The first 200 lines.
Kenangan akan wajah cantikmu.
Hujan membasahi pipimu.
Tanganmu.
Kakimu dan senyummu.
Air matamu bercampur dengan hujan.
Kenangan akan dirimu.
Kau ingat bagaimana kita pertama bertemu?
Hei! Terima kasih!
Terima kasih.
BERDASARKAN PROGRAM TELEVISI "PURE SOUL"
Tadi kutinggal. Mengambil sesuatu di mobil.
Aku baru membelinya.
Nona.
Kutaruh di sini.
Biar kubayar.
Tak perlu. Ini kebiasaanmu?
Minum kopi orang lain?
Kau punya GCash? Akan kutransfer.
Kubilang tak perlu. Kau keras kepala.
Kenapa marah? Kubilang kubayar.
Tak ada alasan untuk berbuat bodoh.
Ambil saja.
Dasar berengsek.
- Sombongnya. - Kasar sekali.
- Seperti sedang menstruasi. - Mungkin.
Nona.
Kopimu, rasanya nikmat.
- Nikmatilah. - Nikmatilah.
Kembali ke momen itu.
Dalam pikiranmu.
Dalam hatimu.
Kembalilah padaku, cintaku.
Kembalilah padaku.
Kau dan Roy benar-benar putus?
Bibimu Fe menelepon.
Bertanya apa kau mau liburan ke New York.
Aku terlambat.
Kenapa tak ambil cuti kerja?
Beberapa hari saja?
Aku tak sakit, Ayah.
Dah, Ayah.
Dah.
Dah, Bu.
- Dah. - Dah.
Bisa periksa gambarku?
Bos bilang kurang bagus. Aku tak tahu apa yang dia mau.
Ini bagus.
Hanya terasa agak padat di sini. Terlalu ramai.
Ya, kau benar.
Baiklah. Terima kasih.
- Kenapa belum tidur? - Hanya menyelesaikan ini, Ayah.
Ayah,
maafkan aku tentang segalanya.
Kenapa minta maaf?
Aku tak menuruti Ayah.
Ayah dan Ibu melarangku pacaran dengan Roy.
Tak boleh pacaran dengan pria yang sudah menikah.
Aku tetap melakukan yang aku mau.
Ayah kecewa kepadaku?
Tentu, pada awalnya, ya.
Namun, lupakan soal itu, Nak.
Kami selalu mendukungmu.
Itu menyakitkan, Ayah.
Rasa sakitnya akan berlalu.
Kau akan melupakannya.
Kuharap itu terjadi sekarang.
Ayah bilang bisa ikut mobil Endoy.
Hanya sekali ini aku bisa mengantar Ayah ke lokasi. Jangan menolak.
Kau tak mau mengganti mobil ini?
Ayah takut mobilnya rusak saat kau pakai.
Tidak. Ini hadiah kelulusanku dari Ayah.
Selain itu, aku punya banyak kenangan bersama mobil ini.
Kau terlalu banyak bicara lagi. Kau tak mendengarkan.
Kenapa? Apa yang terjadi?
Dindo tak mau menuruti instruksi lagi.
Pak, aku hanya menjelaskan kepada pria tua ini…
Jangan sebut "pria tua"!
…bahwa gedungnya akan roboh kalau balok dan penyangga tak ditambah.
- Dia selalu mau memangkas biaya. - Aku tak salah.
Kau pikir kau lebih tahu. Kau tak pernah memikirkan biaya klien.
Kau hanya bicara omong kosong.
- Berengsek! - Harus dipecat!
Tunggu! Berhenti!
Dindo benar.
Namun, kau tetap harus menghormati Morales.
Dia penyeliamu.
Ya, Pak.
Permisi, Pak.
Kenapa tampaknya sangat mendesak?
Tamuku datang dari luar negeri, jadi perlu diperbaiki minggu ini.
Baik, aku akan tanya ayah.
Terima kasih, Sands.
Apa yang bisa kulakukan tanpamu?
Baiklah, dah!
Nona, ini pesananmu.
- Terima kasih! - Makasih!
- Halo, Ayah? - Baik, sebentar.
