The first 200 lines.
"5 Nov 2018 Seodaemun-gu, Seoul"
Aku perlu memenangkan mega Lotre.
Kamu harus hati-hati.
Menurutmu mereka akan minta bantuanku?
Apa ini...
kantor detektif?
- Ya. - Ada apa ini?
Kamu mengadakan pertunjukan sulap?
Dia akan keluarkan merpati?
- Ada merpati di topinya? - Halo.
Senang bertemu.
Kamu lihat selebarannya.
- Ya, ada banyak. - Selebaran itu.
Benar, selebaran.
Entah bagaimana tanggapanmu,
tapi terakhir kali ada yang bergabung,
kami dikhianati.
Kita periksa jika dia bawa pistol.
- Ya. - Harus periksa.
Untuk apa aku bawa pistol?
Kita dilarang punya pistol di Korea.
- Banyak orang bawa pistol. - Benar.
Dia benar.
> Kami Pernah Bertemu Orang Yang Bawa Pistol
Tunggu. Kami sungguh bertemu orang yang bawa pistol.
Baiklah.
Periksa kantong belakangnya.
- Periksa yang benar. - Astaga.
Sepatunya juga.
Kamu bisa tahu dengan itu?
Hei.
Dia hanya memijat.
Kamu hanya memijatnya.
Periksa bagian dalam juga.
Periksa seperti ini.
- Menyeluruh. - Aku tak punya apa pun.
Ada sesuatu di sini.
Ini hanya arloji yang kubawa.
- Arloji kantong? - Hanya arloji.
Tidak berfungsi.
Tampaknya dia ceroboh.
- Duduklah. - Mari bicara.
- Baiklah. - Baik.
Apa pekerjaan lamamu?
Sebenarnya aku detektif juga.
- Sungguh? - Ya.
Aku biasa bekerja sendirian.
Jadi, aku merasa kerjaku jadi terbatas.
- Aku paham. - Jadi,
aku ingin bekerja sebagai tim
dan jadi bagian sebuah kelompok. Itu sebabnya aku datang.
Apa kamu berwawasan luas?
Berwawasan luas?
- Itu penting. - Bisa bahasa Inggris?
- Aku belajar ilmu alam. - Sungguh?
Ya.
Kamu tahu Bilangan Fibonacci?
- Apa? - Bilangan Fibonacci.
- Itu penting. - Itu hal mendasar.
- Kamu tahu Bilangan Fibonacci, 'kan? - Tahu?
- Dia tak tahu. - Dia tak tahu!
> Tampak Dia Tak Terlalu Pintar
- Sayang sekali. - Ini tak bagus.
Apa keunggulanmu dalam pekerjaan ini?
Aku sangat beruntung.
Sungguh?
Maaf, jika kamu mengandalkan keberuntungan untuk pecahkan kasus,
kurasa kamu tak cocok di tim kami.
- Dia tak cocok? - Karena tim kami...
Kupikir kamu mengandalkan keberuntungan
untuk pecahkan kasus.
Kami pecahkan kasus dengan naluri.
- Kami... - Kami tak mengandalkan keberuntungan.
Bagaimana menjelaskannya?
Petunjuk atau bukti muncul begitu saja saat aku berjalan.
Itulah keberuntunganku.
> Menjelaskan Keberuntungannya
Aku tak yakin ini pantas ditanya, tapi apa kamu
punya tabungan?
Di sini dibilang yang kita butuhkan hanyalah gairah untuk pekerjaan ini.
- Dan kamu tanyakan keuanganku. - Itu yang kami tulis.
Tapi biar kukatakan.
Situasi finansial kami tak cukup bagus.
Aku tahu itu. Jadi, aku bawakan kasus untuk tim ini.
- Apa? - Kamu punya kasus?
Bayarannya bagus?
Klien menawarkan harga yang menarik.
Isi permintaannya sendiri
tak begitu serius, tapi...
- Ya? - Bayarannya
membuatku penasaran.
- Sungguh? - Klien adalah wanita berusia 30-an.
Saat ini tinggal dengan putranya.
"Wanita Berusia 30-an Menikah Dan Punya Anak"
Dia bercerai dan membesarkan
putranya sendirian.
Belakangan ini dia sering dihubungi mantan suaminya,
dan dapat ancaman.
Begitu keadaannya.
"Mendapat Telepon Ancaman Dari Mantan Suami"
Dia terus bilang lingkungan itu tak aman
dan bukan daerah yang baik.
