The first 200 lines.
DONG-SEOK DAN SEON-A, YEONG-OK DAN JEONG-JUN
Terima kasih banyak.
Apa mungkin ibuku sepertimu?
Tiap kali melihatmu,
aku tak bisa tak memikirkannya.
"Apa ibuku pernah menyayangi putranya
sebesar rasa sayangmu pada Yeol?"
Aku malah jadi bertanya-tanya.
Apa aku tampak bodoh dan gila karena bercerita begini,
padahal aku sudah berumur lebih dari 40 tahun
Tidak.
Meski gila pun, aku tak bisa berkata apa pun.
Aku hanya penasaran.
Apa yang dia pikirkan saat menatapku?
Kalau penasaran, langsung bertanyalah.
Lupakan saja.
Setelah ayahku meninggal,
aku selalu memiliki banyak pertanyaan di pikiranku.
"Apa ayahku membenciku?"
Ayah bilang kalau aku tercantik di dunia ini.
"Apakah itu hanya kebohongan?"
"Mengapa meninggalkan anaknya,
dan terjun ke laut sendirian dengan mobilnya?"
Sesudahnya, aku mendapat kesimpulan.
Meski menyayangiku,
hidup tampak sangat berat baginya,
lebih daripada yang bisa kubayangkan.
Setelah itu, aku kembali mengutuk ayahku lagi.
Harusnya dia bilang kalau merasa kesulitan.
Paling tidak aku bisa memeluknya.
"Aku ada di dekat Ayah. Jangan merasa kesepian."
Kucoba menunjukkan sisi manisku agar dia tersenyum.
Namun, lagi-lagi,
aku mulai menyalahkan diriku
karena tak bertanya kepadanya.
Saat ayah mabuk dan bertengkar dengan pamanku,
aku harusnya masuk dan bertanya,
"Ada apa? Apa yang membuat Ayah marah? Apa yang membuat Ayah kesulitan?"
Aku harusnya tak menghindar,
dan menanyakannya.
Aku menyesal tak bertanya.
Tanyakanlah pada ibumu.
Kau putranya,
tetapi mengapa mengabaikanmu?
Jangan tidak bertanya dan menyesal sepertiku.
Menyesal apanya? Astaga. Sudahlah.
Lebih baik hidup seperti orang asing,
dan adakan pemakaman saat dia meninggal.
Dia tak pernah bicara padaku.
Saat bertemu di pasar pun,
bertindak serasa tak mengenal dan pura-pura tak lihat.
Apa dia akan menjawab jika aku bertanya?
Mungkin dia akan berpikir,
"Bocah ini bicara apa?"
Sambil menatap tajam dengan wajah marahnya kepadaku.
Astaga. Lupakan saja.
Namun, apa kau pernah memikirkanku?
Kembali ke topik itu lagi.
- Mengapa kau ini? - Aku bertanya apa kau memikirkanku?
Terkadang.
- Tidak selalu? - Terkadang.
Tak bisakah kau berusaha membohongiku saja?
- Astaga, kau ini. - Aku tak bisa bohong.
Cobalah sekali saja.
Aku selalu memikirkanmu. Terus-menerus.
Astaga. Dasar kau ini.
Mengapa kau terus-menerus memikirkanku?
Tanpa alasan.
Lingkungannya bagus dan tenang.
Namun, perasaanku…
terasa sangat aneh.
Ini bukan motel ataupun rumah kosong,
juga bukan kamarku saat aku kecil,
bukan arkade atau jalanan,
kau di dapur dan aku di ruang tengah.
Ini…
terasa sangat aneh.
Mengapa?
Hanya saja…
Kita berdua terlihat sangat natural.
Seperti orang yang tinggal bersama atau pacaran.
Seperti pasangan dalam satu atap.
Kau harus menikah.
Sepertinya kau mau berumah tangga.
Senangnya kalau menikah.
Sayang, tolong ambilkan minum.
Aku ingin berada di dekat Yeol.
Kenalanku membuka usaha interior,
dan mengajakku bekerja bersama.
Aku mendapatkan pekerjaan.
Kau tak lagi punya alasan untuk kembali ke Jeju.
Benar.
Kalau begitu, tinggallah.
Seorang ibu harus bersama anaknya.
Kapan kau membuat keputusan itu?
Saat melihat matahari terbit.
Saat itu, kukira kita akan dekat lagi seperti dahulu.
