The first 200 lines.
Bas.
Baskara.
Aku tidak sabar, ingin bertemu denganmu.
Kita bisa mengobrol.
Bisa berpegangan tangan.
Bisa...
Selamat pagi, Baskara.
Sayang, kau mau mandi atau mau sarapan dulu? Tadi, Mama...
Mama lupa, Bas. Mama itu...
Mama harus menelepon tukang gas dulu, ya, Bas?
Kalau siap mandi, bilang Mama, ya?
Ma.
Ma!
Ya. Maaf.
Ma, anaknya Hendro mau menikah, ya?
Cepat juga, ya?
Masih seumuran Baskara, bukan?
Ya, Pa.
Hebat juga si Hendro.
Sebentar lagi punya cucu.
Ma.
- Mama! - Maaf, ya, Bas.
- Ma, sudah. Sudah kenyang. - Ya.
Lalu, sang pangeran
Pun bangkit
Dan mengakui...
Suaranya merdu sekali, Ton.
Sang putri...
Juga cantik sekali.
"Saya minta maaf."
Tapi kenapa baunya tidak tercium, ya?
Miko, jangan.
Kita nikmati dari sini saja.
Hei. Ini, dia rambutnya panjang apa pendek?
Panjang.
Lurus apa keriting?
Gelombang.
Kulitnya putih ayu atau hitam manis?
Putih ayu.
Ini berarti tipemu, Ton!
Sehingga mereka hidup
Bahagia selamanya
Ayo kumpul. Sini.
Miko, ayo, Mik.
Aku tidak mau jadi pecundang seumur hidup.
Kau kenapa, Bas?
Itu, bacalah, belakangmu.
Baca apa?
"Para pengecut mati berkali-kali
sebelum kematian mereka yang sesungguhnya."
Jangan mati sebagai pengecut.
Maksudnya?
Itu, baca lagi.
"Bertindak belum tentu berhasil,
tidak berani bertindak sudah pasti gagal."
Ini saatnya kita bertindak.
Bertindak apa, Bas?
Dari tadi bicaramu aneh sekali.
Kalian berdua mau mati perjaka, seumur hidup?
Memang kau sudah tidak, Bas?
Sama.
Makanya kita harus bertindak.
Kalau tidak salah, urutannya harus punya pacar dulu, ya?
Ya, betul.
Tapi kapan terakhir kau punya pacar?
- SMP? - Itu.
Sebelum terkena tumor otak, bukan?
Memang sekarang ada yang mau?
- Seharusnya ada. - Seharusnya.
Kenyataannya?
Sudahlah.
Langsung ke intinya saja.
Ini langsung ke intinya, maksudnya bagaimana, Bas?
Kita langsung ke Gang Dolly.
Apa?
Gang Dolly.
Gang Dolly, Surabaya?
Ya.
Itu gang apa?
Itu...
tempat prostitusi. Paling besar se-Asia Tenggara.
- Ya. - Memang di Jakarta tidak ada?
Miko.
Ada.
Tapi tidak mau melayani orang seperti kita.
Bukannya di Jakarta punya uang bisa apa saja?
Tidak ada, Miko. Aku sudah riset.
Mereka punya pelayanan khusus untuk orang-orang seperti kita.
Ton, periksa surelmu. Sudah kukirim.
- Apa, Ton? - Ini... serius para wanitanya?
Para wanita apa?
- Halo. - Hai.
Terima kasih, sudah dengar dongengku tadi. Ya, perkenalkan...
Saya Karmila.
Saya Danton.
Ini Baskara, ini Miko.
Hai.
- Hai. - Hai.
Ini buku dongeng saya, tapi cuma sisa satu, bagaimana?
Ya, tidak apa-apa. Biar aku saja.
Percuma, yang satu tidak bisa baca, yang satu lagi, balik buku saja susah.
Danton.
Di belakang ada alamat
pelatihan boneka saya. Nanti kalau misalnya mau mampir ke Jogja,
- boleh. - Oke.
