The first 200 lines.
Dahulu kala,
hiduplah seorang gadis cantik di kastel nan jauh di tengah hutan.
Gadis itu kesepian dan jenuh karena selalu sendiri.
Pada suatu hari, dia keluar dari kastel untuk mencari teman bermain.
Namun, sebagus apa pun hadiah yang diberikannya
tidak ada yang menerima gadis itu.
Gadis itu kemudian mengetahui alasannya.
Monster yang menyeret bayang-bayang kematian.
Orang-orang memanggilnya seperti itu.
"Dia adalah monster! Monster."
Gadis itu sangat marah dengan seluruh orang di dunia ini.
Dia perlu melampiaskan amarahnya.
Setelah tanpa sengaja menyelamatkan lelaki itu,
bayangan gelap yang mengikuti gadis itu mendadak lenyap.
Tapi sebagai gantinya, lelaki itu terus mengikuti gadis itu.
Saat malam maupun siang. Entah melewati gunung atau ladang.
Dia terus mengikuti gadis itu.
Pada suatu hari yang cerah, gadis itu bertanya.
"Hei. Apa kau akan selalu menemaniku?"
"Tentu saja. Aku tidak akan pernah melarikan diri."
"Walaupun seperti ini?"
Gadis itu menjadi sendiri lagi.
Bayang-bayang kematian itu kembali mengikutinya dan berbisik,
"Mustahil ada orang di sampingmu
karena kau adalah monster.
Jangan pernah lupakan itu. Apa kau mengerti?"
Ya, Ibu.
BAB 1 ANAK LELAKI YANG PENUH KETAKUTAN
ANAK LELAKI YANG PENUH KETAKUTAN
Pemberhentian SMK Daun.
Pemberhentian selanjutnya...
Di kelas, dia tiba-tiba berteriak membuat keributan.
Bukan main.
Tidak!
Tidak ada gunanya menghentikan dia.
- Ini sudah berulang kali terjadi. - Lihat aku
Ekspresi menunjukkan emosi
Jika ada alat berbahaya di sekitarnya,
pasti bisa celaka!
Kenapa semuanya harus gelisah dan merasa tak nyaman
- hanya karena Sang-tae? - Apa dia marah?
Apa dia marah?
- Kita harus pikirkan masalah keamanan, - Marah...
- Dia kesal. - dan dia terlalu merepotkan bagi kita.
Kirim saja dia ke sekolah khusus atau pusat kesejahteraan sosial.
- Itu pilihan terbaik bagi kita. - Lihat aku
- Ekspresi menunjukkan emosi - Silakan berpendapat lain.
Bagaimana pendapatmu?
Mohon katakan sesuatu! Astaga.
Dia marah.
ANAK LELAKI YANG PENUH KETAKUTAN
MOON SANG-TAE
Sang-tae.
Apa kau lapar?
Mau makan apa?
Kau hanya bersekolah di sana untuk sementara.
Setelah pindah, aku akan carikan yang lebih bagus.
Aku janji.
- Apa kau kesal? - Aku mau jjamppong .
- Apa? - Tangsuyuk dengan saus terpisah.
Jangan pergi ke Jageumseong. Kita makan saja di Yangjagang.
Baiklah. Ayo makan sampai kenyang di Yangjagang.
Makanannya enak sekali. Apa kau ingat?
Kapan kali terakhir kita ke sana?
Tenang saja. Aku traktir. Aku kakakmu.
Apa benar kau Penulis Ko Mun-yeong?
- Ya. - Lihat? Benar kataku.
Anakku adalah penggemarmu.
Maaf mengganggu.
Bisakah kau tanda tangan di buku ini?
- Siapa namamu? - Lee Seul-bi.
Aslinya cantik sekali, ya?
Benar. Kau seperti putri kerajaan dari buku dongeng.
- Kenapa aku seperti putri kerajaan? - Karena kau cantik.
Ibuku juga selalu memanggilku "putri"
karena aku cantik.
Bu, mau berfoto bersama juga?
Tentu saja. Terima kasih.
Berdirilah di sampingnya.
Ayo kemari.
Kau pasti bukan penggemarku.
Apa?
Dalam buku dongeng yang kutulis, penyihir yang selalu cantik.
Siapa bilang semua putri kerajaan selalu baik dan cantik?
Apa ibumu yang bilang?
Putri, lihat ke arah sini.
Jika kau ingin cantik, katakanlah ini.
- Satu. - "Ibu.
- Aku akan menjadi... - Dua.
penyihir yang cantik."
Tiga.
Putri!
- Astaga. - Putri!
Astaga.
Astaga. Mun-yeong.
Selamat pagi, Mun-yeong.
Kenapa ada rantai? Merepotkan sekali.
Kenapa anak kecil itu menangis pagi-pagi begini?
