The first 200 lines.
SEMUA TOKOH, KEJADIAN, LOKASI, ORGANISASI, DAN LAIN-LAIN ADALAH FIKSI
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM KONDISI AMAN
KANTOR HUKUM SHIN I-RANG, HAN NA-HYUN
Bisa kubantu?
Nenek!
Pantas saja aku tak melihatmu belakangan ini.
Kau meninggal, ya, Nek?
Hidupmu begitu susah, lalu meninggal seperti ini.
- Aduh! - Apa pula maksudmu?
Aku belum mati.
Wah.
- Astaga. - Kau sungguh belum mati!
Terima kasih.
Terima kasih banyak.
Dasar pemuda konyol.
Bukan main.
Kau datang pagi, ya? Kubelikan kopi.
Halo.
Astaga.
Aku juga bisa melihatnya.
Pengacara Han, iniโฆ
Aku juga bisa menyentuhnya.
Tentu saja. Dia bukan hantu.
Bukan?
Kenapa kalian berdua begitu antusias untuk menyebutku hantu?
- Maafkan aku. - Maafkan tentang itu.
Nek, ayo duduk dan mengobrol saja.
Tentu.
Siapa dia?
Seorang kenalanku yang cukup akrab.
Ada perlu apa kemari?
Aku ingin menemuimu, Pengacara Muda.
Kenapa?
Kau terlibat masalah?
Bukan hal yang seperti itu.
Ini tentang mendiang suamiku.
Apakah dia berambut putih, beralis tebal,
dan berwajah tampan?
Astaga.
Kabarnya, pengacara ini nyaris seperti cenayang.
Pasti kabar itu benar.
Pengacara bisa apa dengan kemampuan itu?
Aduh, kepalaku!
Apakah suamimu menderita suatu penyakit?
Beginiโฆ
Dia penderita Alzheimer.
Ingatannya jernih kembali sesekali,
tapi seringnya, dia hanya ingat pada masa mudanya.
Pasti berat bagimu.
Apakah suamimu berurusan dengan sepatu?
Kau tahu dari mana?
Dia adalah pembuat sepatu.
Bahkan pada kali pertama kami bertemu,
dia sedang membuat sepatu.
TAHUN 1979
Sikapnya sangat kasar terhadapku.
- Pada masa itu, - Jadi, akuโฆ
Seoul adalah kota ajaib, tempat segalanya bisa berubah dalam semalam.
Saat itu, aku adalah gadis muda yang bercita-cita hebat.
Tapi dia mahasiswa kedokteran di Universitas Hanguk.
Calon suami yang hebat, bukan?
Lalu kenapa jika dia hebat?
Aku yang akan menjadi yang terbaik.
Ucapan itu khas dirimu.
Meski begitu, sangat disayangkan.
Tak ada yang melebihinya untuk cocok menjadi suamimu.
Kau sedang apa?
Kutinggal, ya?
Dia sangat keren.
Kau ingin beli sepatu?
Maaf?
Ruang pamernya di sana. Ini bengkel kami.
Aku tahu.
Yang kubutuhkan bukan sepatu baruโฆ
Tapi dirimu.
Saat itu, aku sedang bersiap untuk membuka tokoku sendiri
dengan biaya pernikahan yang kudapatkan dari orang tuaku
setelah lulus dari akademi mode terkenal.
Sepatu yang begitu dikenakan langsung membuat kita bahagia.
Sepatu yang terasa akan membawa kita ke tempat yang indah.
Membuat sepatu terbagus yang dibuat dengan ketulusan.
Itulah cita-citaku.
SEPATU SENANG
Sepatu terbaik tidak dibuat hanya dengan uang dan keterampilan.
Tanpa kulit yang bagus, sepatu terbaik tak bisa terwujud.
Aku juga tahu kulit berkualitas adalah keharusan.
Kau ingin kulit dari perusahaan mana?
Mau kulit impor?
Dari Italia? Prancis?
Ada orang yang perlu kau temui.
Seon Hwa dari Hamgyong, Korea Utara.
- Seon Hwa. - Dia menyamak kulit sendirian,
tanpa bantuan siapa pun.
Kulit buatannya selembut bulu, tapi sekuat logam.
Aku langsung jatuh cinta kepada kulit itu.
SEPATU IDEAL
Jangan gugup.
Kalian, relaks saja.
Satu, dua, tiga.
- Sekali lagi. - Begitulah proses kami
- saat membuka Sepatu Ideal. - Satu, dua, tiga.
Sepatu Ideal? Maksudmu Sepatu Ideal yang itu?
Ya, yang itu.
Sungguh?
Sepatuku ini adalah produk Sepatu Ideal.
Wah, itu.
