The first 200 lines.
Kenapa kau pulang malam sekali?
Aku ada kelas di luar kota.
Jalanannya macet.
Kau selalu punya alasan.
Duduklah.
Aku ada kelas pagi besok.
Aku mau tidur.
Kau tak mau mengobrol denganku?
Jangan pura-pura bodoh, aku sudah tahu semuanya.
Katakan.
Siapa pria itu?
Hentikan!
Jangan begitu!
Kenapa Ayah seperti ini?
Ada apa dengan Ayah?
Ibu!
Ibu mau apa?
Jangan! Kenapa Ibu bersikap seperti ini?
Modigliani, seorang pecandu narkoba, alkoholik, dan miskin...
meninggal saat usianya baru 34 tahun...
di hari yang dingin.
Keesokan harinya...
istrinya melompat dari jendela lantai enam sebuah gedung...
dan tewas menyusul suaminya.
Saat itu...
dia sedang hamil sembilan bulan...
anak kedua mereka.
Yoo-jin, kau di mana?
Aku di Ruang Ikan.
Ruang Ikan?
Ini warnet. Aku tidak mau pulang.
Ibu akan menjemputmu. Mari kita pulang bersama.
Jika benar Ibu selingkuh dari Ayah...
sebaiknya kalian bercerai.
Mau sampai kapan hidup seperti ini?
Sekarang kau menuduh Ibu juga?
Aku tidak tahan lagi.
Jika Ibu diangkat menjadi dosen tetap di kampus...
kita akan bawa Ayah ke rumah sakit.
Ibu akan diangkat menjadi dosen tetap?
Ibu tidak lelah berharap terus?
Kali ini sudah pasti.
Aku tahu itu obat tidur.
Aku tahu apa isi botol di bawah wastafel.
Bu, berjanjilah padaku...
Ibu tidak akan meninggalkanku.
Soo-yeon.
Kau pernah tidur dengan seseorang?
Tidur?
Apa maksudmu?
Apa kau pernah tidur dengan laki-laki?
Kalau sudah tahu, kenapa kau bertanya?
Aku pernah.
Dengan ayahku.
Apa?
Apa maksudmu?
Saat ayahku mabuk...
dia tak bisa membedakanku dengan ibuku.
Setiap malam aku ketakutan.
Yoo-Jin, kau serius?
Yang lebih menakutkan adalah...
ibuku berpura-pura tidak tahu.
Kenapa dia tega begitu?
Aku akan membalasnya.
Mari kita ke polisi.
Aku akan menemanimu.
Tidak apa-apa, Soo-yeon.
Tolong rahasiakan dahulu untuk sekarang.
Aku akan memikirkannya.
Kenapa, Bu?
Soo-yeon menemui Ibu.
Ayahmu masuk ke kamarmu setiap malam?
Apakah ayahmu binatang?
Kenapa kau berbohong seperti itu?
Kau sudah gila?
Ya, aku gila!
Aku melakukan itu karena aku gila.
Ibu yang melahirkanmu...
tetapi Ibu sudah tak lagi mengenalmu.
Tidak perlu bilang begitu, aku sudah tahu.
Tidak lama lagi kita akan mati.
Benar.
Semoga secepatnya.
Ayah, aku minta maaf.
Jangan bilang begitu, Yoo-jin.
Ayah tahu Ibu menyayangi Ayah, 'kan?
Ayah juga menyayangi ibumu.
Namun, kenapa kalian selalu bertengkar?
Itu karena Ayah tak tahu cara menunjukkan kasih sayang.
Aku berharap...
kalian juga memikirkanku.
Aku masih sangat muda.
Maafkan Ayah, Yoo-jin.
Tetap semangat, Ayah.
Terima kasih, Yoo-jin.
Namun, Ayah...
hanya ingin semua ini berakhir...
saat mabuk begini.
Ayah!
Terima kasih.
Budaya akademisi sangat konservatif.
Kau memang salah satu kandidat...
tetapi kau tidak terpilih.
