The first 200 lines.
Hei, Kesayanganku!
Omong-omong, ini hari pertamaku kuliah dan aku sangat bersemangat!
Tentu saja, aku akan membawa bayiku!
Tapi sebelum itu, aku ingin berterima kasih kepada Hotel O'Boutique
karena mensponsori aku dan kakakku menginap di sini semalam.
Lihat ini.
Cantik, bukan?
Nyaman dan juga terjangkau.
Kau tak bisa temukan di tempat lain.
Aku harus pergi. Sampai nanti.
Assalamualaikum, cium!
Kau beruntung, kau terkenal di Instagram.
Semuanya disponsori.
KOLEKSI BARU DM UNTUK MEMESAN
IBU Maaf, Sayang
Ibu harus mengejar pesawat lebih cepat kembali ke New York
Semoga Beruntung AYAH
- Ya. Aku mengerti. - Aku harus membereskan barang anak-anak.
Selesaikan saja urusan keluargamu.
- Baiklah! - Aku dan Uda di sini.
Lain kali saja.
Sampaikan salamku kepada Ina dan anak-anak.
Tentu.
Baik. Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Apa alasan para saudara kita kali ini?
Ayolah, lupakan saja.
Hei, adiknya ini juga tanggung jawabnya.
Lihat dia.
- Tak bisakah dia tak feminin? - Ini hari pertamaku di universitas,
serta aku membawa bayiku.
Doakan aku. Sampai jumpa.
Hei, tidak bisakah kau naik mobil bersama kami seperti manusia waras?
Tidak mungkin!
Aku janji ke pengikutku akan bersepeda ke universitas di hari pertamaku.
Itu artinya
jika dia ingin makan, terkilir, atau bahkan buang angin,
dia harus memberi tahu pengikutnya, bukan?
Bukankah karena aku, seseorang bisa tidur
sangat nyenyak di hotel gratis semalam?
- Itu berlebihan! Apa masalahmu? - Baiklah, cukup.
Hentikan, kalian berdua.
Yaya, pergi mendaftar dahulu,
lalu beri tahu kami begitu kau dapat nomor kamarmu.
Kami akan mengirim barang-barangmu ke kamarmu.
Setelah itu, kita akan langsung pulang, bukan?
Kau lupa kita akan mengajak Ibu ke pernikahan temannya?
Jaga dirimu baik-baik.
Kau sendirian sekarang dan juga jauh, mengerti?
Tempat ini tidak terlalu jauh. Ini hanya Malaka dan Kuala Lumpur.
Hei, dengarkan kakakmu.
Belajarlah dengan giat dan jangan membebani Ibu.
Ya, aku tahu.
Mari kita lanjutkan syuting.
Kita tak perlu menunggu Mateen.
Dia pantas mendapatkannya karena terlambat.
Baiklah.
Lagi pula, jika mau menerbitkan Buletin Kampus, kita harus bekerja keras,
serta bersikap disiplin. Ketampanan saja tak cukup.
Terserah kau saja.
Hai.
Yaya, bukan?
Ya.
Aku Hakim, dari Buletin Kampus.
Aku yakin kau sudah dengar tentangku.
Omong-omong, boleh aku mewawancaraimu?
Ya, tentu.
Yaya.
Permisi.
Kau yang mengunggah ini?
Asal kau tahu, kau tidak terlihat sedang mengantre.
Jadi, secara teknis, aku tidak memotong antrean.
Baiklah, jangan khawatir.
Sampai di mana tadi? Kau mengatakan sesuatu?
Pertanyaanku untukmu adalah
kenapa kau menulis twit itu?
Hapus sekarang!
Kenapa?
Karena yang kau tulis salah.
Sama sekali tidak salah.
Maksudku, memotong antrean itu salah.
Tapi aku tidak memotong antrean!
Tapi aku sudah dapat 200 twit ulang.
Tidak bisa kuhapus sekarang. Apa yang akan mereka katakan?
Selain itu,
itu mengirimkan pesan baik kepada publik.
Pesan baik? Begitu rupanya.
Kau sadar bahwa mengunggah fotoku
tanpa seizinku adalah hal yang salah, 'kan?
Tak apa.
Semua orang membuat kesalahan.
Itu masalah kecil.
Kau serius?
Yang benar saja, menyentuhku seperti itu?
Hapus twit itu
atau akan kuambil ponsel itu dan menjejalnya ke tenggorokanmu!
Hei, santai saja.
Dia sudah bilang dia memaafkanmu.
Apa aku bicara denganmu? Namamu Yaya?
