The first 200 lines.
Merunduk!
- Kau tak bisa melakukan itu! - Tetap merunduk!
Jangan bergerak!
Aku akan menghabisimu!
- Ada apa denganmu? - Dia akan melaporkan kita!
- Dia menggunakan ponselnya! - Astaga!
- Tetap tiarap! - Apa kau gila?
- Apa? Kau melihat itu? - Dia laporkan kita ke polisi!
Kau memang bodoh! Apa-apaan?!
Indah.
Udara segar.
Hei!
Hei, kembali ke sini!
- Killian! - Baiklah, baiklah.
Tak perlu emosi.
Kau harus bantu aku dengan dia.
- Dia mati? - Aku...
Itu tak penting. Dia takkan tetap di mobil ini.
Bantu aku keluarkan dia dari sini.
Hei, Lisa.
- Killian! - Oke, oke.
Aku tak mengerti kenapa kau membesar-besarkan ini.
Biar aku buat kau mengerti.
- Ayo. - ayo, pria besar.
Apa dia mati?
- Jika dia mati, itu bagus untuknya. - Diamlah.
Ayo. Bawa dia ke dalam.
Aku akan kosongkan ruang untuknya.
Baringkan dia di sana.
Bukan tempat termewah untuk bersantai, bukan?
- Jika kau takkan membantu... - Apa? Persetan itu.
Aku bukan dokter. Dia tak seharusnya membuat dirinya tertembak.
- Hanya.. - Diam.
Baiklah. Aku punya tas obat. Biar aku ambil itu di ruangan sebelah.
Bajingan.
Astaga. Kenapa kau memiliki itu semua?
Apa pelurunya menembus?
Ya.
Itu kelihatannya menembus.
Dia beruntung.
Baik, aku harus bersihkan lukanya dan hentikan pendarahannya.
Kenapa, kau pikir kau dokter dengan itu semua?
Aku tahu dia akan mati pendarahan jika kita tak hentikan itu.
Menurutmu kau bisa jahit lukanya?
Tidak secara baik.
Kau mau aku bagaimana lagi?
- Aku akan membantumu. - Ya.
Ini tidak benar.
Ini memang tidak benar.
Dia harusnya menunduk.
Kau. Keluar.
Keluar. Sekarang.
Sial.
Trent akan mengamuk.
Ada apa, pak tua?
Apa yang...
Apa? Kau akan menembak orang tak bersenjata?
- Itu benar. - Apa masalahmu?
Kau masalahku.
Ini semua salahmu.
Kenapa? Itu?
Astaga.
Bukan aku yang tak memerhatikan petugas keamanan.
Tapi Geoff.
Kau sebaiknya berpikir dua kali tentang siap yang pantas dihukum.
Tak ada yang harus mati.
Semua orang kadang mati.
Ya, kau benar soal itu.
Ayolah. Jangan jadi berengsek.
Orang-orang itu tidak berdosa.
- Kita harusnya profesional. - Maka bertingkahlah seperti itu!
Cukup kembalikan ponselku, oke?
Cobalah ambil, berengsek.
Benar begitu, Willow.
Bagus, sayang.
Kau tak harus berhenti karena kedatanganku.
- Di mana yang lain? - Didalam.
Kau mendapatkannya?
Ya. Tapi ada harganya.
Astaga.
Ayo, sayang.
Kau tak apa, Willow?
Aku menyayangimu, sayang.
Mungkin kita sebaiknya turunkan senjata itu, Alex.
Ayo, kawan. Aku tak yakin apa yang terjadi.
Aku hanya berpikir mungkin itu ide bagus...
...jika kita turunkan senjatanya.
Mungkin berpikir tentang kenapa kita di sini,
Kenapa kita melakukan ini.
Ini kesempatan terakhirmu.
Diamlah. Hanya...
Apa kita setidaknya mendapat yang kita inginkan?
- Ya, kita mendapatkannya. - Bagus.
Oke, mari kita lihat.
Hei!
Kau mendapat yang kau inginkan.
Yang benar, kita mendapat yang kita inginkan, Alex.
Dia tanggung jawabmu.
Lakukan apa yang kau mau dengan orang ini.
Oke.
Apa yang terjadi di sini?
- Terus jepit itu. - Sial. Itu terlepas.