Baiklah. Aku pamit dulu.
Senang bertemu kalian.
Dah.
Dah.
Dah.
Ton. Ko.
- Bagaimana rencana kita? - Percuma.
Orang tua kita tidak akan mau mengantar ke tempat begitu.
Mereka tidak perlu ikut.
Ya, mereka tidak akan memberi izin juga.
Itu di sebelahmu ada buku tulisannya, Trip to Java, ambillah.
Aku yakin sekali,
perjalanan ini bisa membuat kita jadi orang yang lebih mandiri.
Dan ini tidak akan bisa kita lupakan
sampai kita mati.
- Road trip ke Surabaya? - Ya, Om.
Tepatnya keliling Jawa,
dan berakhir di Surabaya.
Ya, menyusuri pantai utara Jawa
- dan makan gudeg di Jogja. - Kenapa mendadak sekali?
Tenang saja. Semuanya sudah diatur.
Hotel, makan, tempat transit.
Jadi dari Surabaya, kita balik ke Jakarta naik pesawat.
Memang berapa hari, Bas?
- Empat. - Tujuh.
Empat tambah tiga, tujuh.
Benar, Bas?
Tapi tanpa kami?
Kami sudah sewa kendaraan khusus.
Ada perawat yang merangkap jadi supir.
Jadi, selama perjalanan, dia yang menjaga kami.
Bas, kau yakin?
Tidak ada mama, Bas.
- Ya, Ton, sakitmu bisa kambuh... - Ma.
Kami cuma ingin mandiri saja. Caranya lewat perjalanan ini.
Ini bukan soal mandiri, Bas.
Kau sudah mandiri sejak kecil.
Lalu apa yang perlu dikhawatirkan?
Aku tidak mau suatu saat nanti,
- aku pergi sebagai pecundang. - Danton.
- Kau tidak boleh bicara begitu. - Harus, Pa.
Mungkin perjalanan ini akan gagal.
Mungkin akan kacau.
Tapi paling tidak sudah kami coba.
Kami akan baik-baik saja.
Dan kami juga janji,
akan sampai Jakarta dengan selamat.
Walaupun tetap cacat,
tapi kami bahagia.
Mamimu sudah setuju, Ko?
Mami ingat, dulu Mami punya rencana mengajak Miko jalan-jalan ke Jogja?
Ya, tapi sepertinya Mami belum bisa ambil cuti.
Miko mengerti, pasti...
Mami sibuk sekali di rumah sakit.
Mami juga dari dulu sudah kerja keras untuk Miko.
Makanya, Miko mau pergi bertiga.
Miko, Danton, dan Baskara.
Kami mau berkeliling pulau Jawa, Mam.
Cuma Miko yang bebas bergerak, Mam.
Pasti Miko akan bantu mereka.
Boleh, ya, Mam?
Baiklah.
Tapi jaga dirimu.
Jaga sahabat-sahabatmu juga.
Oke.
Kami akan mengizinkan kalian,
tapi setelah kami bertemu perawat
yang menjaga kalian di sana.
Kalau ternyata dia tidak bagus,
maaf, rencana kalian batal.
Prioritas keselamatan mereka adalah yang paling penting
dalam perjalanan penuh petualangan ini.
Laksanakan!
Siap!
Ton.
Ma.
Ya?
Terima kasih, ya.
Hai, Amanda.
Kenapa?
Mama bilang kakak mau pergi dengan teman-teman, ya?
Ya.
Jangan kangen, ya.
Kenapa harus kangen dengan kakak yang menyebalkan?
Jadi, sekretaris ini semakin penasaran, Bas.
Tapi di satu sisi, dia juga kesal sekali dengan bosnya itu.
Tapi mama jengkel melihatnya.
Mama ingin sekali melihat mereka berpacaran,
- lalu menikah, punya anak... - Ma.
Ya?
Aku juga mau nikah.
Punya keluarga, Ma.
Ya, Sayang.
Malam, Sayang.
Bas.
No comments yet. Be the first to leave one.