The first 193 lines.
Semuanya, diam! Tolong, diam.
Kakak Ipar, sini.
- Siapa Kakak Ipar? - Siapa Kakak Ipar?
Sini, sini.
Bagaimana mungkin ada kakak ipar?
Kakak Ipar.
Kakak Ipar, naiklah ke mobil.
Terima kasih.
Teman-teman, ini Kakak Ipar.
- Halo, Kakak Ipar. - Halo, Kakak Ipar.
Halo, Kakak Ipar. Senang bertemu denganmu.
Bisakah kau memberitahu mereka agar tidak memanggilku "Kakak Ipar"? Semuanya salah paham.
Tidak masalah.
Eh... Kakak Ipar bilang kalian jangan memanggilnya "Kakak Ipar" lagi, dia malu.
Baiklah, Kakak Ipar.
"Kakak Ipar", mengerti!
Kakak Ipar, duduklah.
Terima kasih.
- Kakak Ipar, kopermu kuletakkan di sini. - Terima kaish. Terima kasih. Berikan padaku.
DT! DT! DT!
Kapan bos naik ke mobil?
- Tunggu sebentar. - Baiklah.
Kapten, kapan kakakmu punya pacar?
Bukankah dia tinggal di klub selama 24 jam?
- Aku tidak tahu. - Diam-diam bergerak...
Bos luar biasa sekali, memainkan permainan seperti ini dengan kita.
Dia takut kita akan menirunya, punya pacar, lalu berdampak pada kompetisi.
Dia tidak muda lagi, kencan itu sesuatu yang biasa.
Bos sudah semakin tua.
Bagaimana bisa dia semakin tua? Sudah jelas dia tampan sekali.
Dibandingkan dengan anak-anak muda ini, dia jauh lebih terlihat seperti lelaki.
Semuanya, setelah kita sampai di hotel, pergilah dulu ke ruang makan di lantai pertama.
Aku sudah memesan beberapa meja besar.
Jaga diri kalian sendiri. Jangan makan makanan laut dingin.
Kalian tahu Grunt, bagaimana dia merusak tubuhnya dengan melakukan hal itu.
Ini musim kompetisi. Kalilan harus lebih banyak memperhatikan kesehatan kalian, mengerti?
Mengerti, Manajer!
Pak, kau bisa mengantar mereka dulu. Bos dan aku akan kembali sendiri.
Baiklah.
Terlebih lagi, kalian harus memperhatikan dia.
- Jangan khawatir. - Jangan khawatir.
Sampai jumpa!
Ayo bicara tentang bisnis dulu dan membahas hal lain nanti.
Semuanya, duduklah dulu.
Besok adalah hari kompetisi kedua tim kita.
Kalau begitu, kami akan melakukan yang terbaik.
Kedua belah pihak melakukan yang terbaik tapi hanya ada satu juara. Siapa yang mendapatkannya?
Aku yang terakhir? Maafkan aku.
Tim kalian berdua punya banyak sekali penggemar.
Aku harus memastikan mereka keluar dengan aman sebelum aku pergi.
Cukup omong kosongnya, ayo segera bicarakan hal yang penting.
Tidak ada hal yang penting. Hari ini tentang bertemunya teman lama.
Bukankah menyenangkan kalau makan siang bersama?
- Tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan? - Itu...
Bukan begitu.
Ada hal penting yang harus kau umumkan atau tidak?
Makan sangatlah penting, Lao Han.
Aku tahu restoran yang sangat bagus di Guangzhou.
Aku pergi.
Lao Han, kau tidak memberi muka untukku?
Kau masih harus makan setelah kembali ke hotel. Bahkan kalau bukan untuk menemani kakakmu, setidaknya berbincanglah denganku.
Lupakan.
Aku sudah memesan ruang pribadi untuk 12 orang.
Sekarang, hanya ada kita bertiga. Apakah masuk akal?
Lupakan saja, Direktur Xiang.
