The first 200 lines.
"Episode Lima"
Pak Kang, kamu di sini.
Hei, Instruktur Lee.
Kamu baik-baik saja? Selamat pagi.
Kamu juga di sini.
Astaga.
Pak Kang, kamu di sini.
Jika kamu menelepon dahulu,
aku akan menyambutmu lebih hangat.
Aku minta maaf untuk itu.
Olahragaku tidak perlu diumumkan.
Aku mengerti.
Instruktur Lee, kamu pasti meneleponnya.
Begini,
aku sangat bersyukur kamu memilih untuk berolahraga di sini lagi.
Kami akan memberikan pelayanan dan keramahan yang lebih baik.
Tapi ternyata
kamu menugaskan pelatihku untuk anggota lain.
Aku tidak tahu kamu akan kembali.
Mau kubatalkan untukmu?
Tidak apa-apa.
Kalau begitu, aku akan berolahraga.
Tentu saja. Selamat menikmati waktumu.
Kalau begitu, berolahragalah.
Apa yang terjadi?
- Apa maksudmu? - Bagaimana kamu mengenal Tae Min?
Itu yang ingin kutanyakan kepadamu.
Bagaimana kamu bisa mengenal Pak Kang?
Aku yang bertanya lebih dahulu.
Dia berlatih denganku selama sekitar tiga tahun.
Karena dia orang yang sibuk, biasanya ini waktunya.
Tapi kamu bilang tidak ada yang boleh berolahraga pukul 5.00.
Kamu melarangku masuk karena harus mengurusnya dahulu.
Dia bicara dengan manajer soal berolahraga lebih awal,
dan aku hanya mengikuti instruksi.
Ini yang ingin kulakukan untukmu,
tapi kamu tidak mau menerima saranku.
Tidak ada yang mendengarkan dalam kasus ini.
Aku menentangmu sebagai pelatihku, tapi kamu terus bersikeras.
Benar, bukan?
Aku tidak tahan lagi. Aku akan memberi tahu bosku
bahwa aku tidak bisa menjadi pelatih pribadimu.
Aku dibayar bukan untuk diam saja.
Aku juga tersinggung
dengan sikapmu yang tidak peduli denganku hanya karena membayarku.
Aku akan tetap menjadi pelatihmu sampai bulan ini
dan mencarikanmu orang baru bulan depan.
Orang yang tidak terganggu dibayar untuk tidak melakukan apa pun.
Sayangnya, itu bukan aku.
Aku akan menepati janjiku mengenai lari kita.
Aku pukul 20.00, kamu pukul 21.00.
Aku tidak akan salah waktu lagi.
Sepertinya ada percakapan menyenangkan.
Instruktur Lee,
bagaimana dia menerima nasihat?
Dia lumayan.
Dia pelatih berbakat, jadi, dengarkan sarannya.
Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa di kantor.
Tentu.
Astaga, Pak Kang. Bagaimana olahragamu hari ini?
- Baik-baik saja. - Begitu rupanya.
Sudah lama kami tidak melihatmu.
Tolong beri tahu aku
jika ada yang tidak beres.
Kamu sudah selesai?
Ya.
- Sesinya selesai lebih awal. - Baiklah.
Siapa kamu?
Tunggu. Apa itu tadi?
Astaga.
Ada keributan apa ini? Apa yang terjadi?
Aku tidak akan tahu sampai naik ke sana.
- Begitukah? - Ya, ayo naik ke sana.
Siapa kamu?
Apa yang terjadi?
Kkeut Soon, apa yang terjadi?
- Lihat. - Apa-apaan...
Satu, dua, tiga, empat,
- lima, dan arah sebaliknya. - Angkat hanya sampai di sini.
- Terus tekan sendimu. - Baiklah.
- Satu, dua. - Perlahan, satu.
- Tiga, empat. - Itu dia.
- Ke kanan. - Tentu.
Satu, dua, tiga, empat,
lima.
Astaga, itu sosok selebritas tampan.
Apa-apaan ini?
Astaga.
Dengar, Wanita.
Sudah berapa kali kubilang jangan ayunkan palang itu?
Wanita? Beraninya kamu memanggilku seperti itu.
Apa?
Memangnya bagaimana lagi? Kamu bukan seorang nona.
Kamu juga bukan anak muda.
Pak, berolahraga seperti itu tidak akan mengembalikan masa mudamu.
