The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Periksa monitornya. /- Baik, Dokter.
Jae Wook, jangan membenciku.
Kamu tidak berhak melakukannya.
Kamu tahu aku menyukai In Wook. Kenapa kamu harus melakukan ini?
Ji Sup.
Jangan lakukan ini.
Kumohon.
Tolong pikirkan Hae Sol.
Hei.
Dia minum berapa banyak?
Hei. Kamu tidak apa-apa?
Jangan berani-berani menyalahkanku.
Aku tidak menyentuhmu sama sekali.
Aku tahu. Kumohon pergilah.
Bangunlah. Di sini berbahaya. Kamu bisa saja ditabrak.
Tinggalkan aku sendiri dan pergilah.
Kamu mau mati?
Jika kamu mau mati,
gantung diri atau minum pil tidur. Lakukan itu sendiri.
Jangan jadikan orang tidak berdosa sebagai pembunuh.
Kamu pasti punya keluarga juga.
Pikirkanlah keluarga yang menunggumu di rumah.
Ada apa denganmu?
Kamu tahu aku menunggumu. Kenapa kamu lama sekali?
Kenapa?
Pikirmu hanya kamu yang kesulitan?
Aku dan Hae Sol juga berusaha keras.
Jika kamu terus bersikap begini, kami harus bergantung kepada siapa?
Maaf.
Memang aku meminta permohonan maafmu?
Kita bisa menghasilkan lebih banyak uang bodoh itu lagi.
"Uang bodoh"? /- Ya, uang bodoh!
Karena "uang bodoh" itu,
keluarga kita akan segera menjadi tunawisma.
Karena "uang bodoh" itu,
rumah kita yang kita beli dengan usaha, sudah hancur.
Karena "uang bodoh" itu,
aku dipecat dari kantorku, satu-satunya harapan masa depanku.
Karena "uang bodoh" itu.
Bu Wi.
Hae Rim.
Bu Wi.
Bagaimana Jae Wook?
Dia baik-baik saja, bukan?
Apa yang terjadi, In Wook?
Apa Jae Wook... /- Dia akan baik-baik saja.
Begitu berhasil melaluinya,
dia akan baik-baik saja.
Benar. Harus begitu.
Tentu dia harus baik-baik saja.
Jae Wook. Bagaimana keadaannya?
Dia sudah stabil sekarang.
Bu Wi. /- Aku baik-baik saja.
Aku baik-baik saja.
Terima kasih.
Ini belum selesai.
Entah dia mampu bertahan berapa lama lagi.
Kalian harus bersiap diri.
Apa maksud Anda?
Dia masih hidup dan baik-baik saja. Kami harus bersiap untuk apa?
Jae Wook kesayanganku
akan siuman kembali, jadi, jangan berkata begitu.
Maafkan aku.
Jangan khawatir.
Karena Anda memeganginya dengan amat erat seperti ini,
dia tidak bisa pergi ke mana pun.
Jae Wook tidak bisa pergi.
Tentu saja tidak. Benar.
Dia putraku. Dia tidak akan menyerah begini saja.
Kamu pasti amat terkejut.
Pulanglah. Sudah larut.
Hanya itu yang bisa kamu ucapkan?
Kamu tidak bisa menenangkanku?
Aku langsung bergegas kemari begitu mendengar Jae Wook kritis.
Aku merasa semua darahku dikuras dari tubuhku.
Aku tahu,
tapi kamu tidak sendirian.
Semua orang sama terlukanya.
Hati-hati di jalan.
Untungnya, Dirut Kang sudah stabil.
Dia tidak akan bisa pergi semudah itu.
Dia punya banyak dendam terhadapku.
Pak Pimpinan, kurasa
Anda harus menelepon In Wook...
Berhenti menggangguku.
Dia sudah cukup lelah tanpa harus kutambahkan.
Tekanan darah Anda tidak turun-turun.
Aku yang paham soal tubuhku.
Aku hanya perlu istirahat sedikit.
Sebaiknya kamu jangan menelepon dia.
Jika melakukannya, kamu dipecat.
Apa kakekmu
belum datang?
Sudah terlalu larut,
jadi, aku tidak meneleponnya.
Larut?
Adikmu sedang sekarat,
tapi kamu tidak menelepon kakek karena sekarang sudah larut?
Dia sering sakit belakangan ini.
