The first 200 lines.
"DONGENG MUSIM GUGUR"
Oh.
En Xi, selamat ulang tahun.
Terima kasih, ibu. Terima kasih, ayah.
Kak.
Ini.
Jun Xi, jangan goda adikmu.
Hati-hati, Jun Xi.
Hati-hati.
Anak ini.
Bu, lihat.
Kakak mempermainkan lagi.
Jun Xi, turunkan itu.
Siapa suruh dulu menghilangan kunci.
Sekarang kuncinya ada di sini.
Tidak akan hilang lagi.
Kak.
- Ini punya ayah. - Oh.
- Ini punya ibu. - Oh ya?
Bu, kakak pasti sengaja.
Mengapa aku dilukis sejelek ini?
Sepintas tidak mirip dengan kalian.
- Coba ibu lihat. - Kuberitahu,
aku tidak tahu nurani,
beresiko dikutuk.
Aku melukismu secantik itu.
Lagipula, tidak mirip lebih baik
daripada tidak dilahirkan, kan?!
Kakak jahat.
- Kamu mau apa? - Jangan lari.
Sudahlah, sudahlah.
- Jangan lari. - En Xi, kamu cantik.
Setelah kita hukum kakak, setiap tahun...
ibu beri hadiah yang lebih cantik.
Bagaimana?
Baiklah. Kalau begitu aku terima saja.
Awas kalau berani menggangguku lagi.
En Xi.
Kudengar kamu juga khusus menyiapkan lagu untuk hari ini.
En Xi, ayo.
Bagus. Kami hargai penampilanmu.
Aku sudah lama berlatih.
Tapi, masih belum terbiasa.
Oh.
Aduh.
Hei!
Kamu lamban sekali, mana bisa selesai sampai malam.
Ambil air panasnya.
Cuci dengan air panas.
Kenapa kompor ini?
Maaf.
Aku lupa memasukkan briketnya.
Ada apa dengan anak ini?
Sudah berapa kali kubilang.
Apa otakmu memang lamban?
Pergi sana!
Kenapa diam di situ?
- Masih belum cuci sayurannya? - Ya.
Kapan kamu bisa mengerti.
Kamu mau membuatku lelah?
- Bu. - Ada apa?
Ibu, ibu terus seharian.
Hari ini hari ulang tahunku.
Nyonya.
Nyonya.
- Ya. - Aku pesan semangkuk mie.
Maaf.
Hari ini jualannya sudah selesai.
Kami sudah tutup.
Bagaimana kalau kembali saja besok?
Tadi kulihat masih ada semangkuk mie.
Jangan bohong.
Oh, kakakmu.
Mengapa dia tidak menyapamu?
Apa perlunya menyapa.
Dia selalu menggangguku seharian.
Kamu tidak apa-apa?
Maaf, aku tidak sengaja.
Kamu bisa menendang bola, tidak?
Kak. Aku baik-baik saja.
Tak apa, sedikit kena kepala. Tidak apa-apa.
Tak akan kuampuni lain kali.
Pinjami kakak uang. Ini darurat!
Dari mana aku punya uang?
Ibu memberimu uang jajan, kan?
Berikan!
Kamu mau mati?
Aku tak mau memukulmu di luar.
Kamu dengar tidak? Berikan!
Aku tidak mau melakukannya di luar.
Berikan padaku!
Mau kupukul? Berikan padaku!
Pergi!
Anak besar menggertak gadis kecil.
- Tidak tahu malu! - Malu?
Hei, pahlawan kecil.
Apa itu rasa malu?
Aku tidak pernah tahu sampai aku sebesar ini.
Bagaimana kalau kamu tunjukkan?
Kamu butuh berapa?
Terima kasih, pahlawan kecil.
Tidak tahu malu!
Xin Ai.
Berpura-pura jadi orang baik?!
Dia aneh sekali.
Sudah dibantu, tapi tidak menghargai.
Punya kakak seperti itu sangat menyedihkan.
Ayo.
Hei, Kak.
Kamu menungguku?
Album edisi terbatas favoritmu.
Kejar aku, nanti kuberikan.
Janji, ya.
Tunggu aku!
En Xi
ternyata memiliki golongan darah AB.
Sedang golongan darah kita O.
Apa maksudmu...
Maksudmu, En Xi...
Hei.
Kak.
Kak.
Apa menurutmu aku memecahkan kepalaku?
Mengapa kemarin aku bermimpi
kata ayah dan ibu aku bukan anak mereka.
- Dimana ayah dan ibu? - Ayah dan ibu?
Lagi mencari putri kandungnya.
Kak.
Baiklah. Jangan pikirkan itu.
Kamu jelek seperti ayah.
Anggaplah kamu bukan anak kandung, siapa yang percaya?
Aduh.
Oh, tidak. Sakit sekali.
Aduh, kepalaku mau pecah.
Wow.
Bagusnya.
Sama seperti punya kakak.
Aku tidak takut kamu merebutnya lagi.
Pegang ini.
Ini.
Mengapa tidak ada suaranya?
Lupa beli baterei-nya.
Hei, jangan keras-keras. Nanti rusak.
Kalau rusak, bisa kuperbaiki.
Bahkan kalau kamu rusak, bisa kuperbaiki juga.
Lalu kapan aku bisa melihat En Xi?
Aku sangat bingung sekarang.
Aku menyesal memeriksa dokumen itu.
Kalau tidak, kita akan disalahkan.
Kita biarkan saja begini, bagaimana?
Tapi Xin Ai bagaimana?
Sebelum ada solusi yang tepat,
jangan beritahu anak-anak dulu.
Sup buatan ibu enak sekali.
Setelah dewasa nanti,
aku juga mau cari pacar yang hebat seperti ibu.
Setiap hari membuatkan sup untukku.
Kupikir kamu mau bilang saat dewasa ingin seperti ibu.
Membuat sup yang enak.
Ternyata, mau cari pacar yang seperti itu.
Oh, kamu cemburu, ya?
Bukan kamu yang kucari.
Sudah, sudah.
Jangan ribut.
Ayo makan.
Biar aku saja.
Tunggu sebentar.
Siapa, ya?
Kalian adalah orang tua kandungku.
Apa itu benar?
Xin Ai.
Beritahu aku!
Apa kalian orang tua kandungku?
Nak.
Ayah.
Ayah?
Ayah, ayah apanya?
Sepertinya ayah dan ibu tidak mau memberitahumu.
Karena mereka tidak mau,
biar aku saja yang mengatakan.
Kamu bukan anak mereka,
tapi aku!
Saat itu kita tertukar di rumah sakit.
Semua yang kamu miliki,
seharusnya menjadi milikku.
Ibumu
adalah pemilik restoran kecil.
Kamu punya kakak yang nakal.
Dan aku,
aku menderita untukmu selama 13 tahun.
Berhenti bicara.
Jun Xi.
Xin Ai...
adalah adikmu.
Adikku hanya En Xi saja.
Aku tidak kenal kamu. Kamu keluar!
Jun Xi, tenang.
Kalau dia adikku, lalu En Xi bagaimana?
En Xi!
En Xi!
No comments yet. Be the first to leave one.