The first 200 lines.
TRIBHUVAN MISHRA DI KAMAR MANDI PONDOK YANG KUMUH
Bedebah!
Apa kau tidak malu meniduri istri orang lain?
Akan kuhancurkan testismu hari ini.
Bukankah ini yang membuatmu terangsang? Tidak?
Aku akan cabut penismu dan penismu takkan berguna lagi.
Noida, Noida, Noida, Noida Berputar-putar dan terus berputar
Noida, Noida, Noida, Noida Berputar-putar dan terus berputar
Ada pria duduk di atas sepeda motor kuning
Ini takdirnya, temui orang biasa
Dia mencari manisan Tetapi yang dia dapat hanyalah pil pahit
Ini takdirnya, temui orang biasa
Dalam ujian kehidupan Dia mendapat 0 dari 10
Ini takdirnya, temui orang biasa
Noida, Noida, Noida, Noida Berputar-putar dan terus berputar
Basah...
BEBERAPA BULAN SEBELUMNYA
Pinggang yang seksi!
Tubuhnya yang seksi!
Lagu yang kotor, kotor sekali.
Shambhu, ayo beli berondong jagung.
Anak-anak suka sekali.
Hati mendambakan Agar tubuh kita terjalin!
Basah, basah kuyup
Basah, basah kuyup
Shambhu!
Lalu film? Kau mau merusaknya?
Kakak ipar, kenapa sok suci? Lihat lagunya. Gerah sekali.
Apa bagusnya, Shambhu?
Wanita itu pamer tubuhnya. Itu saja.
Harusnya kau malu!
Kau datang ke bioskop dengan suami kakakmu.
Dia lelaki juga, Kak?
Dan lagu-lagu ini ada di film untuk pria.
Jika kakak ipar memintamu, kau ikut saja.
Hargai dia.
Sial!
Ayo pergi.
Ayo pergi.
Ayah, aku mau berondong jagung keju.
- Karamel untukku. - Baiklah.
Tolong minggir.
Aku bayar untuk menonton pahlawan, bukan kalian.
Ada apa, Bu? Kami juga beli tiket.
Jadi, apakah ini tiket untuk filmnya,
atau kau beli seluruh bioskopnya?
- Tutup mulutmu dan jalan. - Tak mau.
- Hei. - Hei, kenapa kau berkelahi?
Kenapa malah ribut? Jalan saja. Akhiri ini sekarang.
- Aku setuju. Ayo pergi. - Apa-apaan ini!
Ayo pergi.
Kenapa kau begitu bersemangat saat melihat pahlawan ini di layar?
Karena pahlawan tahu seninya cinta.
Di film, meski pahlawan dan pahlawan wanita menikah,
bumbu dalam hubungan mereka tetap utuh.
"Bumbunya tetap utuh."
Seolah itu bukan hubungan, tetapi kari India.
"Bumbunya tetap utuh."
Kenapa bajingan ini menari telanjang?
Tak ada gunanya.
Lepaskan tanganmu, lengket.
Hei, Jhatka, jangan ambil sekarang. Tuhan selamatkan kau jika Raja Bhai tahu.
Tak apa-apa. Jangan cemas, Lappu.
Kau punya masalah laktosa, tetapi selalu saja minum susu.
Mau bagaimana lagi, aku tak tahan saat melihat susu.
Kau jangan mencemaskan yang tak penting.
Kenapa aku harus cemas? Kau yang harus cemas.
Kau terintimidasi saat berinteraksi dengan wanita.
Kau bahkan hanya diam saja.
Aku jarang bicara dengan wanita, itu sebabnya.
- Aku merasa malu. - Benar.
Berapa harga berondong jagung?
Kalian tak bisa baca? Itu harganya.
Polos 50 rupee, keju dan karamel 80 rupee.
Beri kami dua keju,
dan dua karamel juga. Yang segar.
Tidak. Kau beri kami yang polos.
- Kau menjarah kami di dua lainnya. - Mereka menjarah dalam segala hal.
Bioskop jalan karena berondong, bukan filmnya.
Ini untuk anak-anak, jangan pelit. Aku bayar.
Kenapa kau membayar anak-anakku?
Tolong jangan pamer di depanku, adik ipar.
Cepat atau kami ketinggalan filmnya!
Tiga yang polos.
Mahal sekali!
Jantungku berdebar karena memelukmu!
Basah, basah kuyup
Basah, basah kuyup
Dhaincha, aku melewatkan lagunya. Kau menikmatinya sendirian.
Nikmati saja sekarang.
Lihat, Lappu, panas sekali. Mendesis!
Di mana Jhatka?
Buang air. Dia minum susu.
Astaga, susu...
Basah, tubuh basah kuyup
Sialan.
Keluarlah, keparat.
Atau aku tiduri ibumu.
Kakak, aku bisa keluar saat sudah selesai.
