The first 200 lines.
Kau wanita kuat! Kau pasti bisa.
Ayo.
Dorong dulu.
Tahan, Bu.
Sedikit lagi, ini sudah pembukaan sembilan.
Kepalanya sudah kelihatan, Mas.
Abang!
- Abang! - Tahan.
- Abang, bayinya berantem. - Sebentar, Bu.
Aduh.
Bang, bagaimana? Dialognya sudah habis, Andara belum kirim.
- Belum dikirim? Ah! - Belum dikirim.
- Atur napas. - Tahan!
Tarik napas.
Sedikit lagi! Ayo, kau bisa!
Tahan, Bu.
- Tahan, ya, Bu! Sabar, ya. - Aku ada deadline.
Tarik napas!
Siapa? Siapa itu?
Sastra sutradara.
- Angkat! - Diangkat?
Maaf, maaf. Iniโฆ
Jangan angkat telepon dulu. Ini mau melahirkan.
Soalnya ini kepalanya sudah kelihatan, jadi sabar dulu.
- Fokus dulu, Bu! - Maaf Dokter. Mendesak, Dok!
- Mendesak. Angkat! Di sini, dong. - Janganโฆ
Halo? Ya, Pak?
Ini jadinya bagaimana dengan rumah hantu?
Anak setannya jadi dimasukkan?
Dimasukkan lagi!
Catat! Masukkan lagi.
Bu, ini kepalanya sudah kelihatan, sudah mau lahir. Tak bisa dimasukkan lagi.
- Masak bayi diretur? Tidak bisa! - Bukan begitu, Dok. Ini pekerjaan!
- Ini pekerjaan. Pekerjaan. - Ya.
- Reaksi anak-anaknya? - Ya, kabur. Anak setan!
Astagfirullahaladzim, Bu! Ini anak Ibu dan Bapak, bukan anak setan.
Andara, kau di mana?
Lagi melahirkan.
Ah! Melahirkan?
- Melahirkan! - Melahirkan!
Cucuku lahir!
Apa itu "e"?
- Cucuku lahir. - Atas nama dulu, Bu.
Tak penting buatku.
- Apa lagi itu lahir-lahir? - Atas nama Raja.
Raja Partogi Gultom yang melahirkan itu.
Kenapa kau begini?
- Cepat. - Pintu satu, Bu, sebelah sana.
Kau! Gara-gara kau!
Memang kau betul-betul bikin repot aku!
Jelek kau mukanya.
Ah!
Bapak-Ibu, alhamdulillah anaknya sudah lahir.
Ya. Laki-laki, sehat, dan organ tubuhnya semua sempurna.
Silakan digendong.
Tapi, jangan dimasukkan lagi, ya.
- Selamat, Bu. - Terima kasih, Dokter.
Terima kasih, Suster.
Terima kasih, Sayang.
Terima kasih, Tuhan.
Yang mana?
Yang mana cucuku? Ha?
Yang ini, bukan? Apa yang ini?
Ini mirip si Raja, kau lihat mukanya itu!
- Yang mana? Kau baca, lah. - Tunggu dulu, Kak.
Ini, Kak!
- Betul itu? - Ny. Andara Respati.
Tn. Raja Partogi Gultom.
Tapi, tidak ada bayinya. Di mana?
Di mana cucuku?
- Cucuku hilang! - Hah!
- Hilang cucuku! - Tidak hilang! Tidak.
Polisi, cucuku hilang! Tolong.
- Hilang cucuku! - Mungkin dengan ibunya. Menyusu di kamar.
- Kau, lama sekali. - Ayolah, Kak.
- Ini! - Benar, ini?
- Awas kau, minggir. Mana cucuku? - Bu.
- Mana? - Laki-laki, Bu.
Bu.
Kau ini memang tak punya otak, ya.
Baru kau melahirkan. Bukannya anakmu yang kau urus.
Lama-lama kulempar kalian. Istri macam apa kau?
Minggir kau.
- Selamat, Nak. - Pelan-pelan, Bu.
Terima kasih, Inang, sudahโฆ
Awas tanganmu!
Mana ada manusia sepertimu ini.
Biar, biar mengerti dia.
Heran aku.
Ada manusia baru melahirkan, bukan istirahat, malah kerja dia.
Raja.
Jangan kau lupa, ya.
Amanat bapakmu.
Namanya harus Nicholas. Ya, Nak?
Ya, Bu.
Ganteng sekali, cucu Opung ini. Mirip Opung Doli kau.
- Ya? - Permisi.
Ini mau mengantarkan punya ibu yang tadi dibanting.
- Oh. - Ini sisanya.
- Terima kasih, Mbak. - Ya, sama-sama.
