The first 200 lines.
EPISODE 11
Kumohon,
jangan merokok di dekat Han-gyul.
Bocah.
Beraninya kau memelototi ayahmu begitu.
Bawakan alkohol, cepat!
Sial.
Baiklah.
Biar kubelikan.
Sial, kenapa lama sekali?
Han-gyul.
Han-gyul.
Jae-gyu.
Jae-gyu.
Hentikan, Ayah!
Dasar tak tahu terima kasih. Beraninya kau membantah!
Bajingan!
Jika melihatmu,
aku langsung naik pitam.
Bajingan.
Jae-gyu.
Jae-gyu.
Aku bisa menyelamatkannya. Bukan.
Seharusnya kuselamatkan dia.
Namun, akuβ¦
Pergi meninggalkannya di sana.
Sayang sekali kau tak menyelamatkannya, tetapi itu bukan salahmu.
Tuhan memberiku luka iniβ¦
Agar aku tak berpikir begitu.
Agar aku tak lupa dosa itu.
Ini adalah buktinya.
Dengar, Bu Bom.
Aku tak menutupinya karena jelek.
Setiap kulihat luka iniβ¦
Aku ingat tatapan mata ayahku.
Aku teringat akan itu
dan tak bisa memperlihatkannya.
Jae-gyu.
Saat berlari keluar membawa Han-gyul,
aku sadar.
Suatu hariβ¦
Aku akan mendapat balasannya.
Aku terus gelisah
memikirkan kapan hari itu datang.
Rupanya itu sekarang,
saat aku paling bahagia bersamamu.
Aku saja tak bisa memaafkan diriku.
Siapa yang bisa memaafkanku?
Jika kau tak bisa memaafkanku,
aku tak akan menyalahkanmu.
Itu jugaβ¦
Beban yang harus kutanggung.
KONSER AMAL HBM
- Hari ituβ¦ - Hari ituβ¦
Maafkan aku.
Aku terbawa emosi saat itu
dan mengatakan hal tak seharusnya.
Aku juga terlalu keras denganmu.
Aku ingin melihat wajah putriku
sampai datang ke Shinsu. Mendengar hal itu
membuatku kebingungan.
Aku mengerti.
Jika aku tahu putriku berpacaran dengan pria seperti ituβ¦
Tutup mulutmu.
Bu Jeong. Apa kabar?
Kita terus bertemu belakangan ini.
Karena aku ke stasiun TV, penayangan perdana, dan lainnya.
Katanya ada proyek baru bersama Sutradara Bong Chan-ho.
Kau tahu saja.
Kutunggu kabar baiknya.
Aku permisi.
Kenapa? Siapa itu?
Orang yang menanyaiku soal Bom di konferensi pers.
Reporter Park, Disfact.
Anehnya, aku melihatnya di segala tempat belakangan ini.
Seolah-olah dia mengikutiku.
Shinsu.
- Menghiburnya? - Ya.
Aku tak tahu bagaimana caranya.
Jika terlalu serius, kurasa akan menyakitkan.
Jika berlebihan, dia akan waspada.
Kenapa harus menghiburnya? Apa dia digugat lagi?
Bukan begitu.
Han-gyul terkena masalah, ya?
Mana mungkin Han-gyul begitu.
Bu Bom, cepat kemari.
Ada apa?
Hasil UAS sudah keluar.
Han-gyul pilih nomor tiga untuk setiap soal sejarah Korea.
Pasti ada kesalahan.
Coba lihat.
Apa dia gila?
Ada apa sebenarnya?
Matematika juga semua nomor tiga.
Ilmu hayati juga begitu.
Kenapa dia begitu?
Han-gyul, kau sudah selesai?
Baru sepuluh menit.
Ya.
Biar kucoba bicara dengannya.
Apa yang dia pikirkan?
Bisa jelaskan apa yang terjadi?
Menurutku itu tidak adil.
Apa?
Bu Bom.
Se-jin amat giat belajar.
Dia belajar lebih giat dariku. Kenapa selalu aku yang peringkat satu?
Bukankah yang bekerja keras seharusnya menang?
Lagi pula, aku tak ingin kuliah
dan hasil ujian tak perlu bagus.
Han-gyul.
Jadiβ¦
Aku paham bahwa kau memikirkan temanmu,
tetapi keadilan tak tercipta dengan melukai dirimu sendiri.
Kalian harus berusaha sebaik mungkin dan menghormati hasilnya.
Selain itu, jika orang pintar sepertimu
ingin keadaan adil,
kau tak boleh menahan diri,
tetapi harus membantu orang mengejarmu.
Sebagai wali kelas, aku harus beri tahu pamanmu.
Biar aku yang beri tahu.
Aku tak berpikir panjang.
Beri aku kesempatan
untuk memberitahunya sendiri kali ini.
Han-gyul.
Sejak kapan waktu makan begitu sunyi di sini?
Han-gyul, bukankah Bos aneh belakangan ini?
Dia berkata keluarga harus tatap muka
alih-alih menatap ponsel saat makan,
tetapi sudah berhari-hari terus melihat ponsel.
Makan.
Bukankah Han-gyul juga agak aneh?
Dia kaget jika mendengar namanya
dan gugup seperti sedang berbohong.
Ada yang ingin kau katakan?
Tak ada apa-apa.
Makanannya enak.
Hei.
Makanlah lagi.
WANITA ITU
Berkas sudah kukirim. Apa lagi?
Di mana?
Kenapa mengajakku kemari?
Kau tak tahan berada di sini,
makanya kau pergi.
Ya, aku tak tahan.
Setiap aku kemari, aku ingat dipukuli,
juga betapa miskinnya kita.
Memikirkan Ayah sebagai bagian tempat ini
membuatku muak. Aku tak tahan dengan semua itu.
Wanita itu mendatangiku.
Siapa?
Yoon Bom.
Maaf aku datang mendadak.
Aku dapat alamatmu dari Han-gyul.
Soal ituβ¦
Begitu, ya?
Kenapa kau menemuiku?
Belum lama, Pak Sun memberitahukuβ¦
Soal ayah kalian.
Aku tak punya tanggapan soal itu.
Tolong jangan cari aku jika untuk itu.
Dia berkata begini,
"Aku saja tak bisa memaafkan diriku. Siapa yang bisa memaafkanku?"
Lantas siapa
yang bisa memaafkan dia?
Maksudmu, itu aku?
Pak Sun masih mengurung diri dalam rasa bersalahnya.
Kurasa dia harus dimaafkan
agar bisa lepas dari ingatan itu.
Dan itu
hanya bisa diberikan oleh orang yang mengalami
penderitaan yang sama.
Akuβ¦
Aku orang yang membuang anak demi hidupku sendiri.
Kemiskinan? Aku sudah muak.
Dipukuli?
Aku tak tahan lagi.
Kulimpahkan rasa bersalah dan kewajibanku kepada Jae-gyu,
lalu lari tanpa menoleh ke belakang.
Rasa sakit?
Memberi maaf?
Kau pikir aku tak berkata begitu
kepada Jae-gyu karena aku tak sempat?
Bukan.
Itu karena aku malu.
Jika begitu, kau tak boleh lari lagi.
Aku mohon kepadamu.
Dasar bodoh.
Menyedihkan.
Tak tertolong.
Aku kabur meninggalkan anak dan masa laluku,
lalu hidup dengan percaya diri.
Kau salah apa hingga merasa tersiksa?
Kau bunuh siapa?
Bukan.
Ayah kita itu
bukan dibunuh olehmu, tetapi Tuhan.
Jae-gyu.
Bekas luka di lenganmu ituβ¦
No comments yet. Be the first to leave one.