The first 200 lines.
Hong Kong 1941
Aku bertahan dari malam tergelap selama bertahun-tahun.
Hidup untuk melihat banyak fajar.
Setiap fajar kembali memperbarui harapanku.
Hal yang paling aku ingat...
...terjadi pada situasi terburuk.
Semua terasa tamat pada masa terberatku di tahun 1941.
Walau ada rumor, pemerintah Inggris bersikeras...
...akan mendukung Hong Kong.
Pernyataan itu dibuat hari ini...
...sebagai respon meningkatnya rasa takut...
...untuk perang terhadap Jerman dan Jepang.
HMS Prince of Wales dan HMS Repulse telah dikirim...
...ke Timur Jauh untuk menambah kepercayaan diri.
Sementara tentara...
...atau pegawai sipil diwajibkan tetap di Hong Kong.
Keluarga mereka dipaksa evakuasi.
Selama beberapa bulan ini...
...beberapa kelompok wanita melakukan protes.
Tak senang harus meninggalkan orang terkasih mereka.
Unit evakuasi berikutnya berangkat ke Australia besok pukul 10.00 pagi.
Untuk berita lokal, Tn. Ho Tung merayakan ultah ke-80 kemarin.
Gubernur Young hadir sebagai tamu kehormatan pada perayaannya.
Ayolah, itu hanya bernyanyi. Kau bukan menjual diri.
Sama saja di tempat seperti itu.
Itu memalukan.
Lalu aku harus bilang apa pada pelanggan?
Jangan berisik. Keponakanku bisa mendengarnya.
Biarkan dia mendengarnya.
Dia hanya beban.
Kita bukan jutawan.
Gunung tua.
Gunung baru.
Gunung emas.
Mari bernyanyi semalaman karena hari telah selesai
Pekerjaan tak pernah asyik Kehidupan begitu sepi
Mungkin sebaiknya aku menikah
Kami mau tidur!
- Kami mau bernyanyi. - Benar.
Jangan sampai aku turun.
Kami sungguh takut.
Kami gemetaran.
Kami gemetaran.
Gunung tua. Gunung baru. Gunung emas. Aku datang.
- Halo, Jack. - Halo.
Menurutmu situasinya seserius apa, Kapten?
Pasukan Jepang sangat kuat.
Tapi kami juga kuat.
Tak perlu cemas.
Apa yang paling kau rindukan dari Hong Kong?
Berbelanja, terutama toko China.
Semuanya. Tempat ini indah.
Para gadis China.
Baik, semuanya bersiap.
Mari tersenyum.
Pasti asyik pergi ke Sydney.
Membosankan.
Apa pendapatmu...
Masuk.
Tak perlu cemas, Sayang.
Berjanjilah kau tak akan mengambil risiko.
Halo.
Halo apa? Sedang apa kau di kabinku?
Aku ingin ke Australia.
Ayo keluar.
Yakin tak apa?
Aman di sini.
Aku ingin ikut ke Australia.
Ada satu syarat.
Syarat apa?
Aku pemilik kamar ini.
Jadi, aku pemimpinnya.
Baik, kita sepakat, rekanku.
Tidak.
Aku mau kau jadi pelayan pribadiku.
Maaf, Nak. Kita batal bersepakat.
Berlututlah pada tuanmu.
Tunjukkan rasa hormatmu. Berlututlah.
Aku memerintahmu.
Hentikan dia!
Penyelinap.
Hentikan pria itu.
Dia di sana, kejar.
Ayo cepat.
Jangan lepaskan dia.
Tunggu. Ayo berfoto.
Baik, ayo.
Ayo tersenyum. Ini hebat.
Terima kasih, semuanya. Sampai jumpa.
Astaga.
Diam.
Kami punya beras. Apa kau punya uang?
Baik, aku dengar. Tetap pakai bajumu.
Baik, satu di sini.
Ayo.
Tangkap.
Ini yang terakhir.
Aku mau itu.
Silakan.
Selesai. Kami hanya punya itu.
Kami akan membawa lebih banyak besok.
Ini untukmu.
Ya, terima kasih.
Aromanya enak.
Rasanya juga enak.
Bagaimana kau punya beras?
Beras? Apa maksudmu?
Ayolah.
Kau bukan warga di sini dan mendapat beras.
Tidak.
Ini milik kami.
Urusanmu jika kau tak bisa mendapat makanan di kotamu.
Itu makanan kami.
Kami membayarnya.
Siapa yang peduli?
Kau bukan warga di sini. Itu makanan kami.
Kong, mau bantu dia?
Kau kira bisa mencuri dari kami, ya?
Tuan.
Tuan.
Tunggu. Itu milik kami. Kami membayarnya.
Ya.
Mungkin begitu.
Tapi mereka bukan warga sini. Jadi, itu milik kami.
Ya, beras itu milik kami.
Ini miliknya.
Aku sendiri yang menjual beras itu padanya.
Buatlah keributan di tempat lain.
Paham?
Baik.
Ayo.
Namanya Kong, salah satu yang paling kuat di area ini.
Kami akrab sejak kecil.
Kejadian beberapa hari berikutnya...
...akan tak terlupakan bagi kami berdua.
Mereka menempelkan sesuatu di sana.
Ya.
Apa yang tertulis?
Apa kau buta huruf?
"Ga".
"Ga".
"Ji".
"Ji".
Tak bisa baca juga.
Ya.
"Gaji tinggi. Juga dua kali makan."
Itu bagus.
Tuan, mau mencoba gadis baru kami?
Lepaskan aku.
Ayolah. Dia bersih dan sangat cantik.
Aku tak tertarik.
Jadi, kau suka gadis yang lebih muda.
Mungkin kau ingin mampir dan melihatnya. Ayo.
Ada apa, Nona?
Kau tak apa?
Bawa dia ke sana.
Jangan cemas.
Terkadang dia bisa seperti ini.
Sebelah sini.
Kau tak apa?
Minggir.
Tenanglah. Kau tak apa.
Menjerit tak akan meringankannya. Tenanglah.
Ayo. Gadis pintar. Tak apa.
Sampai jumpa minggu depan.
Ayo, tarik napas dalam.
Bernapaslah.
Itu pasti membantu. Dia tak apa. Lebih baik sekarang.
Itu meredakan nyerinya.
Bernapaslah.
Ya, aku tak apa. Terima kasih.
Ya.
- Serangannya semakin buruk. - Ya.
Maaf merepotkanmu.
Bukan hal besar.
Maksudku, tak apa.
Gadis malang. Sayang sekali.
Dia akan mati seperti ibunya.
Ayahku tak ingin kita bertemu.
Tapi aku tak peduli.
Dia tak menyukaiku ya, Sayang?
Berhenti memanggilku begitu.
Anna! Di mana kau?
Aku harus pergi.
Ayahmu mencarimu.
Tak apa. Aku akan menjelaskannya pada pamanmu.
Ambil ini. Kau mungkin butuh uang.
Tidak, terima kasih. Aku mencari pekerjaan.
Fai ketinggalan kapal. Dia akan naik yang berikutnya.
Kenapa kau menampungnya lagi?
Bibi. Aku akan membantumu masak.
Ayo cepat.
Kita tak punya waktu. Cepat.
Ayo pergi.
Tunggu aku.
Lupakan saja. Ini sudah penuh.
Lupakan saja.
Harus terus bergerak
Harus terus bergerak
Harus terus bergerak
No comments yet. Be the first to leave one.