Terrorizers

Terrorizers (恐怖分子)

Download Indonesian Subtitle

Release info

The Terrorizers
A Commentary by Noki_tron
Cocok buat segala versi. Selamat menonton!

Tags

other
Published on: 2019-01-02
Downloads: 77
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sang Peneror

Hampir siang!

Sebentar lagi kelar, kok.

Apa aku mengganggu?

Cuci jasnya.

Sudah mulai panas.

Ada apa? Sulit tidur lagi?

Aku ingin menulis ulang karyaku lagi.

Makin dekat tenggat waktu justru makin tidak terinspirasi.

Rombak lagi?

Aku tidak pernah melihatmu setertekan ini.

Tenang.

Menulis novel tidak seharusnya membuatmu stres.

Tak kira tempat judi kecil-kecilan, tahunya mereka punya senjata api.

Ada berapa yang mereka punya?

Tidak tahu.

Harusnya kau menelepon Brimob.

Sudah. Sebentar lagi harusnya sampai.

Siapa yang melapor?

Si tuan tanah.

Berhenti!

Lebarkan kakimu!

Jangan bergerak!

... ini terjadi di hari pertama musim semi

jikalau kau benar-benar rasakan

kau akan sadari kalau perubahan hanya masa lalu yang terulang.

Musim semi kali ini pun tidak berbeda

untuk pasutri ini.

hal terpelik mereka adalah...

Pak Kepala meninggal karena stroke kemarin malam.

Sudah dengar.

Kita baru saja bicara soal itu.

Semua orang terkejut.

Kalau aku memang sudah menduga

dia punya penyakit.

Tapi aku tidak tahu kalau itu bakal stroke.

Apa kalian sadar kalau tingkah beliau sangat aneh belakangan ini?

Hidupnya membosankan, sampai-sampai insiden kecil

bisa jadi masalah buatnya.

Aku dengar dia selingkuh dengan wanita lain

dan istrinya tahu.

Hanya rumor, sih.

Aku ragu.

Bisa jadi benar.

Dia merokoknya kuat sekali.

Satu kotak dia habiskan dalam 2 hingga 3 hari.

Yang membuat saya khawatir adalah nasib keluarganya

Seperti dana untuk sekolah anaknya, pemakaman, dan sebagainya...

Saya rasa Pak Kepala telah

berkontribusi banyak untuk rumah sakit.

Dan saya rasa

Kita punya kebijakan untuk peristiwa semacam ini.

Kita akan melaksanakannya sesuai aturan.

Saya paham...

Omong-omong, lebih senior kamu atau Jing?

Bisa dibilang kita mulai pada waktu bersamaan.

Kami mahasiswa satu kampus, lulus dan direkrut pada waktu yang bersamaan.

Kami juga berjuang sendiri tanpa koneksi keluarga.

Saya suka pekerjaan saya. Stabil...

Sebenarnya saya punya tawaran kerja di tempat lain dengan gaji lebih...

Tapi saya rasa kurang aman,

makanya saya tolak.

Saya sudah terbiasa dengan pekerjaan ini

dan saya percaya dengan kerja keras

saya akan diberikan promosi.

Tadi Bapak bilang...

Oh, tidak apa-apa. Cuma penasaran.

Ada yang lain?

Tidak.

Terima kasih, Pak.

Pak, ada satu lagi...

Karena Pak Kepala sudah wafat

saya merasa berhak memberi tahu Anda

tentang kecurangan pada lelang terakhir kemarin.

Mohon jangan salahkan Almarhum Ketua

pelakunya adalah Jing.

Kenapa saya tidak tahu soal ini?

Jing adalah teman baik saya.

Saya harusnya tidak bilang ke Bapak.

Konyol!

Jangan melindungi teman

ketika orang wafat yang jadi kambing hitamnya.

Itu yang saya rasakan.

Saya akan menyelidiki soal ini.

Oh...tolong urusi pekerjaan dari Pak Ketua, ya.

Terlepas kau bakal jadi ketua atau tidak.

Ya...tentu.

Terima kasih, Pak.

Kamu tidak kapok apa!

Kenapa tidak pergi saja? Seperti ayahmu!

Dan jangan kembali!

Kau telah berubah...

Banyak.

Aku tidak yakin soal itu.

