The first 200 lines.
EPISODE 6
PENGANAN JOA
Astaga.
Maafkan aku.
Hampir saja ketahuan.
Bahn Ha-ni?
- Bahn Ha-ni. Diam di tempat. - Sial.
Aku ketahuan.
Bahn Ha-ni Berhenti!
"Bahn Ha-ni"?
Anthony!
Dia mau ke mana?
Kau…
Bahn Ha-ni! Berhenti!
Bahn Ha-ni?
Dia pergi ke mana?
Permisi, aku…
Testis?
Anthony?
Kau bekerja di perusahaan ini, Testis?
Ya. Tolong jangan menyebutku dengan panggilan itu.
Perusahaan ini kacau sekali. Asal-asalan memilih pegawai.
Omong-omong, bukankah kau sedang mengejar seseorang?
Bahn…
Kotak!
Kotak?
Apa aku salah dengar?
PENGANAN JOA
Bahn Ha-ni, aku akan menghabisimu begitu pulang ke rumah.
Bibi Tua!
Ini masih jam kerja. Mau ke mana?
Aku harus bekerja di luar kantor.
Apakah mendesak?
Sulit dapat taksi di pukul sebegini.
Hei, ini aku.
MENCARI TAKSI
Masuk!
CUMI-CUMI BAGUS
MENGANDUNG CUMI-CUMI ASLI
Hei, kupas bawang putih ini jika sudah selesai mencuci piring.
Siapa kau?
Halo.
Aku diperintahkan untuk menjalankan misi mencuci piring yang penting ini.
Namaku Cha Seung-seok.
Anak baru itu pergi ke mana?
- "Mengandung cumi-cumi asli"? - Apa dia cumi-cumi?
Apa-apaan itu?
Tolong tutup jendelanya.
Tak bisa.
- Kenapa? - Jendelanya rusak.
Pakai ini.
Anggaplah kita sedang berjalan-jalan dan nikmatilah.
Apa maunya Burung Biru ini?
Apa dia mengincar uangku?
Kudengar pabrik di Anseong bermasalah?
Kami sedang mengatasinya. Dipastikan selesai besok.
Bukankah persiapan sampel produk baru akan terganggu?
Apakah bisa selesai sebelum rapat dewan?
Kau tak perlu khawatir. Bu Oh sudah mengatasinya.
Baiklah.
Biar kutuangkan.
Jangan. Aku masih harus bekerja.
Aku menuangkan ini sebagai pamanmu.
Baik.
Makanan seenak ini harus disantap bersama miras.
Benar.
Do-yun, kau ingat tempat ini?
Tentu saja. Di tempat ini, kau mengajariku minum miras untuk kali pertama.
Karena kau kuanggap anakku juga.
Aku sangat berterima kasih.
Berkatmu, aku tak merasa kehilangan sosok ayah sama sekali.
Kau tumbuh besar dengan sendirinya.
Jika saja Yu-hyeon seperti dirimu.
Meski begitu, dia selalu ceria dan bahagia.
Entahlah.
Anehnya, setiap melihat dia tertawa,
aku merasa hatiku tersengat.
Setelah kematian ibunya,
dia seperti memaksakan diri untuk tertawa.
Mungkin dia begitu karena memikirkanmu. Dia sangat perhatian.
Astaga. Perhatian, apanya?
Setiap marah-marah di depanku,
dia benar-benar terlihat berpikiran sempit dan dangkal.
Berhenti membicarakan dia.
Ayo minum lagi.
- Baik. - Bagus.
Maaf aku terlambat.
Kau minum miras?
Sedikit, dengan Pimpinan.
Kita seharusnya rapat, tetapi kau malah minum miras.
- Padahal kau mudah mabuk. - Benar juga.
Kau terlihat senang sekali. Kau pasti mabuk.
Bukan begitu.
Aku hanya bahagia,
dan iri pada Yu-hyeon karena punya ayah yang hebat.
Aku…
lebih iri kepadamu karena punya ibu yang sangat hebat.
Meski dia agak menakutkan.
Maksudku, sangat.
IBU
Astaga, bak harimau mendadak muncul.
