The first 200 lines.
Film Ini Mendapatkan 1 Nominasi Oscar : Skenario Adaptasi Terbaik (nominasi)
IMDb : 8.0 Metascore : 100 Ratten Tomatoes : 98%
Ini aku.
Semuanya baik-baik saja?
Apa maksudmu dia menghilang? Dia menghilang juga?
Aku akan menunggu di depan hotel. Sesegera mungkin.
Siapa yang akan menyangka hal seperti itu terjadi, pak?
Ketika dia turun, saat itu masih gelap.
Kemudian pintu depan terbuka lagi, dia keluar juga.
Aku pikir seharusnya dia mampir dan mengucapkan selamat tinggal padanya.
Justru, dia membuka pintu mobil, memasukkan anjingnya, kemudian dia menyusul, dan mereka pergi.
- Apakah anda mendengarkan, pak? - Ya. Ya.
Anjing. Ini sesuatu yang tak kita inginkan. Namun demikian,
sepanjang yang aku ingat, aku mengikuti instruksinya.
Kau sudah membulatkan tekadmu?
Menurutmu apa yang kau dapatkan dari pernikahan?
Aku tak tahu. Biasa aja.
- Biasa aja? - Ya. Keseimbangan, keamanan.
Pada saat pagi hari aku berpakaian dan menatap diriku sendiri di cermin.
Dan membandingkan diri dengan orang lain, aku merasa berbeda.
Apa yang kau lihat dari Giulia?
Mungkin badannya, kecantikannya.
Ya? Dan dia?
Saat kami sendirian dia pasti ingin bermain-main.
- Dan kemudian? - Pada akhirnya dia ingin dimanja.
- Dan pelayan dengan tetek gede ? - Oh, dia termasuk bagian dari mas kawin.
Jadi, kau menikah, dan aku kehilangan teman terbaikku.
Ngomong-ngomong, aku senang.
Dua menit dan anda on air , Pak Italo.
Kau yakin dia sudah tiba?
Kolonel? Tentu saja. Dia akan ke sini.
Dia berjanji. Dia sangat tertarik.
Lebih baik kau diam saja. Meskipun itu lucu, kau tahu?
Setiap orang ingin dirinya berbeda dengan orang yang lain,
tapi sebaliknya, kau malah ingin sama dengan orang lain.
Sepuluh tahun lalu, ayahku di Munich.
Biasanya habis pertunjukan, dia bilang padaku bahwa
dia pergi dengan temannya ke Bierstube.
Ada orang yang sangat humoris...
Dia bicara mengenai politik.
Dia cukup menarik perhatian.
Mereka membelikannya bir dan mengajaknya bicara.
Dia berdiri di tempatnya dan berpidato dengan berapi-api.
Orang itu adalah Hitler.
Hadirin, itu tadi adalah "Who's Happier Than I"
oleh Cesare Andrea Bixio.
Kami akan menutup program kami dengan musik yang dibawakan oleh
Arcangeli dan orkestranya.
Penyanyi-nya adalah Silvana Fioresi, Oscar Carboni,
Lina Termini dan 'The Swallows'.
Kami sekarang menampilkan "Mystique of an Alliance",
yang dibawakan oleh Italo Montanari.
Italia dan Jerman, dua kekuatan besar.
Di saat-saat ini,
semua pertemuan mereka mencapai puncaknya
dan akan tercatat dalam sejarah dunia.
Hari ini, dengan keberanian dari dua pimpinannya, dua orang ini telah menunjukkan
keberanian mereka.
Keberanian yang mencakup kesamaan dan timbal balik
yang telah lama terlupakan,
yang disebut oleh Goebbels sebagai "Aspek Penting Prussian"
pada diri Benito Mussolini,
dan apa yang kami sebut "Aspek Penting Latin" pada diri Adolf Hitler.
Italia dan Jerman, dua kekuatan
terkuat yang anti parlemen dan anti revolusi demokrasi.
Tolong tinggal sebentar, Clerici.
Apakah ada berita untukku?
Catatan pribadimu sangat bagus.
Berarti aku ditugaskan?
Keputusan seperti itu harus diambil pelan-pelan.
Ya, aku paham.
Pegawai negeri, rekam pendidikan yang baik, punya karir yang bagus,
dan Kamerad Montanari telah merekomendasikanmu.
Suatu pagi kau datang ke kantor kementerian.
Kau tiba di tempatku dengan wajahmu yang cerah dan riang,
kau membuat pengajuan yang sangat spesifik.
Kantor kementerian.
Apakah kau pernah bertanya-tanya pada diri sendiri kenapa orang-orang ingin bekerja sama dengan kami?
Beberapa melakukannya karena takut,
kalau kebanyakan 'sih karena uang.
Keperyaaanmu pada fasisme, tak terlalu besar.
Tapi kalau kau berbeda.
Aku merasa bahwa kau tertarik bukan karena alasan-alasan tadi.
Dan kapan aku mendapatkan balasan?
Aku harap sesegera mungkin.
...usaha untuk merusak kekuatan gagasan revolusi dan kepercayaan pada fasisme...
Aku harus bertanya padamu apa tujuanmu sebenarnya.
Aku akan langsung siap-siap pergi, sesegera mungkin setelah kau memutuskannya.
Baiklah.
Aku akan memperkenalkanmu kepada Pak Menteri.
Clerici.
- Siap, pak. - Aku penasehat sekretaris. Pak Menteri telah menunggu kita.
