The first 200 lines.
Dahulu aku skeptis,
dengan orang yang berlebihan membahas masalah psikis.
Sekarang aku mengalaminya sendiri.
Maaf, Om.
Tidak bermaksud mengagetkan.
Santai, Bung.
Kalau tidak menambah kecepatan dari sebelum turunan,
sangat berat untuk sampai ke sini.
Kau sendirian?
Sedang ingin sendirian.
Kalau beramai-ramai,
hanya mengobrol dan makan.
Iya.
Sering ke sini?
Baru tiga kali, termasuk ini.
Kau?
Ya, lumayan.
Dodi.
Andra.
Pertama aku ke sini, sekitar enam tahun lalu.
Bersama geng MTB-ku yang lama.
Masih pemula.
Dahulu ujung treknya belum di sini.
Masih di sana.
Wah.
Wah.
Gila!
Keren, Pak!
Bapak keren!
- Tadi maaf, ya. - Apa?
Maaf.
Tidak apa-apa.
Saya sudah biasa dilewati orang.
Mon,
kenalkan.
- Andra. - Ramon.
Dra.
Di sana,
Kampung Langit.
Kira-kira lima sampai enam kilometer dari sini.
Di sana ada saung di pinggir kali.
Setiap Sabtu dan Minggu biasanya ada jajanan di sana.
Ubi bakarnya, susu jahenya,
enak.
Masih sempat kalau mau ke sana.
Jangan sampai kesorean. Yuk!
Entahlah, Dod.
Kau tidak lihat pahaku? Sudah seperti paha panggang dibakar warga.
Tidak. Kapan-kapan saja.
Siang sampai sore akan ada urusan.
Namun, menarik juga.
Aku belum pernah ke sana.
Kau tahu, bagaimana caranya ke sana?
Dari sini.
Itu.
Bagaimana maksudnya?
- Dari tebing sini? - Iya.
Kenapa?
Yang benar saja.
Bagaimana?
Dari tebing sini?
Iya.
Setelah gundukan itu, ada area bebatuan.
- Terus ke bawah. - Batu?
Maksudnya semakin terjerembap, makin kebal aku menahan malu?
Justru itu asyik, Mon.
Banyak drop- nya, ada kecil, ada besar juga. Harus hati-hati.
- Kalau tidak yakin, jangan diambil. - Entahlah, Dod.
Shock -ku cuma 150, Bos.
160, Mon. Bisalah.
Condong ke belakang di tiap drop.
Heels down , jarak kaki sejajar.
Mudah sekali kau bicara.
Kau atlet!
Aku motivator hidup sukses!
Jual beli stok motivasi, Bung.
Dod.
Setelah pohon itu, masih tanah seperti ini atau sudah banyak batu?
Kita tidak lewat situ, Dra.
Kita lewat sana.
Ya? Kita jaga kecepatan.
Selama stabil, batu koral nge -drip di ban, itu aman.
Makin banyak batu, makin aman.
Kita ketemu akar-akarnya ketika masuk di hutan itu.
Wah, kalian memang sudah melampaui batas.
Nanti begitu pulang dari kampung itu,
kita tidak perlu lewat situ.
Kita mesti lewat jalan air panas.
Tidak lewat sini lagi.
Lewat sini?
Nah ini,
sedikit lagi, sampai.
Sudah.
Ya.
Tadi katamu ada urusan?
- Apa? - Ada rapat daring.
Gampang, bisa diatur.
Mon. Dod.
Masuk, ganti!
Ramon, Dodi, masuk, ayo!
Halo, Edo, temanku!
Kau di mana, temanku?
Aku dan Dodi sudah di ujung trek, di atas.
Sialan. Kau meninggalkanku.
Aku masih di jembatan kecil.
Tanjakan ini tidak bisa sedikit lebih landai, ya?
Berdiri begini. Pegal!
Karena itu kalau mau sampai di sini, dari bawah jangan berhenti.
