The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Tully, andai kau melihatku hari ini.
Akhirnya aku berhasil pasang lensa kontak baruku,
pakai perona mata biru langit dan gaun birumu,
yang bawa keberuntungan karena ujian bahasa Prancis-ku bagus , bien sur.
Tiba-tiba, Chrissy G bicara denganku usai sekolah,
lalu Chrissy W mengajak menongkrong,
lalu Franklin yang seksi benar-benar menggodaku,
atau bicara kepadaku, dan itu selangkah menuju godaan.
Semua merindukanmu.
Surat lagi dari Tully?
Diam, Sean.
Kate, tak kusangka sudah lima bulan aku tak melihatmu.
Di sini cukup tenang.
Nenek buat kejutan makaroni untuk kesekian kalinya,
tetapi aku tak keberatan. Senang dia memasak.
Dia ajari aku menyulam,
dan bukan mau menyombong, tetapi kurasa aku punya bakat alami.
Jangan tertawa. Aku serius. Aku pandai seni.
Aku diundang ke pesta akhir pekan ini, tetapi kuputuskan tak pergi.
Seisi sekolah mengira aku berusaha jadi misterius,
tetapi aku hanya ingin fokus pada karier jurnalistikku.
Tully, aku berlatih berciuman di cermin, seperti katamu.
Aku merasa agak konyol.
Sumpah, jika tak dicium di musim panas, aku akan mati.
Atau mungkin dicium
dan payah sampai mati karena malu.
Mainkan "Dark Side of the Moon" di pemakamanku.
Kate, aku menemukan sesuatu tempo hari.
KEDAI GUNUNG RUBY
Aku tak yakin, tetapi kurasa itu foto ayahku.
Dia bahkan mirip aku.
Akan kupaksa Cloud memberitahuku.
Aku sangat merindukanmu.
Masih sembunyi di sini, ya?
Tak sembunyi. Aku mengurus tamu.
Ini acara melayat Ayah.
Orang mau sampaikan belasungkawa. Tak bisa begitu tanpamu.
Ini seharusnya tanpa ekor.
- Kita bisa bahas yang terjadi. - Apa yang terjadi?
Kau dan Tully ribut di luar gereja. Tampak intens.
Jika ada momen...
- Bukan sekarang. - ...untuk bahas yang terjadi...
- Aku tak mau bahas Tully. - ...antara kau dan Tully.
Baiklah.
Pria tua aneh yang tak kukenal terus mencubit pipiku.
- Paman Vic. - Paman Vic.
Boleh aku minum?
Kate, kau di sini.
Bibi Honey, hai.
Aku turut berduka soal ayahmu.
Pria yang luar biasa.
Terima kasih sudah datang.
Sean, kudengar kini kau gay.
Sudah lama. Hanya lupa beri tahu istriku.
Aku melihat Tully Hart di luar gereja tadi.
Sangat cantik.
Ada yang bilang kalian bertengkar.
Apa yang terjadi?
Bibi Honey, aku mau tunjukkan pemandangan kolam renang.
Itu tempat favorit Ayah.
Bagaimana dia bisa beli tempat ini?
Maaf orang terus bertanya soal Tully.
Aku terkejut Bibi Honey tak tahu semua detail buruknya.
- Kurasa dia tak baca tabloid. - Sudah lama sejak kecelakaan itu.
Namun, meski dia tak di sini, semua masih soal Tully.
- Dia seperti menghantui. - Entahlah.
Ingat saat kita tahu berita soal Ayah di Irak?
Dia baik hari itu.
Peterseli.
SATU TAHUN SEBELUMNYA
Baik. Syukurlah.
Ambil...
Mungkin satu lagi saja. Baik.
- Permisi. - Sial!
Maaf. Aku hanya...
Kau Tully Hart, bukan?
Ya. Aku suka penggemarku, sungguh.
Sahabatku mengalami sesuatu, butuh es krim. Ceritanya panjang.
Hariku sedang sulit.
Tentu. Kita semua pernah alami itu.
- Terima kasih. - Tentu.
- Baik. - Dengar.
Aku tahu ini bukan waktu yang tepat,
tetapi harus kukatakan,
kau diberi surat pengadilan.
Apa boleh aku berfoto denganmu?
Kau selebritas pertama yang kuberi surat. Ini sangat seru.
Tak pantas.
Paham.
Ya ampun.
Sid, kau pengacaraku. Makanya aku meneleponmu.
Ini mimpi buruk.
Keparat itu tak bisa menuntutku.
Ya, aku tahu aku melanggar kontrakku.
Karena dia bajingan misoginis.
Aku tak punya uang sebanyak itu.
Aku kaya, tetapi tak sekaya Oprah.
Semalam aku tahu
suami sahabatku kena ledakan bom rakitan di Irak.
Dia panik. Aku panik.
