The first 199 lines.
Siap, mulai.
- Aku tak tahu. - Ayolah!
Kenapa kau tak mengakui kau jatuh cinta kepadaku?
Kenapa kau jatuh cinta kepadaku?
Karena kau cantik.
Lihatlah wajahmu di bawah cahaya bulan.
- Aku tak bisa. - Kau bisa.
Tidak. Orang tak bisa melihat wajahnya sendiri.
Itu mustahil.
Menikahlah denganku dan akan kubelikan seribu cermin.
- Itu banyak sekali. - Ayahku seorang miliarder.
Aku bisa berikan apa pun yang kau inginkan.
Selain itu, aku sangat tampan.
- Benar. - Pikirkanlah.
Cahaya berpindah.
Aku tak tahu.
Tak apa-apa jika kau tak tahu.
Namun, kau berhak menerima jawaban.
Aku bisa menunggu.
Demi kau, aku rela menunggu seribu tahun.
Namun, itu lama sekali!
Aku tahu aku miskin.
Aku tahu tak bisa berikan apa pun ...
... tapi aku mencintaimu.
Karena aku cantik?
Aku tak mencintaimu karena kau cantik.
Kau cantik karena aku mencintaimu.
Wah.
Kenapa mainkan musik disko?
Maaf. Aku salah menekan tombol.
Bukan! 15 tahun lalu, ibumu salah melahirkan anak!
Baiklah, mari kita istirahat dulu.
Tori, Beck, kalian hebat. Akting kalian keren.
- Terima kasih. - Bagaimana dengan aku?
Aku pernah lihat yang lebih buruk.
Semuanya, bisakah kalian diam sebentar saja?
- Ada apa? - Surel dari Kepsek Eikner.
Isinya?
"Bagi siswa yang terlibat produksi sekolah Uptown Downtown ...
... Sofia Michelle akan ada di Los Angeles, akhir pekan ini tanggal 17 ...
... dan secara pribadi akan menghadiri malam pembukaan pementasan kalian."
- Itu mengagumkan. - Astaga.
- Siapa Sofia Michelle? - Tidak.
Apa?
Dia pemeran utama, tapi tak tahu Sofia Michelle.
Tunggu. Dia wanita di iklan dengan sisir bergetar?
Aku suka sisir itu.
Lihat sampul naskahmu.
Sofia Michelle menulis naskah drama kita.
Dia seperti penulis drama terbesar di Broadway.
Baiklah, kita tahu kita harus tampil mengagumkan.
Kini kita harus tampil sempurna.
Kita tak akan mengecewakan Sofia Michelle.
Kau yakin ingin Robbie bermain dalam drama ini?
- Aku berbakat. - Dalam hal apa?
Aku harus minum pil penenang lagi.
Bisakah kau matikan musik diskonya?
Tak ada yang bisa mematikan musik disko!
Cat?
Cat?
Kau melihat Cat?
Ini hanya riasan efek khusus.
Itu memang khusus.
Aku telah terpengaruh.
- Hai, Cat. - Hai, Tori.
- Kita makan siang bersama? - Ya, tunggu sebentar.
Aku hampir menyelesaikan tugasku.
Tugas apa?
Mengubah wajah manusia menjadi monster menakutkan.
- Kau ingin lihat? - Coba takuti aku.
Bukankah dia menakutkan?
Tidak, dia menggemaskan.
Astaga. Kau membuatku tampak menggemaskan.
Kau sungguh payah.
Biar aku coba lagi seusai sekolah.
Tidak. Aku muak denganmu.
Tidak. Tunggu. Kau tak bisa ...
Aku muak denganmu.
Itu model ketigaku yang pergi.
Aku akan mendapatkan nilai F. Dalam riasan.
Itu menyebalkan. Ayo makan siang.
Tunggu.
- Tidak. - Aku hanya ...
Aku tak mau menjadi model riasan monstermu.
Jika aku tak mengubah wajah seseorang jadi monster mengerikan Senin ini ...
... aku gagal dalam kelas ini.
Jika tak makan roti lapis kalkun, aku akan gagal dan mati kelaparan.
Ayolah! Kita bisa lakukan malam ini, besok malam, kapan pun yang kau mau.
Aku ikut pementasan drama penting. Aku harus pelajari dialogku dan lima lagu.
- Tori. - Cat.
- Kau harus lakukan ini. Katakan "ya"! - Tidak.
Aku tak mau. Baik, akan kulakukan!
Hore!
Kau traktir aku makan siang.
Ayo.
Roti lapis kalkun: HORE! Riasan monster: KENAPA?
Suasana Hati: Cemas
Pilihanku tiba-tiba menjadi jelas
Bagus. Kini bernyanyi seperti penyanyi jaz kuno.