Sulit membentuk otot di usia kita,
tapi memiliki terlalu banyak otot
akan membuat peti mati kita tidak terkunci rapat.
- Apa yang baru saja kamu katakan? - Astaga, ayo.
- Ayo, Pak. - Dasar kamu...
- Tolong jangan. - Ini menyenangkan.
- Tolong jangan lakukan ini. - Jangan hentikan aku.
- Aku bersenang-senang. - Pak, tolong jangan.
Pak, kumohon.
Lepaskan aku.
- Dasar kamu... - Silakan saja.
Kamu seharusnya memberitahuku dia pelatih pribadimu.
Aku tidak punya hak eksklusif atas layanannya.
Tetap saja.
Beri tahu aku jika kamu ingin berlatih dengannya.
Aku tidak butuh pelatih.
Benarkah?
Benar.
Lalu kenapa membayar pelatih?
Karena situasi tertentu.
Menyerahkan jasa seseorang kepada orang lain.
Bukankah itu salah?
- Ini tidak seperti bayanganmu. - Wanita itu.
Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.
Kurasa kamu salah.
Tidak perlu terlalu serius.
Fokuslah pada olahragamu, dan jangan hiraukan aku.
Setahuku,
dia instruktur terbaik di negara ini.
"Kosmetik Naturalisme Bianca"
"CEO Bianca Corporation Lee Hyo Do"
Astaga.
Halo?
Apa?
Apa yang terjadi?
Wanita tua itu. Bagaimana keadaannya?
Bagaimana orang gila itu bisa...
Hyo Do!
"Vila Uicheon"
Bu.
Apa yang kamu lakukan?
Bisakah Anda tidak berteriak sejak awal?
Apa yang terjadi?
Apa yang kamu lakukan?
Ibu. Akan kujelaskan.
Apa ini anak itu?
Bisakah kamu menjawabnya?
Astaga.
Hyo Do dalam masalah besar sekarang.
Aku sungguh tidak tahu.
Itu terjadi dalam sekejap.
Aku hanya tahu
pria bermantel itu menabrakku dengan mobilnya.
Bukankah itu sebabnya aku dibawa ke sini?
Ya. Itu benar.
Dasar bodoh. Apa yang harus ibu lakukan denganmu?
Kamu membuat ibu takut dengan membeli mobil mahal,
dan kini kamu menabrak seseorang dengan itu?
Hajar dia lagi.
Hajar dia sampai sadar!
- Sial. - Memukulnya
tidak akan menguntungkan siapa pun.
Dia melakukan tabrak lari.
- Apa? - Apa?
Apa yang Anda bicarakan?
Jika kamu menabrak seseorang dengan mobil,
kamu harus ke rumah sakit atau kantor polisi.
Kenapa kamu membawanya ke sini?
Awalnya aku berniat membawanya ke rumah sakit.
Tapi dia bersikeras menolak pergi ke rumah sakit.
- Apa? - Itu sebabnya kami datang ke sini.
Benar, Bu?
Kurasa aku harus pergi.
Bu. Bagaimana jika kami mengantar Anda ke rumah sakit?
Aku baik-baik saja.
Kenapa kamu menolak?
Apa kamu menolak sekarang
agar bisa menjebak kami
untuk hal yang lebih buruk nanti?
Jangan hanya duduk di sana! Panggil ambulans.
Ambulans. Baiklah.
Aku baik-baik saja.
Jangan panggil ambulans.
Kalau begitu, Bu, ayo ke kantor polisi.
- Pak Park. - Pak!
Itu tidak perlu.
Aneh sekali. Aku sama sekali tidak mengerti.
Kamu tidak mau ke rumah sakit atau ke polisi?
Siapa kamu?
Kurasa aku harus pergi.
- Astaga. - Tunggu, Bu, tapi tetap saja.
- Bu. - Tunggu.
- Astaga. - Astaga!
- Astaga. - Astaga.
- Astaga. - Bu!
Tidak, Bu, Anda tidak boleh mati.
Jangan mati, atau Anda akan menghancurkan hidupku. Bu!
"Grup Taesan"
"Istri"
"Istri"
Apa maumu?
Kenapa kamu tidak menjawab?
Apa kamu mau menjawab jika menjadi aku?
Lupakan itu.
Kamu menelepon untuk minta maaf kepada ibuku?
No comments yet. Be the first to leave one.