Namun, memang berat badanmu, tidak sesuai dengan hukum fisika.
Mulai menghina fisik, sialan!
Oleh karena itu, kubilang hukum fisika.
Do!
Kau hanya menang di turunan, Do!
Tentu saja!
Kau tahu, 'kan, keturunan keluargaku tampan-cantik.
Hei, Cumi! Aku kalau sudah menghadapi tanjakan begini,
ampun! Langsung jelek wajahku.
Apa sebaiknya aku pulang saja?
Ya sudah, pulang dulu saja.
- Apa? - Bercanda.
Tunggu di situ. Aku sebentar lagi turun.
Nah, begitu! Bagaimana dengan Dodi?
Entah. Sepertinya Batman dan Iron Man sangat cocok.
Batman?
Sudah, kalian jalan dahulu saja.
Aku masih tanggung. Belum berkeringat.
Astaga, Dod!
Keringatku malah sudah habis.
Apa tidak ada minimarket di deket sini? Kubeli stok keringatnya.
Kalau begitu, nanti beli bersamaku.
Ya, sudah. Jangan ke mana-mana, ya.
- Dah, tunggu di situ! - Iya!
Anak ini pasti marah-marah. Aku suka itu.
Baiklah!
Sebentar dulu.
Mon. Turunan, jangan duduk.
- Pantat berat ke belakang. Ingat! - Baik!
- Aku pulang dulu. - Hati-hati, ya.
- Baik. - Hati-hati, Mon!
- Hati-hati, ya. - Dah.
Dod.
Aku ingin pukul 14:00 sampai di rumah, sempat tidak?
Dra, kalau tidak yakin, lebih baik jangan.
Bersepeda di trek seperti ini,
tidak boleh ada beban pikiran.
Tidak fokus, bahaya untukmu.
- Begitu. - Iya.
- Ya sudah, aku pulang. - Kau pulang ke mana?
Kebon Jeruk.
Tunggu, Dra.
Kartu namaku.
IG-ku dan e-mail -ku.
Saranku,
kalau bersepeda di trek begini, jangan sendirian.
Bahaya. Aku lanjut, ya.
- Dod, terima kasih, ya. - Ya.
Barusan kausarankan jangan bersepeda sendirian ke sana.
Nama tengahku itu bahaya.
Terus nama akhirmu?
Banget. Dodi Bahaya Banget. Dah!
- Ayo, Dra! Berangkat! - Ya.
- Hati-hati, Om. - Baik, terima kasih, Dra!
Penggemar olahraga.
Tri.
Lastri.
Tri?
Lastri.
Lastri!
Lastri minta izin tiga hari.
Rumahnya kebanjiran.
MEMORI BERSAMA SOFYAN LIMA TAHUN LALU
MEMORI BERSAMA SOFYAN LIMA TAHUN LALU
- Hei, Dra. - Dan.
- Baru saja bersepeda , ya? - Iya.
Kenapa tidak ajak aku?
Aku sedang penat.
Sedang ingin sendiri.
Penat terus. Kenapa lagi?
Besok pagi, ya.
- Pakai mobilku saja. - Eh!
- Kau trailing ke mana tadi? - Baiklah.
- Cibingbin ? - Selamat malam. Dadah.
Andra?
Hei!
- Ya, Mas? - Malam, Bu. Rumah Pak Andra?
Dra?
Sudah dibayar, belum?
- Hei. Ssst! - Belum.
Ya, tadi aku ke Cibingbin.
Aku tadi melihat Vina.
Siaran langsung di TV.
Sepertinya sedang promo judul film baru, ya?
Iya, baru pulang. Diantar adikku.
Kalian masih saling diam?
Begitulah.
Aku merasa seperti hantu.
Makin tidak terlihat saja di mata dia.
Mungkin dia lelah, Dra. Namanya juga pulang syuting.
Mengobrollah.
Apa harus selalu aku yang memulai omongan?
No comments yet. Be the first to leave one.