The first 200 lines.
"Episode 23"
Kenapa kamu menatapku?
Kamu yakin ingatanmu sudah pulih?
Siapa namamu?
Ayolah.
Ada apa?
Sulit dipercaya. Berapa kali ini?
Aku tidak bodoh.
Aku tidak percaya, jadi, katakan lagi.
Siapa namamu?
Woo Jung Hoo. Namamu Jung Min Jae,
dan nama anakku Woo Jae Hee.
Kamu sudah kembali. Kamu kembali!
- Sakit. - Kamu sudah kembali. Sayang!
- Sayang, astaga. - Ada apa denganmu?
- Astaga. - Jae Hee, apa kata dokter?
Dia bilang semuanya baik-baik saja.
Tapi Ayah harus menginap untuk memastikan
dan menjalani pemeriksaan besok.
Ya, tentu saja.
Sayang, baguslah. Aku senang kamu kembali.
Apakah ingatan Ayah benar-benar sudah pulih?
Ayah ingat nama Ayah? Bisakah Ayah memberitahuku?
Sial...
Jae Hee, ibu baru bertanya sekali lagi.
Dia ingat semuanya sekarang.
Benarkah?
Kalau begitu, berapa 32 ditambah 62?
Kamu bercanda?
Yang benar saja. Kenapa kamu menguji kecerdasannya?
Aku hanya mengajukan pertanyaan dasar.
Sayang.
Kamu ingat menginap di Vila Samgwang?
Kamu tidak ingat?
Kurasa tidak.
Mungkin kembalinya ingatannya membuatnya melupakan
semua yang terjadi saat dia tidak ingat siapa dirinya.
Entahlah.
Ibu rasa pernah melihatnya di film.
Atau mungkin tidak.
Apa ini satu-satunya kamar rumah sakit yang kosong?
Kamu yang memberiku kamar ini?
- Kenapa? - Bukan, aku.
Dan membayarnya dengan kartu kredit ayah?
Tahukah kamu betapa mahalnya satu kamar?
- Astaga, dia benar-benar kembali. - Sepertinya begitu.
Dia kembali!
Kepalaku pusing.
- Berbaringlah. - Ayah mau ke toilet?
Tidak, ayah harus pulang.
Kenapa tidur di sini saat tubuh ayah baik-baik saja?
Sudah kubilang tadi
bahwa Ayah akan diperiksa besok.
Dokter harus mengawasi Ayah.
Ayah akan pulang dan kembali besok.
Mulailah proses pemulangan.
Rumah sudah kosong begitu lama sampai benar-benar tidak berisi.
Kamu harus tetap di sini malam ini.
Mereka akan menagih biaya malam ini bahkan jika kita pergi sekarang.
Benarkah?
Sial. Buang-buang uang saja.
Ayo.
Benar. Pria yang itu bukan Jung Hoo.
Pak Yoo!
Aku tahu seharusnya aku senang, tapi...
Kalian akan tetap seperti ini semalaman?
Min Jae, pulanglah. Kamu juga, Jae Hee.
Ayah ingat di mana aku tinggal?
Ayah ingat tinggal denganku di Vila Samgwang?
Turunkan ranjangku.
Perlahan! Kamu membuatku pusing.
Tapi ini mode otomatis.
Chae Woon...
Ada apa
kamu kemari seperti ini?
Untuk mengembalikan ini kepada Ibu.
Astaga.
Kenapa kamu membawa ini kembali?
Ibu memberikannya kepadamu untuk kamu simpan.
Ibu tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadamu.
Ini milik Ibu yang paling berharga.
Jangan berikan ini kepadaku.
Itukah alasanmu datang?
Ya.
Kamu baik-baik saja?
Bagaimana dengan Ibu?
Ibu baik-baik saja.
Chae Woon,
kamu
menerima telepon itu, bukan?
Dari nenekmu.
Kubilang semua akan berakhir jika kamu yang disalahkan.
Ya.
Apa pun yang dia katakan,
jangan diambil hati.
Tidak akan.
Namun,
aku tidak bisa membiarkannya membuat Ibu menanggung semua ini.
Chae Woon...
Jangan khawatir, Bu.
Aku baik-baik saja.
