The first 200 lines.
KEPADA ORANG TUA KAMI TERSAYANG, SRI HIROO DAN SRI VINITA BHARWANI
Kemarin saya sudah tembak.
Ditolak. Katanya mau fokus kuliah.
- Besoknya dia jadian sama anak kimia. - Masa?
Sial.
Saya sudah move on.
Eh, Lip. Yang ini sudah saya tembak lewat LINE.
- Hari ini tunggu jawaban saja. - Lu serius lewat LINE?
Iya, lah. Kenapa? Masalah kah?
Orang zamannya sosmed, kok.
Yah, nggak apa-apa juga, sih.
Tapi, kau tenang. Kali ini saya yakin diterima.
- Kejombloanku akan usai. - Basah lagi.
Doakan, Gus. Semoga kita diterima.
Saya akan jadi pembuka jalan agar kita tidak jomblo lagi.
Nama gua Agus.
Agus Gurniwa.
Mahasiswa UNB Teknik Sipil tingkat empat.
Yang di samping gua, ini sahabat-sahabat gua.
Dan hari ini kita akan melakukan tindakan yang cukup hina.
Ngeceng di kampus orang lain!
Yang ini namanya Bimo. Asal Jogja.
Eh, sebentar.
Dia orang Papua yang lahir di Jogja.
Nah, jadi, casing- nya boleh Papua.
Tapi, SIM Card- nya seratus persen Jogja.
Hai.
Kalau yang ini namanya Doni. Alias Don Juan.
Alias Sang Telat Ngangkat.
Alias Senyum Malaikat, Hati Iblis.
Setan ini orang!
Cewek sudah kaya prasmanan. Semuanya dicobain!
Yang ini Olip.
Anak tentara asal Aceh.
Sahabatan sama Doni, tapi 180 derajat berbeda.
Eh. Sini, Gus.
- Sini, duduk. - Ke mana saja?
- Sudah! - Aduh, tempat ini murah banget.
Di mana Bimo?
Korbannya siapa?
- Instagram, Don. - 'Kan selalu begitu siklusnya.
Chat IG, ajak kenalan, ajak ketemuan.
Nyatain, ditolak, nangis di shower.
Ulang!
Gue bingung sama lo dan Bimo.
Sejak tahun lalu, dua-duanya semangat cari pacar.
Kalian kenapa?
Pertanyaan yang bagus.
Kenapa gua kebelet cari pacar?
Karena jomblo itu pedih, Jenderal.
- Di mana ini? - Sepertinya Lubang Buaya.
Tembak!
Stop! Kalem!
Ini salah film! Salah film!
Bukan begini ceritanya. Begini.
Sekian lama jadi jomblo, sebenarnya, sih, biasa saja.
Sampai akhirnya dua tahun yang lalu.
Halo!
Gua jadi lebih benci sama hari wisudaan
- dari Valentine. - Terima kasih.
Valentine itu paling cuma haha-hihi, cokelat, dan kemesraan cinta monyet.
Habis wisuda, kamu bakal nikahin aku beneran?
Itu pasti, Sayang.
Tapi, ketika lu mahasiswa lama
yang menyandang gelar STMJ pangkat tiga
yaitu Semester Tiga Masih Jomblo, Semester Tujuh Masih Jomblo
dan Sampai Tamat Masih Jomblo,
Di hari wisuda lo bakal disadari
betapa nikmatnya mendapatkan cinta!
Monyet!
Gus?
Sedikit saran, Gus.
Nggak ada untungnya kamu pacaran.
Sekali lakuin, kamu akan terikat selamanya.
Kamu akan diatur.
Oke, itu kecepatan tadi.
Lebih baik jomblo. Ntar kalau pacaran nyesel lagi.
- Eh, kamu! Enak saja! - 'Kan yang ngomong dia.
Eh, kamu! Enak saja!
Lu enak ganteng pernah pacaran. Gua belum pernah.
Pengen sesekali disayang, ngerasain nyayangin juga.
Lu kira gua belum ada...
- Lihat, tuh. Cakep, ya? - Kacamata?
Iya!
Iya. Tapi, nggak se-cakep Asri, sih.
- Jauh. - Anj...
Asri itu cewek yang ditaksir sama Olip.
Tapi, boro-boro nyatain perasaannya.
Jarak lima meter dari Asri saja Olip sudah semaput.