Apakah ini pertama kalinya kau bertemu dengan Pak Menteri?
Ya.
Ketika aku menjelaskan rencanamu kepadanya, kata pertama yang dia katakan adalah, "Mantap.
hubungi Professor Quadri dan dapatkan kepercayaannya.
Kau bergabunglah dengannya dan cobalah untuk mencari tahu siapa kontaknya di Italia."
Ya, ya, mantap.
Dan yang lebih penting, itu spontan.
- Dan juga, secara sukarela. - Agen yang sukarela.
Untuk menekan anti-fasisme.
Kau harus mencoba untuk memahami wanita.
Dia bilang dia memutuskan untuk tinggal di Paris. Dia boleh melakukannya, 'kan?
"Animula vagula blandula
hospes comesque corporis."
Aku minta maaf, aku tak memahaminya.
Gak penting. Tadi itu bahasa Latin.
Lima, empat,
tiga, dua, satu.
Waktu yang benar untuk pemancarnya adalah jam 13.00.
Siaran baru.
Ini.
Indahnya.
Marcello, apakah kau memberikannya padaku?
Hari ini aku sangat menginginkan bunga darimu.
Nih. Untukmu.
Kau tahu apa yang aku pikirkan? Aku harus pergi ke peramal.
Aku ingin tahu segalanya mengenai dirimu.
Kenapa kau berdiri di sana?
Sayang.
Hati-hati.
Tapi, Marcello, kita bertunangan, apa yang salah dengan hal ini?
Pamanku membawakan sesuatu dari Amerika.
Apa?
Mama membuat daftar undangan.
- Mau melihatnya? - Tidak, aku percaya padanya.
Aku bicara pada Don Lattanzi.
Jika kau ingin menikah, kau harus datang ke komuni,
dan sebelum itu, kau harus membuat pengakuan dosa.
Jika tidak, dia bilang dia tidak bisa menikahkan kita.
Aku tak percaya pada hal-hal tersebut.
Siapa juga yang percaya?
90% orang yang pergi ke gereja mereka tak percaya pada Yesus.
Bahkan pendetanya juga tak percaya.
Baiklah, jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya bahkan pengakuan dosa.
Aku mencintaimu.
Jika kau ingin...
- Jika kau ingin... - Ya, di sini.
Di lantai, di karpet. Mau?
Lebih baik kita memikirkan pendeta itu.
Dia mungkin tidak memberikan pengampunan.
Justru sebaliknya.
Lagi pula, sebentar lagi ini akan menjadi bulan madu kita.
Apakah kau sudah memutuskannya, di mana kita bulan madu?
Ya.
Tapi aku belum bisa mengatakannya padamu.
Itu kejutan.
- Kejutan? - Kejutan?
Ya, ya, aku suka kejutan.
Giulia, tinggalkan kami sendiri.
- Marcello, seseorang berusaha menyakiti kami... - Makanan sudah siap.
Surat anonim...
Surat anonim?
Tapi, kau tahu mereka jahat sekali dengan melakukan hal ini.
Lebih jahat dibanding mereka menusuk dari belakang.
Tapi, apa isi suratnya?
Suratnya tiba pagi tadi dan dikirim dari Roma.
Hay, aku ingin tahu apa isinya.
Baca yang keras. Kemudian bakar.
Ada hal-hal buruk di dalamnya.
"Nyonya, jika anda mengizinkan putrimu dan Pak Clerici menikah,
anda melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar salah,
malahan, anda melakukan tindak kejahatan."
"Ayahnya Pak Clerici
telah dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dengan penyakit di otaknya
yang didiagnosa sebagai sepilis.
Seperti yang anda tahu, penyakit ini adalah penyakit keturunan.
Masih ada waktu untuk menghentikan pernikahan ini. Temanmu."
Aku ingin memeriksakan diri.
- Konyol sekali. - Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali.
Di Jerman, tes medis sebelum pernikahan merupakan kewajiban, ada yang bilang padaku.
Anakku, kau bukanlah sekedar pria biasa,
kau adalah malaikat.
Terima kasih.
Kau perlu tahu, penyakit mental ayahku bukanlah sipilis.
Itu bisa secara medis dikonfirmasi.
Ngomong-ngomong, anakku pernah gondok,
scarlatina dan campak.
- Itu semua penyakit dalam. - Ya.
Siapa kau? Kenapa kau mengikutiku?
Kebetulan saja.
Aku tidak mengikutimu.
Kebetulan, kita menuju tempat yang sama.
Aku ingin bertanya padamu. Apakah namamu Clerici?
Ya, aku Clerici. Siapa kau?
Aku agen khusus Manganiello. Dikirim oleh kolonel.
Masuklah.
- Terima kasih. - Alberi.
Sungguh kacau. Tempat ini terlihat seperti timbunan pupuk.
Ya, sangat disayangkan.
Alberi.
Cepatlah, Manganiello, atau kita akan ketinggalan.
Aku tak bisa lebih cepat dari ini, pak. Jalanannya licin.
Baru setengah jam.
Jangan banyak bicara. Cepat.
Ya Tuhan, ini licin.
Aku tahu. Tapi kita harus menyelamatkannya, gak peduli seberapa licinnya.
Aku paham.
Tapi, kalau kita kecelakaan, terus buat apa menyelamatkannya, pak?
Kamerad, Kolonel bilang padaku bahwa...
No comments yet. Be the first to leave one.