Bekerjalah untukku.

Apa aku laik?

Laik atau tidak, kamu harus kerja di sini.

Aku masih ingat kerjamu itu bagus.

Kalau bukan kamu, dulu itu siapa?

Itu 'kan sudah lama.

Aku tidak bekerja selama bertahun-tahun.

Berarti selama ini kamu menulis?

Setelah tiga tahun, ini yang bisa kutunjukkan.

Aku tahu buku ini.

Aku juga tahu kalau kau menulisku di salah satu cerpenmu.

Shen sudah cerai.

Dia undur diri

dan cari pekerjaan baru.

Aku tadi ke kantornya.

Dia memintaku untuk bekerja untuknya.

Shen juga sempat bilang kalau aku di rumah itu mubazir.

Boleh juga idenya.

Memang asik rasanya kalau ada tawaran kerja menghampiri.

Aku akan jadi Kepala Seksi.

Bagaimana dengan Jing?

Dia ada masalah.

Masalah yang besar.

Anjing!

Lah, kau masih hidup?

Cuma kamu yang berhasil kabur?

Kudengar si tuan tanah yang melapor.

Si Y Tua buka judi di sana

tanpa bagi komisi ke tuan tanah.

Bayar uang sewa pun tidak!

Tentu saja mereka sulit ditemui.

Semuanya sudah berpencar.

Ada yang ke arah selatan.

Shun? Shun sudah dipenjara.

Y Tua yang kurung dia seumur hidup.

Apa kau sedang cari tempat sembunyi?

Ke sini saja.

Tempat ramai adalah yang terbaik.

Dengar kataku,

makin ramai makin aman.

Paham tidak? Goblok.

Sekarang jam 11:31 lewat 10 detik.

Sekarang jam 11:31 lewat 20 detik.

Sekarang jam...

Tidak, kamu salah alamat!

Ini alamatnya, kok.

Gadis tadi menelepon

Katanya kau butuh 50 makanan karena sedang syuting.

Apa menurutmu kami sedang syuting?

Bawa pergi sana!

Pergi!

Film apaan...

Dek, lagi cari kos-kosan?

Sini, aku kasih murah.

Tidak.

Apa maksudnya tidak? Terus kenapa kau kemari?

Mengecek meteran?

Sejak ada penyergapan di sini

tidak ada yang mau menyewa kamar ini.

Bangsat.

Orang-orang bahkan sering jahil di sini.

Tiga truk damkar ke sini kemarin malam. Katanya kebakaran.

Kapan selesainya, coba!

Semuanya terlambat.

Hanya kau yang peduli.

Aku sakit, sangat sakit...

Aku tidak mau hidup lagi!

Aku sudah minum sebotol pil tidur.

Aku serius, aku tidak ingin hidup lagi.

Tidak ada gunanya lagi hidup.

Tidak ada gunanya.

Terima kasih... Selamat tinggal.

Halo, mana Dick?

Jangan banyak bicara.

Kalau kau tidak mau

akan kupatahkan kedua kakimu!

Aku tidak tahu harus bagaimana.

Kau tahu,

awalnya bakat menulisku terletak pada bercerita ulang.

Kisah-kisah nyata.

Entah itu terjadi padaku atau pada teman-temanku.

Karakter, plot, semua yang kudengar,

aku tulis di dalam buku catatanku.

Tapi semenjak ini, menulis menjadi terasa sia-sia:

Rasanya aku sudah memakai semua emosiku.

Tiga puluh tahun terakhirku,

Kupakai dengan sekejap.

Sekarang aku hanya bisa menulis cerita pasutri,

tidak ada yang lain.

Semua karena duniaku makin menyempit.

Kau paham?

Aku tidak tahu pendapat orang soal karyamu

tapi ketika aku membacanya

aku ingin melihatmu.

Melihat 'dirimu' di masa lalu.

Kita bisa jadi muda lagi.

Hal semacam ini tidak pudar oleh waktu.

Aku selalu percaya padamu.

Apa yang sedang kau pikirkan?

Tidak ada.

Apa Li Jong tahu tentang masa lalu kita?

Kau pernah cerita tentang hubungan kita dulu?

Dia tidak pernah bertanya.

kalau begitu dia sangat percaya padamu.

Ya.

Bukan begitu.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left