The first 200 lines.
BERTAHANLAH KALIAN AKAN SEGERA MENCAPAI LANGIT
KITA MANUSIA
KARENA MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN
DENGAN KEBAIKAN
DAN KASIH SAYANG
Ada perlu apa?
Cukup, Yoon Bom.
Satu tahun mimpi seperti ini seharusnya sudah terbiasa.
Hari yang suram dimulai lagi.
Jangan tersenyum.
Jangan senang.
Jangan bahagia.
Semangat.
Kami kira sudah musim semi, tetapi musim dingin kembali.
Pekan lalu mendadak hangat,
tetapi pekan ini dingin datang lagi.
Karena angin dingin menuju selatan,
peringatan gelombang dingin diberikan.
Suhu akan turun lebih dari sepuluh derajat dari kemarin pagi.
- Selamat pagi. - Halo.
Kau tahu Bu Bom?
Dia di sini hampir setahun,
tetapi tak pernah bicara.
Aku sungguh tak mengerti.
Hingga kini pun,
dia hanya mengangguk atau cemberut.
Pakaiannya selalu gelap dan kaku.
Apa masalahnya?
Mungkin dia pendiam.
Mana mungkin.
Aku tak pernah patuh kepada orang tua.
Ayahku menurunkan aku di tanah kosong
saat usiaku lima tahun.
Astaga.
Katanya aku bukan putrinya lagi.
Lalu kau bilang apa?
Kataku, "Pak, antar aku ke panti asuhan,
bukan ke sini."
Setiap aku bicara, penonton selalu terpukau
dan aku dijuluki Pembantai Cerita.
Melihat guru etika, mereka menjadi kehilangan etika.
Mereka memanggilku Dewi Penggoda.
DEWI ETIKA
Ada yang aneh tentang dia.
Semua guru di sini ingin ke Seoul.
Kenapa dia ke desa ini sendiri?
Jawabannya jelas.
Sebagai guru pertukaran, dia terjebak dua tahun.
Dia pasti menyebabkan masalah besar.
Kau pasti tahu sesuatu.
Dia kadang bicara denganmu.
Tidak. Kami hanya bicara saat dia membayar sewa.
Sebaiknya kalian tak tahu, demi kedamaian diri.
Halo, Bu.
- Pagi, Bu. - Halo.
- Hei, Kembar. - Selamat pagi.
- Selamat pagi. - Pagi.
- Cepat. - Hai, Bu Bom.
Kak Han-gyul!
Ya, terima kasih.
Setiap aku melihatnya,
aku teringat masa sekolahku.
- Benar? - Ya, benar.
Dia sekelas dengan anak kembarku.
Kenapa begitu berbeda?
Apa mereka anakku?
Jika ibunya merasa begitu,
bagaimana wali kelasnya?
Sebentar.
Kak Han-gyul, lihat aku.
Jangan dorong.
Kak Han-gyul, ikut denganku!
- Selamat pagi. - Sun Han-gyul.
Aku ingin bertanya, Pak.
Kepadaku?
Ikuti aku.
Apa pintu depan bisa terkunci hari ini?
Aku punya kunci serep.
Jika ada masalah, beri tahu aku.
Ucapkan terima kasih.
Terima kasih!
Ujian Tengah Semester sudah dekat.
Mulai besok,
siswa tak boleh berada di ruang staf.
Guru-Guru, tolong pastikan
- soal ujian tak bocor. - Baik, Pak.
Aku yakin kalian tahu bahwa setelah UTS,
pertemuan orang tua dan guru akan langsung diadakan.
Ya, Pak.
Setiap wali kelas perlu bersiap sejak kini.
Di hari Kamis pekan ini, akan ada sesi latihan UTS.
Semua harus hadir rapat
pada waktu makan siang di ruang serbaguna. Jangan terlambat.
- Kehadiran kucatat. - Apa ini?
Jendela terbuka?
Saat ujian, guru dan siswa sama sibuknya.
Ini adalah ujian pertama tahun ini.
