The first 200 lines.
"Bimbingan orang tua diharapkan bagi pemirsa di bawah usia 12 tahun"
"Pekan lalu"
"Hari kedua ekspedisi mereka"
"Hujan sudah mulai turun sejak pagi"
"Rawa yang basah membuat kaki mereka terbenam ke tanah"
"Tapi mereka tetap berangkat memulai perjalanan"
Ini sangat berbeda dari kemarin.
"Karena hujan tanpa akhir"
"Semua menjadi basah kuyup dan lelah, termasuk para staf"
"Mereka memutuskan menyelesaikan sisa perjalanan di hari ketiga"
"Hari ketiga ekspedisi mereka"
"Mereka melanjutkan ekspedisi dengan membagi menjadi dua tim"
"Tempat berkumpul Hari Pertama, Markas Hari Kedua, Camasunary"
"Kedua tim akan bertemu di Camasunary"
"Jalur Jin Hee"
"Adalah tebing pesisir yang terpencil dan curam"
"Di atas mereka ada banyak bebatuan"
"Dan di bawah mereka ada jurang"
"Sementara itu, ketiga pria ini"
"Akan mendaki gunung"
"Jalannya sangat curam hingga kakimu akan terbakar"
Kupikir akan ada turunan.
Ada tanjakan lainnya di sana.
"Mereka terus mendaki, dan akhirnya"
Jin Hee! - Jin Hee!
"Kedua tim akhirnya bertemu kembali"
Kami ingin tiba pertama dan menunggu, tapi kurasa itu mustahil.
Ini romantis.
"Camasunary"
Di sini romantis. - Kamu benar.
Sekarang pukul 12.05 siang.
Mari makan di sini dan berangkat pukul 2 siang.
Mari makan di sini. - Ya, mari makan di sini.
Lalu berangkat pukul 2 siang. - Waktu kita sekitar 30 menit.
Ya, mari istirahat 30 menit. - Itu ide bagus.
Aku akan makan bibimbap dengan steik.
Aku akan makan kudapan batang energi saja.
"Dia merogoh ranselnya"
Astaga, aku dalam masalah.
Kupikir aku mengemas... Apa namanya tadi?
Kamu tidak bawa makanan? - Apa?
Astaga, tunggu sebentar.
Apa yang akan kamu lakukan?
"Dia pasti meninggalkannya di tempat akomodasi"
Astaga, aku belum pernah melihatmu sangat kesal.
"Kesal"
Apa yang akan kamu lakukan?
"Dia tersedak karena tertawa terbahak-bahak"
Astaga.
Tidak ada makanan satu pun?
Dia tidak bawa apa pun.
Aku belum pernah melihatnya terlihat sangat kesal.
Pantas saja tasnya sangat ringan.
Aku tadi sempat memegangnya dan ranselnya sangat ringan.
Boleh aku memaki sedikit? - Tentu.
Aku pasti sudah gila.
Bagaimana bisa aku tidak mengemas mi kacang hitamku?
"Dia marah seperti makhluk liar yang kelaparan selama empat hari"
Aku belum pernah melihatnya sangat marah.
Kamu bisa berbagi denganku. - Mari berbagi.
Karena aku... - Kita bisa berbagi.
Maafkan aku.
"Kalau begitu, biarkan aku makan beberapa suap"
Itu bukan masalah besar.
Aku membawa daging tumis. - Aku bawa kudapan dan apel.
Aku sangat lapar. Aku butuh nasi. - Baiklah.
Aku tidak bisa berjalan.
Kamu tidak akan bisa makan selama 6 hingga 7 jam lagi.
Aku tahu. Berikan aku satu mangkuk nasi instan.
Aku tidak akan minta hal lain. Aku bahkan bisa bernyanyi untukmu.
"Tidak banyak yang bisa dia tawarkan"
Baiklah, kamu harus bernyanyi. Nyanyikanlah sebuah lagu.
"Dia akan menjual suaranya seperti Putri Duyung"
"Dia mengetes mikrofonnya"
"Rekan yang menyedihkan ini mulai bernyanyi"
Astaga, dia sangat marah.
Benar. Aku belum pernah melihatnya begitu marah seperti itu.
Kamu punya satu mangkuk nasi instan lebih?
Tidak ada nasi instan. - Sungguh?
Kami juga harus makan.
Kamu punya? Boleh kumakan satu?
Aku akan bernyanyi untukmu.
Ada lagu yang kamu ingin dengar? - Tidak.
Ayolah. Katakan kepadaku.
Nyanyikan "Desperado" untuk kami.
"Desperado"? Baiklah, tentu.
"Dia langsung mulai bernyanyi"
"Dia memohon makanan dengan cukup romantis"
"Dia bernyanyi untuk pria di hadapannya"
"Ini memalukan"
"Dia mengubah suasananya"
"Ini versi yang lebih bersemangat dari caranya memohon makan siang"
"Dia menyanyikan beragam genre saat memohon untuk makanan"
Dia sangat putus asa.
Dia terlalu banyak memohon.
Astaga, aku sangat lapar saat ini.
"Dia mendapat semangkuk nasi, juga merasa sangat lapar"
Aku sangat lapar.
Astaga, aku lapar sekali.
Kamu hebat.
Inikah yang mereka berikan untukmu?