- Kenapa? - Untuk menghiburku.
Pilihanku tiba-tiba menjadi jelas
Jelas
Jelas
Seperti pria.
Jelas
Jelas
Kini aku terhibur.
Hampir pukul 20.00. Kau lapar?
Ya. Kau ingin aku membeli piza?
Tentu. Ayo pesan piza pepperoni besar ...
Tunggu sebentar!
- Saatnya merias. - Hai, Cat.
- Aku letakkan ini di mana? - Meja dapur.
Aku suka dapur!
- Hai, Andre. - Apa kabar Merah Kecil?
Apa maksud ucapanmu?
Entahlah. Merah Kecil. Tubuhmu kecil dan rambutmu merah?
Itu kreatif sekali. Kini panggilan untuk Tori.
Bisakah kita selesaikan seluruh riasan monster ini?
Tentu. Mari kita mulai.
Bisakah Andre menjadi asistenku?
Kau bisa tanya dia.
Andre, kau mau bantu merias wajah Tori seperti monster?
Sampai nanti.
Mungkin dia harus ke kamar mandi.
Di halaman depanku?
- Terkadang adikku ... - Saatnya berias.
- Kau siap? - Ya. Perlihatkan kepadaku.
Wah. Lihat aku. Aku mengerikan.
Menurutmu begitu?
Ya. Aku terlihat seperti zombi sungguhan.
Hore, aku tak gagal!
- Ayo takuti kakakku. - Baiklah.
Trina! Kemarilah dan lihat sesuatu!
Apakah itu untukku?
Ya, tentu saja.
Di mana Tori?
Mereka sudah mengantar sisir bergetarku?
Ayolah, kenapa kau tak takut?
Aku sudah melihat nenek kita bugil.
Tak ada yang membuatku takut lagi.
Ayo, izinkan aku memotretmu.
- Baiklah. - Aku mau jus apel.
Buatlah sendiri.
Baiklah, akan kubuat sendiri.
- Baiklah, mendekat ke bawah sinar lampu. - Baik.
- Untuk apa ini? - Itu lem.
Ya, tapi kenapa ada di peralatan riasmu?
- Apa masalahnya? - Ini Lem Grizzly.
Seperti semen untuk industri.
Cat, kau tak pakai ini pada wajah Tori, bukan?
Berikan itu!
"Untuk keperluan industri saja. Peringatan, hindari kontak dengan kulit."
- Cat! - Maafkan aku!
Kenapa kau tak pakai lem kulit?
Aku kehabisan, jadi, kuambil itu dari kotak peralatan ayahku.
- Cat! - Kau sudah gila?
- Apa bisa dilepas? - Aku tak tahu!
Kenapa kau tak baca labelnya?
Karena aku suka foto Beruang Grizzly yang lucu.
Maksudku, lihat, dia berbulu halus ...
- Cat! - Hei!
Maafkan aku!
Ini tak akan berhasil.
Aku aktris utama drama musikal besok malam.
Karakterku seharusnya cantik.
Kau tak terlihat cantik sama sekali.
Apa yang baru saja kau katakan?
Hentikan!
Dengar, hal buruk makin memburuk. Kau harus menunda drama itu.
Tidak bisa. Sofia Michelle akan datang menontonnya.
Wah, itu menarik sekali!
- Tidak, itu tak benar. - Kenapa tidak?
Karena aku zombi yang mengerikan!
- Ini gara-gara kau! - Maafkan aku.
- Baiklah! - Aku bawa piza.
- Aku tahu ini sulit! - Sampai nanti.
- Benar, di kulitnya. - Ya, Lem Grizzly.
Tak mau lepas! Hidungku gatal dan tak bisa digaruk.
- Kau bicara kepada siapa? - Dokter.
- Kau bicara kepada siapa? - Perusahaan lem.
Kau tak mengerti. Ada di seluruh wajahnya.
Haruskah kubawa dia ke IGD?
Aku tak membaca labelnya! Jangan membuatku merasa bersalah!
Baiklah, akan kukatakan kepada Tori.
Apa?
Dengar, aku sekalian ingin tahu ...
... apa aku butuh izin dari orang tuaku untuk melakukan operasi kosmetik kecil?
Trina!
Tutup teleponnya.
Sudah, ya.
Apa yang dia katakan?
- Usiaku harus 18 tahun sebelum ... - Tentang aku!
Bisakah dia hapus riasan zombi dari wajahku?
Tidak.
Kau beri tahu dia besok aku tampil dalam drama karya Sofia Michelle ...
... dan dia akan hadir di sana?
Aku seharusnya cantik ...
... dan tak terlihat seperti zombi yang makan otak manusia?
No comments yet. Be the first to leave one.