The first 186 lines.
Hormat, gerak!
Tegak, gerak!
Ya, Sayang?
Ya, ini lagi siap-siap.
Ya. Uangnya juga lagi dicari. Lagi dicari.
Sabar.
Sudahlah. Ayah kerja dahulu.
Aiptu Bowo Wicaksono?
Saya Brigadir Ario Sustoyo.
Maaf, tadi saya salat dahulu.
Anaknya umur berapa, Pak?
Siapa namamu tadi?
Ario. Brigadir Ario Sustoyo.
Sustoyo...
Pak Sustoyo jenderal?
Ya. Dia kakek saya.
Oh. Hmm.
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi.
Ayo!
Selamat siang. Saya melaporkan langsung,
di mana saat ini terjadi demo antara dua ormas yang saling bertikai.
Sudah terlihat bahwa...
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
Apa salah kami, Saudaraku?
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
Perhatian semua unit.
Harap segera menuju TKP.
Ada pertikaian dua ormas.
Sekali lagi, perhatian semua unit. Harap segera menuju TKP...
Baiklah.
Ayo beraksi!
Nabi Muhammad adalah nabi terakhir umat Islam!
Terkutuklah kalian...
yang percaya bahwa ada nabi...
setelah nabi Muhammad SAW!
Keluar kau, orang-orang munafik!
Kita perangi kemaksiatan!
Perangi kemungkaran!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
Kalian datang ke masjid ini dengan teriakan "Allah Maha Besar".
Mengatasnamakan Tuhan!
Menyalahkan kami atas dasar nabi setelah Muhammad?
Agamaku adalah pilihanku.
Tanpa kalian sadari...
fitnah telah memecah belah silaturahmi!
Jangan pernah kotori agama kami!
- Allah Maha Besar! - Allah Maha Besar!
Jangan memprovokasi atas nama agama!
Ini penghinaan, Nu.
Kalian semua tahu...
kalau kalian telah meresahkan kami?
Meresahkan?
Kita bisa selesaikan apa pun tanpa kekerasan.
Radikalisme tidak akan menyelesaikan apa pun.
- Kau telah menghina kami! - Menghina?
Kalian datang ke masjid ini dengan tuduhan yang tidak masuk akal.
Coba kalian pikirkan dengan akal kalian, dengan hati kalian.
Kita ini bersaudara.
Akan ada berapa banyak lagi korban apabila kalian mementingkan kepentingan dunia?
Kau telah menghina kami!
Dobrak!
- -
Beraninya kau!
Islam tidak pernah membunuh!
Abi!
- Allah Maha Besar! - Di mana?
Abi!
Abi!
Abi!
Abi!
Aku takut!
Abi! Abi di mana?
Apa ini?
Maaf. Tadi temanku tak sengaja melempar.
Kau sendirian?
Kau punya mata?
Aku mau mengajakmu ke vila sebelah.
Daripada kau hanya berjemur sendirian. Ikut, yuk.
Kok lama ambil bolanya?
Kalau aku mau ikut, tanpa kau ajak pun aku akan datang.
Hei.
Apa aku mengganggu?
Ini, aku bawakan bir.
Aku tidak minum bir.
Ya, sebenarnya aku juga tidak suka minum-minum.
Berisik sekali di sana!
Kasihan anakku.
Di sana lagi ada acara apa? Berisik sekali.
Aku datang ke sini untuk mencari ketenangan.
Ganggu, ya?
Temanku, Raymond.
Dia baru saja dapat promosi di pekerjaannya.
Jadi, dia buat pesta untuk kami.
Padahal dia mau ajak kau gabung.
Oh.
Jadi, kau ke sini gara-gara disuruh dia?
Lagi ingin sendirian?
Aku tadi hanya melihat, sepertinya kau lagi perlu teman.
Ya sudah.
Kalau mau gabung, gabunglah.
Mas Sigit.
Hei, Andri?
Apa kabar?
Baik, Mas.
- Tadi saya lihat dari jauh. - Hmm.
Tapi saya belum yakin apa itu Mas Sigit.
Sudah lama juga, ya, saya tidak kemari?
Ya. Saya pikir...
Mas Sigit tak akan balik lagi ke sini.
Mas...
mau bermain lagi?
Tidak. Saya cuma mampir.
Ya, mau bertemu teman-teman lama, tapi...
tidak ada lagi yang saya kenal.
Ya, iyalah.
Teman-teman angkatan Mas Sigit tidak ada yang main lagi.
Saya juga cuma iseng.
Ada yang bisa saya bantu, Bu?
Sepertinya saya yang bisa bantu Anda.
Maksud Ibu?
Saya boleh minta tolong Ibu meminta mereka tunggu di luar?
Anda tidak perlu khawatir.
Saya diharuskan membawa mereka ke mana-mana.
Oleh Bapak.
Saya tak khawatir.
Bagaimana? Lebih nyaman?
Tadi, Ibu menyebut "Bapak".
Kalau boleh tahu, siapa "Bapak"?
Dan untuk "siapa Bapak"...
Nanti bisa kita bicarakan lebih lanjut.
Saya rasa...
sekarang bukan tempat dan waktu yang tepat.
Setuju?
Oh, iya.
Datang sendirian.
Dan jangan terlambat.
Bapak tidak suka menunggu.
Hampir lupa. Nama saya Hetty.
- Hei, Dri. - Hei.
Kenapa dia bawa pengawal? Takut dijambret?
"Bawa beceng, tidak, ya?"
- "Ya, iyalah." - Apa, sih?
Ibu tua seperti itu... Anjing-anjingnya bisa aku hajar kalau aku mau.
Anjing. Benar, 'kan?
S.W.
- Kok tidak memberitahuku? - Aku pikir kau tahu.
Dia preman, Bos.
Dahulu preman.
- Sekarang pengusaha biasa. - Pengusaha biasa apanya?
Oh...
Yang tadi itu tangan kanannya.
Kudengar S.W tak bisa ke mana-mana.
Berbaring terus di ranjang.
Tapi masih garang.
Enak, ya? Hanya berbaring, tetapi uang selalu datang.
Sepertinya aku pernah bertemu ibu-ibu tadi, tapi di mana?
Terus?
Kau diundang ke rumahnya?
Mmm-hmm.
Luar biasa!
Jarang ada yang diundang ke rumahnya.
Karena jarang ada yang bisa keluar.
Mau aku temani?
- Tak perlu, 'kan? - Tak bisa. Aku diminta datang sendiri.
Aduh.
- Dia memintamu datang sendiri? - Ya.
Aku harus cari rekan baru.
Tentu tidak.
Mau diberi pekerjaan?
Satu pekerjaan dari si Bapak, berbulan-bulan tak perlu bayar karyawan.
Jika ada apa-apa denganmu, aku hubungi polisi.
- Terus, aku menjadi tumbal? - Ya, kau tumbal.
Anjing.
Aku serius.
Jika ada apa-apa denganmu...
perusahaan ini punyaku.
Anjing.
Asalamualaikum.
Wa alaikum salam.
Tadi pagi aku melihatmu di TV.
Kamu disorot terus.
Sampai kapan, Mas...
No comments yet. Be the first to leave one.