The first 200 lines.
"EXchange 2"
"EXchange 2"
"Sung Hae Eun"
"Keem Tae I"
"Lee Na Yeon"
"Park Won Bin"
"Kim Ji Soo"
"Jung Gyu Min"
"Lee Ji Yeon"
"Nam Hee Doo"
"EXchange 2"
"Episode 12. Mantanmu Menunggumu"
"Orang ketiga yang meminta masuk ke Ruang Mantan"
"Won Bin"
Baiklah. Dia mengirim pesan teks. - Ya.
Dia pria pertama yang masuk.
Aku yakin dia suka melihat kembali kenangannya.
Aku yakin ada banyak yang bisa dilihat di ruangan ini.
"Malam sebelumnya, saat pengumuman itu keluar"
Kamu harus memintanya dalam satu jam.
"Won Bin yang pertama mengirim pesan teks"
"Aku harus melakukannya."
Aku sangat penasaran.
Aku mengharapkan hal baru terjadi.
Dan aku sangat ingin mencobanya.
Aku ingin mengenang hubungan kami.
Aku sedih dan juga sering menangis.
Tapi momen itu sangat berarti bagiku.
"Selamat datang di Ruang Mantan"
"Di sini, kamu bisa membahas hubungan dengan mantanmu"
Ini yang terburuk.
"Terima kasih sudah memberi kenangan yang mau kuhargai, bukan kulupakan"
"Apa kita akan terus berteman?"
"Kurasa aku tidak mau melakukan itu"
"Waktu di Ruang Mantan terhenti saat mereka bersama"
"Hei, kamu akan dapat pacar jika memimpin Sukarelawan Pertanian"
Rasanya aneh.
Dia menyimpan semua suratnya.
Kenapa dia menyimpannya? Aku membuang semuanya.
"Ji Soo, terima kasih sudah berada di sisiku hari ini"
"Aku mencintaimu. Aku bisa lebih fokus jika ada kamu di sampingku"
Kupikir dia sudah membuangnya.
Tapi aku terkejut melihat dia menyimpan semuanya.
"Aku memegang tanganmu, tapi rasanya seperti tangan orang lain"
"Aku mencintaimu, Ji Soo"
"Kamu akan sendirian jika seperti ini"
Dahulu aku melihat dia tersenyum seperti ini.
Aku juga melihat senyum yang sama sesekali di rumah.
Aku merindukan senyumnya, tapi sebagian diriku bahagia untuknya.
Secara keseluruhan, aku bahagia.
"Topi serasi untuk Won Bin yang rambutnya dicukur"
Topi merah dan topi cokelat.
Aku membelikan itu untuknya sebelum masuk militer.
Aku lupa bahwa itu topi yang serasi.
Aku teringat masa itu.
"Astaga. Dia menyimpan semuanya?"
Menurutku itu menarik.
Aku penasaran kenapa dia menyimpannya.
"Kisah kita tetap ada dalam kenangan kita sekarang"
"Terima kasih sudah mencintaiku bahkan saat aku marah"
"Terima kasih sudah menjadi pendampingku"
"Selalu berada di sisiku. Aku juga akan berada di sisimu"
"Aku lega memilikimu dan merasa aman bersamamu"
"Saat paling damai"
"Aku memegang tanganmu, tapi rasanya seperti tangan orang lain"
"Terima kasih sudah mencintaiku bahkan saat aku marah"
"Dan aku sangat mencintaimu"
"Kepada Pacarku, Won Bin"
"Hai, Won Bin. Ini pacarmu yang manis dan menggemaskan"
"Hari ini adalah hari ke-100 kita bersama sebagai pasangan"
Apa ini?
Itu membuatku sering tersenyum dan menangis.
Aku juga ingat banyak momen penuh syukur.
Aku sangat merindukan kebersamaan kami setelah membaca semuanya.
"Aku merindukannya."
"Kita sangat bahagia saat itu."
"Kuharap ada lebih banyak hal yang membuatmu bahagia daripada aku"
Cukup menenangkan
"Terima kasih sudah menjadi pendampingku"
mengetahui bahwa dia bersyukur memilikiku.
"Terima kasih karena tidak menyerah terhadapku"
Aku juga bersyukur.
"Kurasa saat musim panas, kita mulai menjauh"
"Rasanya kenangan indah kita juga menghilang"
"Aku meneleponnya, itu kali pertama dia bersikap dingin kepadaku"
"Aku tidak yakin kami bisa terus berkencan"
"Hubungan kami tidak boleh berakhir semudah ini"
"Semua temanku bilang aku tidak boleh menunggu"
Jika aku memberinya lebih banyak cinta seperti yang dia inginkan,
itu akan lebih baik.
"Hubungan kami membuatku kesepian. Jadi, aku memutuskan untuk melajang"
"Begitu aku pergi"
"Kamu akan sendirian seperti ini"
Itu sekitar tiga atau empat hari sebelum aku masuk militer.
Tapi itu selama pekan ujian.
Jadi, aku tetap bersamanya di perpustakaan.
Won Bin memberitahuku
bahwa dia akan bersamaku seharian.
Tapi murid-murid seniornya
terus mengundangnya untuk minum karena dia akan pergi.
Dan aku sangat kecewa dengan itu.
Dia bilang kalau dia harus pergi.
"Aku yang menunggumu, bukan teman-temanmu."
