The first 168 lines.
PENAFIAN
Tsunami terjadi akibat gempa
berskala 9,1 sampai 9,3 skala Richter
- yang mengakibatkan gelombang tsunami⦠- Akses putus akibat material.
Responden akan terus melakukan penelusuran di kawasan yang terdampak.
- Kami akan kembali kepada Anda⦠- Tsunami menghantam pesisir
dalam hitungan menit setelah gempa besar mengguncang.
Ratusan warga dilaporkan hilang.
Gelombang setinggi belasan meterβ¦
Foto ini gue dapat dari Pak Panji.
Pak Panji adalah salah satu anggota tim SAR yang bertugas di Banten.
Dari 29 posko yang tersebar di Banten,
fokus utama kita
ada di posko yang dekat dengan Masjid Al-Mahsyar.
Ini baru lima hari pascabencana gempa dan tsunami,
dan trauma mereka akan bencana masih membekas di hati.
Mereka terpaksa menghadapi kenyataan yang baru.
Trauma kehilangan orang tua.
Beberapa dari kita
melihat foto-foto bencana seperti ini
seperti kita melihat foto-foto bencana yang biasa kita lihat di internet.
Biasa saja.
Ya, karena enggak terjadi di depan mata kita.
Tapiβ¦
Dengan bantuan kita, sekecil apa pun,
akan membuat mereka sadar kalau mereka itu tidak sendirian.
Untuk teman-teman yang ingin membantuβ¦
Bisa transfer di rekening yang ada di layar ini, atauβ¦
Dengan tunai yang akan dikumpulkan oleh teman-teman saya di sini.
Sekian dan terima kasih.
Ma, ini boks yang terakhir, ya. Di gudang udah enggak ada lagi.
Hmm.
Udah, biarin. Biarin, Mama aja yang pakaian.
Kamu mendingan urus ini, mainan-mainan lama kamu.
Udah Mama pisahin juga, siapa tau masih ada yang mau kamu simpan.
- Iya. - β¦perkembangan Tsunami Banten.
- Jadi, kami sudah berkoordinasi⦠- Ma, Papa, Ma.
β¦dengan pemprov Banten untuk memastikan semua bantuan tersalurkan dengan baik.
Si Papa rambutnya beda lagi.
Yahβ¦
Tetap aja Papa ganteng.
- Oh, iya. -
- Gambar aku waktu kecil Mama simpan? - Mana? Lihat.
Ini.
Iya, lagi.
Aku kira udah Mama buang.
Ya, masa Mama buang?
Lucu banget begitu. Itu kan, kenangan kamu waktu kecil.
Dulu, kamu pernah nangis-nangis pulang sekolah,
gara-gara guru agama kamu di kelas bilang,
"Kita enggak akan pernah tau
dosa apa yang kita lakuin yang bisa bikin kita gagal ngelewatin Sirat.
"Jatuh, deh, ke neraka." Katanya.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
- Pa? - Hmm?
Besok aku ke posko. Papa jadi blusukan, enggak?
Belum tau.
Halo, saya baru kena tsunami.
Saya selamat, tapiβ¦
Ketimpa puing, enggak bisa nyelamatin anak saya.
Azka!
Saya sendiri di sini. Tolong, tolong selamatin anak saya.
Tolong kirim bantuan ke sini secepatnya.
Ke Desa Asah. Asahβ¦
REKAM
REKAM
Paβ¦
Lihat, deh, Pa.
Aku nemu gambar waktu aku kecil, Pa.
Nih, Pa. Lihat, Pa. Ada yang kita bertiga, Pa.
- Ngelewatin jembatan Sirat⦠- Hei.
Ya?
Papa udah ngelakuin kesalahan besar.
Pa?
Mau ke mana? Papa mau pergi lagi?
Iya, ada yang harus aku urus.
- -
Kamu tidur dulu aja, ya. Enggak usah nungguin aku.
Oke.
- Pak. Kuncinya. - Ya?
Iya, makasih.
Enggak usah, saya cuma ada urusan sebentar.
Maaf, Pak, tapi Bapak tahu, kita harus tetap ikuti protokol.
Ke mana pun Bapak pergi, saya wajib mengawal Bapak.
