The first 200 lines.
00:01:2212
Penerjemah : Unickunru *_*
Momen dari pelanggaran.
Biasanya kecil, hampir tak terlihat.
Entah itu membalas sms mesum,
sering menahan kontak mata terlalu lama.
Atau mungkin pergi ke warkop yang kamu tahu tak seharusnya kamu tuju.
Jean, kamu sungguh jujur dengan dirimu?
Aku...
Aku punya momen kelemahan.
Itu singkat, tapi...
Aku merasa berhasrat.
Kebutuhan untuk pelarian...
dan hanya...
bebas dari segalanya.
Kurasa itu sebabnya kukira aku harus kembali dan menemuimu lagi.
Aku bertanya-tanya jika ini ada hubungannya
dengan fakta bahwa Melissa baru saja dibebaskan.
Tidak, aku sudah tinggalkan itu.
Aku harus merelakannya.
Aku sungguh tahu bagaimana mengendalikan diriku.
Bagaimana menangkap diriku...
sebelum aku sepenuhnya di keadaan sulit lagi.
Jean, ini aku, Allison.
Tolong telpon balik, 646-555-0174.
Kumohon, aku sungguh harus bicara padamu. Segera, kumohon.
Uh, yeah, jadi, dia sudah sehat dengan pemulihannya.
Um, kita pergi ke pertemuan baru minggu lalu.
Maaf, ini..
banyak bagiku untuk dicerna.
Ibunya risau dia berpotensial bunuh diri.
Dia tidak ingin bunuh diri.
Kamu tahu dimana dia terakhir menginap sejak dia tinggalkan ibunya?
Um...
Dia di tempat temannya Amber selama beberapa hari.
Dan setelah itu, um...
rumah mantan pacarnya.
-Nama pacarnya? -Mantan pacarnya.
Tom Devins.
Dia sebenarnya bertanggung jawab karena banyaknya pemakaian obat Allison.
Dan dia telah melakukan KDRT pada Allison sebelumnya juga.
Jika aku bisa dapat salinan catatanmu, itu akan membantu.
Uh, aku ragu betapa nyamannya aku dengan itu.
Ini protokol standar dalam membahas itu dengan pasien awal.
Yeah, aku mengerti.
Tapi apapun yang bisa membantu kami melacak prilakunya sangat berguna.
Atau kami bisa minta perintah pengadilan.
Apapun yang kubisa lakukan untuk membantu.
Cuma itu.
Aku, uh...
Aku beri dia catatanku. Aku beritahu dia tentang Tom.
Itu cukup terang-terangan.
Dia di ruang tunggu beberapa minggu lalu, benar?
Yeah.
Bahasa tubuhnya, kemarahannya, aku harusnya...
Aku harusnya melaporkannya dulu.
Polisi akan menanganinya.
Tapi...
Aku masih belum jelas, Jean.
Aku tak bisa memprediksi kalau Allison--
Tidak, bukan tentang Allison.
Tentang kamu.
Detektif Kelly menyebut di telpon kalau ibu Allison percaya
emosinya tidak stabil.
Itu keberangkatan yang sangat besar dari yang kamu katakan dalam pengawasan.
Aku..aku hanya tak ingin mengkarakterkan dia sebagai emosi yang tak stabil.
Ya, dia dalam pemulihan, tapi dia membuat kemajuan.
Dia sungguh berusaha. Sudah kubilang soal ini.
Aku bertanya-tanya bagaimana seharusnya kamu membentuk gadis ini.
Aku khawatir ini sebuah pola.
Dengar, Allison adalah pecandu.
Mereka manipulatif, karismatik, dan sering jadi pembohong terbaik.
Tapi kegagalanku disini hanya aku tak bisa pahami fakta bahwa mungkin,
mungkin dia bohong padaku, dan cuma itu.
Aku tak terlibat dengan ini.
Dan aku tentunya tak melanggar batasan profesional.
Kudengar kamu mencari-cariku.
Yeah, benar, tapi sudahlah. Jangan khawatir..
Tidak, tidak. Dengar, kini aku ingin bicara padamu.
-Ada apa? -Allison.
Dengar, dia tidur malam kemarinan, dan kini dia menghilang, benar?
Dia menghilang seperti itu.
Kupikir mungkin kamu mau tahu tentan itu
sejak kalian berteman dengannya sekarang.
Aku seharusnya mempercayaimu?
Aku mungkin bajingan, paham? Tapi aku bukan penculik.
Kamu pun harus akui, dia membuatmu sangat fokus padaku,
bahwa kamu tak pikir itu mungkin dia satu-satunya yang sakit jiwa.
Aku yakin dia memberimu omong kosong soal kanker ibunya juga, benar?
Doakan saja dia tak mengkhianatimu juga, nona.
Ini cantik.
Biru. Ya, aku suka biru.