Itu dari lini yang terjual konstan dan sudah diproduksi sejak 1981.
Kau pintar memilih sepatu.
Wah.
Cara pandangku terhadapmu kini berbeda, Nek.
Tapi kenapa kau berhenti bekerja?
Kau masih sehat, Nek.
Aku harus berfokus pada sesuatu yang lebih penting daripada pekerjaan.
Pokoknya,
kami membuka toko ini bertiga saja, dengan anggaran kecil,
tapi kami meyakini produk buatan kami.
- Cantik sekali. - Dengan cara itulah sepatu kami
mulai mengisi etalase kami.
Makin banyak orang yang menyukai sepatu kami.
Satu, dua, tiga.
- Tersenyumlah lebih lebar. - Kami membuat sepatu semalaman,
tapi tak bisa berhenti tersenyum.
SEPATU IDEAL
Merapatlah.
Satu, dua, tiga.
Pada saat itulah aku tahu
bahwa Seon Hwa meninggalkan bayinya yang baru lahir di Korea Utara.
Kau sedang apa?
Mengucapkan permohonan.
Untuk menemui putraku di Utara lagi.
Begitu.
Aku juga akan berdoa
agar permohonanmu terwujud.
Aku juga.
Kami merasa telah menguasai dunia.
Tak ada yang kami takutkan.
Kemudian,
Seon Hwa ditangkap.
Dia dituduh menjadi mata-mata.
Ternyata,
Seon Hwa terus mengirim uang ke Utara.
Lepaskan aku!
Dia menjelaskan bahwa uang itu untuk keluarganya di Utara.
- Tunggu. Lepaskan! - Dia tak bersalah.
- Dia bukan mata-mata. - Seon Hwa!
Akan tetapi,
balasan yang kami terima adalah ancaman menakutkan.
Mereka bertanya apakah kami terlibat.
Jika terlibat, Sepatu Ideal harus langsung ditutup.
Suamiku dan aku tak bisa mengatakan apa pun.
Jika perusahaan kami ditutup,
puluhan pegawai akan kehilangan pekerjaan.
Jumlah keluarga mereka mencapai ratusan.
Pada akhirnya,
kami hanya bisa berharap agar dia dibebaskan dengan selamat.
Bertahun-tahun berlalu.
Saat kami mengunjunginya,
dia
sudah mati.
Kami membuatkannya kuburan di bukit dengan pemandangan terbuka ke Utara,
dan mengubur guci abunya di sana.
Itu sangat menyedihkan.
Andai kami mengunjunginya lebih awalโฆ
Andai kami tak memedulikan perusahaan, dan menyelamatkannya sajaโฆ
Maka dia mungkin masih hidup.
Diliputi penyesalan, kami memutuskan untuk mencari putranya
di Korea Utara, dan memberikan sahamnya
kepada putranya itu.
Kumohon, temukan dia.
Maafkan aku.
Aku mengerti, tapi terima kasih atas kerja kerasmu.
Maafkan aku.
Aku mengerti. Terima kasih.
Kami menghargainya.
Tapi sama sekali tidak mudah untuk menemukan putranya.
SURAT WASIAT
Akhirnya karena kegelisahannya,
suamiku menulis surat wasiat untuk meninggalkan warisan kepadanya.
Setahun setelah dia meninggal,
putra Seon Hwa,
Cha Eun Seong, akhirnya ditemukan.
Tertulis bahwa ahli warisnya harus memberikan
sepertiga warisannya kepada putra Nn. Ryeo Seon Hwa,
Cha Eun Seong, jika ditemukan kapan pun.
Sebagian besarnya berupa saham Sepatu Ideal.
Perusahaan akan dipertaruhkan jika sepertiganya diberikan kepadanya.
Peran Nn. Ryeo Seon Hwa bagi Sepatu Ideal disebutkan sebagai alasannya.
Kita akan diuntungkan dalam kasus ini jika ibumu menentang surat wasiat ini.
Apa pendapatnya?
Menurut ibuku sudah sepatutnya kami memenuhi surat wasiat ayahku.
Dia sendiri yang beri tahu Cha Eun Seong tentang surat wasiat ini.
Dia memang begitu sejak dahulu.
Dia tak tahan terhadap kemewahan
karena Nn. Ryeo meninggal di penjara.
- Terima kasih. Semoga harimu indah. - Terima kasih. Nikmatilah.
Dia hidup sendirian di sebuah rumah tua kecil.
Dia menjual sayuran di tepi jalan meski sudah kucegah mati-matian.
Selamat datang.
Biasanya, dia membiarkanku berbuat sesukaku.
Kali ini, dia membentakku saat aku menolak berikan uang itu.
No comments yet. Be the first to leave one.