The first 200 lines.
"Love Me"
Kamu membohongiku?
Aku tidak mencoba berbohong.
Kalau kamu tidak berbohong, lantas apa itu?
Maksudku...
Aku terus mencari waktu yang tepat untuk memberitahumu.
Apa kamu sungguh akan memberitahuku atau akan terus berbohong?
Kalau aku mau menyembunyikannya, sudah kusembunyikan.
Untuk apa aku memberitahumu sekarang?
Maksudmu waktunya salah?
- Bukan begitu. - Lalu apa?
Maksudmu kamu tidak punya anak?
Menurutmu aku lemah?
Karena aku terlihat kesepian?
Menurutmu aku begitu putus asa hingga tidak mempermasalahkan anak?
Ada lagi yang mau kamu ungkapkan? Ada catatan kriminal?
Aku tidak bisa memberitahumu
karena aku takut kamu bereaksi begini.
Aku takut.
Karena aku menyukaimu, Jun Kyung.
Menurutmu bagaimana perasaanku?
Kenapa aku menyukaimu? Kenapa aku memercayai orang sepertimu?
Penyesalan ini membuatku gila.
"Do Hyun"
Aku akan mampir akhir pekan ini untuk mengambil barang-barangku.
Kalau kamu tidak mau di sana, aku akan datang saat kamu tidak ada.
"Squirtle"
- Halo? - Kamu di mana?
- Di rumah. - Sedang apa?
Mengasihani diriku.
Beberapa orang menulis adikarya di usia 18 tahun
dan beberapa dari kita terjebak membenarkan saltik di usia 27 tahun.
Aku akan ke sana.
Aku baru mandi dan berbaring.
Memang kenapa? Aku akan menuju ke sana sekarang.
- Omong-omong... - Ya?
Kamu biasanya tidak intens tentang apa pun.
Jangan mulai juga. Ayo, lihat yang benar.
Apa makalah S2 harusnya sepanjang ini?
Apa ini terlalu panjang?
Kamu tahu pepatahnya.
"Aku mau menulis surat yang lebih pendek, tapi aku tidak punya waktu."
Oleh Mark Twain.
Benar.
Isi sepanjang ini membuktikan kamu tidak cukup siap.
Bantu aku membuatnya ringkas dan sempurna. Ayo, latih aku.
Aku mau dibantu calon penulis buku terlaris.
Bagus.
Baunya enak.
Gila!
Enak, 'kan?
Saat orang tuaku pindah ke desa untuk menjalankan perkebunan anggur,
aku selalu makan di rumahmu, ingat?
Kami bahkan memberitahumu kamu harusnya tinggal dengan kami.
Ya, benar.
Nasi goreng kimchi ibumu yang terbaik.
Hei.
Hei, ada apa?
Aku merindukan ibumu.
Maaf.
Tidak, itu menyenangkan.
Membahas ibuku denganmu.
Kalau aku tahu dia akan meninggal mendadak,
aku akan mencoba
lebih cepat sadar.
Astaga.
Sepertinya mati listrik. Kamu punya uang tunai?
Tidak.
Aku juga.
- Aku akan menaruhnya kembali. - Tidak, aku bisa...
Nyalakan lampunya.
Kenapa gelap sekali di sini?
Rokok.
Maaf, Pak, tapi listriknya mati.
Kamu punya uang tunai?
Siapa yang membawa uang tunai di zaman sekarang?
Mesin kasirnya rusak, jadi, aku tidak bisa menerima kartu kredit.
Kamu merendahkanku juga? Begitu?
- Merendahkanku? - Tidak ada yang merendahkanmu.
Dia bilang listriknya mati dan tidak bisa menerima kartu kredit.
Siapa kamu?
- Siapa kamu? - Apa?
Yang benar saja. Kalian berdua mengeroyokku!
- Kubilang berikan rokok! - Ya, Pak.
Kamu mau apa?
Halo, ini polisi? Aku di toserba di Yeon-hwa dong.
Ada pria mabuk dan membuat keributan di sini.
Dia mengancam dan melempar barang. Tolong cepat datang.
Nampaknya listriknya mati di seluruh area ini.
Mereka menyuruhku tutup sampai listriknya menyala lagi.
Aku tidak bisa menjual apa pun.
Aku tidak mau ada masalah seperti yang baru saja terjadi.
Terima kasih banyak.
Kunci pintunya.
Mau kutemani?
Toh rumahku juga pasti gelap.
Dan birku habis.
Untuk kalian yang sudah cukup lama mendengarkan "A Night Walk",
aku sangat menyukai bunga sakura.
Kamu juga mendengarkan ini, 'kan?
Musim semi datang sangat terlambat tahun ini, ya?
Mereka bilang bunga sakura juga akan mekar terlambat,
jadi, aku terus menunggu dan berharap akan melihat mereka mekar.