Halo. Aku temannya.
- Semuanya, tidak apa-apa? - Apa masalahmu?
- Jangan khawatir. - Aku belum selesai.
Berikutnya.
- Baiklah. Kau lebih dahulu. - Berikutnya.
Tidak apa-apa. Silakan lebih dahulu.
- Astaga! - Aku membiarkanmu pergi lebih dahulu.
Yaya, kau terlalu baik.
Aku penggemar beratmu.
Astaga, aku penggemar berat!
Benarkah?
- Bagaimana kalau kita pergi. - Hai.
Yaya yang sangat populer.
Maaf. Aku lupa tentang kita. Sampai di mana tadi?
Aku dari Buletin Kampus.
Baiklah, aku tahu ini hostel wanita,
tapi aku di sini hanya untuk jurnalisme.
Tidak, kita tidak merekam video semacam itu.
Kami mewawancarai semua mahasiswi di hari pertama pendaftaran.
Bukan hanya para gadis. Kami mewawancarai kedua gender.
Aku tahu. Kami wawancarai semua gender yang ada.
Tapi, kau tahu, beberapa orang berpikir ada lebih dari dua gender.
Aku tak keberatan dengan itu!
Ya!
Aku berhasil dalam dua menit! Ya.
Teman-teman! Rekor baru. Aku mendaki 120 langkah dalam dua menit.
Ya!
Baiklah, sampai jumpa!
- Ini kamarmu? - Ini kamarmu?
- Ini kamarku! - Ini kamarku!
Ini Mateen.
Aku sekarang di hostel Cempaka dengan fasilitator "rewel" kita, Kak Liza.
Kak Liza, bagaimana hari pertama sejauh ini?
Apa semuanya berjalan lancar?
Tolong jangan panggil aku Kak Liza. Usia kita sama.
Ikuti saja.
Baiklah!
Baiklah, hari ini kita punya...
Permisi.
Siapa namamu?
- Bisakah kau membantuku? - Ya?
Apa prosedurnya jika kami ingin pindah kamar?
Kenapa?
Kurasa kami tidak cocok sebagai teman sekamar.
Kurasa tak akan pernah cocok.
Jadi, kau mau ganti kamar?
Sama sekali bukan masalah!
Kami di sini untuk menyediakan layanan hotel bintang tujuh,
lengkap dengan bunga di ranjangmu, bantal empuk,
jubah mandi di kamar mandi?
Apa lagi yang kau butuhkan?
Kau tak perlu sarkastis.
Kami hanya bertanya.
Panggil aku dengan benar!
Panggil Kak Liza!
Kurasa tidak.
Kurasa kita berdua sebaya.
Aku murid yang dewasa.
Dewasa? Dengar.
Jika kau dewasa, masalah kecil ini seharusnya tak menjadi masalah.
Hadapi saja sendiri, seperti orang dewasa!
Tak apa-apa, Kak Liza. Aku mengerti kita tidak bisa bertukar kamar.
- Bagus. - Maaf kami mengganggumu.
Satu hal lagi.
Kak Liza.
Selendang itu,
tampak mengerikan dengan pakaian itu.
Gaya apa itu, Rasta?
- Itu hari pertama pendaftaran... - Matikan benda itu!
Sudah kuduga.
Gadis-gadis itu punya potensi.
Mereka bisa viral.
Kita harus mengikuti mereka.
- Baiklah. - Baiklah, ayo!
JADILAH PAHLAWAN SENDIRI
Ayo, Yaya!
Kau sudah selesai membongkar barang?
Apa pedulimu?
Ya, tentu aku peduli. Itu kamarku juga.
Seolah impianku adalah sekamar denganmu.
Apa masalahmu?
Akan kubuat sederhana.
Mari berpura-pura kita tidak ada bagi satu sama lain.
Kau lakukan urusanmu dan aku lakukan urusanku.
Seperti itu.
Sekarang berhenti bicara padaku.
Tapi kamar ini masih berantakan. Kita tak bisa membiarkannya...
Tunggu.
Kenapa aku mendengar suara?
Kupikir aku sendirian di kamar ini.
Bangun!
Bangun!
Cepatlah.
Astaga.
Bagaimana menginap di hotel bintang tujuh sejauh ini?
Bangun!
Nabi tak mengakui anak-anak yang tak mematuhi orang tua mereka.
Sebagai Muslim
kita harus menghormati orang tua kita.
Kita tidak boleh membuat mereka marah atau sedih.
Ibu!
No comments yet. Be the first to leave one.