Dia terus memintanya untuk pindah.
"Dia Mengancam Mantan Istrinya Untuk Pindah"
Dia ingin bicara langsung pada pukul 10.30 di Yeonhui-dong.
Baik, kami akan ke sana bersamamu.
Nanti kami putuskan jika kamu bisa bergabung dengan tim ini.
Kami putuskan setelah kita bekerja bersama.
Biar kuputuskan apa aku mau bergabung setelah kasus ini.
NETFLIX ORIGINAL
Bukittinggi, 10 November 2019 Sub By Netflix - Manual Transl ate By AR5RY
The Criminal is You!
Jangan berpikir mengencani Min-young.
Kamu bicara apa?
- Mendadak sekali. - Kamu konyol.
Aku belum punya waktu untuk pikirkan itu.
Kamu pacarnya atau apa?
- Ya. - Maksudnya...
- Pikirkan semaumu. - ...kamu
harus fokus dengan kasus, itu sebabnya kita di sini.
Fokus padanya tak berarti bisa memecahkan.
Saat tiba di sana, aku akan dapat firasat.
Astaga.
Aku langsung tahu kamu seorang pemula.
Kamu tampaknya detektif pemula.
Masalah pekerjaan detektif adalah tak bisa pecahkan apa pun
hanya dengan berfokus pada hal itu, seperti drama di TV.
- Kamu konyol. - Saat kita tiba,
aku akan melihat-lihat, lalu menemukan petunjuk.
- Sepertinya sudah tiba. - Ini tempatnya.
Kupikir ini tempatnya.
Kita tepat waktu.
- Benar. - Rumah itu.
- Rumah itu. - Warna mantelmu sama dengan daun itu.
Tema gayaku musim gugur.
Gaya pria tangguhmu bagus.
- Menurutku dia akrab dengan tim. - Di mana?
Tidakkah lebih baik dia masuk duluan?
- Aku masuk. - Dia yang dapat kasus.
- Coba tekan bel. - Terbuka.
Aku sudah menghubunginya. Tenang. Biar kutekan belnya.
- Permisi! - Dia pasti kaya.
- Bu. - "Bu"?
- Dia punya putra. - Benar, dia seorang ibu.
Kamu di dalam, Bu?
- Kamu di dalam? - Ada orang?
- Terkunci. - Apa?
Kita tak bisa lihat ke dalam.
Ada gang di sini.
Gang?
Gang di rumah?
- Maksudmu jalur. - Kita harus lewat sini?
> Mungkin Ada Jalan Masuk Di Belakang
Apa? Ada sesuatu?
Ada apa?
Astaga.
Lihat.
Apa itu?
Itu klien kita?
- Lihat ke dalam! - Astaga, dia mati.
Itu sungguh klien kita?
- Astaga. - Itu seorang wanita.
- Tunggu. - Hei, ada pintu di sana.
- Tunggu. - Tunggu.
Apa-apaan...
- Astaga. - Ada banyak darah.
- Ada apa? - Dia tak apa?
Kupikir dia mati.
Ada lubang di gaunnya.
> Wanita Ini Tampaknya Sudah Mati
> TKP-Nya Mengerikan
Dia kliennya?
Ya, benar.
Dia wanita di foto itu.
- Mana anaknya? - Foto dengan putranya.
Ada apa?
Ada Pil Antikoagulan.
- Untuk apa dia minum ini? - Itu obat yang cegah
pembekuan darah.
Mungkin dia punya penyakit.
Dia pasti mati karena pendarahan hebat.
Benar, ada banyak darah.
"Pasti Mati Karena Pendarahan Hebat"
Sepertinya dia ingin sarapan.
Tidak terlihat sudah mulai makan.
Jadi, dia mau makan dan...
Jadi, kurasa ini terjadi di pagi hari.
Pasti terjadi sebelum siang.
- Tunggu. Lihat. - Apa ini?
Kotak kosong dengan memo
dari tetangga yang berterima kasih atas makanan.
- Tetangga? - Tetangga?
> Ada Memo Dari Tetangganya
Tapi... bagaimana dengan anaknya?
- Ada apa dengan anaknya? - Anaknya.
- Lantas anaknya? - Putranya.
> Apakah Putranya Tak Apa?
"Ibu, Sol"
Nama putranya pasti Sol.
- Sol? - Aku akan periksa lantai atas.
No comments yet. Be the first to leave one.