The first 200 lines.
Film ini didedikasikan untuk mereka yang kehilangan nyawa saat berjuang
Mempertahankan kebebasan melawan kekuatan politik yang tidak adil
Ketika aku SMA kelas satu, tahun 1980.
Bayangkan betapa panasnya bulan Mei.
Aku tidak bisa menjelaskan betapa baunya. Itu pertama kalinya
aku menyadari betapa menusuknya bau busuk yang keluar dari mayat.
Karena bau itulah mereka membakar dupa yang sangat banyak.
Menakutkan.
Apa maksud dupa ini?
Apa maksud peti mati ini?
Lalu mengapa keluarga mereka menangisi peti mati itu?
Situasi ini...
...kenapa separah ini?
Tentu aku merasa menyesal.
Aku juga padahal bisa menjadi seperti itu.
Kalau aku terus menekuni balet, aku bisa menjadi balerino yang hebat.
Aku kuliah dengan membawa mimpi yang besar.
Tapi suatu hari
saat sedang masuk kelas balet, aku melihat mahasiswa lain sedang demo
sambil meneriakkan slogan demokrasi, lalu aku berpikir.
"Siapa aku?"
Hanya karena meminta demokrasi
ada warga yang ditangkap dan di penjara
juga disiksa.
Lalu jika mereka mati,
itu adalah masa di mana kematian mereka dirasa tidak adil.
Itulah Korea Selatan pada tahun 1980.
Menari Bersama Angin
Ribuan, puluhan ribu orang telah mati,
sebenarnya bisa saja ratusan ribu orang mati.
Sekarang juga mereka sekarat.
Di mana-mana, di jalan, di pabrik, di penjara.
Ada anak muda yang menari di jalanan.
Orang menyebutnya Si Penari Jalanan.
Kenapa dia tidak menari di panggung megah,
tapi malah meliukkan seluruh badannya di jalan?
Republik Korea Selatan
Saat piala dunia di Korea
Hyo-sun dan Mi-seon mati ditembak oleh tank di Uijeongbu, 'kan?
Tetapi, sama sekali tidak menjadi isu, karena terkubur oleh masa piala dunia.
Hatiku sakit sekali.
Tentu saja...
...yang namanya piala dunia adalah acara akbar.
Itu merupakan hal besar untuk masyarakat Korea.
Tapi dua anak gadis muda terbunuh begitu saja oleh tank.
Media sama sekali tidak menayangkan kejadian itu.
Rasa kehilangan kami saat itu begitu besar.
Sakit sekali hati kami.
Karena mereka anak-anak yang masih sangatlah muda,
untuk mengekspresikan kematian mereka,
adalah hal yang sangat sulit untukku.
Sangat menusuk hati.
Orang-orang bilang, "Tolong lakukan tarian, Pak Lee Sam-hun."
Tentu saja aku harus melakukannya.
Tapi aku sangat takut.
Bagaimana caraku mengekspresikan rasa sakit ini?
Tangkap!
Ada orang yang mati!
Semuanya! Orang-orang pada mati!
Di dalam kegelapan dan kesempitan
kau membakar tubuhmu demi menerangi kegelapan itu.
Seperti apa maumu,
penindasan terhadap serikat buruh telah berhenti!
Kami usir tiga pihak penghancur serikat buruh.
Maka, hiduplah kembali!
Upacara pemakaman dilakukan dengan alasan yang berbeda-beda.
Ada yang untuk petani yang tumbang lalu mati di jalan.
Juga untuk pekerja buruh yang mati.
Juga untuk orang-orang miskin yang dipukuli sampai mati oleh diktator.
Situasi yang membuat putus asa.
Aku...
...sebagai penari,
aku tak bisa bercerita tentang keputusasaan terus, bukan?
Aku harus memberikan kekuatan agar mereka bisa berdiri kembali.
Dengan gerakanku.
Namun, bagaimana aku memberikan harapan itu?
BIS CEPAT
Aku kelelahan saat bepergian jauh menggunakan bis.
Aku tidak mau pergi jika memang tidak harus.
Tapi hari ini, ada acara keluarga.
Keponakanku menikah. Jadi aku datang.
Pada tanggal 7 Februari...
- Sudah jauh-jauh datang, minumlah. - Ayo cepat bawakan.
Dia bilang, "Kak, aku ingin belajar balet."
Tentu saja aku pun terkejut mendengarnya.
Ditambah, aku harus memberi tahu orang tua tentang hal ini, 'kan?
Namun, mereka tidak akan pernah mengerti.
Itu waktu dia SMA kelas satu.
Aku suruh dia menyerah. Tapi dia bersikeras. Mau bagaimana lagi?
Lalu aku coba meyakinkan ibu, lalu beliau bilang, "Untuk apa pria menari?"
Karena dia pria, bukan wanita.
Kami merasa tidak nyaman dengan keinginan adik kami menari balet.
Saat melihat Sam-hun, banyak hal yang membuat kami sedih.
Padahal kalau dia memang mau, seharusnya dia teruskan sampai selesai.
Setidaknya sampai dia punya nama.
Namun, dia malah memimpin demo.
- Kami sangat mengkhawatirkannya. - Waktu itu kami sangat cemas.
- Saat itu kau bisa benar-benar mati. - Ya. Kami kira hal buruk terjadi padanya.
Hatiku benar-benar...
Dia pernah dibawa ke kantor polisi tiga kali sambil di borgol.
Adikku tidak menikah.
Dia menari untuk menenangkan arwah para demonstran yang mati tidak adil.