Mungkin dia terharu. Karena aku meluruskan stereotip yang salah.
Apa-apaan...
Bagus sekali.
Bagi anak-anak, stereotip lebih menakutkan daripada harimau dan cacar,
dan kau meluruskannya?
Kau memang hebat, Mun-yeong.
Tunggu sebentar.
RUMAH SAKIT JIWA OK
Aku tidak perlu pinjaman. Aku punya banyak uang.
Ayo, kita berangkat.
Karena ada waktu sekitar dua jam,
kita bisa mampir ke salon terlebih dahulu.
Untuk apa?
Kau tak bisa pergi seperti ini.
Kau seperti Francesca yang akan melayat
di pemakaman Keluarga Addam!
Kau mau mengunjungi bangsal anak seperti ini?
Kau ke sana untuk memberikan mimpi dan harapan bukan menakuti mereka.
Lalu mendongeng buku yang kau tulis.
- Tapi penampilanmu... - Katamu stereotip itu menakutkan?
Kau yang seperti ini lebih menakutkanku.
Mun-yeong, tolonglah.
Kau harus berbusana mengikuti WTT.
Waktu, tempat, dan tujuan.
Aku akan meminta mereka untuk mendatangimu.
Apa kau tahu alasanku menyukai restoran ini?
- Karena steiknya... - Bukan.
Pisaunya
sangat tajam.
- Lihat ini. - Mun-yeong, kau berdarah.
Cantik sekali.
Aku menginginkannya.
Astaga.
Permisi!
Tunggu sebentar.
TANDA PENGENAL PERAWAT MOON GANG-TAE
Pak Moon. Segera ke ruang istirahat!
Sial. Pencuri itu memakan semua makanan termasuk milikku juga.
Sepertinya kelaparan berhari-hari.
Nona Myeong Ji-suk.
Suamiku.
Aku lapar sekali.
Jika kau makan semuanya tanpa henti,
perutmu akan sakit dan tak nyaman.
Jangan makan semuanya sekaligus.
Makanlah secara perlahan, sedikit demi sedikit.
Lebih baik jika kau bisa berbagi.
Katamu aku cantik karena makan dengan lahap.
Bukan itu maksudku.
Jika kau menyukai seseorang, saat dia makan pun terlihat cantik.
Suamiku.
Lantas
kenapa kau berselingkuh dengan model kurus itu?
Tidak apa-apa.
Jangan tersenyum.
Itu memuakkan.
- Angkat tanganmu membentuk huruf W. - Lepaskan aku!
Lalu turunkan tangan dan rileks.
- Diam! - Kenapa aku dibawa ke sini?
Lepaskan aku! Lepas!
Tempatku bukan di sini! Tidak!
Lepaskan!
Tempatku bukan di sini!
- Apa dia pasien baru? - Lepas!
Dua hari lalu, dia dan anaknya masuk IGD
karena overdosis alprazolam.
Dia pernah rawat jalan karena gangguan kecemasan.
Dia mau bunuh diri dengan anaknya.
Sepertinya sebelum bunuh diri, dia berniat untuk membunuh anaknya.
Go-eun di mana?
Go-eun di mana? Anakku di mana?
Untung anaknya langsung muntah setelah diberikan obat.
Sekarang dia sedang konseling PTSD di bagian psikologi anak.
Go-eun?
Apa yang sedang kau pikirkan?
Lepaskan aku!
Dia akan menerima tes kejiwaan sore ini.
Periksa vitalnya setiap satu jam.
Ketika kalian memberikan infus, periksa kembali tali pengikat pasien.
Baik.
Setelah mendongeng, ada sesi tanya jawab.
Kemudian bagikan buku bertanda tangan kepada anak-anak.
Lalu berfoto bersama pengurus rumah sakit sekaligus penutupan acara.
Aku ini CEO di perusahaan penerbit, tetapi tugasku seperti asisten pribadi.
Aku merasa kehilangan identitasku.
Awalnya aku direkrut sebagai penata artistik.
Aku tidak menyangka akan menjadi pesuruhmu seperti ini.
Bukankah saat wawancara kau bersedia melakukan apa pun?
Kau hanya memintaku melakukan pekerjaan yang menggunakan tenaga bukan pikiran.
Aku baru tahu kau bodoh, setelah menerimamu.
Lalu mau bagaimana? Mau kupecat?
Tidak.
RUMAH SAKIT JIWA OK
"Rumah Sakit Jiwa OK?"
Apa kau mengunjungi psikiater?
Pilihan yang tepat!
Angkat.
- Halo? - Mode pengeras suara.
Halo? Pak Lee.
Ini Nam Ju-ri, perawat di Rumah Sakit Jiwa OK.
Tolong ikuti aku.
Aku tak bisa menghubungimu. Kau juga tak membalas pesanku.
No comments yet. Be the first to leave one.