"Kamu akan segera pergi."
"Tapi kenapa kamu malah menghabiskan waktu dengan mereka?"
Jadi, kubilang aku akan masuk dan menyapa.
Tapi dia juga tidak senang dengan itu.
"Aku khawatir akan terus kecewa"
"Dan hubungan kami mungkin akan membuatku lelah"
"Seolah ada dinding tebal antara kamu dan aku"
Dia menyuruhku pergi karena tidak mau menemuiku.
Aku ingin bersenang-senang dengannya.
Hal-hal kecil yang tidak masalah bagiku sebelumnya
mulai mengecewakanku
karena aku menginginkan lebih darinya.
Dia ada di sampingku, tapi tiba-tiba aku sangat sedih.
Aku menyingkir darinya.
Aku mundur dan menatapnya.
Dia tampak sangat sedih.
Saat melihatnya dari belakang, aku menjadi sangat emosional.
"Dia akan sendirian saat aku tidak di sini."
"Siapa yang akan menemaninya?"
Saat kami sedih, bertengkar, atau bahagia,
kami selalu bersama.
Tapi jika lain kali dia sedih, aku tidak bisa mendampinginya.
Jadi, aku langsung duduk di sampingnya dan meminta maaf
sambil menangis.
Kubilang aku minta maaf.
"Aku khawatir kamu akan sedih begitu aku pergi"
"Buku harian Won Bin di hari perpisahan mereka"
Hal terakhir kulihat adalah buku harian itu. Tertulis di bawahnya...
"Andai aku tidak terlalu mencintaimu"
"Andai aku tidak terlalu mencintaimu."
"Akankah aku melupakan hari ini? Hari perpisahan kita"
Saat itu sangat sulit.
Jika aku tidak terlalu mencintainya, rasanya tidak akan terlalu sakit.
Tapi aku sangat mencintainya, jadi, itu sangat menyakitkan.
"Sudah kubilang aku ingin memperbaiki keadaan"
"Tapi kamu bilang tidak akan berubah pikiran"
"Soal putus denganku"
Bukan itu yang kurasakan sekarang. Andai aku lebih mencintainya.
Itu sering terlintas di benakku.
Aku terus mengingat hal-hal yang tidak bisa kulakukan untuknya.
Jadi, aku punya penyesalan dan kekecewaan dalam hal itu.
"Dia melihat ruangannya lagi"
"Ji Soo dan Won Bin, setelah putus, masa kini"
Yang sangat kusukai?
Tapi kurasa dia tidak mau menemuiku lagi.
Bagaimana jika aku memulai sesuatu dengannya dan membuatnya bingung,
tapi akhirnya aku menolaknya lagi?
Maka aku akan menyakitinya lagi.
Omong-omong, aku memiliki hubungan paling bahagia dengan Won Bin.
Kurasa hubungan kami baik.
Won Bin pria baik.
Jadi, aku ingin bertemu dengannya pada satu titik dalam hidupku.
Semua orang sangat terkejut saat melihat nama peneleponnya.
Suaraku berubah sepenuhnya saat menjawab teleponnya.
"Apa nama peneleponnya?"
Ji Ddu.
Ji Ddu Du Ddu Du juga.
Apa aku gila?
Pertama-tama, aku merasa bersalah.
Andai aku lebih baik kepadanya.
Saat hari itu mendekat,
kami berdua menjadi sensitif.
Kami kecewa dengan hal-hal kecil.
Saat itu, aku juga tidak tahu harus bagaimana dengan hidupku.
Jadi, aku sangat takut untuk putus dengannya.
Dia mengirimiku surel.
Seharusnya aku beli roti berbentuk ikan saat dia menginginkannya.
Setelah menjalani wajib militer, tidak ada yang bisa kulakukan.
Rasanya aku lajang, padahal aku pacar.
Aku kesulitan menghadapi itu.
Kurasa aku ingin menghilangkan perasaan itu.
Aku tidak mengira kami akan putus semudah itu.
Tapi sekitar bulan Mei,
aku tiba-tiba merindukannya. Saat itulah efek putus cinta terasa.
Jadi, aku meneleponnya.
Saat itu, dia bersikap sangat dingin kepadaku.
"Orang-orang melupakan mantannya dengan hubungan baru."
Itu terlintas di benakku saat mendengar kabar darinya.
"Begitu rupanya. Dia berusaha melupakanku dengan pria lain."
Aku bahkan membuang harga diriku untuk mencintainya.
Aku tidak mau melakukan itu lagi.
Aku membaca pesan teks darinya dan tidak membalas.
Won Bin pria baik.
Jika Won Bin benar-benar ingin memulai hubungan denganku,
maka aku akan tergoda untuk setuju dan ragu untuk menolaknya.
Tapi aku hanya akan setuju jika yakin dengan perasaanku.
Kami tidak perlu saling menelepon setelah itu.
Kami juga tidak perlu berkabar.
Aku hanya ingin kami saling mengingat
kenangan indah kami
dan saling mendukung.
Kuharap semua yang kami lalui bersama
akan menjadi pengalaman bagus untukmu
dan kamu bisa gunakan ini sebagai dasar
untuk memiliki hubungan yang lebih bahagia.
Perasaanku rumit.
"Apa ini?" Itu terlintas di benakku.
No comments yet. Be the first to leave one.