Pernah bayangan Asri nyentuh bayangan Olip dan Olip jadi demam.
- Duluan, ya. - Maaf.
Oke. Sampai jumpa.
Jen.
Jen. Jena.
Jena. Hei, Jena. Hei.
Siapa, ya?
Bimo.
- Bimo mana? - Bimo yang tadi malam di LINE.
Begitulah Bimo.
- Aku ke sana. - Ya.
- Yang itu. Tapi, satu saja. - Satu saja?
- Saya juga yang ini, ya, Mbak. - Oh. Ya.
- Rita? - Mbak?
Agus?
- Agus anak Lima? - Rita IPS?
Agus, celananya dinaikin di tiang bendera?
- Agus Badut? - Emang badut?
- Ini Rita Lima? - Ya.
- Apa kabar? - Astaga! Agus!
Astaga. Ya Allah, maaf khilaf.
Ini kenalin teman saya, Lian.
Hai.
- Ke sini sama siapa? - Ya, sama itu. Teman saya.
Dua di situ. Olip! Doni!
Olip, Doni!
Coba dadah.
Ya, yang dadah itu.
Kamu nggak di WhatsApp grup alumni? Kamu nggak ada?
WhatsApp grup yang mana?
Iya, sih. Belum ada. Tapi, nanti saya bikin.
Eh, si... Siapa?
- Kakakmu. - Teh Guti?
Teh Guti! Masih jualan roti?
Masih. Oh, sekarang sudah ada Instagram-nya.
- Oh. - Mm-hm.
- Eh, jual roti gandum, nggak? - Jual.
- Jual? - Ya, masa jual roti
nggak jual roti gandum?
Ya, benar.
Karena saya laki-laki yang pegang komitmen.
- Komitmen apa, ya? - Yah, komitmen cinta kita.
Hah? Kita?
Aku itu cinta mati sama kamu.
Bagaimana?
Kenapa lu?
Tadi gua ketemu teman lama gua.
Iya, lihat. Yang tadi, 'kan? Terus?
Kaya jatuh cinta gua.
Mau ke mana?
Minum.
- Maaf. - Doni, ya?
Masih ingat gue, nggak?
Hai.
- Kok di sini? - Gua pernah bilang sama lo.
Gua anak rektor di sini.
- Oh, ya! - Kamu terlihat ganteng.
Gue seneng, sih, bisa ketemu lo lagi.
Karena gue bisa...
Jena, tunggu. Jena.
Dengarkan aku. Jena.
Jena.
Dengarkan aku, Jena.
Cintaku padamu itu sangatlah besar.
Sebesar Gunung Merapi.
Gunung vulkanik yang paling aktif di Jogjakarta.
- Cie! - Cie!
- Bahkan, aku rela mati untukmu, Jena. - Mati?
Mati saja, tapi jangan di sini. Tolong.
Jena. Kamu pikir aku bercanda?
Kamu pikir aku bercanda kalau aku rela mati untukmu?
Jena, tetap di tempat. Mundur.
Aku akan buktikan bahwa aku bersungguh-sungguh rela mati untukmu.
Ini buktinya, Jena.
Aku rela mati untukmu.
Lari!
Jena?
Pak Satpam! Ada mahasiswa UNB!
Nggak! Istighfar!
Sebelum kami digebukin, masuk rumah sakit dan meninggal.
Tapi, boleh tahu, nggak? Ini ada apa, ya?
Surp...
Ayo ngaku!
Lani! Maaf.
- Bisa dimengerti. Tapi... - Satpam!
- Stop! - Bisa lebih baik lagi, nggak?
Ini bisa saja!
Tenang!
Apaan kalian? Pada main hakim sendiri.
Kalau mau gebukin orang ada prosedur.
Syukur, ada yang waras sedikit.
Bu, maaf. Ini kayanya salah paham.
Temen saya tiba-tiba dipukul.
Hah?
Doni?
Waduh!
- Satpam? - Satpam?
Satpam juga?
Eh, Udah!
Begini. Main hakim jangan sendiri-sendiri.
Main hakim itu ramai-ramai!
Jangan, Bu!
Ada bom!
- Ada bom! - Lari!
Lari!
Hei.
Lu ngapain?
Bimo!
Waduh.
Ayo!
Ayo, cepat!
No comments yet. Be the first to leave one.