Bagus. Kau kembali. Kau melewatkan seluruh keseruan.
- Bajingan. - Sial. Maafkan aku.
Tunggu, aku masih butuh tanganmu.
Terlihat seperti hari yang buruk.
Tapi setidaknya kau bisa bermain dokter-dokteran lagi.
Kali ini pegang yang kuat.
Itu yang aku lakukan sebelumnya.
Dia satu-satunya yang tertembak?
Tidak... Ya.
Salah satu dari kita. Tapi yang lainnya...
Apa yang terjadi?
Kau tidak beritahu dia?
Ada yang mungkin mengenalimu?
Apa ada orang lain yang melihat kau beraksi?
Hampir tak ada yang tersisa.
- Apa yang terjadi kepadanya? - Dia?
Dia hanya sedikit mengantuk.
Hei, aku butuh tanganmu.
Aku takkan senang, bukan?
Tidak, tidak mungkin.
Padahal perjalananku ke sini sangat bagus.
Ya. Jalurnya bagus di sana, di sekitar balik ngarai.
Kelihatannya aku tak punya waktu lagi untuk mengajak Willow keluar,
Dan itu juga sangat disayangkan.
Oke.
Kurasa ini sudah cukup.
Itu bisa bertahan?
Mungkin untuk sementara.
Dokter sungguhan harus memperbaikinya.
Dia juga perlu ditangani secara internal.
Kita harus antar dia ke rumah sakit.
Tak ada yang pergi.
Dia butuh dokter. Cukup berikan bagian kami,
Aku sendiri yang akan bawa dia ke rumah sakit.
Tidak, kau tak bisa lakukan itu.
Kau bisa, dan kau akan melakukannya.
Pekerjaan sudah selesai. Bayar kami.
Sebenarnya, aku tak bisa dan tak mau.
Pekerjaan belum selesai. Kau masih haru menunggu.
- Apa? - Tidak.
Bukan itu kesepakatannya.
Sebenarnya, itu kesepakatannya, Alex.
Kesepakatannya adalah kami melakukan tugas,
Mendapatkan berliannya, lalu kau membayar kami.
Itu berliannya.
- Sekarang bayar kami. - Oke.
Oke, tenanglah, Charles, kau akan dibayar.
Kau hanya harus menunggu.
Oke?
Waktu kita sekitar 3 jam hingga pembelinya datang.
Pembelinya datang,
Aku beri dia berliannya,
Sedikit utangku lainnya kepadanya,
Lalu kemudian kita semua pergi dengan uang tunai.
Mengerti?
Hingga itu terjadi, mari semuanya tenang. Oke?
Bagaimana jika dia mati sebelum itu terjadi?
Resiko pekerjaan.
Ini kacau.
Kita harus bawa dia ke dokter.
Dia butuh dokter?
Itu ponselmu. Silakan, ambillah.
Gunakan itu.
Aku pilih lokasi ini karena suatu alasan.
Kau mau tahu alasannya?
Karena memanggil seseorang bukanlah pilihan.
Dan kapan kau bisa pahami itu di otak bebalmu,
Bahwa ada yang kita inginkan,
Tapi ada realita yang terjadi.
Dan ini adalah kenyataannya!
Kita akan menginap di sini,
Dan kita tak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan.
Dan, hei, aku prihatin dia tertembak.
Sungguh.
Dan aku berharap dia tidak mati.
Benar-benar berharap.
Aku serius.
Tapi ini faktanya.
Sekarang, bicara soal fakta...
Ini harusnya pekerjaan sederhana.
Aku rasa tak ada alasan untuk melepas tembakan.
Bahkan tidak sekalipun!
Tidak satu kalipun!
Aku beritahu kau sesuatu.
Kita begitu dekat untuk selesaikan kesepakatan ini,
Dan aku tak mau ambil resiko...
...kalian semua bertingkah seperti anak sekolahan.
Jadi ini yang akan terjadi.
Aku mau kau berikan semua senjatamu padaku.
Semuanya.
Aku tidak bertanya, Alex. Aku memintamu.
Aku butuh senjatanya.
Jangan mengujiku.
Aku hanya butuh satu senjata.
Ayo.
Oke. Itu awal yang bagus. Oke.
Oke.
Kau tahu, Alex?
No comments yet. Be the first to leave one.