Aku tak bisa hadapi ini sekarang. Sudah dahulu.
- Pasporku tak ada. - Ada apa?
Dia diterbangkan ke Jerman untuk operasi.
Otak bengkak, tulang patah. Aku tak tahu yang mana.
Sesuatu soal dibuat koma. Aku akan ke bandara.
Aku siaga untuk lima penerbangan.
Sial.
- Dapat. - Astaga. Terima kasih, Marah.
- Ini gila. - Tak apa. Sean akan menemani Marah.
- Orang tuaku datang. - Tak apa-apa.
Tidak, gila menunggu pesawat.
Aku akan sewa pesawat.
Biayanya 100,000 dolar.
Kau lupa bicara dengan siapa?
Seperti uang receh bagiku. Akan kubawa kau ke Johnny.
- Kau luar biasa semalam. - Kau luar biasa pagi ini.
- Kita punya waktu untuk satu lagi? - Tidak, tetapi kurasa kita harus.
Astaga. Kalian berdua seperti kelinci.
Kita harus meliput berita. Ayo.
- Aku datang. - Kali ini tidak.
CINTAI IBUMU
Selamatkan pohon! Selamatkan pertumbuhan!
Pemrotesnya lebih banyak dari dugaan.
Ya, dan kita telat. Kini tak akan dapat tempat bagus.
Pasti dapat.
Tadinya ada, tetapi dicuri KDUG karena mereka tepat waktu.
Juga, kopimu dingin.
Hei, aku bawa ransum.
- Kate, krim dan gula. - Terima kasih.
- Tully, hitam. - Terima kasih.
Johnny, kubuatkan setermos kapucino,
masih panas, kukira kau akan suka.
Terima kasih, Lottie.
- Baiklah, ayo cari tempat. - Baiklah.
Ada apa dengan orang Australia? Benua penuh dewa seks berjalan.
Mau menonton film Madonna malam ini?
- Mungkin. - Entahlah.
Baiklah. Kabari aku saja.
- Kita tak akan melakukannya, bukan? - Ya.
Kita akan menonton film itu bersama, sendirian.
Namun, beri tahu pegawai magang kita bahwa Johnny pacarmu
agar dia berhenti menelanjanginya dengan matanya.
Ayolah. Lottie tak berbahaya.
Mirip aku, norak dan manis.
Gadis itu tak manis.
Lagi pula, Johnny bukan pacarku.
Kami belum bahas status kami, jadi kami berusaha diam-diam saja.
Ya, kecuali aku di kamar lain mencoba tidur.
Setelah selesai,
mau makan siang lama berdua?
Kita bisa makan tiram.
Aku tak bisa hari ini.
Aku sudah janji dengan Johnny.
Kami punya taruhan, yang pertama membuat yang lain...
Baik, malam ini. Adakan waktu teman serumah.
Minum anggur sampai keluar dari hidung.
Atau kita bisa menonton Golden Girls .
- Aku... - Biar kutebak.
Kau punya rencana dengan dewa seks Australia non-pacar.
Kau harus datang!
Bahkan tak bisa melihat protesnya.
Sekelompok awak halangi rekaman.
Jangan utus pria untuk tugas wanita. Aku akan cari tempat.
- Telat untuk rekaman bagus, ya? - Kenapa kau di sini, Danny?
Ini yang disebut berita. Pernah dengar?
Kenapa KDUG kirim pewara olahraga untuk tugas reporter sungguhan?
Semalam aku buat permohonan pada Peri Biru,
dan bangun jadi anak sungguhan.
Juga, aku dipromosikan.
Sayang sekali.
Aku suka komentar hebatmu soal lemparan tim mana yang lebih baik.
Masih marah soal malam di Tacoma.
- Tak ada yang terjadi. - Makanya kau marah.
- Kau bukan main. - Bagaimana lagi?
Kita di bar yang sama.
- Saling goda semalaman. - Kau menggodaku.
Aku salah. Ya?
Aku punya peluang dengan Tully Hart,
dan aku malah pulang dengan gadis bergaun merah.
Aku hanya...
Aku belum siap untuk kita.
Tak ada kita, Danny. Kau tak pernah punya peluang denganku.
Kita bercumbu selama sejam.
Itu hanya satu ciuman kecil. Lupakan.
Kau tampak cantik. Aku suka setelan celananya.
Hei, bisa cepat pilih tempat?
Kita harus meliput.
Kau, pergilah.
Minum nanti?
Kate? Kemarilah.
Ada apa?
Kita bisa mengatur kamera di balik garis.
Maksudmu garis polisi?
Ya, kita menyelinap di bawah atau di atasnya.
Caranya?
Kau lakukan hal itu.
- Kau gila. - Hal apa?
Aku tak mau lakukan dengan polisi di sana.
Rekamannya akan bagus.
No comments yet. Be the first to leave one.