The first 200 lines.
"Episode 14"
- Apakah kamu? - Apa-apaan kamu?
- Di mana dia? - Dia kenapa?
Di mana dia?
Di mana dia?
Aku akan menemukanmu.
"Woo Yang Sook"
Aku tidak tahu dia juga ikut kelas di sini.
Kenapa aku malah memilih bekerja di sini?
"Instruktur, Oh Na Ra"
Mungkin dia sudah melihat ini.
Aku harus bagaimana?
Firasatku buruk.
Di mana Oh Na Ra?
Oh Na Ra!
Keluar kamu!
Kamu melihat Oh Na Ra? Di mana dia?
- Ada apa dengannya? - Di mana Oh Na Ra?
- Ada apa denganmu? - Di mana Oh Na Ra?
- Mana kutahu? - Bawa Oh Na Ra kemari!
- Kenapa kamu seperti ini? - Lepaskan!
- Pegangi dia. - Lepaskan aku!
- Anda tidak boleh seperti ini. - Oh Na Ra!
- Bawa Oh Na Ra kemari! - Ayo.
Oh Na Ra!
Tidak bisa kupercaya.
Jadi, dia instruktur di pusat komunitas
yang sering Bibi datangi?
Bibi pernah berpapasan dengannya,
tapi baru tahu hari ini bahwa dia instruktur.
Go Ya juga sama.
Aku tidak peduli. Berarti selama ini kalian tahu dia di sana.
Teganya kalian tidak memberitahuku.
Jika kami beri tahu, apa yang akan kamu lakukan?
Yang akan kamu lakukan hanya memberi tahu ibumu.
Tentu saja aku harus memberitahunya.
Seharusnya kita menerobos ke kelasnya.
Astaga.
Pemikiranmu dan Go Ya sungguh berbeda.
Lantas bagaimana dengan ibumu?
Dia tidak bisa tidur tanpa minum obat
setiap memikirkan wanita itu karena amat frustasi.
Tapi kamu ingin membawanya menemui wanita itu?
Bagaimana jika ibumu pingsan seperti waktu itu?
Bagaimana jika dia meninggal?
Ibu.
- Astaga, San Deul. - Apa yang terjadi?
Kuharap Bibi Yang Sook belum bertemu dengan Oh Na Ra.
Ibu tidak tahu. Go Ya tidak menjawab ponselnya.
Apa? San Deul juga tahu?
Hanya aku yang tidak tahu.
Hanya aku dan Ibu.
Apakah itu penting? Ibumu akan terkena masalah.
- Tidak bisa. Aku harus pergi. - Untuk apa?
Aku akan memberi pelajaran kepada wanita jalang itu.
Tunggu saja di sini sampai Go Ya pulang.
Jangan ke sana dan memperburuk keadaan.
Go Ya, apa yang terjadi?
Ibumu bisa menemukan wanita itu kapan saja.
Kamu harus menghentikannya.
Go Ya.
Sudah berapa lama?
Kamu sehat?
Dahulu kamu masih kuliah.
Pasti kini kamu sudah lulus.
Ada apa?
Kamu sudah menikah?
Tapi
kita bukan teman lama yang bertemu kembali.
Konyol sekali aku menanyakan hal itu kepadamu.
Hanya saja ini tidak terduga.
Bukankah kamu bilang
tidak ingin bertemu denganku lagi?
Kenapa kamu menemuiku?
Di mana ayahku?
- Apa? - Ayahku,
Choi Tae Pyung.
Pria yang hidup bersamamu.
Aku tidak bisa menemukannya di mana pun.
Jadi, aku memutuskan untuk mencarimu.
- Akhirnya kita bertemu. - Jadi,
maksudmu,
kamu menemuiku karena ingin bertemu dengan ayahmu?
- Ya. - Kenapa kamu
- mencarinya? - Di mana dia?
Dia sedang mengurus bisnis di luar negeri.
Aku harus menemuinya. Biarkan aku menemuinya.
Kenapa kamu ingin menemuinya sekarang?
Dahulu dia suami ibuku, ayahku,
dan pemberi nafkah keluarga kami. Kamu merebutnya.
Apa salahnya jika keluarganya ingin bertemu dengannya?
Jika kamu membutuhkan uang,
bukankah uang alimentasinya sudah cukup?
