The first 200 lines.
"Jalan Rakyat"
Ibu Suri tiba!
Cepat, itu Ibu Suri.
Semoga Ibu Suri panjang umur!
Mohon kalian semua bangkit.
Terima kasih, Ibu Suri.
Berita apa yang harus kita tampilkan hari ini?
"Keamanan Rakyat"
Kalau begitu, tolong kalian bertiga yang tampil.
Segalanya sudah dipersiapkan.
Ganti kostum!
Tanggal 6 Oktober, cuaca cerah.
Sejarawan Sima memenuhi kewajibannya...
...untuk mendokumentasikan...
...patroli Kaisar ke-165 dengan sebagai rakyat biasa.
Bersiap-siap!
Sima Xi menghadap Kaisar!
Bangkitlah, Pejabat Sima.
Jadi, Sima Xi, apa peranku hari ini?
Pebisnis yang mampir ke kota.
Bagaimana denganmu?
Pengikut Yang Mulia.
- Kakanda Kaisar! - Gawat!
Aku ada di sini!
Yang benar saja?
Bukankah dia melatih meditasi dengan Rahib Pohon Layu?
- Gawat! - Kakanda Kaisar!
- Dia datang. - Cepat cari jalan keluar!
Kakanda Kaisar, selamat pagi! Selamat siang! Selamat malam!
- Hati-hati! - Tak apa-apa.
Bangkitlah, Putri.
Kakanda Kaisar, kenapa tak bertanya padaku...
...kenapa aku memberi salam selamat pagi, siang dan malam...
...sekaligus padamu?
Ini...
Karena aku tahu kalian...
...sering mengatakan diriku cerewet di belakangku.
Maka, sekalian saja kusebut semua salam itu...
...padamu.
Agar tak perlu repot lagi. Menurut kalian,
- aku cerdas atau tidak? - Ayo kita jalan-jalan!
Baiklah.
Kakanda, apakah aku begitu menyebalkannya?
Jika ya, kau harus memberitahuku.
Tidak pun, kau tetap harus memberitahuku.
Intinya, kau harus memberitahuku aku benar menyebalkan atau tidak.
Jika tidak, aku takkan tahu.
Kakanda, kenapa kau tak memberitahuku?
Apa sebabnya?
Apakah karena ucapanku masih belum jelas?
Perlukah kuulangi sekali lagi?
Oh ya, Kakanda Kaisar.
Hari ini kau belum bertanya...
...kenapa aku tak menemui Rahib Pohon Layu untuk meditasi?
Karena suatu hari, Rahib memberitahuku bahwa...
...setelah bertemu diriku ia baru menyadari...
...meditasinya selama 50 tahun sia-sia.
Karena aku bisa bicara hingga pohon layu bertunas.
Menurutmu mengapa pohon layu bisa bertunas?
Kenapa? Akankah ia berbunga juga?
Kakanda Kaisar, apa sebabnya?
Tabib?
Tabib, mengapa kau di sini?
Apa yang sedang kau lakukan?
- Cepat beritahu aku... - Astaga!
Pangeran Ning tiba!
Semoga Ibu Suri panjang umur!
Bangkitlah.
Terima kasih, Ibu Suri.
Aku bangun kesiangan karena terlalu banyak minum semalam.
Kau juga bukannya tak tahu bahwa puteraku ini...
...bisa dikatakan belum matang.
Ia masih harus mengandalkanmu dalam banyak urusan negara.
Pencopet beraksi!
Kantung uangmu dirampas orang!
Ada pencopet...
Ada pencopet!
Ia merampas kantung milikku!
Pencopet bodoh! Berani melarikan diri?
Berhenti!
Cepat lepaskan ikatanku!
Pencuri bodoh kurang ajar!
Berani-beraninya kau mencuri di siang hari?
Ini kejahatan serius!
Apa urusannya denganmu?
Kau... kau sungguhan?
Memangnya kenapa?
Kenapa kau memukulku begitu keras?
Kau bahkan menggunakan kungfu?
Aku sudah mengalah padamu.
Kau mengalah? Tapi pukulanmu menyakitkan!
Lihat, ini air liurmu!
Memangnya kenapa?
Bukankah dirimu juga...
Meskipun kau pencopet,
namun sebagai tabib aku berkewajiban menolongmu.
Aku benar-benar sudah sembuh!
Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku, Tabib!
Sekarang aku merasa sehat kembali.
Bahkan merasa lebih baik dari sebelumnya.
Berhenti!
Sungguh sangat mengharukan.
Sebagai seorang penegak hukum...
...menangkap pencopet sudah menjadi kewajibanku.
Sedang kau sebagai tabib, berkewajiban menyelamatkan nyawa.
Jika semua orang melakukan kewajibannya,
mungkinkah ada ketidakadilan di dunia ini?