Udahlah. Saya istirahat aja.
Arya.
- Ada apa, Pa? - Aryaβ¦
Papa butuh bantuan kamu.
Tunggu, Mas Arya.
Ada apa, Pak?
Ini ada di luar.
Oh, iya. Ini⦠Lupa saya.
- Makasih, ya, Pak. - Hati-hati, Mas Arya.
Halo?
Pa? Udah aman, Pa.
Sebenarnya kita mau ke mana, sih, Pa?
Ke rumah lama kita.
Ini⦠ada hubungannya sama kesalahan Papa?
Bukan cuma kesalahan, Arya.
Ini dosa besar.
- Papa udah⦠-
Masuk tol, ya?
Bentar, Pa, ini⦠Emang agak ke dalam ini.
- Tunggu bentar. - Biar Papa aja. Kamu fokus nyetir.
Pa!
Pa!
- -
Tiada Tuhan selain Allah.
Ya Tuhan kamiβ¦
Ampunilah dosa-dosa kamiβ¦
Ma?
Arya.
Sutβ¦
Ma, Papa mana?
Ma?
Tenang dulu, ya?
- Aku mau ketemu Papa, Ma. - Iya.
- Ya, Papa mana? - Iya, Arya. Arya bisa tenang?
Arya, Mama minta kamu yang kuat, ya?
Papaβ¦
Papa udah dimakamin kemarin.
Kita harus ikhlas, ya?
- Enggak. Enggak mungkin. - Eh, kamuβ¦
- Enggak boleh gitu. - Enggak mungkin.
- Arya. Arya! - Aku mau ketemu Papa sekarang.
- Arya jangan gini⦠- Mau ketemu. Papa di mana? Kamar berapa?
- Arya, jangan gini. - Aku mau ketemu Papa!
- Aku masih⦠Papa ada di sebelahku! - Papa udah pergi.
- Enggak, Papa di mana? Aku mau ketemu! - Arya, Papa udah pergi!
Papa udah enggak ada.
- Pasti gara-gara aku, Ma, Papa meninggal⦠- Enggak. Arya, dengarin Mama. Enggak.
Arya, Mama butuh kamu kuat, ya?
- Papa meninggal gara-gara aku. - Enggak, Arya.
Kita ikhlasin Papa, ya?
Yang penting, Mama sama kamu.
- - Ya, 'kan?
Asalamualaikum.
Pengemudi truk yang menabrak Malik sudah menyerahkan diri.
Dia mengaku salah, dan katanya ngantuk.
Dan⦠Tapi saya pastikan
hukum tetap berjalan hingga dia bisa mendapat ganjaran yang setimpal.
Satu ini⦠Saya enggak enak sekali bicara sama kamu. Gimana, ya?
Pemerintah mau segera menarik semua fasilitas Malik.
Tapi kalo misalnya kamu masih butuh waktu, Arya masih butuh waktuβ¦
Pelan-pelan saja.
Saya bisa atur itu semua.
Enggak apa-apa.
Saya dan Arya juga enggak pantas untuk menerimanya.
Ya, mungkin lebih baikβ¦
Diserahkan aja fasilitasnya untuk calon wakil menteri yang baru.
Itu satu lagi, ya. Itu kenapa Malik menolak protokolnya pada malam itu.
Kalau saat itu dia dan Arya
pergi bersama pengawal, kan, kejadiannya tidak seperti ini.
Arya baru siuman.
Jadi, saya belum berani nanya-nanya soal kejadian malam itu.
- Ya udah. Udah. - Iyaβ¦
Saya minta maaf, saya harus pergi.
Saya turut berdukacita sedalam-dalamnya.
Saya sangat kehilangan.
Kalau kamu dan Arya butuh apa, kamu segera hubungi saya kapan pun. Ya?
Saya serius. Kapan pun.
Ya. Terima kasih, ya.
Pak.
Panji?
Maaf, aku baru sampai sekarang.
Selama enam harian, aku mencari korban yang masih hilang. Jadi, aku baru bisaβ¦
Enggak. Enggak apa-apa. Beneran, enggak apa-apa.
Arya gimana keadaannya?
No comments yet. Be the first to leave one.