The first 200 lines.
Kalian tahu topeng Hahoe tersenyum dari Andong?
Ya.
Tahu kenapa topengnya tersenyum?
Untuk melambangkan humor dalam hidup?
Bukan.
Ayo tersenyum? Mari berbahagia?
Andong populer dengan apa?
Ayam pedas?
Bukan makanan! Produk spesial.
Kain rami?
Tekstil untuk membuat pakaian?
- Benar. - Rami.
Rami terbuat dari ganja.
Kalian tahu?
Seluruh kota itu dipenuhi
ladang ganja.
Para petani berkumpul untuk mengisapnya dan teler.
Dulu, itu tidak ilegal.
Makanya topeng Hahoe tersenyum.
Karena mereka teler!
Seluruh kota itu teler!
Aku juga pernah dengar.
- Para pencandu berkumpul... - Ya?
untuk ganja pada bulan September.
Setelah panen,
ganja harus dibakar di depan pejabat setempat.
Semua pejabat setempat berebut tempat
untuk menciumnya.
Bukankah kita sebaiknya ke sana?
Ayo isap itu!
Ayo.
- Jadi seperti topeng itu? - Ya!
- Teler? - Ayo!
Aku akan putar balik.
Ayo!
Saat usiaku enam tahun, Ibu tak tahan dengan Ayah, lalu pergi.
Dia sering bilang...
'Jika kau melakukan hal buruk, kau akan masuk neraka.'
Orang tua selalu benar.
Aku sangat ingin hidup seperti raja.
Ada yang bilang hidup berkilat di depan mata saat kita akan mati.
Itu terjadi sekarang.
(Bae Seongwoo Ryu Junyeol)
(Kim Euisung Kim Ajoong)
(Penulis / Sutradara Han Jaerim)
Rakyat mendoakan Presiden Chun
perjalanan yang berhasil ke Burma...
Wow! Ini TV berwarna?
Ya. Ayahku membelinya.
Ini bagus!
Ayahku penjahat.
Saat TV berwarna langka,
dia berkeliling untuk mencurinya.
Dia mencuri apa pun yang berharga.
- Seperti radio dan penanak nasi. - TV-ku!
Dia menjual barang curiannya kepada para wanita di pasar.
Bawakan uangku!
Menang tiga kali lipat taruhanmu!
Dia penjahat
yang hidup seperti sampah.
Anak-anak, tahu apa ini? Ayam!
Tapi dia membawa pulang ayam
dan berkata aku harus belajar minum darinya
dan mencoba menjadi ayah.
Melihat Siyeon dengan pria
mengingatkannya pada Ibu yang kabur...
Ayah tak tahan.
Pergi!
Tapi Ibu pergi karena Ayah selingkuh.
Siapa pria jagoan di sini?
Apa yang kupelajari dari ayah pembuat onar?
Hanya berkelahi.
Hidup memang tampak mudah bagi petarung top di sekolah...
tapi mempertahankan gelarku
tidak mudah.
Sekolah malam menyenangkan. Kita bisa pergi malam.
Polisi di rumahmu. Apa perbuatan ayahmu kali ini?
Berapa yang akan dia bayar kali ini?
Pak Jaksa, maafkan aku!
Tolong maafkan aku!
Beraninya kau!
Kumohon, Pak!
Ayahku dipukul
oleh pria yang bisa dengan mudah dia kalahkan.
Aku akan memenjarakanmu!
Pak Jaksa, aku tak bisa dipenjara sekarang.
Jaksa?
Pria yang menampar ayahku adalah jaksa.
Itu kekuasaan sejati.
Memberi orang hukuman seumur hidup
atau bahkan hukuman mati!
Ayah berlutut karena dia jaksa.
Berkelahi hanya keren di sekolah.
Akhirnya, para kutu buku itu yang akan berkuasa.
Saat itulah aku memutuskan untuk menjadi jaksa.
Jika Olimpiade 1988 lancar,
Korea akan dicap sebagai negara maju.
Jadi, belajar yang giat!
