The first 200 lines.
Coba jelaskan ini dulu.
Apa arti dari "12 tambah dua" ini.
Bagaimana kabarmu?
Kamu sudah menikah, 'kan? Punya anak juga?
- Aku masih sendiri. - Astaga.
Apa saja yang kamu lakukan sampai setua ini?
Dulu saat masih muda, kupikir kamu dan Ji Won
akan menikah.
Karena Ji Won lebih menyukaimu daripada aku.
Sebaiknya kita tidak membicarakan Ji Won.
- Kamu juga mencoba membunuh Ji Won. - Astaga, itu salah paham.
Saat aku tahu itu Ji Won, aku sebenarnya hendak pergi.
Tapi saat itu dia malah mengambil foto.
Aku mencoba merebutnya.
Bagaimana kabar Ji Won?
Entahlah.
Rupanya kalian tidak saling berkabar.
- Apa Ji Won teman hilangnya? - Ini.
Jelaskan ini dulu.
Ini...
Tiga dari kasus ini kasus terkenal yang pasti kamu tahu.
Bagian yang paling menarik...
"Pembunuhan 12 tambah dua"
adalah yang ini.
Tae Joo, kamu takkan bisa membayangkannya.
"The Scarecrow."
Kamu sudah siuman?
Tempat apa ini?
Kamu tidak ingat? Ada kejadian di rumah duka.
Tidak ada yang serius, kamu hanya kelelahan.
Hei! Tunggu. Tidak, itu...
Hei, Detektif Kang!
Hei, Tae Joo.
Kamu tidak apa-apa?
Apa kata pihak rumah sakit?
Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk datang.
Ibu akan berterima kasih.
Kamu menyeringai lagi.
Tadi juga begitu.
- Apa katamu? - Di depan foto mendiang ibumu.
Tadinya aku mau membiarkanmu karena kamu sedang berduka.
Tapi kamu benar-benar keterlaluan.
- Hei. - Apa yang kamu lakukan!
Kamu ditangkap karena penangkapan ilegal dan penyerangan Lee Gi Beom!
- Ayo ke kantor polisi! - Hei, Tae Joo.
Ayo jalan.
Pemimpin duka cita ditangkap.
Jaksa Lee, apa maksudmu?
Ada orang gila yang memborgol Jaksa Cha...
- Apa? - Tunggu! Tunggu dulu!
- Apa yang kamu lakukan? - Dasar bajingan!
- Lepaskan! - Sini kamu, bajingan!
Hei! Berhenti!
- Lepaskan! - Lepaskan aku!
Sadarlah.
Lepaskan aku! Kubilang lepaskan!
- Sadarlah! - Dia benar-benar memborgolnya?
Dasar bajingan!
- Hei, cepat bawa dia keluar! - Ayo!
- Kubilang lepaskan! - Ayolah, Tae Joo!
- Pergi dari sini! - Jangan sentuh aku!
Ayo!
Kenapa kamu melakukan itu?
Sikapmu tadi sudah keterlaluan.
Aku melakukannya untuk bertahan hidup.
Ini
demi keselamatanku.
Kalau aku hanya diam saja,
rasanya isi dadaku akan meledak.
Aku merasa akan mati.
Aku merasa akan mati.
Minumannya tidak enak? Mau kuambilkan yang lain?
Sial, padahal sudah sempurna...
Padahal ini pemakaman yang sungguh sempurna.
Aku berhasil menangkap pembunuh berantai itu.
Itu saatnya aku benar-benar butuh sorotan.
Tapi sialnya, Lee Gi Beom malah mati dan hampir merusak segalanya.
Tapi tepat pada waktunya, ibuku meninggal.
Tokoh politik dan ekonomi terkenal datang berbondong-bondong
datang untuk berbelasungkawa. Benar, 'kan?
Aku bisa unjuk diri
dan juga memperkuat koneksiku.
Ini seperti hadiah dari ibuku untukku.
Benar, 'kan?
Tapi aku menyia-nyiakan semua itu?
Gara-gara Kang Tae Joo?
Bagaimana...
Bagaimana aku harus membalas budi ini, Sang Beom?
Aku harus bagaimana
agar tidak terlalu merasa bersalah pada ibuku?
Bagaimana kalau bedebah itu kita jadikan umpan ikan di laut?
Anda tinggal beri perintah.
- Anda tidak boleh masuk! - Minggir kalian!
Jaksa Cha!
Aku mohon, tolong aku!
Tim Audit akan menyelidiki aku atas kasus kematian Lee Gi Beom.
Kamu boleh keluar.
Memang sudah seharusnya kamu diselidiki.
Memangnya gara-gara siapa masalah ini terjadi?
Apa?