Buang-buang makanan saja kalau hanya kita bertiga yang makan.
Simpan saja untuk lain kali. Sampai jumpa.
Aku memesan mobil. Sepertinya macet di jalan. Tunggu sebentar.
Kami punya mobil.
Karena kita kebetulan menginap di hotel yang sama, kenapa kita tidak bersama-sama saja?
Tidak, terima kasih. Kami sudah memesan mobil.
Jangan marah karena hal-hal kecil.
Kita yang menang kompetisi hari ini.
Aku hanya tidak menduga akan ada hari seperti ini.
Kita sudah sukses, kaya, tapi sangat sulit ada di dalam satu mobil.
Maaf.
Semuanya salahku. Aku merusak kalian semua.
Aku tidak berniat menyalahkanmu.
Teman-teman, lihat aku dapat apa untuk kalian?
Amplop merah!
- Semoga kau sukses dan bahagia! - Amplop merah datanglah padaku!
Terima kasih, Kapten!
Meskipun ini juara pertama yang kita dapatkan sejak didirikannya Tim Solo,
meskipun ini hanya kejuaraan Beijing, ini sudah sangat hebat!
Bukankah semuanya karenamu? Semua ini karena kau memimpin tim dengan baik.
Kau mempersiapkan begitu banyak data lawan untuk kita, jadi mudah sekali mendapatkan gelar juaranya.
- Ya! - Benar!
Semua itu adalah hal yang harus aku lakukan.
Han Shangyan, apa kau tahu di lingkaran CTF, kau cukup terkenal. (Capture The Flag, kompetisi keamanan komputer dimana peserta melindungi jaringan dan menyerang lawan)
Seluruh ahli internet menganggap Han Shangyan sebagai lawan nomor satu.
Kalian semua sungguh idola semua orang.
- Idola! - Idola!
Itu karena kalian adalah saudaraku.
Tunggu saja sampai kita semakin selaras, lalu kita akan memenangkan puluhan, ratusan kejuaraan.
- Ya! - Benar!
Jangan bilang begitu. Bagaimana mungkin tidak ada alkohol di saat seperti ini?
- Xiao Mi! - Xiao Mi!
Xiao Mi, kau sungguh tahu.
Ini, ini, ini!
Kau diam-diam menyiapkan alhokol.
Bagus sekali!
Ayolah! Ayo bersulang demi kejuaraan dunia yang akan datang!
- Kejuaraan dunia! - Bersulang!
Mereka ceria sekali!
Hush!
Maafkan, Paman dan Bibi, karena sudah mengganggu.
- Bagus! Bagus! - Terima kasih. - Terima kasih!
- Juara dunia. Juara dunia. Xiao Mi, bagus sekali kau menyiapkan alkohol hari ini.
Sungguh kerja bagus!
- Ini Tiananmen. - Benar!
(Catatan: Dulu pintu masuk Kota Terlarang; Tiananmen, atau Pintu Kedamaian Dunia, adalah gerbang di tengah Beijing dan simbol nasional Cina)
- Tiananmen! Sungguh Tiananmen! - Tiananmen!
Apa kau tahu setiap kali aku melihat Tiananmen, aku dipenuhi rasa penghormatan?
Kurasa kita harus mendapatkan kemenangan untuk negara kita. Ayo segera melangkah ke panggung dunia.
Benar!
Lao Han, itu Tiananmen.
Ayo! Bersulang demi kejuaraan dunia!
Kemari, kemari, Kakak Ipar.
Ayo, ayo, Kakak Ipar, lewat sini.
Kemari, kemari. Kau duduklah di sini.
Silakan duduk, Kakak Ipar. Silakan duduk.
Hati-hati, hati-hati.
Kakak Ipar, kau belum bertemu dengan kami secara resmi.
- Namaku 97, aku lahir di tahun 1997. - Halo.
Namaku Demo, mereka semua berkata aku menggemaskan.
Kakak Ipar, Aku One.
Kenapa kau dipanggil One?
