The first 200 lines.
Selamat malam, Nona Tamura.
Sembunyikan keberadaan ternyata lebih sulit dari yang kuduga.
Ya, terutama pancaran gelombang terkuat, adalah di saat kita ingin membunuh.
Terutama, saat memendam kebencian pada musuh.
Lalu, kenapa Anda tak hindari kami?
Karena aku penasaran.
Aku ingin pastikan akan kalah atau menang.
Selain kalian bertiga, apa ada lagi yang punya pikiran sama?
Tidak, hanya kami bertiga.
Bahkan Hirokawa dan Gotou pun tak tahu soal ini.
Begitu, ya.
Alasannya?
Instingku.
Dari kejadian sebelumnya,
kusimpulkan, bahwa keberadaan Anda akan mengancam kelangsungan hidup spesies kita.
Ternyata begitu.
Kau persis Si A.
A?
Cara berpikir dan berperilaku kita, parasit,
sangat terstruktur, dan mudah ditebak.
Kupikir akan mudah untuk persatukan semua rekan dalam sebuah organisasi,
ternyata perkiraanku salah.
Tapi, aku sendiri sebagai parasit,
merasa cukup bahagia, karena bisa mengenal perbedaan pendapat,
atau lebih tepatnya, individualisme.
Bahkan aku sampai terkesan karena kalian berniat main hakim sendiri.
Baiklah, obrolannya kita sudahi sampai di sini saja.
Kalian pikir untuk mengalahkanku cukup dengan bertiga saja, ya?
Kejar dia!
Bunuh!
kalian tak sadar bahwa sebagai manusia, kita diberi banyak berkah
you guys do not notice that we are gifted just by being humans
kita adalah predator alami
we are absolute predators
kita pun tak mempunyai musuh
we do not even have any enemies
mungkin ada hewan lain yang memerhatikan kita
maybe there are other animals watching us
dan suatu saat berpikir, "kita akan kalahkan mereka"
and thinking that someday "we will beat them down"
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
oh, kita punya otak 'tuk berpikir keras
oh, we have the brains to think hard
Sang Bidal
Parasit
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
ZainuddinAri
ZainuddinAri
mempersembahkan
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
dengan berpakaian sesuka kita
wear our favorite clothes
tak ada lagi keraguan menjadi manusia
we are at no doubt human beings
akan banyaknya kehidupan kecil
many small lives
takdir mereka saat lahir adalah mati untuk orang lain
they were born with the fate of dying for someone
bayi manusia
a human baby
kapankah mereka 'kan mengetahui
when will they find out
di saat semuanya dilahirkan, maka kitalah
that at the point they were born, we are
sang penguasa bumi?
winners of earth
ah, diriku menangis seorang diri
aa hitori naiteita
karena dirimu di sampingku, terasa begitu jauh
tonari no kimi ga tooikakeru
maka dari itu, kujalani hidup ini
dakara bokura yorisoi ikiru
segemerlap mungkin
kirameku made
untuk apa aku hidup selama ini?
for what have I been living for?
kapan 'kan kutemukan jawabannya?
when will I find out the answer?
jawaban yang hanya untukmu
an answer that is only for you
akan jadi apa diriku di lingkungan sekitarku kelak
what will myself and (the) first scenery I saw
Sang Detektif Sekarat
Kekuatan otot-ototku jelas jauh lebih kuat.
Satu lawan satu pun aku pasti menang.
Beruntung sekali, ya.
Lambat!
Untukmu, ambil saja.
Apa maksudnya sampai membelah diri begitu?
Biar aku yang kejar!
Apa Tamura merangsek ke dalam tubuhnya?
Kau baik-baik saja?
Ya.
Itu dia.
Dia orangnya!
Ho-Hoi!
Eh?
Kenapa kau masukkan kerikil ke dalam tasmu?
Buat jaga-jaga dari PK.
Maaf, sepertinya kami salah orang.
Barusan kami lihat wanita yang kepalanya setengah buntung,
dan pakaiannya mirip sepertimu, jadinya...
Kepalanya buntung setengah?
Eh, aneh banget.
Tapi, isi kepalaku juga kosong, kok!
Dia gila.
Tamura sudah tak bisa berpikir secara rasional lagi.
Selain itu, tak mungkin parasit separuhnya lagi bisa kendalikan fungsi tubuhnya.
Dia sama saja ambil risiko bunuh diri.
Sungguh sia-sia.
Apa ini akhir riwayat seorang Reiko Tamura,
yang notabenenya sangat cerdas itu?
Kakiku...
Tubuh bagian bawahku...
Apa-apaan kau?
Ini bukan kemauanku!
Bukan aku!
Satu rekanku mati?
Begitu, ya.
Jadi, itu caramu bertahan hidup.
Tapi, kalau hanya separuh dirimu saja, memangnya bisa ambil alih tubuh itu?
Kau yakin bisa mengalahkanku dengan tubuh penuh luka begitu?
Hentikan!
Ini tubuhku!
Jangan!
Hentikan!
Siapa yang sekarang sedang berbicara?
Hikawa?
Atau, Tamura?
Tolong hentikan!
Aku rekanmu!
Kalau memang rekanku, untuk apa kau mendekatiku?
Sialan!
Bagian leher sampai kakiku bergerak sendiri!
Pasrahkan saja.
Matilah bersama pecahan tubuh Reiko Tamura!
Aku ini rekanmu!
No comments yet. Be the first to leave one.