The first 200 lines.
Tolong.
LEGENDA SANG SERIGALA
Kau masih mencarinya?
Ya.
Tidak berubah pikiran?
Kau tidak puas denganku?
Ben, jika kau harus memilih aku atau dia, siapa yang kau pilih?
Nanti kutelpon lagi.
DITOLAK
Mau main-main denganku?
Kau pasti bisa dikalahkan.
DITERIMA
Kena kau.
Ke timur laut, temukan keadilanmu 23.55 jangan telat.
Akan ada dentuman
Aku bisa atasi masalahmu tanpa konsekuensi
SERIGALA
Ke timur laut?
Alun-alun.
Keadilan... keadilan..
Gedung pengadilan.
Gedung DPR.
Dentuman.
Tn. Chan, tak usah buru-buru.
Aku akan menunggu meski kau telat.
Kau tahu kenapa aku ingin bertemu denganmu?
Kenapa?
Hatiku sedang senang.
Kupikir kau akan bertanya tentang
Kepergiannya yang mendadak bertahun-tahun lalu.
Mungkin seperti yang diceritakan orang
Dia terluka parah, makanya menghilang.
Katanya dia bosan dengan bisnis ini jadi dia ingin berhenti.
Semua gosip itu, entah mana yang benar.
Orang mudah percaya gosip seperti itu.
Gosip apalagi?
Sudahlah, jadi apa?
Liburan.
Orang tua perlu istirahat juga, nak.
Benarkah?
Halo... tunggu.
Telpon untukmu.
Aku tahu.
Sudah kubilang nanti kutelpon.
Sia-sia kau menelponku terus.
Nanti kutelpon balik
Sudah ya.
Bertengkar dengan pacar?
Dari suaranya dia tipe gadis lugu.
Sulit mencari gadis lugu di Hongkong.
Itu efek suara di ponsel
Aku benci ponsel.
Mudah tercecer.
Makanya aku pakai pager.
Bisa menelpon kapan pun aku mau.
Tidak peduli.
Pak tua, apa dia cerewet sepertimu?
Lihat saja sendiri
Omong-omong, aku belum perkenalkan diri
Orang-orang memanggilku Paman Wai.
Aku mengabdi padanya sejak lama.
Kami bersahabat.
Aku hanya ingin ketemu dia, bukan yang lain.
Berapa jauh lagi?
Hampir sampai.
Kau tahu aturannya 'kan?
Kau terima bantuannya, tanpa konsekuensi.
Aku tahu, aku siap.
Bantuan apa yang kau inginkan?
Aku sampaikan sendiri.
Kuharap ini bukan pekerjaan mudah.
Jika itu pekerjaan mudah orang lain pun bisa membantumu.
Dia takkan senang.
Jika dia tak senang, kita dalam masalah.
Kenapa kau tidak khawatirkan jika ia tak bisa membantuku?
Tak bisa?
Kalau kau menyuruhnya terbang, jelas tidak bisa.
Kita sampai.
Itu dia?
Dia terbiasa tidur belakangan ini
Agar dia bisa bermimpi
dan mengembalikan ingatannya.
Kau tahulah, bagi kami orang tua masa lalu adalah segalanya.
Tapi waktuku sangat mendesak.
Santai dan ngobrolah sejenak.
Panggil aku Ben.
Panggil aku Paman Wai.
Duduk.
Santai.
Jadi begini penampilannya.
Kenapa?
Dia lebih tua dari yang kukira.
Begitulah, sehebat apapun anda.
Kau tak bisa melawan tua dan ajal.
Tergantung
Apa maksudmu tergantung? jelaskan padaku
Aku bisa terima.
Apa?
Tidak semua orang bisa terima
Orang berpikiran kuat tidak akan kalah
Bukan sesederhana menang atau kalah.
Ini bukan seperti judi di kasino
Pemenang mengambil semuanya
dari yang kalah.
Bukan masalah menang atau kalah, selama kau masih hidup.
Jika kau punya uang, mungkin kau menyimpannya di saku.
Aku tidak menyalahkan cara berpikirmu
Aku juga tidak menyalahkanmu karena kau belum tua sepertiku.