Um, Alexis?
-Hey. -Hey, um...
Bisa kamu tutup pintunya?
Apa yang terjadi?
Entahlah. Sebenarnya, aku sungguh tak tahu.
Ada yang bisa kulakukan?
Aku harus pergi dan menjemput Dolly dari sekolah hari ini.
Jadi bisa kamu batalkan saja pertemuan dengan Allen?
Michael. Maksudku, bisa aku lakukan apapun?
Kuharap kamu bisa.
Kuharap juga begitu.
Makasih. Hey, aku...
sungguh senang kamu kembali ke mejamu.
Kuharap itu tak masalah untuk dikatakan.
Hey, ini Sam. Tinggalkan pesan.
Sam, ini Jean lagi.
Uh, aku sungguh perlu bicara padamu.
Bisa kamu telpon balik, tolong?
Ini penting. Makasih.
- Hey. -Hey.
- Ini bagus. -Mm-hmm.
Aku senang bertemu denganmu.
Percayalah, aku bisa pakai pelariannya saat ini.
Aku suka, tempatmu.
Makasih.
Keponakanmu sangat mirip denganmu.
Kami banyak mendapat itu.
Bisa kuambilkan minuman?
-Tentu -Bourbon tak masalah?
Yeah, bagus.
Oh, shit, bisa kamu ambilkan es, tolong?
Tentu.
-Fuck. -Apa?
Aku tak menduganya.
-Ini bukan milikku. -Jadi, punnya siapa?
Entahlah.
Aku, punya teman menginap disini. Dia bermasalah dengan obat-obatan,
dan aku tak tahu dia masih memakainya.
Aku tak ingin berpikiran soal itu sekarang.
Aku hanya ingin fokus padamu.
Bagaimana perasaanmu setelah tempo hari?
Lebih baik.
Kamu tahu, aku memikirkan Sam.
Seperti apa dia?
-Kamu punya fotonya? -Kenapa kamu perhatian?
Penasaran orang macam apa yang suka kamu tiduri.
Oh, benarkah?
-Apa itu membuatmu bergairah? -Mungkin.
Kamu suka memotret itu?
Ini, kamu juga bisa lihat Emily.
Dia manis, kurasa.
Oh.
Apa?
Kurasa dia ada semacam pesta pertunangna malam ini.
Maaf, aku hanya, tak tahu yang terjadi malam ini.
Hey, jangan minta maaf.
Sungguh, kalian punya sejarah panjang,
dan kalian juga jelas saling menyayangi.
Itu normal.
Yeah.
Dimana ini?
Hanya restoran di pusat kota.
Dengar, aku bersungguh-sungguh, aku sungguh tak peduli.
-Sungguh? -Mm-hmm.
bahkan tidak penasaran sedikit pun?
Mungkin itu akan membuat horny.
Kuharap tak ada yang mengenaliku.
Itu semua bagian dari keseruan, bukan?
Kamu benar. Kamu tak sepolos itu.
Itu mereka, benar?
Ugh, dia sangat alim.
Tak semua orang seliar dirimu.
Terserah.
Haruskah aku mendekat? Lihat jika aku bisa dengar sesuatu?
Kamu gila.
Kenapa? Tak ada yang tahu siapa aku.
Aku bisa coba mendapatkan foto.
Sebentar.
Biar kugunakan punyamu. Punyaku mati.
Pastinya sulit untukmu melihat itu.
Yeah, tentu agak aneh.
Kalian dulu dalam hubungan serius.
Tentu. Kami tersesat dalam dunia kecil kami beberapa saat, kurasa.
Pikirmu mungkin kamu tak memanfaatkan dia?
Mengendalikan?
Maksudku, meyakinkan dia mendapat tattoo?
Mungkin Emily mencintai dia apa adanya.
Bagaimana kamu tahu dia punya tattoo?
Kamu katakan itu malam kemarinan, ingat?
Hmm.
Lihat.
Oh, fuck me.
Kamu harusnya bicara dengannya.
Kamu gila?
-Disini, sekarang? -Yeah.
Pergilah, bilang betapa sintingnya ini, dan bahwa kamu mencemaskannya.
Kenapa aku akan lakukan itu di tengah pesta pertunangannya?
Karena kamu bilang sendiri, dia tak seharusnya bersama Emily.
Mungkin kamu bisa datang langsung padanya.
Kenapa kamu sangat ingin aku bersama Sam?
Aku hanya pikir dia bagus untukmu.
Katamu dia dapat diandalkan.
Kamu harus jujur padanya.
Kamu tahu bagaimana membuatnya merasa baik.
-Kamu pulang larut. -Yeah, ini malam yang berat.
Tak kusangka kita masih tinggal di rumah ini.
Hmm.
Kamu lah yang memilih ini.
No comments yet. Be the first to leave one.