Namun, hujan turun dan mengubah semuanya jadi musim gugur yang awal
dan aku melewatkan mereka.
Kenapa hal baik tidak pernah awet?
Teganya dia berbohong tentang memiliki anak.
Sudah kuduga, dua orang memperumit semuanya.
- Tidak, tiga orang. - Kamu pikir itu lucu sekarang?
Ayolah, dia lajang.
Karena Do Hyun di tempatnya sendirian,
artinya dia tidak punya hak asuh.
Memang kenapa? Artinya dia bercerai, 'kan?
Berapa usia anaknya?
Sekarang sudah selesai. Itu tidak penting.
- Ayolah. - Terserah. Hapus saja nomornya.
Kalau kamu menyimpannya, kamu akan menunggu.
Lalu kamu akan meneleponnya saat kesepian.
- Sudah kuhapus. - Pasti dia menghafalnya.
Kamu juga harus menghapusnya dari ingatanmu.
Kita harus minum dan melupakannya. Ayo minum.
Kamu sungguh akan memutuskannya?
- Bukan "akan", kami sudah putus. - Tentu saja! Dia punya anak.
Alasan apa yang lebih baik untuk putus? Yang benar saja.
Kamu bersikap seolah selalu mencari alasan untuk putus.
Apa kamu mendengarkan dia? Kenapa dia tidak bisa memberitahumu?
Jun Kyung, kamu tahu kamu menyukai Do Hyun.
Apa ada alasan yang lebih baik untuk tidak putus?
- Siapa itu? - Jangan dijawab!
Bukan Do Hyun.
Kenapa kamu sopan sekali? Dia penipu.
Halo?
Ya.
Tempat itu
diminta oleh seorang ayah dengan diagnosis akhir.
Keluarganya membayar sebelumnya untuk memesan tempat itu untuknya.
- Tapi pegawaiku salah. - Maaf.
Bagaimana kamu membuat kesalahan seperti ini?
Aku tidak mengerti.
Kami juga bingung saat mendengarnya.
"Bingung"?
Apa itu artinya untukmu? Reservasi restoran yang dibatalkan?
Aku tidak bisa bicara apa-apa.
Itu saja?
Sekali lagi, kami minta maaf setulus hati.
Tidak, aku tanya apa itu saja! Pikirmu minta maaf saja cukup?
Apa pilihan yang tersedia sekarang?
Begitu.
Di sini.
Yang benar saja.
- Apa ini? - Menyenangkan, ya?
- Apa sisi ini berbeda? - Tidak.
Semoga kalian bersenang-senang hari ini.
- Ya. Terima kasih. - Terima kasih.
Kembalilah ke kamar kalian, istirahatlah,
dan temui aku malam ini setelah berdandan. Sampai jumpa!
- Baiklah. - Ya, sampai nanti.
- Ya, masuklah. - Hei, Jun Kyung. Apa kabar?
Baik.
Ayah bagaimana?
Cuacanya cerah dan ada angin semilir.
Lautnya indah. Kamu bagaimana?
Aku di rumah dengan Jun Seo.
Sungguh? Bagus.
Kalian makan malam bersama?
- Ayah. - Ya? Bicara saja.
Tunggu.
- Ayah. - Hei, Jun Seo.
Ayah tidak enak pergi tanpa menemuimu.
- Tapi senang mendengar suaramu. - Ya.
- Ayah? - Ya?
Maaf tentang sebelumnya.
Bersenang-senanglah.
Kakak tidak bisa menghancurkan harinya.
- Mau pergi? - Ya.
Mereka menelepon untuk mengecek.
Seharusnya orang tua yang mencemaskan anak mereka,
tapi setelah dewasa, kini mereka yang mencemaskanku.
Sepertinya kamu membesarkan anak-anak yang luar biasa.
Mereka tumbuh dengan baik.
Putriku dokter kandungan
dan putraku sedang S2.
Mereka sangat berprestasi.
- Kamu pasti bangga. - Apa pernah semudah itu?
Aku cemas putraku belum menemukan hal yang dicintainya
dan aku cemas putriku belum menemukan jodohnya.
Kapan fotonya diambil?
Di tahun kamu mulai kuliah?
Itu dari hari Ospek kampusku.
Beberapa bulan sebelum kecelakaan Ibu.
Astaga, kita terlihat canggung.
Kenapa senyumanku canggung sekali?
Cintaku.
Kamu terlihat bahagia.
Sayang?
Saat kakak pikir lagi, keluarga kita
tidak terlalu bahagia, bahkan sebelum kecelakaan Ibu.
Tapi kita juga tidak menyedihkan.
Menurut Kakak begitu?
Ya, kita biasa saja.
No comments yet. Be the first to leave one.