Ya. - Kamu hebat.
Entah kalian percaya atau tidak jika kukatakan ini,
tapi aku tidak bisa makan nasi sejak tiba di sini.
Sulit kupercaya hal itu.
Astaga, ayolah. Kamu melihatku makan nasi?
"Kalau begitu, kamu sebut ini apa?
Bagaimana dengan nasi kepal tahu goreng?
Tapi kamu tidak bisa sebut itu nasi putih.
Maksudmu, nasi putih? - Ya.
Kita makan tteokbokki pedas untuk makan malam.
Kamu ingin nasi putih?
Kita juga tidak makan nasi untuk sarapan. Bukan begitu?
Astaga, aku ingin semangkuk nasi panas.
Akan kubuatkan untukmu. - Lihatlah uapnya.
Tunggu sebentar. - Ambillah bagian ini.
Ini harus dimasak dengan baik.
"Setelah lama menunggu"
"Sae Ho dapat semangkuk nasi putihnya"
Ini sudah matang?
"Dia terburu-buru"
Ini belum matang. - Tidak apa-apa. Makan saja.
Rasanya sangat enak. - Syukurlah.
Rasanya sangat enak. - Ini harus matang dengan pas.
Makanlah tuna. Ini kaleng baru.
Ini nasi putih yang sesungguhnya.
Ya, rasanya sangat enak. - Makanlah tuna.
Aku akan menikmatinya. - Baiklah.
"Jin Hee memakan kacang"
"Ini lebih enak karena mereka bisa makan apa yang diinginkan"
Kamu tidak pernah menyanyikan lagu setelah minum?
Soal itu... - Kamu tidak mendengarkan musik, ya?
Aku merasa kamu mendengarkan banyak lagu di perjalanan ini.
Selama perjalanan ini... - Ya.
Jin Hee mempelajari indahnya musik lewat perjalanan ini.
Saat mendengarkan musik,
aku lebih fokus pada lirik ketimbang iramanya.
Aku tidak begitu memperhatikan iramanya.
Karena itulah aku mulai mendengarkan lagu-lagu BewhY.
Saat mendengarkan liriknya,
aku bisa mengerti seperti apa hidupnya hingga kini.
Musik hiphop. - Ada video...
Terakhir kuingat, sudah ditonton sebanyak 150.000 kali.
Lagunya berjudul "This Is America".
Sebuah lagu yang menggambarkan negara seperti apa Amerika
dari sudut pandang keturunan Afrika-Amerika.
Jadi, saat ini, aku sangat marah tiap kali melihat foto soal rasisme.
Tapi kamu tidak terlalu marah
dibanding saat staf memberitahumu mereka tidak punya nasi tadi.
Sungguh? - Ya.
Kamu mengamuk.
Kamu sangat menakutkan. - Kamu seperti monster.
Aku akan jujur kepadamu, Jung Nam.
Aku sangat lelah saat ini.
Karena tidak makan nasi?
Sejujurnya, sangat sulit untuk berjalan.
Kurasa itu karena kamu tidak bisa makan nasi putih.
Lihat? Kini kamu baik-baik saja. - Bahkan kini,
aku terus bicara saat makan dan tidak bisa merasakan apa pun.
Astaga, kamu mengeluh bahkan saat sedang makan.
Maafkan aku.
Kamu bisa makan nasi putih, tapi tetap mengeluh.
Kamulah yang terus bicara.
"Dia menghabiskan suapan terakhir"
Enak sekali.
Mari mulai beres-beres.
Ayo.
"Alih-alih beristirahat, mereka habiskan 1 jam untuk makan"
"Ekspedisi Pulau Skye hampir berakhir"
"Total jarak yang harus mereka tempuh selama 3 hari adalah 28 km"
"Di hari kedua, mereka berjalan dengan total jarak 14 km"
"Kilmarie, Elgol, Camasunary"
"Ini hari terakhir, tapi mereka baru menempuh setengah jarak jalurnya"
"Sligachan"
"Untuk sisa 14 km-nya"
"Mereka harus menyeberangi Cuillin"
"Yaitu area pegunungan terbesar di Skotlandia"
"Setelah berjalan sejauh 14 km dan menyeberangi lembah itu"
"Mereka akan bisa tiba di hotelnya"
"Sisa jalur terakhir dalam ekspedisi Pulau Skye mereka dimulai sekarang"
Baiklah, semuanya.
Mari berangkat sekarang.
Saat ini, kita ada di sini.
Kalian lihat garis putus-putus ini?
Garis putus-putus ini merujuk pada jalur ini.
Kita harus mengikuti garis putus-putusnya.
Kita hanya perlu naik ke sana.
Kita akan tiba di tujuan jika mengikuti garis putus-putusnya.
Baiklah, mari berangkat.
Baiklah, ayo. Kita pasti bisa!
Kita pasti bisa! - Where...
Where is That?
Apa? - Dia bilang apa tadi?
Dia menyebutkannya dengan aksen. - Bukan begitu cara mengatakannya.
Astaga, dia memakai aksen. - Kapten Bae.
Kamu harus sebutkan kata penyemangat
dengan aksen Seoul. Kamu cukup andal kemarin.
Baiklah.
Ini cukup melelahkan, bukan?
Mari terus semangat hingga kita tiba
No comments yet. Be the first to leave one.