Ayah, Cora tanya apa Ayah kenal tukang kayu yang bagus.
Yang ahli tentang desain. Dia sedang merenovasi rumah leluhur.
Pak… Hei, Pak.
- Biar kulihat. - Pak.
Sayang sekali.
Kau terlambat.
- Benar? - Siapa?
Dia.
Siapa?
Musuh…
- Bukan, Pak. Hanya saingan. - Bukan, aku…
Hei! Dia bahkan tak kenal musuhmu.
Maaf, Pak.
Late es.
- Baik, Pak. Terima kasih. - Makasih.
- Silakan. - Terima kasih.
Panas.
Apa kabar?
Baik-baik saja.
Sungguh, baik saja.
Sudah tak menangis.
Sudah kuhapus semua fotonya dari ponselku.
Tepatnya, kuhapus semua foto kami.
Hai, Dindo. Ini Sandra.
Sahabatku.
Hai.
Sisi luar sudah dilapisi kedap air.
Warna kayunya akan tetap alami.
Tak akan merusak desainnya, jika kau setuju.
Tentu, kau putuskan saja.
Aku percaya kau.
Kau sangat direkomendasikan.
Tunggu.
- Maaf. - Tak apa-apa. Cuma keliru.
Corak cokelatnya akan tetap berubah. Akan kami samakan.
Ini baru lapisan pertama.
Kami selesaikan melapisi kedap airnya sesudahnya.
Baiklah, karena kupikir…
Ayahmu mengirim orang yang ahli.
Dia juga tampan.
Namun, tak punya tata krama.
Tolong bantu.
Sepertinya kau butuh bantuan.
Aku tak butuh bantuanmu. Sedang menelepon bengkel.
Sedang kau telepon?
Hanya saja…
Baiklah, nanti kubayar.
Kau senang memamerkan uang, ya?
Sudah selesai.
- Itu saja? - Cobalah.
Terima kasih!
Makasih!
Kakek.
Dindo.
Banyak pesanan?
Tampaknya bagus, Kakek.
Anak tetangga yang minta.
Harus selesai besok, pas ulang tahunnya.
Kakek.
Aku mau jadi tukang kayu seperti Kakek.
Tukang kayu?
Tidak, Dindo.
Kau harus menjadi arsitek.
Hidupmu akan lebih baik dari Kakek.
Lihat yang terjadi.
Kakek kecelakaan di tempat kerja. Kehilangan kaki.
Apa perusahaan memberi Kakek ganti rugi?
Tidak.
Itu tak boleh terjadi kepadamu, Dindo.
Kakek tak akan membiarkan itu terjadi kepadamu.
Kenapa ini? Aku tak lihat sebelumnya.
Tak apa-apa. Palu jatuh kemarin.
Saat menunduk mengambilnya, lutut Kakek terbentur batu.
Hanya tergores.
Kakek yakin tak mau tinggal bersamaku?
Kau sudah tahu jawabannya, Dindo.
Jangan keras kepala.
Aku pergi dulu.
- Baiklah. - Aku sayang Kakek.
Kakek juga sayang kau.
- Jaga dirimu, ya? Selalu berhati-hati. - Ya, Kakek.
Terutama saat naik motor ini.
Kau satu-satunya cucu Kakek.
Jangan ugal-ugalan!
Banyak yang begitu. Namun, aku tidak.
Baiklah. Bagus.
Nona mencari sesuatu?
Tidak.
Terkadang hanya perlu melihat ke sekeliling, Nona.
Bukan apa-apa. Ini kopinya.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Ketumpahan. - Maaf!
- Maafkan aku! - Tak apa-apa.
Kau butuh handuk basah.
- Tak apa-apa. - Handuk basah.
- Aku tinggal dekat sini. - Handuk…
- Aku bisa jalan. - Kuantar.
- Tak perlu. - Aku memaksa. Ini salahku.
Maafkan aku.
Ayo kuantar. Maaf sekali lagi.
- Aku bisa sendiri. - Ayo. Tak apa-apa.
Aku sungguh minta maaf.
Orang-orang zaman sekarang.
No comments yet. Be the first to leave one.