The first 200 lines.
Sekarang giliranku bertanya.
Apa yang kamu lakukan pada anak itu?
- Kamu pikir aku yang melakukannya? - Bukan, tentu saja polisi.
Kalau tidak, untuk apa repot-repot menyembunyikan jasad anak itu?
Hei, kamu bertingkah sombong setelah menangkap pembunuh itu,
lalu kamu takut akan ketahuan bahwa ternyata salah tangkap, bukan?
"The Scarecrow."
Pak...
Sedang apa kamu?
Jawab aku, Berengsek!
Aku...
Hei, sadarlah. Sadarlah.
Aku bertanya sedang apa kamu.
Hye Jin...
Dia sudah meninggal.
Kamu...
Apa maksudmu?
Jasad anak...
Jasad anak itu... Aku...
Aku yang menguburnya.
Kalau begitu, kita kubur dia.
Apa?
Hanya untuk sementara.
Sampai kita menangkap pelaku sebenarnya.
Tapi...
- Bagaimana bisa kita mengubur anak? - Apa kita mengubur hidup-hidup?
Sudah kubilang hanya sementara. Kamu pikir ada yang mau lakukan ini?
Jika masalah ini terungkap, kita semua akan turun pangkat.
Kita akan dicopot dari kasus ini! Kita tidak bisa menangkap pelakunya!
Pilihlah.
Mau menutupinya sementara dan menangkap pelaku aslinya,
atau kalian akan menyerah begitu saja?
Park Dae Ho.
Cari sekop.
- Pak Kepala! - Cepat, sial!
Dia benar, Dae Ho.
Kalau bukan kita, siapa yang akan menangkapnya?
Benar, bukan? Kita akan segera menangkapnya.
Tapi bagaimana jika
kita tidak bisa menangkap pembunuhnya?
Itu tidak akan terjadi.
Tidak akan.
Sidang Im Seok Man akan dilanjutkan sesuai rencana.
Sebagai pembunuh berantai.
Orang yang akan kita tangkap nanti adalah penirunya.
Bolehkah kita melakukan itu?
Tidak masalah, bukan?
Lagi pula, keduanya akan dihukum mati.
Ya. Perkataanmu benar.
Benarkah itu?
Bagaimana bisa... Bagaimana bisa seorang jaksa...
Bagaimana bisa seorang polisi...
Bagaimana bisa polisi mengubur anak? Dasar berengsek!
Seharusnya kamu hentikan mereka! Hentikan bagaimanapun caranya!
Bagaimana aku bisa mencegah mereka?
Semua orang memberiku perintah.
Bagaimana aku...
Aku bisa apa?
Apa kamu hanya bisa menurut? Apa kamu orang-orangan sawah?
Kamu adalah manusia, Berengsek! Kamu manusia!
Bagaimana bisa manusia melakukan perbuatan sekeji itu?
Pak.
Aku melakukannya karena takut.
Ibuku tidak punya sandaran lain selain aku.
Aku takut tidak bisa menjadi polisi lagi.
Aku benar-benar ketakutan, itulah sebabnya...
Pak.
Aku tahu perbuatanku bersalah.
Itu sebabnya aku ingin memperbaikinya...
Sehari sebelum pencarian...
Hye Jin... Aku kembalikan jasadnya ke tempatnya semula.
Tapi...
Tapi... Sial!
Jasadnya tidak ada.
Jasadnya lenyap tanpa jejak.
Sialan!
Dae Ho.
Kita harus menemukan Hye Jin.
"Modako."
Si Yeong.
Sudah berapa lama kamu di sini?
Sekitar 30 menit? Dia tiba-tiba datang mencarimu.
"Bir, Soju, Miras, Wiski, Camilan."
Kamu sudah datang.
Rupanya kamu bergaul dengan orang-orang seperti ini.
Kalian semua, tolong keluar.
- Kenapa kamu datang kemari? - Kudengar ini tempat langgananmu.
Jadi, aku datang untuk melihat tempat seperti apa ini.
Kenapa kamu tidak memberitahuku?
- Pemiliknya teman sekelasku. - Bukan.
Bukan itu maksudku.
Tentang ibumu.
Sampai kapan kamu berniat menyembunyikannya dariku?
Bagaimana kamu bisa tahu?
Apa itu penting?
Ayahku bilang tidak masalah karena sudah tercatat di kartu keluarga,
tapi bagiku tidak.
Darah daging wanita penghibur?
Anakku akan mewarisinya.
Aku merasa tidak nyaman
dan itu menjijikkan.
Jadi, darahku menjijikkan?
Maaf jika kamu merasa terhina.
Pernikahan ini akan batal, bukan?
Sepertinya tidak.
Bagaimana jika aku mengungkap anak luar nikah ayahmu
ke seluruh dunia?
Karier politik ayahmu
bisa kuhancurkan.