Jadi, kumohon kepada para guru untuk memastikan
semua lancarβ¦
Gawat!
Gawat!
Ada apa?
Perasaan aneh ini baru kurasakan.
Dia datang.
Kita harus bagaimana? Dia segera tiba.
Pak Hong!
Katakan aku sudah pulang.
Minggir.
- Pak Hong! - Cepat!
Minggir.
RUANG KEPALA SEKOLAH
Cepat sembunyi.
DILARANG MASUK
Dia sudah tiba?
Ini dia.
Minggir, beri jalan.
Sial.
Jangan masuk.
Siapa dia sebenarnya?
Bahan itu tampaknya
dari 84 persen poliester dan 16 persen spandeks.
Di tengah badai salju, kulit telanjangnya bahkan tidak merinding.
Apa dia atlet?
Bukan.
Atlet tak mungkin punya tato naga di lengan.
Berarti, dia gangster?
Berandal? Atau preman lokal?
Selamat datang, Paman Han-gyul.
Orang itu adalah paman Han Gyul?
Maaf mengganggu.
Aku datang untuk bertemu Pak Hong Jung-pyo.
Sayang sekali.
Pak Hong ada urusan. Jadi, dia pulang lebih awal.
Kutunggu saja sampai besok.
Aku sangat senggang.
RUANG KEPALA SEKOLAH
Ya ampun! Ada siapa ini?
Rupanya paman Han-gyul.
Bapak ada di dalam?
Aku sedang sibuk dengan hal mendadak. Maaf terlambat menyapa.
Halo, Paman Han-gyul. Selamat datang.
Ada perlu apa di sekolah?
Katanya, Han-gyul
diberikan Penghargaan Bakti Orang Tua.
Namun, dia dengar itu dibatalkan
dan tadi pagi dia menanyakan alasannya kepada Pak Hong,
lalu jawabannya begini.
"Anak yatim piatu tak pantas memenangkan Bakti Orang Tua."
Jadi, aku ingin bicara langsung dengan Pak Hong.
Ayolah,
tak mungkin dia bilang begitu.
Mungkin Han-gyul membesarβ¦
Han-gyul tak memberitahuku.
Itu kata orang lain.
Mohon tenang dahulu.
Kopi. Mari kita minum kopi.
Bu Bom, bisa buatkan segelas kopi?
Bapak menyuruh guru wanita membuat kopi?
Kukira aku harus menawarkan sesuatu.
Aku bisa urus kopiku sendiri.
Cantik.
Di mana kau?
Kenapa tak memberi kabar?
Kau pandai membuat orang kesal.
Apa kau kaget?
Aku memanggil, tetapi kau sibuk dengan ponsel.
Apa ada yang bisa kita bicarakan?
Kami mau makan topoki,
ayo ikut.
Dia bilang apa? Dia ikut?
Pindahkan kepalamu.
Tak kelihatan!
Kau yang geser.
Aku lebih dahulu di sini.
Dia pergi.
- Sudah pergi. - Sudah kuduga.
Apa kubilang?
Dia menolak?
Ya ampun.
Hei.
Kau adik kelas, kenapa ikut?
Siapa yang mengurus klub penggemar Kak Han-gyul?
Aku ingin makan dengan Choi Se-jin untuk pertama kali.
Kenapa dia menolak?
Keberadaan.
Aku lebih suka makan dengan orang yang kusukai.
Aku tak mau merusak waktu makan berhargaku dengan keberadaanmu.
Mohon pengertianmu.
Keberadaan?
Apa kubilang?
Seharusnya aku yang mengajak.
Kurasa hanya dia gadis di sekolah
yang tak menyukaimu.
Pamanmu ada di sekolah.
Apa?
Aku mendengar perkataan Hong Jung-pyo tadi.
Aku tak sengaja berkata penghargaanmu dibatalkan.
Astaga.
Kak Han-gyul!
Daripada kopi, mungkin rokok?
No comments yet. Be the first to leave one.