Jadi,
apa wanita itu
mengatakan hal lain kepada Ibu setelah hari itu?
Tidak, dan kamu tidak perlu mencemaskan ibu.
Ibu sama kuatnya.
Hae Deun dan Ra Hoon ada di rumah? Aku harus menyapa mereka.
Chae Woon.
Kamu harus pergi.
Butuh keberanian besar untuk masuk ke rumah Bu Kim.
Jangan sia-siakan itu
dan pergilah, ya?
Ayo.
Kakak benar-benar menungguku pulang?
Cepat. Hati-hati di jalan, ya?
Apa hanya aku di rumah ini yang bisa membantu Kakak?
Kakak tidak bisa meminta kepada Na Ro.
- Lakukan saja sendiri. - Ayo.
Tapi ini melelahkan.
Kamu yang melelahkan.
Ayolah.
Pergilah.
Kalian bertengkar lagi?
Ada apa dengan kardusnya?
Aku lupa. Di mana Kakak menaruhnya?
Di belakang dapur.
Ayolah.
- Yang benar saja. - Keluarkan dengan benar.
Jangan lupa botolnya!
- Tentu. - Baik.
Astaga, dahimu merah.
Diamlah, Kim Hye Soo.
- Astaga. - Bibirmu kena lipstik.
Apa?
Apa?
- Chae Woon? - Chae Woon!
Hei.
- Bibi. - Kamu...
Kamu sudah kembali dari pekerjaan konstruksi?
Begini...
Benar. Kamu sudah pulang, tapi harus pergi lagi, bukan?
Ibumu bilang kamu harus lama di sana kali ini.
Benar juga.
Begitu rupanya. Itu sebabnya Sun Jeong tidak terlihat baik.
Itu karena kamu tidak ada.
Apa Ibu sakit?
Apa? Tidak.
Dia baik-baik saja. Itu tidak benar.
Apa?
Hwak Se.
- Pergilah lebih dahulu. - Apa?
Pulanglah.
Sebenarnya, aku harus pergi ke restoran daging kaki.
Chae Woon, jaga dirimu baik-baik
dan tetaplah sehat. Kamu akan datang akhir pekan ini?
Astaga, pergilah.
- Baiklah. Aku pergi sekarang. - Baiklah.
Sampai jumpa, Chae Woon.
- Jaga diri Paman. - Baiklah.
Kamu baik-baik saja?
Bibi tahu aku sehat dan kuat.
Aku diberkati dengan itu.
Kamu senang tinggal bersama ibu kandungmu?
Apa aku terlihat bahagia?
Kamu tampak stres.
Ibu tampak murung sekali.
Itu sebabnya aku pergi.
Itu bagus.
Bibi bersyukur kamu pergi.
Ibumu melarang bibi bicara, jadi, bibi tidak bertanya.
Tapi ada hal lain, bukan?
Karena itu kamu pergi, bukan?
Bibi tahu kamu mudah marah seperti bibi,
tapi kamu bukan orang yang akan pergi begitu saja demi dirimu.
Bibi.
Bibi ingat kali pertama Ibu membawaku ke rumah?
Apa Bibi tahu
siapa yang meninggalkanku bersama Ibu saat itu?
Entahlah. Bibi sibuk belajar saat itu,
jadi, bibi tinggal terpisah darinya.
Ibumu bekerja di pabrik di Seoul saat itu.
Tapi tiba-tiba dia pindah ke luar kota.
Dia bilang akan bekerja di panti asuhan di kota lain.
Bibi rasa saat itulah dia pergi untuk membesarkanmu.
Dia menyerahkan
segalanya untuk membesarkanku.
Jaga Ibu baik-baik, Bibi.
Bibi tidak bisa sebaik kamu.
Biarkan bibi memelukmu.
Chae Woon.
Maukah kamu menelepon bibi saat keadaan menjadi sulit?
Harus, ya?
Hei. Kamu tahu bibi petarung yang hebat.
Tentu saja.
Terutama jika Jang Seo A atau ada apa pun yang mengganggumu,
segera hubungi bibi. Mengerti?
Tentu.
Hei. Tadi, James
kembali ke rumahnya.
- Benarkah? - Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.