Aku sudah mengajar di sini selama 10 tahun...
meski digaji sangat kecil.
Namun, kau memberikan posisi itu kepada seseorang yang baru...
Itu sebabnya ada banyak perdebatan.
Apa alasannya?
Karena masalahmu di rumah.
Seorang dosen dianiaya oleh suaminya.
Itu citra yang buruk, ya?
Mari kita minum bersama mulai malam ini.
Ada apa? Biasanya kau sibuk.
Itu bukan urusanmu.
Jangan habiskan sendiri alkohol itu.
Tuangkan untukku juga.
Baiklah.
Aku kesepian jika minum sendirian.
Jangan bodoh.
Semua orang kesepian.
Bagiku, itu tetaplah cinta.
Benar, cinta.
Aku pernah mencintaimu, dahulu.
Berikan botolnya.
Aku atlet gagal.
Jangan abaikan aku.
Berhenti mengabaikanku!
Pemain tenis, Jung Seok-won, ditemukan tewas tadi malam.
Setelah mengetahui kabar tersebut...
putrinya, Jung Yoo-jin, melakukan upaya bunuh diri.
Ibu.
Itu Ibu?
Yoo-jin!
Ibu masih hidup?
Yoo-jin!
Bagaimana dengan Ayah?
Di mana Ayah?
Ayahmu...
Ibu!
Ya, ampun.
Kukira Ibu meninggal!
Bagaimana aku bisa hidup jika tak ada Ayah?
Bagaimana situasinya?
Penyelidik sedang dalam perjalanan.
Yoo-jin, kau mengambil pilnya dari dapur?
Apa yang kau lakukan pada ayahmu?
Jangan biarkan dia masuk!
Lepaskan!
Yoo-jin!
Hentikan, cukup!
Tindak Tegas Pelaku KDRT
Ja-young, kami akan berusaha mengurangi hukumannya.
Mari kita rundingkan jalan tengahnya dengan polisi.
Menggunakan alasan KDRT saja tidaklah cukup.
Bisa ambilkan...
segelas air?
Yang-ho.
Putriku...
Ja-young, ceritakan apa yang terjadi.
Dia diperkosa oleh bajingan itu.
Berulang kali.
Astaga!
Kenapa kau baru bilang sekarang?
Semuanya, mari kita mulai lagi. Kirim faks ke polisi...
Nona Jung mengalami pelecehan fisik dan seksual...
berulang kali dari ayahnya.
Menyaksikan kematian ibunya...
tindakannya dianggap impulsif.
Upaya bunuh dirinya...
menambah faktor yang meringankan...
Tiga Tahun Kemudian
Ja-young, selamat!
- Selamat! - Selamat, Profesor.
- Selamat, Profesor. - Terima kasih.
Yoo-jin! Ja-young, Yoo-jin datang.
Akhirnya kau diangkat jadi dosen tetap.
Perhatian!
Untuk Ja-young yang telah diangkat menjadi dosen tetap!
- Bersulang! - Bersulang!
Ibu dapat uang dari mana?
Ibu menghabiskan banyak uang untuk ini, bersiaplah untuk kelaparan.
Bagus!
Ini mobil yang bagus!
Aku senang sekali. Bagaimana kalau kita ke jalan tol?
Ide bagus!
Isi bensinnya dahulu.
Mobilmu bagus.
- Tolong isi tangkinya. - Baik.
Ini pertama kalinya aku mengisi bensin mobil ini.
Benarkah? Suatu kehormatan.
Tolong isi sampai penuh.
Baik.
Jangan mengemudi lebih dari 100 km per jam.
Ganti oli mesinnya setelah menempuh 1.000 kilometer.
Kenapa banyak sekali aturannya?
Mendaftarlah untuk kartu keanggotaan kami.
Bagaimana, ya?
Mendaftar saja. Ibu tak tahu apa pun soal mobil.
Astaga.
Aku hanya butuh nama dan nomor pelatmu.
No comments yet. Be the first to leave one.