Kecelakaan Jae Wook
pasti terlalu mengejutkan baginya.
Tentu.
Itu pasti amat mengejutkan baginya.
Cucunya, yang selalu dia jahati,
tiba-tiba terbaring di kasur rumah sakit.
Dia pasti merasa sakit.
Jangan sampai lengah.
Terlalu dini untuk berpikir
bahwa perusahaan kakekmu akan langsung menjadi milikmu
karena kondisi Jae Wook seperti ini.
Ibu.
Kenapa Ibu berkata begitu? /- Kamu pasti mengetahuinya.
Sejak aku membawa Jae Wook ke rumahmu,
dia tidak pernah disayangi.
Kakekmu bersikap dingin kepadanya karena dia anak wanita simpanan.
Lalu kamu,
membencinya karena dia putra dari ibu tiri yang membunuh ibumu.
Akulah yang orang harus menjaganya,
tapi aku terlalu sibuk memedulikanmu
sampai harus
bersikap kejam
dan keras
kepada anak malang ini.
Jae Wook
banyak berkorban untukmu.
Jika kamu mengetahuinya,
jangan terlalu gegabah.
Mati otak?
Kondisinya tidak terlalu baik.
Jika terus seperti ini,
dia bisa mengalami mati otak.
Jika beruntung...
Jika beruntung?
Dia mungkin hanya akan koma selama satu atau dua tahun.
Jadi,
dia antara akan mengalami mati otak
atau koma?
Tanpa keajaiban,
Kang Jae Wook
tidak bisa pulih kembali.
Jae Wook, aku tidak pernah membayangkan
kamu akan memberiku hadiah sebesar ini.
Jae Wook belum sadarkan diri?
Kamu siapa menanyakan dia?
Kamu mengenalku. Jangan terlalu munafik.
Aku bisa menghadapi anak-anak manja, tapi tidak dengan orang munafik.
Ikut aku.
Beraninya kamu datang kemari?
Ini sebabnya kita harus mengenal orang.
Setelah dilihat-lihat, kamu tipeku.
Sia-sia saja aku takut.
Apa? /- Kita dari jenis yang sama,
jadi, kamu pasti paham.
Kamu sudah gila?
Aku tidak gila, hanya bersikap adil.
Kamu lebih buruk dari bayanganku.
Bagaimana bisa aku memahamimu
padahal kamu yang tidak tahu malu karena berani datang ke sini
setelah membuat Jae Wook seperti itu?
Kamulah yang menjadikannya begitu!
Kamu menginjak-injak harga dirinya dan menghinanya!
Kamu seharusnya berterima kasih kepadaku, bukan?
Berkat hal itu, wanita sepertimu
bisa menjadi wanita panggilan dari putra keluarga konglomerat.
Kamu ada benarnya.
Tiap kali kamu mencampakkannya,
dia selalu memelukku.
Ada hal lain yang bisa kamu syukuri.
Tapi memberitahumu sekaligus tidak akan menyenangkan.
Akan ada kesempatan lagi lain kali.
Apa maumu?
Hanya satu hal yang kumau.
Ayahmu, Anggota Dewan Jin Kook Hyun,
punya banyak uang.
Kudengar kamu seorang dokter.
Jadi, lakukan apa pun untuk menyelamatkan Jae Wook.
Jika dia tewas, aku tidak akan memaafkanmu.
"Grup Gangin"
Mana bisa aku merampas posisi Jae Wook?
Kamu tidak merampasnya.
Tidak ada waktu untuk bersikap emosional dan sentimental.
Proyek yang dia kerjakan akan menjadi sia-sia.
Kamu tahu berapa besar kerugian yang akan dialami perusahaan?
Coba carilah. Masih banyak yang lebih baik daripada aku.
Pikirmu kakek terbuat dari baja?
Kakek ingin membereskan semua hal dalam hidup kakek.
Tapi saat memikirkan soal pegawai dan keluarga mereka,
kakek tidak bisa.
Kakek terlalu gelisah sampai sulit tidur.
Setiap harinya adalah peperangan.
Makin hari, dunia makin menakutkan.
Tidak bisakah kamu menolong kakek dari semua masalah ini?
In Wook?
Baiklah.
Dasar orang tua licik.
Dia sudah membawa In Wook?
Halo, Bu Wi.
Apa katamu?
No comments yet. Be the first to leave one.