Jangan bangunkan dia.
Siapa yang akan melakukan pekerjaan kotor
jika semua orang menjadi jaksa?
Kau? Biarkan dia tidur.
Tapi sebagai putra penjahat,
menjadi jaksa tidak mudah.
Aku tak pernah belajar.
Jadi, buku membuatku tertidur.
Apa ada masalah?
Tidak.
Katakan!
Aku harus belajar untuk ujian,
tapi aku ingin menari.
Kalau begitu, belajar di sini!
Di sini?
Mereka membaca komik. Kenapa buku tak bisa?
Apa-apaan?
Aku tak bisa belajar di meja,
tapi aku bisa fokus di sini!
Aku tak tahan dengan keheningan.
Jadi, aku belajar lebih baik dengan gangguan.
Mereka menyebutnya derau putih.
Aku lebih fokus dengan derau.
Benar!
Serius!
Park Taesu!
Nilaimu naik drastis.
Dari peringkat 53 menjadi 12?
Kau naik 40 peringkat?
Kau berusaha sangat keras, ya? Lihat sendiri.
Kau suka nilaimu?
Kau berusaha sangat keras!
Bodoh!
Kau menyontek? Kau tak punya hati nurani?
- Aku tak menyontek! - Beraninya kau!
Kemari. Atau ini menjadi emosional.
Sial!
Kau menyontek dari siapa?
Maaf sudah meragukanmu.
- Lihat. Aku tak menyontek! - Benar.
Saat aku mengerjakan ujian sendiri dan masih dapat nilai bagus,
dia minta maaf dan membelikanku makanan.
Park Taesu!
Aku masuk Universitas Seoul.
Kau tak ikut demo?
Karena semua orang demo, kurasa aku harus ikut.
Itu takkan mengubah apa pun. Bukankah itu menyedihkan?
Aku takkan bilang begitu.
Kenapa aku?
Lepaskan!
Yeonsil!
Yeonsil!
Yeonsil!
Taesu! Maafkan aku!
Yeonsil bilang demo itu menyedihkan.
Ternyata dia pemimpin demo yang buron.
Lalu, aku diseret militer karena membantunya kabur.
Mahasiswa hukum Universitas Seoul seharusnya lebih tahu!
Kampung halaman!
- Apa? - Kampung halamanmu!
Ayah memperingatkanku untuk tak pernah bilang
bahwa kampung halamanku adalah Jeolla-do.
Aku dari Seoul, Pak!
Di sini tertulis Jeolla-do.
Itu kampung halaman ayahku.
Aku lahir di Seoul.
Jika kau dari Jeolla-do,
mereka akan mengecapmu sebagai komunis.
Jadi, aku menurut.
Berkat itu,
aku ditempatkan di markas santai.
Aku terus belajar.
Sampai keluar, aku belajar untuk ujian
dan masuk ke gosiwon setelahnya.
Orang-orang terjebak di dalam
untuk belajar selama bertahun-tahun
dengan memimpikan kehidupan mewah
setelah lulus ujian.
Bukti 1.
Uang tunai untuk judi ilegal dan perdagangan narkoba.
Bukti 2.
Senjata untuk ancaman.
Kelak, aku akan menjadi jaksa yang disorot di TV.
Kami senang dapat membasmi para penyelundup...
Aku beruntung lulus tahap pertama.
Lalu, kami diberi dua kesempatan
untuk lulus tahap kedua.
Aku ikut sekali untuk merasakannya,
lalu terus belajar.
Sial!
Permisi!
Aku lulus!
Lulus tahap kedua berarti aku lulus ujian.
No. 235, Park Taesu!
Kenapa kau mengikuti ujian jaksa?
Tahap ketiga adalah wawancara.
Kurang ajar!
Kecuali kutampar wajah mereka, aku pasti akan lulus.
Lihat!
Senyum!
Lihat! Busku datang!
(Putra Park Myunghoon, Taesu, Lulus Ujian Jaksa ke-33!)
No comments yet. Be the first to leave one.