Adikku sama sekali tidak ada penghasilan demi menghibur rasa sakit mereka.
Jika hanya kerja sukarela, ya begitu.
Hidupnya sendiri yang susah.
Aku tidak bisa melakukan itu, ternyata Paman sudah melakukannya.
Hal itu...
...baru aku ketahui.
Pamanku benar-benar orang yang hebat.
Seluruh Korea Selatan
tahu tentang Penari Jalanan Lee Sam-hun. Hanya kami yang tidak tahu.
Tentu saja hatiku prihatin.
Dia bertelanjang kaki di tempat dingin.
Saat dia menari di Gwanghwamun waktu itu,
hujan turun dengan sangat lebat.
Aku sangat sedih. Bagaimana kalau dia sakit?
Kami sedih sampai menangis.
Kami merasa tidak berguna menjadi kakak.
Saat ayah dan ibu meninggal, yang paling sedih adalah si bungsu.
Iya, 'kan?
Yang paling banyak menangis, yang paling banyak bersedih.
Kenapa aku harus melakukan pekerjaan ini?
Kalimat itu juga sebenarnya sedikit ambigu.
Namun...
...aku melakukannya sampai sekarang.
Aku bukan...
Aku bukan...
Aku bukan pendeta.
Aku juga bukan psikiater yang bertugas menghibur mereka.
Namun, anehnya...
...aku menjadi peran itu.
Bukan menyesal.
Menyesal apanya? Bukan itu.
Woo-gyun, kau di dalam?
- Ya. - Halo.
Senang bertemu denganmu.
- Kursimu di sini? - Ya.
Bolehkah aku duduk di sini?
- Kemarilah. - Ya.
- Aku memanggilmu karena ada kabar baik. - Oh, begitu?
- Bagaimana pertunjukanmu? - Ya, masih ada beberapa.
Ada acara di Jura, Prancis di bulan April di mana shaman dari 27 negara berkumpul.
Lalu ini adalah acara yang diadakan setiap tahun.
Shaman Korea juga diminta untuk hadir.
Jadi aku ingin kau pergi menghadirinya.
Namun, Woo-gyun, aku bukan shaman , bagaimana bisa aku pergi ke sana.
Aku mengatakan pada mereka bahwa akan ada dua atau tiga
shaman Korea dan penari tradisional untuk menenangkan arwah.
Mereka kemudian mempertimbangkannya, lalu mengirimkan undangan dengan antusias.
INSTITUT UNTUK RASA TAKUT KETINGGIAN
Awalnya, yang tersulit adalah 30 menit sebelum naik dan 30 menit setelah masuk.
Setelah pesawat mencapai ketinggian yang stabil, kecemasan anda akan mereda.
Bis cepat juga sama sesaknya.
Bis cepat sekarang tidak bisa membuka jendela.
Sama saja ternyata.
- Kalau KTX? - Belum pernah naik, sekalipun belum.
Semua pasien yang memiliki klaustrofobia tahu bahwa penyakit mereka
bukanlah penyakit yang bisa membuat mereka mati, pingsan,
hilang kesadaran, atau menghentikan jantung mereka.
Rasa takutnya dari membayangkan hal tersebut.
Apa yang membuatku begini?
Kenapa aku...
- ...harus begini? - Kenapa membayangkan?
- Ya. - Kenapa aku repot begini?
Ada satu waktu di mana aku sering minum alkohol.
Waktu itu juga aku benar-benar takut langit.
Saya mengerti maksud anda.
- Merasa terjebak di bawah langit, ya? - Ya. Aku merasa seperti terkubur.
Aku pernah begitu.
Aku bisa pergi menggunakan perahu ataupun kereta api.
Aku bisa sampai Eropa dengan menggunakan alat transportasi.
Namun, aku juga khawatir saat pulang.
Apakah aku bisa...
...kembali dengan hati yang nyaman.
Apakah aku harus kembali menggunakan pesawat, atau kereta api.
Aku juga mencemaskan hal itu.
Banyak hal yang mengecewakan dari kehidupanku.
Di posisi ini, aku sekarang...
...banyak yang mengecewakan di hidupku,
sebenarnya sering sekali aku berpikir untuk kabur.
Namun...
...besok aku akan pergi, harapanku adalah...
...setelah meninggalkan tanah Korea,
semoga bisa menjadi kesempatan baik untuk menilai diriku sendiri secara objektif.
Kesempatan? Semoga bisa menjadi sebuah kesempatan.
TERMINAL PENUMPANG INTERNASIONAL
Kapal tidak apa-apa? Memang beda?
Jelas beda. Karena kalau naik pesawat seperti terkurung.
Di sini terbuka. Jadi terasa sangat segar.
- Jadi aku suka. - Ya, betul.
- Tidak bisa dibandingkan, bukan? - Iya, benar.
Kita akan menghabiskan waktu sehari di sini?
Mereka bilang akan menghabiskan waktu 22 jam.
Banyak penari balet yang ingin belajar ke Rusia dan Uni Soviet saat itu
lalu berlatih teater di sana.
Itu waktu aku berusia 20 tahun, sekarang sudah lewat 50 tahun.
Kini aku menginjak tanah Rusia, rasanya sudah tergantikan.
Ada rasa berdebarnya.
Karena gangguan paniknya, jika naik pesawat bisa sampai dalam 2 jam
ia memilih menaiki perahu dan sampai di Vladivostok dalam waktu 22 jam.
No comments yet. Be the first to leave one.