Karena aku yang paling tinggi, dan paling tampan.
Hari ini, pria yang duduk di belakangku, tinggi dan memakai topi. Siapa dia?
Oh, namanya Wu Bai, sepupu Bos kami. Dia kapten kami.
Dia sama dengan bos kami; suka menyendiri. Dia mungkin berlatih sendiri sekarang.
Kalian, jangan menakutinya.
- Kapan kami melakukannya? - Tidak. Kami hanya mengobrol.
Ikut aku sebentar. Han Shangyan mencarimu.
- Tunggu... - Sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Kau pergi? - Kau pergi?
Apa Bos begitu terburu-buru?
Sampai jumpa.
Apa hasrat mendominasi pikiran?
Auranya kuat sekali. Aku tidak bisa dibandingkan dengannya.
Apa kau kenyang?
Aku baru minum... minum air. Aku sudah kenyang, tidak lapar.
Masuk.
Kalau ada yang perlu dibicarakan, kenapa kita tidak membicarakannya di ruang makan?
Apa kau ingin aku membicarakan hal pribadi di ruang publik?
Jangan khawatir. Dia tidak akan jahat pada wanita.
Aku akan mengurus anggota tim yang lain dulu.
Silakan mengobrol.
Akan kuberi sepuluh detik untuk memutuskan.
Bisakah kalian berdua... mengatakan yang sebenarnya sekarang?
Berapa kali lagi aku harus mengatakan ini, Bos?
Kau pria dewasa. Tidak bisakah kau jujur?
Tusuk saja aku sampai mati.
- Apa kau tahu dia sudah punya pacar? - Aku tidak tahu.
Sekarang kau sudah tahu. Bagaimana menurutmu?
Tidak ada komentar.
Adik kecil, kemari. Biar kuberi tahu sesuatu.
Katakan yang sebenarnya. Kenapa sebenarnya kau mencariku?
Aku tidak mencarimu.
Tak apa kalau minta tanda tangan.
Foto bersama juga boleh. Beri permintaan apapun padaku.
Katakan saja yang sebenarnya bahwa kita berdua tidak ada hubungan sama sekali.
Beri aku permintaan apapun. Selama kau tidak ingin menjadi pacarku.
Siapa yang ingin menjadi pacarmu? Aku bahkan tidak menyukaimu.
Bagaimana situasinya sekarang?
Kenapa dia tidak mengatakan apapun?
Adik kecil, biar kutanya sesuatu.
Apa... kau mengenalnya?
Kalau begitu, apa kau datang ke kompetisi karena dia?
Saat kau pergi ke arena kompetisi, apakah itu juga untuk mencarinya?
Y-Ya.
Ini urusan percintaanmu sendiri. Penipu!
Mencoba menyalahkanku. Tidak mungkin.
Katakan lagi. Menyalahkan apa?
Tidak... itu...
Adik kecil, biar kuberi tahu. Kalau kau suka padanya, katakan saja dengan berani.
Pria sepertinya... Lupakan saja tentang punya teman wanita, hewan betina saja tidak ada satu pun di sekitarnya.
Anjing yang ada di area tempat tinggal kami juga jantan.
Benda dengan kualitas tertinggi ini, kalau kau kehilangan dia sekarang, kau akan menyesalinya seumur hidup.
Bagaimanapun juga, orang yang aku suka bukan Grunt. Aku suka...
Tidak...
Aku datang untuk mencarimu.
Kalian berdua masih menolak mengatakan yang sebenarnya, kan?
- Itu yang sebenarnya! - Itu yang sebenarnya!
Tidak ada sesuatu untukmu di sini.
Keluar.
Baiklah. Aku pergi kalau begitu.
Aku tidak bicara padamu.
Dia.
Mengerti, Bos. Kalau begitu... aku pergi dulu.
Kalau begitu... kau dan gadis ini... lanjutkan.
Sampai jumpa, sampai jumpa.
Kau suka padaku?
No comments yet. Be the first to leave one.