Kenapa kau mengutuk?
Aku tak boleh, bajingan?
Keparat, ini darurat, dan kau menolak untuk keluar, keparat.
Aku main snooker.
Dan aku tak akan keluar sampai bolanya masuk. Paham?
Sial.
Keluar kau sekarang, bajingan?
Kau tahu, bajingan? Sungguh?
Ya Tuhan. Selamatkan aku untuk terakhir kalinya.
Film itu sia-sia.
Aktris itu seksi.
Lagu itulah bintang sesungguhnya.
Jhatka, jangan minum susu terlalu banyak.
Hampir saja kau kena batunya.
Ya, aku sudah belajar, Dhaincha.
Ayo pergi? Ayo.
- Kau senang, 'kan? - Hei.
Ayo, belok ke sini. Ayo.
- Siapa kalian? - Ada apa, Sobat?
Kenapa kau terburu-buru pergi dengan wanita itu?
Kenapa? Katakanlah.
Apa kau punya pemesanan di muka untuk pertunjukan lainnya?
Suruh mereka duduk.
Buat dirimu nyaman.
Aku melihat kalian berdua menonton film memakai helm.
Berpikir tak ada yang akan mengenalimu.
Tetapi aku mengenalimu.
Tak heran kau mau menonton film.
Kau datang untuk bekerja?
Lanjutkan.
Wanita!
Saudaraku, kau meniduri istri orang lain, 'kan?
Ini masalah pribadi kami dan akan kami selesaikan sendiri.
Siapa kau berhak menceramahi kami?
Bu, kau salah paham.
Aku melakukannya atas nama klien.
Kesepakatannya adalah menangkapmu dan menghukum kalian.
Masalahnya,
setelah aku menerima kontrak, aku pasti akan selesaikan. Paham?
Jadi, Kawan? Ke mana kau pergi dari sini?
Tidak... Tidak seperti itu, Pak.
Kami punya rencana makan malam setelah film ini, dan...
Lantas?
Sedikit ciuman. Itu saja.
Suamiku mempekerjakanmu, 'kan?
Aku akan mengurusnya secara pribadi.
Aku tak dipekerjakan oleh suamimu.
Hanya pria yang bisa membalas pengkhianatan?
Raja Bhai, matahari sudah terbenam.
Kau yakin? Tak ada semenit lagi?
Sudah ditetapkan pukul 6.23.
Sial.
Kalian lakukanlah.
Lappu, rekam.
- Bukti untuk klien - Tidak.
- Tak ada video. - Tolong, tak ada video.
Diam.
Apa katamu?
Hancurkan mereka.
Tidak!
Kakak ipar, kau banyak berpikir soal uang kecil.
Berondong jagung. Lalu, parkir.
Ada kesenangan dalam menjalani bak raja. Kenapa harus berhemat?
Kami tak berhemat!
Suamiku pria jujur dan dia memberikan kami keuntungan.
Bukan begitu, Kak. Apa yang kudapatkan, itu banyak.
Kami tak perlu berpikir untuk menghabiskan uang.
Katakan sesuatu. Kenapa ada kantong di pakaian kita?
- Untuk menyimpan uang, 'kan? - Kita juga menyimpan pena. Bukan?
Aku pakai di kantorku untuk menandatangani dokumen dengan jujur.
Seseorang boleh simpan saputangan selama musim panas.
Di musim dingin, saku membuat tangan kita tetap hangat.
Uang bukan satu-satunya fungsi saku, Shambhu.
Kau terlalu naif, Kakak ipar. Di dunia sekarang, artinya "pecundang."
Aku benar?
Maksudku adalah kakakku telah menikahimu.
Buat dia bahagia.
Lihat, Shambhu, keluargamu puas dengan penghasilanmu.
Keluargaku puas dengan penghasilanku.
- Apa lagi yang diinginkan? - Ya. Apa lagi yang diinginkan?
Benar, Ashoklata?
Kemeja biru, celana kuning Sepertinya pria terhormat!
Pahlawan film itu berengsek.
Hanya ada satu pahlawan, Shah Rukh Khan.
Hei, kau sangat bodoh.
Jika ada pahlawan, itu Salman Bhai.
Lihat fisiknya.
Dia membuat orang gemetar hanya dengan melepas bajunya.
Itulah maksudku.
Shah Rukh bahkan tak butuh melepas bajunya.
Ingat dialognya yang gagap k... k... k...
Itu membuat semua orang terkejut.
Sialan kau.
Itu salahku membawamu dari Bihar ke Raja Bhai.
Persahabatanku denganmu merugikanku!
Kakak, katakan siapa yang lebih besar? Salman atau Shah Rukh?
Nyonya?
Setidaknya mengangguk. Shah Rukh, bukan?
Salman Bhai, bukan?
King Khan.
Salman Bhai.
No comments yet. Be the first to leave one.