ Iya juga.
Kenapa dia keluar seperti itu?
Tapi kenapa sambal terus menetes dari hidungnya?
Iya juga, terus menetes.
Sambal pedas?
Kau pasti lelah sekali.
Kurasa ini karena...
....jumlah aktivitas fisik meningkat beberapa hari terakhir ini.
Benar juga.
Makanya hidungmu mimisan.
Kukira kalau hidung berdarah itu karena ditonjok sama orang saja.
Aku juga sama bingungnya dengan orang yang ditonjok.
Ini sama sulitnya dengan mengembangkan sebuah proyek.
Yang kumaksud pernikahan.
Ini sebentar lagi acaranya selesai...,
...jadi bersabarlah.
Ya.
Aku ingin cepat-cepat istirahat di rumah kita.
Apa? Apa aku salah omong?
Tidak, tidak.
Aku harus cuci ini.
Aku ingin cepat-cepat istirahat di rumah kita.
Rumah kita.
Itu karena kau lelah.
Jadi kalau lelah, kau harus minum makan apapun ada.
Ini, minumlah./ Ya.
Ini juga harus diminum.
Ya.
Kenapa kau kurus sekali?
Apa makanan kesukaanmu?
Kau bisa makan sup ular?
Aku belum pernah makan itu.
Oh, iya juga.
Orang-orang Seoul tidak makan begituan.
Terus aku harus masak apa buatmu?
Maaf.
Ji Ho itu wanita yang penuh tekad.
Apa?
Aku memang belum kenal betul dengan Ji Ho, tapi...
...ketika dia memutuskan menulis naskah...,
...ketika dia memutuskan berhenti...,
...dan ketika dia memutuskan menikah...,
...dia membuat semua keputusan itu untuk dirinya sendiri.
Dia mungkin di luarnya kelihatan lemah dan pemalu...,
...tapi dia orang yang penuh tekad.
Dia sangat tegar.
Dia tidak melakukan apapun yang membuatnya tidak bahagia.
Karena itu, Ji Ho...
...pasti akhirnya akan memilih jalan yang membuatnya bahagia.
Dan selama masa pernikahanku dengan dia kelak...,
...aku takkan menghalangi jalannya.
Hanya itu janji yang bisa kubuat.
Aku mohon maaf.
Maaf kenapa?
Karena aku tidak bisa berjanji membuatnya bahagia atau melindunginya.
Hanya itu yang bisa kujanjikan.
Memang kenapa? Ucapanmu itu benar.
Hanya karena kau sudah menikah...,
...bukan berarti kau harus membuatnya bahagia.
Siapa orang yang bisa membuat orang lain bahagia?
Zaman sekarang ini, susah bahagia.
Hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah tidak menghalangi orang lain.
Itu jauh lebih baik daripada berucap janji palsu.
Lain kesempatan, akan kubuatkan kau sup ular.
Cobalah dimakan.
Sup ular?
Enak rasanya.
Kita sudah bertahan dari masa-masa sulit kita zaman kita...,
...bukan begitu, Pak?
Ya, tentu saja.
Anak-anak kita semua lahir di masa-masa yang menyenangkan.
Tapi mereka selalu mengeluh bagaimana sulitnya keadaan.
Ayo pergi. Mereka pasti lelah.
Iya, Ayah. Ayo pergi.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.