Kaisar!
Semoga Kaisar panjang umur hingga 10 ribu tahun!
Semoga Kaisar panjang umur hingga 10 ribu tahun!
Baiklah...
Sebagai rakyat,
kami hanya bisa melakukan kewajiban kami masing-masing.
Berkat kepemimpinan Yang Mulia Kaisarlah...
...kami pun dapat hidup tenang dan bahagia.
Semoga Kaisar panjang umur hingga 10 ribu tahun!
Semoga Kaisar panjang umur hingga 10 ribu tahun...
Hentikan!
Kenapa ada iringan musik?
Kenapa harus ada tarian?
Yang Mulia Kaisar.
Musik dan tarian adalah...
...cara rakyat berterima kasih pada Kaisar atas kinerjanya.
Sama sekali tidak diatur.
Mohon Kaisar memahaminya.
Sungguh?
Kaisar memang bijak.
Negara kita tenteram damai.
Yang Mulia limpahkan kebaikan pada rakyat...
...dan memenuhi tuntutan mereka.
Kasih rakyat bagi Yang Mulia melimpah bagai riak air sungai.
Itu sebabnya rakyat menggunakan musik dan tarian...
...untuk menyampaikan hormat mereka terhadap Yang Mulia.
- Sudah selesai bicaramu? - Ya.
Menurutku, Panglima Chen, kau penegak hukum macam apa?
Mengapa kau menggunakan kekerasan seperti itu...
...hanya demi menangkap pencopet?
Ada yang Yang Mulia tak ketahui.
Kepala orang ini bagaikan helm baja.
Pedang tak mampu melukainya.
Sungguh tak mampu melukainya?
Yang Mulia Kaisar,
hamba bersedia dihukum jika kau dapat menemukan segaris luka saja.
Menipu Kaisar adalah sebuah kejahatan serius.
Waspadalah terhadap nyawamu.
Lihatlah ini!
- Apa ini? - Tipuan macam apa ini?
Kuku.
Riwayatmu tamat.
Tabib, jangan tertawa terlampau senang.
Apa yang barusan kau lakukan?
Sebagai pendekar sejati bermoral, aku menyelamatkan nyawanya.
Aku menusukkan dua jarum akupuntur.
Lihatlah, aku menyembuhkannya.
Bukankah dirinya tak mampu tertembus pedang?
Lantas bagaimana jarummu bisa berhasil menembusnya?
Jelas sekali kau menipuku, kau mengelabuiku.
Apa hukuman yang pantas untukmu?
Ampuni kami, Yang Mulia!
Hari ini Panglima Chen melukai seorang pencuri...
...dan Tabib Wang membantu menciptakan sandiwara...
...dan berhasil diketahui oleh Kaisar yang cerdik.
- Sudah selesai kau tulis? - Sudah!
Sekarang giliranmu.
Reka ulang adegan pencopet tadi merampas kantung uangmu.
Baik!
Ada pencopet...
Ada pencopet!
Bagaimana aktingnya menurut kalian berdua?
Sangat tidak tulus.
Aktingmu terlalu berlebihan, tak saja tak menjiwai peran,
yang lebih buruk lagi, kau mengejutkanku!
Kesalahanmu lebih parah!
Hamba sadar telah salah, Yang Mulia.
Pengawal!
Kurung mereka bertiga, tunggu keputusanku!
Ampuni kami, Yang Mulia!
Yang Mulia...
Aku lebih rela dibunuh daripada dipermalukan!
Kaisar tak bisa membedakan ketulusan menterimu.
Sejarawan Sima yang setia tidak berniat membahayakan.
Ia harus mati secara mulia.
Kaisar, kau menyalahgunakan kekuasaanmu.
Ini pertanda Yang Mulia akan menyebabkan kejatuhan negeri ini.
Kenapa kau masih di sini?
Jika kalian tak enyah juga, kukirim kalian semua ke penjara!
Oh ya, Ibunda Permaisuri.
Mengapa Ibunda tiba-tiba memanggil Ananda?
Apalagi kalau bukan soal pernikahanmu, Kaisar.
Aku bahkan belum meninggalkan istana barang selangkah pun.
Sebelum ayahmu mangkat,
ia menciptakan Jalan Rakyat di dalam istana...
...tak lain agar kau dapat melihat dunia...
...dan memahami kehidupan rakyat tanpa beranjak dari istana.
Itu semua hanya rekayasa.
Aku ingin sekali mengenal dunia nyata secara langsung.
Maafkan keterusteranganku.
Keamanan Kaisar adalah persoalan negara, Yang Mulia.
Tak bisa semudah itu kau meninggalkan istana.
Bukankah negeri kita ini sudah aman?
No comments yet. Be the first to leave one.