Diam.
Halo, Bu Harimau.
Maksudku, Ibu.
Ya.
Ada apa denganmu?
Tidak ada apa-apa.
Kau masuk!
Kau mengagetkanku. Masuk apa?
Kau termasuk dalam tiga nominasi akhir untuk peran utama drama Penulis Kim.
CAMILAN RENYAH CITA RASA CUMI-CUMI CUMI-CUMI BAGUS
Cumi-cumi bagus, rasanya enak
Kaya akan nutrisi
Kakiku ada sepuluh, cumi-cumi sempurna
Semua orang menyukainya
Cumi-cumi
Cumi-cumi
Cumi-cumi
Bagus. Dia hebat.
Jauh lebih baik daripada tadi.
Cumi-cumi bagus, rasanya enak
Kaya akan nutrisi
Kakiku ada sepuluh, cumi-cumi sempurna
Semua orang menyukainya
Cut ! Bagus sekali, Anthony!
Kita istirahat sebentar.
Kenapa cumi-cumi itu bersemangat sekali?
Kau keren sekali.
Apa aku terlihat bagus?
Kau ekspresif sekali tadi.
- Kau lihat ekspresinya? - Ya.
Ayo kita makan. Kemarin, kau tak makan seharian.
Ada roti selada kesukaanmu.
Percuma berolahraga. Badanku tak begitu terlihat karena kostum.
Aku tak bisa berhenti makan roti selada.
Ini membuatku ketagihan.
Aku sangat suka roti ini.
- Terima kasih. - Hati-hati.
Pergi dari sini.
Roti selada enak sekali.
Aku harus makan yang banyak.
Menjijikkan.
Aku pergi. Bayari rotiku, ya?
KUDAPAN IBU
Hei, Chun-sik. Kau pikir kau siapa?
Aku? Kapten SMA Hosu,
dan kau ratu SMA Hosu.
Bahn Ha-ni, jadilah milikku.
Bodoh.
Kau perempuan pertama yang mengabaikanku. Itu sebabnya…
aku terpikat dirimu.
Kau pasti meniru dialog di drama.
Berhenti bicara dan lap mulutmu.
Menjijikkan sekali.
Sialan!
Panas sekali di sini.
- Kau kepanasan? - Ya.
Kenapa dia punya tahi lalat itu?
Tidak mungkin!
Apa dia Yang Chun-sik?
Halo, kantor pusat mengirimku ke sini.
Selamat datang.
Aku menunggu kedatangan kalian.
Ini bahan-bahan untuk bumbunya,
dan resepnya ada di dalam diska lepas ini.
Baik. Kami akan segera menyiapkannya.
Terima kasih.
- Mohon bantuannya. - Ya.
Terima kasih.
Kau sudah mengantarku.
Jangan hanya berterima kasih. Traktir aku makan.
Kutraktir jika sudah menerima gaji.
Bagus. Aku harus pilih tempat yang mahal.
Hei.
Ya?
Aku tidak punya uang.
Aku tahu. Kau terlihat miskin.
Kuberi tahu dari sekarang,
aku tak bisa pinjam ke bank karena hanya pegawai kontrak.
Ditambah uang sewa rumah 200.000 won per bulan dengan deposit lima juta won.
Aku juga punya anak berusia 17 tahun.
Aku sudah tahu.
Jika anakmu berumur 17 tahun,
umur berapa kau melahirkannya?
Saat aku masih muda.
Siapa ayahnya?
- Aku tidak tahu. - Tidak tahu?
Kukira kau bukan wanita seperti itu.
Hidupmu bebas sekali.
Aku hanya hidup asal-asalan.
Ternyata itulah alasan…
anakmu kurang ajar.
Ya, baiklah.
- Anthony. - Ya.
- Ini Amerikano dingin untukmu. - Terima kasih.
- Bukan latte , bukan? - Tidak.
- Enak. - Baguslah.
Kau sudah mengatur jadwal Anthony?
Ya. Selesai pukul 18.00.
Hari kemarin, malah lebih dua jam.
No comments yet. Be the first to leave one.