Kak, sanggulmu.
Kok bisa di tanganmu?
- Kan, tadi Kakak buang. - Ya sudah, pakaikan.
Diam.
Oh.
Kok bau ini? Bau apa ini?
- Bau apa tangan kau? - Tidak bau tanganku.
- Mulai berani kau kepadaku. - Tidak, memang tidak bau.
Eh! Berani kau kepadaku? Nanti kujambak kau.
Sudah.
- Selamat ulang tahun. - Selamat ulang tahun.
Selamat.
Mantap. Ayo difoto.
- Kufoto, ya? - Foto.
- Foto, lah. - Foto kita, ya.
Foto sebentar. Hampir bunyi.
- Eh, awas. - Bagaimana, sih?
- Yang bagus. - Ibu Nico.
Semua di tengah.
Nah, Semuanya.
Seperti ini, ya. Seperti gaya Korea itu.
Ini bajunya apa ini?
Kau ini apa? Salah kostum kau ini. Kan pesta kodok, Nak.
- Kita pakai baju kodok. - Kau pun tak seperti kodok.
- Lihat kostum kami. - Sudahlah! Ayolah!
Kasihan Nico ini.
Pergi kau. Kau anak ular, terpisah.
- Sabar. - Ganti kau, ganti!
- Kau yang masuk. - Ganti cepat.
- Nah, sama-sama hijau. - Ya.
Geser ke sana sedikit, biar aku masuk.
Aku hitung, ya. Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
- Ini yang paling kodok senyumnya. - Diam kau.
Satu, dua, tiga.
Ah, sudah! Foto ibu Nico.
Apa maksudnya foto-foto?
- Lihat ini tadi. - Sini, Opung. Sini, Nak.
Foto dulu sama Ibu.
Sepi sekali acaranya! Tidak meriah!
Tidak ramai!
Seperti hutan. Ibu Nico ini kerja di sinetron.
Undang saja model dan artis! Tidak sepi seperti ini.
Bu, sudah.
Biar ini acara keluarga saja. Tak usah tertalu mewah.
Kau ingat, Raja. Acara ulang tahun Ibu harus meriah.
Tidak seperti ini, sepi seperti kuburan.
Hei, Ibu Nico.
Kau ganti semuanya. Dari uang kompor, uang api, Ya! Bila perlu, semuanya ganti.
- Ya, Bu. - Sama losion tubuh juga, Inang Uda,
- sudah kering sekali kulitku. - Kau tak perlu losion tubuh.
Biar kulitmu bersisik.
Jika tak mau bersisik, pakai minyak jelantah.
Jangan lupa, rambut kau itu banyak sekali kutunya,
pakai minyak lampu, ya!
Masih banyak, Sayang?
Bang!
Kapan kita bisa punya rumah sendiri?
Aku pengin bebas, Bang. Aku tak mau terus diatur sama ibumu.
Bahkan, ulang tahun Nico saja, masa Ibumu yang mengatur.
Ya.
Masa tiap tahun kita harus jadi kodok, Bang?
Aku ini ibunya Nico, Bang.
Aku mau atur acara ulang tahun anakku dengan caraku sendiri.
Ya, aku paham.
Tapi, Nico juga suka kostum itu.
Ya, tapi kita yang jadi kodoknya.
Abang ingat?
Ulang tahun pertama Nico.
Kita jadi apa?
Kecebong.
Sekarang?
Kodok.
Lalu, maksudnya apa? Metamorfosis?
Bang.
Ayolah, Bang!
Kita beli rumah sendiri saja.
Abang tahu honorku setiap episodenya tiga juta, Bang.
Satu bulan aku bisa dapat sembilan puluh juta.
Tabungan aku sudah cukup, loh, Bang. Untuk bisa beli rumah.
Ya, Bang.
Sayang.
Sabar, ya.
Dari awal sebelum kita menikah, kau sudah tahu.
Kita tak mungkin pergi meninggalkan rumah ini.
Ini rumah peninggalan bapakku.
Dan kasihan Ibu.
Kalau kita pergi, Ibu dengan siapa?
Kurang sabar apa aku, Bang?
Setiap hari masalahnya selalu saja sama.
Aku ini bukan menantu yang baik.
Aku bukan istri yang baik buatmu.
Bahkan Ibu yang baik buat Nico.
Masak tak bisa, bangun siang, mengurus makan anak juga tak bisa!
Aku capek, Bang!
Semuanya harus mengikuti cara ibumu.
Pokoknya, aku bukan menantu yang baik untuk ibumu.
Sayang.
Buat akuโฆ
Kau adalah istri dan ibu terbaik.
No comments yet. Be the first to leave one.