Tapi aku hanya...
Satu-satunya kesalahanku adalah melakukan perintahmu, Pak Jaksa.
Tunggu, apa maksudmu?
Ucapanmu seolah-olah aku menyuruhmu hajar Lee Gi Beom.
Apa aku menyuruhmu begitu?
Bukan begitu maksudku, Pak Jaksa.
Tapi...
Dengar, Do Hyeong Gu.
Hari ini
aku benar-benar mempermalukan diriku sendiri
di depan ibuku.
Aku telah menjadi anak durhaka. Mengerti?
Aku sedang sangat kalut hari ini.
Jadi, kamu urus sendiri masalahmu itu.
Kamu bisa coba bantah sampai akhir.
Lagi pula, korbannya sudah mati. Siapa yang tahu pemukulnya?
Tapi
soal Lee Gi Beom itu.
Apa benar kamu yang membunuhnya, Detektif Do?
Apa?
Kamu tidak menginterogasinya sendirian, 'kan?
Apa?
Bukankah Detektif Kang Tae Joo juga menginterogasinya?
Apa kamu tidak melihat sesuatu?
Ya!
Benar.
Aku mengaku melakukan penyekapan ilegal, tapi
hanya itu saja.
Jadi, ada orang lain yang memukuli Lee Gi Beom?
Aku melihatnya dengan jelas.
Kang Tae Joo menghajar Lee Gi Beom habis-habisan.
Jadi, aku lapor jaksa agar dia segera dipindah ke sel tahanan
dan juga melarangnya dijenguk.
Silakan tanyakan pada Detektif Jang Myeong Do.
Benar.
Semuanya benar.
"Tindakan disipliner, subjek: Kang Tae Joo."
"Alasan: Tindakan kekerasan terhadap tersangka."
Detektif Park. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ini benar-benar gila. Sial.
Mereka bisa mengambil tindakan disiplin tanpa memeriksaku?
Katanya ada yang melihatmu memukuli Lee Gi Beom.
Siapa yang bilang begitu?
Jang Myeong Do, Do Hyeong Gu, berengsek.
Sepertinya Si Yeong benar-benar sudah kelewatan.
Sepertinya dia sangat marah.
Aku akan mengajukan keberatan.
Kepala Kantor Polisi juga tahu ini adalah kesaksian palsu, bukan?
Tae Joo.
Tim Audit kali ini
dikirim dari Markas Besar Keamanan.
Direktur dan ayahku itu sahabat karib.
Ini di luar wewenangku.
Lagi pula, orang yang marah karenamu pada hari itu
bukan hanya Cha Si Yeong. Mengerti?
Ayahku, dan semua orang yang ada di sana juga kesal.
Seorang sersan rendahan.
Berani-beraninya memborgol seorang jaksa,
terlebih saat jaksa itu sedang berduka?
Perilaku kurang ajar seperti itu harus diberi pelajaran.
Tapi tetap saja,
mereka dengan liciknya
memfitnahku seperti ini?
Sudahlah...
Terima saja.
Tinggalkan Kangseong untuk sementara.
- Nanti akan kupanggil lagi. - Tidak bisa.
Apa aku seperti sedang memohon padamu?
Kenapa artikelku tidak ada?
Tidak lihat? Artikelmu ditarik.
Kenapa ditarik? Kemarin masih ada di draf final.
Artikelmu ditarik oleh atasan. Tepatnya, pemilik perusahaan.
- Kenapa begitu? - Karena Jaksa Cha Si Yeong
adalah calon menantu pemilik perusahaan kita.
Apa?
Ji Won...
- Kamu sudah dengar beritanya? - Panggil aku yang benar!
Itu bukan masalah penting.
Ini soal Tae Joo.
Dia yang menyebabkan kematian tersangka.
Jadi, polisi yang membunuh tersangka itu...
Benar.
Sebetulnya
ada yang melobi agar kasus ini ditutupi.
Setelah aku tolak,
sepertinya dia jadi menyimpan dendam.
Astaga. Beraninya merendahkan seorang jaksa.
- Siapa mau urus bajingan ini? - Aku.
Tunggu.
Ini masalah internal kepolisian, apa Kejaksaan perlu ikut campur?
- Hanya buang-buang tenaga. - Astaga, kamu ini.
Karena kamu terlalu lunak, orang sepertinya berani melawan.
Aku minta maaf.
Kamu urus ini.
Baik, aku mengerti.
Astaga...
Hei.
Bagaimana bisa kamu melontarkan tuduhan seperti itu padaku?
- Apa kamu masih punya hati nurani? - Kamu yang memulainya lebih dulu.
Di pemakaman ibuku pula.
No comments yet. Be the first to leave one.