Ternyata kau berpikir untuk tinggal lagi di sini.
Bagaimana rumah renovasinya? Kau sudah sewa selama satu tahun.
Entahlah.
Buatku saja.
Aku senang bila kau menggunakannya.
Kamarmu di mana?
- Namun, aku tak ingin masuk ke sana. - Mengapa?
Tidak ada kenangan baik di sana.
Benar,
mantan suamimu.
Kamar Yeol di sana.
Aku akan tidur di sana,
atau di sofa ini.
Aku boleh lihat kamarnya, 'kan?
Aku boleh lihat kamarmu, 'kan?
Seon-a, apa kau ingin memindahkan kasurmu ke ruang tengah?
Pasang dengan benar.
Aku memasangnya dengan benar.
Kalau diganggu, jadi, tak bisa.
Tak akan kuganggu.
Kau bekerja dengan baik.
Astaga.
- Kemari. - Hentikan.
Bagaimana kamarnya?
Aku menyukainya.
Kubuatkan pangsit goreng kesukaanmu.
Makan dahulu sebelum pergi.
Kau tak bisa tidur sama sekali karena aku.
Naiklah kapal feri yang menuju Jeju dari Mokpo besok pagi.
Tidurlah dahulu.
Baiklah.
Ini enak sekali.
Apa tidak panas?
Itu karena aku lapar. Ini lezat dan garing.
- Taruh handuk pada tempatnya. - Baik.
Kapan pun…
jika butuh bantuan, telepon aku.
Jika butuh bantuan tenaga seperti hari ini juga.
Jika berlibur ke Jeju dan ingin makan ikan mentah,
- atau ingin pergi ke suatu tempat… - Atau saat kesepian,
aku akan meneleponmu.
Janji?
Janji.
Kau harus terus sibuk seperti hari ini
sehingga bisa mengantuk.
Kalau banyak pikiran, teruslah sibuk.
Aku selalu sibuk.
Kalau tidak, akan banyak pikiran.
Tak sakit pun menjadi sakit.
Kalau takut di rumah besar begini,
kau bisa pindah ke rumah kecil.
Jika mendadak gelap, meski di siang hari…
"Ini hanya ilusi."
Aku akan mengucapkannya dengan keras.
Kalau tetap tak bisa,
aku akan meneleponmu.
Maka aku akan mengumpatmu.
Kukatakan, "Sadarlah, Bodoh!"
Aku…
akan sering meneleponmu.
Tak usah janji begitu. Tidur saja.
Lihat? Begini lebih baik.
DONG-SEOK
Seon-a, aku akan naik kapal feri malam, dan sengaja tak membangunkanmu.
Akan kukirimkan mobilmu dari Jeju.
Kapan pun, jika butuh aku, teleponlah.
Apa dia ingin mati?
Jika butuh tenaga seperti hari ini, teleponlah.
Jika kesepian, teleponlah.
Jika depresi datang lagi dan semua terasa gelap, teleponlah.
Bagaimanapun, cobalah untuk hidup.
Seon-a.
Berkatmu, aku jadi berpikir tentang hari esok.
Lain kali,
ayo bertemu lagi.
Hiduplah dengan baik.
KAFE 94
Yeol, kau tak akan memaafkan ibu?
Kau mau maafkan?
Namun, mengapa cemberut?
Bertemu ibu, tetapi tidak tersenyum.
Tidak ada alasan.
Yeol.
- Apa kau tahu kalau ibu sakit? - Ya.
Itulah mengapa Ibu tak bisa main dengan Yeol.
Itulah mengapa Yeol tinggal dengan Ayah.
Kau akan tinggal dengan ibu saat liburan.
- Ya, 'kan? - Ya.
Apa Yeol masih takut tidur di malam hari?
Sangat.
Bila begitu, apa yang kau lakukan?
Tidur dengan lampu menyala, dan memeluk kuda.
- Jika begitu, tak takut lagi? - Ya.
Syukurlah.
Namun, Yeol…
Ibu merasa gelap bahkan saat siang.
Bahkan saat diterangi
sinar lampu seperti ini.
Saat ibu merasa sakit,
semuanya terlihat gelap.
Meski sudah menyalakan lampu?
Namun, di hari semacam itu pun, saat bersama Yeol…
ibu tidak takut sama sekali.
No comments yet. Be the first to leave one.