Kamu tahu soal anak luar nikah ayahku?
Kamu juga sudah tahu, bukan?
Kang Sun Yeong. Kamu sayang dia karena dia adikmu, bukan?
Siapa katamu?
- Aku ingin meminta sesuatu. - Akan kuselidiki secara resmi.
Kalau begitu, apa Gi Beom bisa dibebaskan?
Priamu hanya ditampar beberapa kali. Tapi priaku
kehilangan nyawanya.
Karena ulah pembunuh bajingan ini!
Seharusnya kamu jangan datang ke sini.
Anak ini adalah darah dagingmu.
Aku bahkan menamainya sesuai tradisi pemberian nama keluargamu.
Namanya Sun Yeong.
Untuk apa kamu berikan nama itu kepada anak perempuan?
Kumohon, masukkan anak ini ke dalam kartu keluargamu.
Lancang sekali wanita ini.
Diberi hati minta jantung. Dasar perempuan kurang ajar.
Beraninya dia mengancamku!
Ayah.
Apa Kang Sun Yeong benar-benar putri Ayah?
Benar.
Kenapa Ayah tidak bilang lebih awal? Jika aku tahu lebih awal...
Kalau kamu tahu, kenapa?
Kamu pikir kamu tidak akan
menjadikannya sasaran kebencianmu sendiri?
Ayah, jika keberadaan anak luar nikah Ayah terungkap,
kritik terhadap Ayah akan sangat besar.
Sial.
Anak itu...
Kita harus menerima anak itu.
- Apa? - Daripada mereka yang ungkap,
lebih baik kita umumkan sendiri.
Kamu yang bertanggung jawab
dan selesaikan masalah ini dengan Sun Yeong.
- Ayah. - Seandainya kamu bersikap benar,
semua ini tidak akan terjadi, bukan?
Kukira pembunuhnya sudah tertangkap! Kamu malah tangkap orang yang salah!
Meski pelaku sebenarnya tertangkap, kita hanya impas.
Aku bahkan tidak punya muka di hadapan Pak Menteri.
Bagaimana dengan kakak laki-laki anak itu?
- Dia sekarang ada di Kangseong. - Cepat usir dia.
Baik.
Kita pisahkan dia dari kakaknya agar mudah mengambil hatinya.
Aku mengerti.
"Harian Kangseong."
Permisi.
- Sun Yeong. - Ji Won.
- Masuklah. Kami sudah menunggu. - Terima kasih.
- Baik. - Lewat sini.
Tidak perlu khawatir. Hubungan mereka tidak seperti itu.
"Kang Sun Yeong."
- Hei. - Ya?
- Wanita muda itu. - Ya.
Apa dia mengenal Reporter Seo?
- Ya. - Apa hubungan mereka?
- Bisa dibilang seperti saudara. - Apa?
Persidangan Pak Im, tersangka utama pembunuhan berantai Kangseong,
yang telah merenggut tujuh korban jiwa, masih berlangsung.
Namun, baru-baru ini, terjadi pembunuhan dengan metode yang sama
hingga persidangan dihentikan sepenuhnya.
Munculnya pembunuhan baru ini
menimbulkan kemungkinan bahwa Pak Im bukanlah pelaku sebenarnya.
Namun, kejaksaan tetap bersikeras ini kasus tujuh pembunuhan,
menegaskan bahwa Pak Im adalah pelakunya,
dan menyatakan akan melanjutkan persidangan
dengan mengubah surat dakwaan untuk kasus tersebut.
Ya, ini Seo Ji Won dari Harian Kangseong.
Halo?
Aku Im Ji Hye.
Aku kakak Im Seok Man.
Korban yang ditemukan kemarin adalah Hong Yeo Jin, usia 26 tahun.
Dia juga dicekik dengan stoking. Dilihat dari modus operandinya,
ini jelas perbuatan si pembunuh berantai.
Baiklah.
Mengenai penghargaan itu, aku sudah minta maaf ke Pak Menteri.
Apa yang dia katakan?
Aku bilang akan mengembalikan penghargaannya,
tapi karena kita sudah menangkap satu pembunuh
katanya tidak akan ada masalah, asal pembunuhnya segera ditangkap.
Baik.
Kamu juga sudah bekerja keras selama ini.
Sekarang kembalilah ke wilayahmu.
Sepertinya sejak awal kamu tidak berniat menangkap pelakunya.
Aku dan kapolsekmu sama-sama merasa
sebaiknya kita bekerja masing-masing daripada menjadi tim.
Dia juga memintaku segera memulangkanmu.
Aku mengerti maksudmu. Baiklah.
"Ruang Referensi."
Apa menurutmu dia akan patuh begitu saja?
Jika dia berhasil menangkap pelakunya lebih dahulu,
pangkat kalian akan diturunkan, dimutasi,
No comments yet. Be the first to leave one.