Dengar, anak muda
Sekalipun kau kaya, kau tidak harus mempertaruhkan semuanya
Apa? Ada yang hilang?
Pasti ponsel kecilmu itu.
Sudah kubilang, ponsel mudah tercecer.
Kau ingin kembali ke mobil?
Tidak usah, tak ada yang menelponku.
Nanti kuambil sebentar.
Sampai di mana tadi?
Anak muda, kau masih sangat muda.
Saat kau setua aku dan dia
Kau akan sadar tidak perlu menang setiap waktu.
Menang sebanyak apapun, balasannya lebih berat dari yang kau harapkan.
Dia sudah tua
Jika dia yang menendangmu, maka kau telan semua rokokmu
Mukamu hancur dan ibumu tidak mengenalimu
Bahkan oleh dirimu sendiri.
Aku pun sombong sepertimu saat bertemu dengannya.
Wahai Budha, dengarkan doa kami
Jauhkan kami dari perampok dan perang
Agar kami bisa hidup damai
Sesajen ini untukmu sebagai rasa syukur
Oh ya sampai dimana tadi? Wahai Budha.
Berikan juga kedamaian dan kerukunan untuk semua warga desa.
Kesehatan dan hubungan yang baik antar sesama.
Rejeki dan ketidakberuntungan.
Maksudku, keberuntungan untuk keluarga.
dan kemakmuran untuk kami semua.
Ingatkan Chun ini adalah pembalasan
Jika dia dipukul, dia harus balas menikam.
Karuniakanlah aku seorang anak di usia tuaku ini
Dan semoga Wai mencukur rambutnya
Agar dia tidak menularkan kutunya
Dan semoga ia tidak lagi berkata kasar
Semoga Hippo tidak mencuri lagi.
Jika masih mencuri, semoga dia tidak tertangkap.
dan semoga Si Mulut Besar tidak memikirkan wanita lagi.
dan menyerang wanita di desa ini.
Dia seharusnya main-main di desa lain saja.
dan semoga Xiao Bun cepat besar.
Supaya dia berhenti bergaul dengan laki-laki.
Bagus, tendang bijinya
Kalian berempat payah, tidak bisa mengalahkan satu orang.
Jika melawan orang lain kalian bisa mati.
Kabulkanlah doa kami wahai Budha.
Kembalikan ayam itu, kau lihat apa?
Jangan begitu, kita tetangga.
Itu sudah keterlaluan.
Benar, keterlaluan sekali.
Kau pikir aku bodoh?
Bodoh? Siapa yang mencuri berasku?
Chun dan aku yang makan.
Jangan tuduh aku, itu kamu dan Hoi.
Kita sudah sepakat, kenapa kau berkhianat?
Kembalikan kepala babi yang kau curi.
Jadi kau yang juga curi kepala babi
Kok bisa kau makan babi bau itu?
Dimana kau dapat beras? / Bukan urusanmu.
Jadi siapa yang hebat? / Kamu
Baik, 1 ekor ayam, beras dan anggur
Serahkan padaku.
Memangnya kamu siapa? / Ya
Tidak perlu begitu, lagipula kita keluarga.
Sepertinya dia pendatang.
Mungkin dari desa lain?
Aku suka pakaiannya
Dia putih, mungkin orang kaya.
Tentara? / Tentara tidak begitu.
Goloknya mengkilap / Mengkilap? mungkin penebang kayu.
Dia bawa tas besar, mungkin tukang pos?
Bagiku seperti perampok.
Kau pernah lihat perampok?
Kau pernah lihat, Abang Wai?
Sudah semuanya.
Kalian payah.
Kenapa tidak langsung tanyakan saja?
Pergilah.
Ayo Abang Wai, jangan takut.
Cari apa kawan?
Maaf, benarkah di sini arah ke Kuil Tujuh Pertapa?
Di sini banyak kuil
Kau bisa kunjungi semua asal ada uang.
Lurus saja ke arah pantai
Terima kasih.
Hai
Minggir, bocah.
Minggir.
Abang Wai, kenapa dia memberimu uang?
Iya, kenapa?
Dia minta ditunjukkan jalan.
Benarkah?
Aku mau juga.
No comments yet. Be the first to leave one.