Atau kamu masih berharap
ayahmu akan kembali?
Kenapa?
Kamu takut aku akan merebutnya darimu?
Tidak mungkin.
Kami masih saling mencintai.
Tidak adil, bukan?
Aku tahu kamu berharap kami tidak bahagia.
Sayang sekali. Kami masih bahagia.
Kami masih amat saling mencintai.
Sampaikan saat dia kembali
bahwa ada yang ingin kukatakan kepadanya.
Ini nomorku. Simpanlah.
Ya...
Aku akan menyampaikan pesanmu,
tapi tidak yakin dia mau menemuimu.
Aku melihat profilmu di brosur.
- Lalu? - Semua sekolah
dan pekerjaan sebelumnya tertulis di sana.
Lalu kenapa?
Jangan coba-coba menghindar dariku.
Kamu sudah menghancurkan sebuah keluarga.
Aku akan memastikan semua kenalanmu,
termasuk keluarga dan kolegamu, tahu soal itu.
Kamu mengancamku?
Kamu bisa
menganggapnya begitu.
"Ji Seok"
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Dia masih di kelas?
- Kemarilah. - Lepaskan aku.
Masuk.
Astaga.
Apa yang terjadi?
Kacau sekali.
- Sungguh? - Dia mencari Bu Oh.
- Oh Na Ra? - Ya.
- Instruktur merangkai bunga itu? - Dia meneriakkan namanya.
- Kenapa? - Entahlah.
- Permisi. - Ada yang bisa kubantu?
Jika terus duduk di sini, kita hanya akan saling menghina.
Ayo pergi. Aku harus kembali ke pusat komunitas.
Kurasa itu bukan ide bagus.
Ibuku di sana. Dia mencarimu.
Kini aku mengerti.
Kamu mencariku
karena takut ibumu akan menemukanku.
Bukankah kamu yang takut bertemu dengannya?
Kamu menjalani hidup normal, melupakan perselingkuhanmu.
Kamu tidak ingin ibuku mengacaukan segalanya.
Kamu benar.
Rahasia terbesarku adalah keluargamu.
Lalu kenapa?
Perselingkuhanku?
Sebarkan saja jika kamu mau.
Kini aku dan ayahmu telah resmi menikah.
Pikirmu masa lalu yang masih dipegang keluargamu itu
bisa menghancurkan kehidupanku?
Ibumu yang akan hancur.
Orang dengan kebencianlah yang akan kalah.
Bagiku, ibumu
hanyalah kenangan samar.
Tapi tampaknya aku masih amat berarti baginya.
Dia masih mengejar dan menggangguku.
Kamu melarangku menemui ibumu
dan ibumu masih hidup di masa lalu, dipenuhi kebencian.
- Jaga ucapanmu. - Kamu yang harus menjaga ucapanmu.
Jika kamu ingin melindungi ibumu,
memohonlah, jangan mengancamku. Aku tidak takut kepadamu.
Seharusnya kamu takut.
Jika sesuatu terjadi kepada ibuku,
aku akan membalasnya.
Tampaknya kamu masih amat membenciku.
Baiklah.
Bagaimanapun, aku manusia. Aku memang merasa bersalah.
Tapi itu sudah terjadi.
Semuanya hanya masa lalu.
Semua sudah terjadi?
Hanya masa lalu?
Jadi, lupakan saja.
Membenci seseorang
amatlah melelahkan dan menyakitkan.
Sebelum aku menghubungimu,
kuharap kamu tidak menghubungiku.
Aku benci diganggu.
Halo.
Apa?
Kamu di sini untuk Bu Woo Yang Sook?
Ya, aku putrinya.
Kenapa dia dibawa kemari?
Pusat komunitas melaporkannya karena membuat kekacauan.
- Kekacauan? - Ya.
Maafkan aku.
Dia tidak punya catatan kriminal
dan pusat komunitas tidak ingin dia dihukum.
Jadi, kami akan membebaskannya dengan peringatan kali ini.
Berhati-hatilah lain kali.
Baik. Terima kasih.
Kamu bisa menandatangani ini dan pulang.
Terima kasih.
Ayo, Ibu.
Go Ya.
Apa? Kantor polisi?
Apa?
Kenapa mereka di kantor polisi?
Baiklah. Apa?
Baiklah, aku mengerti.
No comments yet. Be the first to leave one.